The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: started



Tibalah saatnya, hari pertama mereka bersekolah di SMA Korea yang terkenal dan fenomenal bernama SOPA. Keempat gadis terlihat santai di hari pertama mereka sekolah. Untunglah, seragam sekolah sudah mereka dapatkan tadi malam. Itu semua karna dikirim dari pihak dinas pendidikan ke apartemen mereka. Jadi tidak perlu mengeluarkan yang lagi untuk membeli seragam sekolah yang harganya lumayan mahal bagi saku pelajar.


Marissa fokus menyetir, Aulia fokus menonton Anime kesukaannya di Handphone, Putri sibuk menghabiskan bekal, dan Salsa sibuk tidur.


"Aulia, lo gak mau?" Tanya Putri, namun Alenna tidak menoleh dan terus melanjutkan menonton dengan volume yang keras.


"Weh! Mau gak?" Tanya Putri lagi saat tawarannya tak di gubris. Aulia menoleh sebentar lalu menggeleng. Putri mengangguk lalu kembali memakan bekal roti nya yang masih tersisa satu.


"Masih jauh lagi, ris?" Tanya Putri kepada Marissa yang masih fokus menyetir mobil.


"Sebentar lagi" Jawab Marissa singkat, padat, dan jelas. Aulia yang mendengar itu, ikut mengangguk paham bersama dengan Putri.


Sedetik kemudian, Aulia tiba-tiba menghentikan aksi menonton Anime lalu memasukkan ponselnya kedalam saku baju. Ia menatap Marissa dengan tanda tanya.


"Tapi ris, emang bener kata Salsa semalem?. Kalau murid disana suka ngebully murid yang gak mampu?" Pertanyaan Aulia membuat Marissa berpikir sejenak lalu mengedikkan bahu, ia juga tidak tahu.


Semalam Salsa memang memberitahu mereka tentang artikel yang ia baca tadi pagi. Saat itulah, Aulia menjadi takut untuk sekolah disana. Putri juga tak jauh berbeda dengan Aulia, namun ia pikir selagi ia tak membuat masalah, semuanya akan baik-baik saja. Berbeda dengan Marissa yang tampak santai dan tidak memperdulikan nya. Toh mereka ke Korea untuk mencari ilmu, bukan mencari musuh.


"Gue jadi ngeri..." Saut Putri dengan ekspresi takut. Marissa hanya melirik sebentar ke arah kebelakang lewat ujung matanya lalu kembali fokus menyetir.


"Latihan bahasa nya lagi" Kata Marissa mengingatkan. Aulia dan Anissa menaikkan sebelah alisnya bersamaan sambil memandang remeh Marissa.


"Gue udah kali, emangnya lo udah?"


Kata Aulia meremehkan. Marissa hanya memutar bola mata malas. Ia paling tak suka diremehkan.


"dangsin-eun naleul gwaso pyeong-ga?" (Anda meremehkan saya?). Balas Marissa membuat Aulia dan Putri tercengang. Bahkan aksen yang dimiliki sudah sangat bagus bagi seorang pemula.


"Asyiap!. Mantap! Mantap!" Kata Aulia terpukau sambil bertepuk tangan tidak jelas.


"Widih.... Ngeri bang..." Saut Putri sama seperti Aulia, ia bertepuk tangan. Sedangkan Marissa hanya diam dan tidak peduli.


"Turun" Kata Marissa. Aulia dan Putri saling bertatapan tak mengerti maksud Marissa. Apakah ia marah karna telah di pandang remeh, sampai-sampai menyuruh mereka turun dari mobil?.


"Yah... Ris, jangan marah dong. Kita gak ngeremehin lo kok, ya kan put?" Kata Aulia memohon takut Marissa sakit hati. Putri mengangguk setuju. Aulia memasang poppy eyes miliknya membuat Marissa bingung.


Nih anak kenapa?.


Batin Marissa.


"Turun, udah sampe" Kini Aulia dan Putri mengerti maksud Marissa. Mereka sudah sampai di tujuan, yaitu SMA SOPA.


"Owhhh bilang dong kalau udah sampe!" Ucap Aulia dan Putri bersamaan.


"Yaudah yuk turun" Aulia dan putri pun turun dari mobil. Sedangkan Marissa memarkirkan mobilnya di tempat lain yang jaraknya tidak jauh dari keberadaan Aulia dan Putri.


Setelah selesai memarkirkan mobil, Marissa menoleh kesamping dan melihat Salsa yang masih tertidur pulas. Marissa memutar bola matanya malas.


"Kebo" Gumam Marissa mengumpat.


Satu ide jahil terlintas di kepalanya. Ia pun turun dari mobil dengan sengaja menutup pintu nya dengan sangat keras hingga menimbulkan suara yang membuat Salsa terperanjat.


brak!


