The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: beasiswa



Keempat gadis tersebut telah sampai di sekolah yang bernama SMP negeri Nusa bangsa. Aulia, Salsa, Putri, dan Marissa turun dari mobil mereka bersama. Para pasang mata melihat kehadiran mereka yang sering jadi sorotan, tak jarang mereka berbisik-bisik dengan mulut mereka antara topik menyinyir dan tak sedikit dengan topik memuji.


Salsa dan kawan-kawan tidak memperdulikan nya. Mereka terus masuk kedalam sekolah dengan santai dan sesekali Aulia serta Salsa membicarakan hal yang tidak penting di dengar menurut Marissa.


Kebiasaan, ngomonginnya kucing hanyut karna banjir mulu.


Batin Marissa bosan mendengar topik pembicaraan kedua sahabatnya itu yang sama sekali tidak penting.


"Eh ris, lo udah liat belum kucing oren yang hanyut di-"


"Udah" Kata Marissa cepat, memotong ucapan Salsa yang belum selesai.


"Yah... Padahal gue mau ceritain kronologi nya kalau lo belum liat" Kata Salsa dengan nada kecewa. Marissa hanya mengedikkan bahu tidak peduli.


"Udah sal, lo cerita ke gue aja" Saut Putri berusaha untuk menghibur Salsa yang kecewa karna tidak ada yang mau mendengar ceritanya.


"Uhhh jadi sayang deh sama Putri" Marissa dan Aulia yang melihat itu hanya menatap jijik Salsa yang bertingkah cute tersebut.


"Najis, udah yuk ris!. Kita ke kelas aja, biarin mereka" Ajak Aulia menarik tangan Marissa menuju kelas dan tidak ada penolakan dari Marissa.


"Aulia! Awas lo!" Kata Salsa dengan sedikit berteriak karna Aulia yang sudah mulai menjauh. Aulia tak menggubris dan terus berjalan menuju kelas.


"Udah yuk sal!. Kita masuk ke kelas" Salsa mengangguk dan mereka pun ikutan masuk kedalam kelas.


Semua mata di kelas tertuju saat para keempat gadis tersebut memasuki kelas. Beberapa dari mereka menghentikan sejenak aktivitas nya. Ada yang sedang bermain penghapus papan tulis, bermain sapu, kejar-kejaran, dan masih banyak lagi aktivitas yang di lakukan para murid anak sekolah menengah atas.


Segera keempat gadis itu menuju tempat mereka masing masing dengan santai. Posisi tempat duduk ke empat gadis itu juga terbilang dekat karna urutannya Salsa-Marissa duduk di belakang dan Aulia-putri duduk di depan Salsa dengan Marissa. Jadi masih ada kesempatan bagi mereka untuk mengobrol ria.


Keadaan kelas semakin ramai saat semua siswa-siswi sudah mulai berdatangan menuju kelas keempat Sahabat itu.


Tak lama salah satu teman sekelas mereka datang menghampiri meja keempat sahabat itu.


"Cieee yang bakal sekolah di luar negeri" Goda gadis bernama Siva kepada Aulia, Marissa, putri, Salsa. Keempat gadis itu hanya saling pandang dengan dahi yang mengkerut.


"Ngomong sama siapa?" Tanya Salsa kepada Siva.


"Ngomong sama kalian berempat lah... Emang siapa lagi yang dapet beasiswa keluar negeri?" Keempat gadis itu semakin bingung dibuatnya karna ucapan Siva.


"Apasih, gak ngerti gue lo ngomong apaan?" Kata Aulia masih belum mengerti.


"Masa lo gak tau sih, lo semua tuh da-" Ucapan Siva terpotong saat seseorang datang dan mengucapkan salam kepada penghuni kelas XII.


"Assalamu'alaikum"


Semua perhatian tertuju pada sosok laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Waalaikumsalam"


Jawab mereka serempak.


"Lo mau ngapain?" Tanya ketua kelas yang bernama Dava.


"Disini ada yang namanya Marissa, Salsa, Aulia, sama Putri gak?" Tanya laki-laki itu. Mereka semua langsung menatap ke tempat duduk Salsa, Aulia, Putri, dan Salsa bersamaan.