"Eh *****, apaan tuh? " Salsa terbangun dari tidurnya yang nyenyak lalu terdiam sebentar mengumpulkan nyawa. Ia menoleh kesamping dan melihat Marissa yang sudah berada di luar sambil menatapnya.


"Turun, atau gue kunciin" Ancam Marissa membuat Salsa langsung buru-buru keluar dari mobil. Itu ia lakukan karna ia tau bahwa setiap Marissa mengancam, itu bukanlah main-main.


ih! galak banget sih!. kayak emak-emak gak dapet uang bulanan.


batin Salsa kesal karna Marissa yang selalu saja bersikap ketus.


"Huuuu tidur mulu! bangun! udah sekolah!!" Kata Aulia meledek. Salsa masih bingung karna nyawanya belum mengumpul jadi tidak terlalu memperdulikan ucapan Aulia.


aduh... masih ngantuk. 😣


batin Salsa dan sesekali gadis itu menguap karna masih mengantuk. memang sih, hawanya masih sangat pagi dan sejuk, jadilah Salsa mengantuk.


"Eh ini beneran sekolahnya?" Tanya Putri. Mereka berempat melihat kearah bangunan sekolah yang besar dengan seksama.


Mereka semua tercengang akan sesuatu, bukan karna bangunan sekolahan ini yang megah. Namun mereka tercengang karna melihat para siswa-siswi yang berpenampilan layaknya seorang idol dan mungkin dengan riasan wajah yang lumayan tebal. Tidak semuanya memang, tapi mayoritas pelajar di sekolah ini dari kalangan menengah atas yang mempunyai banyak uang untuk di sekolah ini.


Bisa dibilang, keempat gadis ini tengah beruntung.


"Tunggu apa lagi?. Ayo masuk!" Ajak Marissa melangkah duluan masuk kedalam sekolah, diikuti yang lain. Pasang mata tak henti-hentinya menjadikan mereka berempat sebagai objek sorotan seperti model yang sedang melakukan sesi pemotretan. Aulia yang melihat itu sudah salah tingkah dan bingung harus berbuat apa, Putri hanya menunduk karna malu, Salsa tak henti-hentinya bergelayutan dengan Marissa yang terlihat santai sambil berjalan tegak. Menurut Marissa, jika menunduk atau takut di hari pertama sekolah, maka akan mudah di tindas. Jadi berlagaklaj sedikit angkuh di depan kalangan elit seperti mereka.


"Kelas kita dimana?" Tanya Salsa entah di tuju kepada siapa.


Namun tidak ada yang menjawab, Salsa pun mulai kesal.


"Ish! Orang nanya bukannya di jawab. Malah diem" Geram Salsa menatap Marissa kesal. Sedangkan yang di tatap malah menatap bingung.


"Yaiyalah neng..." Gemas Salsa. Marissa mengangguk sekali.


"Oh" Acuh Marissa sambil terus berjalan diikuti Aulia dan Putri yang sudah cengengesan sedari tadi, mereka meninggalkan Salsa yang masih tertinggal di belakang dengan ekspresi kesal.


"Kurang ajar" Gumam Salsa kesal lalu menyusul Aulia, Putri, dan Marissa yang sudah duluan.


Setelah mencari-cari, mereka pun akhirnya menemukan ruang yang mereka tuju, lebih tepatnya ruang guru yang ternyata sudah ada guru perempuan disana, menunggu keempat gadis itu.


Guru itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang ramah.


"annyeonghaseyo joh-eun achim-ibnida" (Hallo, selamat pagi). Sapa guru tersebut kepada mereka berempat.


"annyeonghaseyo joh-eun achimdo" (Hallo, selamat pagi juga) Balas Marissa ramah. Mereka membungkukkan badan, memberikan hormat.


"indonesia-eseo on hagsaengdeul-i issseubnikka?" (Apakah ada siswa dari Indonesia?). Tanya guru tersebut ramah.


"jeoneun yeogi seonsaengnim in yonna-aibnida" (Nama saya Yonna, guru disini). Kata guru tersebut memperkenalkan diri. Mereka berempat mengangguk paham.


"Ne, ulineun modu indonesia chulsin-ibnida" (Ya, kami semua dari Indonesia). Balas Marissa lancar. Sedangkan yang lain sibuk membuka kamus karna kurang paham dengan bahasa Korea yang di bicarakan antara Marissa dan guru tersebut.


"geuleohdamyeon sae ban-eulo gasibsio. eoseo" Marissa mengangguk. Sedangkan yang lain menatap Marissa tanda tanya.


Guru itu berjalan terlebih dahulu memimpin.


"Ayo" Ajak Marissa kepada teman-temannya. Mereka pun mengikuti guru tersebut yang telah berjalan duluan.


"Ternyata gue gak terlalu ngerti bahasanya. Gue pikir gue udah paham" Kata Salsa sambil menyengir.


"Sama gue juga" Saut Putri berbisik kepada mereka bertiga.


Sampailah mereka di sebuah kelas yang bertuliskan bahasa Korea. Marissa yakin bahwa maksud dari tulisan terbuat adalah kelas 10/1 SMA.


Mereka pun masuk, ternyata murid-murid sudah duduk rapih di tempat duduknya masing-masing.


Salsa, Marissa, Aulia, dan Putri hanya menunggu di luar kelas. Mereka akan masuk jika guru itu telah mempersilahkan mereka masuk.


"joh-eun achim aideul. oneul saeloun hagsaengdeul-i ol geos-ibnida. moduga joh-eun chingugadoegileul balabnida" (Selamat pagi anak-anak. Siswa baru akan datang hari ini. Saya harap semua orang akan menjadi teman baik). Kata guru tersebut yang di balas anggukkan dari murid lain.


"sin-ibsaeng-eun najung-e-obnida


jagi sogae" (Murid baru, masuklah. Lalu perkenalkan diri). Mereka berempat pun masuk kedalam kelas dengan pelan dan hati-hati, dengan Salsa yang berada paling depan dan Marissa yang paling terakhir.


Semua murid mulai berbisik kepada temannya. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Samar-samar ada yang memuji dan ada juga yang menjelekkan. Well itu sudah biasa.


"annyeonghaseyo, jeoneun indonesia chulsin-ui Salsabillaibnida" (Hallo, saya Salsabilla berasal dari Indonesia). Kata Salsa memperkenalkan diri. Guru tersebut mengangguk.


"annyeonghaseyo, jeoneun indonesia chulsin-ui Putriibnida" (Hallo, saya putri saya dari Indonesia). Putri memperkenalkan diri.


"annyeonghaseyo, jeoneun indonesia chulsin in Auliaibnida. hyeoblyeoghasibsio" (Hallo, saya Aulia dari Indonesia. Mohon kerja samanya). Ucap Aulia bersemangat, namun sebenarnya ia sangat gugup. Terasa dari tangannya yang dingin.


"naneun Marissaibnida, naneun dangsin-ui hyeoblyeog-eul gancheonghabnida" (Saya Marissa, mohon kerja samanya). Terakhir, Marissa lah yang memperkenalkan diri dengan wajah yang datar namun terkesan santai.


"gomawoyo, jeogi anj-eul su iss-eoyo" (Terima kasih, kalian bisa  duduk di sana). Ucap guru itu menunjuk empat meja serta kursi yang kosong. Mereka berempat mengangguk lalu melangkah menuju tempat duduk mereka. Posisi mereka adalah, Salsa-Marissa di belakang dan Aulia-Putri di depan salah juga Marissa.


Tak sedikit murid-murid yang masih memperhatikan mereka. Terlebih dengan anak laki-laki yang rada-rada 'genit' kepada mereka. Namun seolah tak peduli, keempat gadis itu fokus kepada pelajaran yang akan segera dimulai. Jadi mereka mengeluarkan buku dari salam tas dan mencatat beberpa informasi yang di sampaikan oleh guru bernama Yonna itu.


kenapa sih? Kok pada ngeliatin ya?.


Batin Aulia merasa aneh karna masih ada saja murid di kelasnya yang mencuri curi kesempatan memperhatikan mereka, membuat Aulia salah tingkah sendiri.


Gue cakep kali ya? Sampe diliatin gitu.


Batin Salsa salah tingkah juga.


Jadi gak fokus...


Batin Putri mencoba fokus kepada materi yang di sampaikan oleh bu Yonna.


tangan gue Gatel, pengen nyolok tuh mata.


Batin Marissa yang risih di lirik-lirik seperti itu.


Namun mereka harus tenang, ini baru hari pertama mereka masuk sekolah. Jadi harus memberikan kesan yang baik dan tentu saja jangan sampai ada masalah yang muncul. Tapi mereka tidak janji akan terus bersikap seperti itu, jika di kemudian hari ada murid yang berani-beraninya membuat mereka marah. Keempat gadis itu tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan ikut melawan. Entah kenapa Marissa ragu jika Aulia dan Putri bisa melawan orang lain apabila mereka ditindas. Salsa? Marissa tak terlalu peduli pada orang itu, sebab ia tau bahwa Salsa mampu melawan. Yang jelas, mereka harus tetap bersama dalam keadaan apapun disini, tidak boleh ada yang terpisah. Itulah yang terpenting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Ingat, ini masih hari pertama mereka sekolah disini. Akan ada banyak hal yang bisa terjadi selama mereka berada di sini. Jadi mereka harus mempersiapkan diri untuk melewati nya. Termasuk mempersiapkan diri dari genk paling berpengaruh di sekolah ini.


🌺🌺🌺