"Eh kalian di panggil tuh" Kata Siva memberitahu. Ke empat gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sosok laki-laki yang tadi memanggil nama mereka.


"Kenapa?" Tanya Putri pada laki-laki yang bernama Kevin tersebut. Jangan berpikir bahwa mereka mengenal siswa itu, melainkan mereka tau nama orang tersebut karna ada nametag di baju nya.


"Kalian di panggil kepala sekolah" Kata Kevin. Dengan kacamata hitam bulat yang ia pakai, terkesan culun memang terlihatnya. Tapi untung saja, di sekolah ini belum ada yang namanya kasus pembullyan jenis apapun. Tidak seperti di novel-novel kebanyakan yang selalu menghadirkan bagian di mana ada kasus pembullyan yang terjadi di sekolah.


Namun lain hal nya di sini, Di Indonesia lebih tepatnya di SMP Negeri Nusa bangsa yang dilarang keras untuk membully antar sesama pelajar. Jika ada yang melakukan itu, mereka akan langsung di keluarkan dari sekolah/di cabut penggunakan kartu jakarta pintar bagi para penerima. Jadilah tidak ada yang berani melakukan itu.


Baiklah, kembali ke topik.


"Kepala sekolah manggil kita? Mau ngapain?" Tanya Aulia dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Gak tau deh. Pokoknya kalian cepet dateng ke ruang kepala sekolah" Dengan segala macam pemikiran, keempat gadis itu pun datang ke ruang kepala sekolah yang berada di lantai 1.


"Aduh... Kita di panggil kepala sekolah kenapa ya?" Tanya Putri cemas.


"Mungkin ada masalah" Jawab Aulia santai.


"Perasaan gue gak ada masalah deh" Gumam Salsa yang masih bisa di dengar ketiga sahabatnya.


"Kan gue bilang mungkin" Saut Aulia menanggapi gumaman Salsa.


Sampailah mereka di depan pintu ruang kepala sekolah. Mereka pun mengetuk pintu beberapa kali.


Tok! Tok! Tok!.


"Masuk!" Itu adalah suara kepala sekolah yang sangat familiar di telinga para gadis itu.


Mereka masuk kedalam dengan sopan dan menghampiri kepala sekolah yang berada di meja kerjanya.


"Permisi bu, katanya kami di panggil bu kepala sekolah. Ada apa ya?" Tanya Salsa sopan. Kepala sekolah melihat keempat gadis itu sekilas.


"Kalian silahkan duduk dulu. Biar ngobrolnya enak" Mereka mengangguk mengerti dan duduk di kursi, berhadapan dengan kepala sekolah.


Aulia dan Putri sudah cemas saja sedaritadi, kuku jari mereka sudah mendingin karna cemas, tak jauh berbeda dengan Salsa yang juga waspada. Sedangkan Marissa terlihat biasa saja dan sangat santai. Gadis itu berpikir bahwa ia tidak melakukan kesalahan, jadi tidak ada yang perlu di cemaskan.


"Jadi, ada apa ya bu?" Tanya Salsa lagi.


"Jadi begini, kalian kan sudah melaksanakan Ujian kelulusan dan tinggal menunggu beberapa hari lagi kalian lulus lalu meninggalkan sekolah ini, yakan?" Mereka semua mengangguk.


"Semua jawaban ujian sudah di periksa dan kalian lah yang mendapatkan nilai paling tinggi dalam satu angkatan" Mendengar hal tersebut membuat ke-empat sahabat itu terkejut.


"Serius bu? Nilai kami paling tinggi?" Kata Aulia tak percaya.


Kepala sekolah mengangguk. Tiba-tiba Aulia dan Putri berpelukan ria karna senang. Salsa dan Marissa yang melihat hal itu, hanya menatap mereka dengan tatapan seolah berkata apaan banget deh lo berdua.


"Karna itulah, kalian mendapatkan beasiswa dari dinas pendidikan" Lagi-lagi mereka di buat terkejut karna ucapan kepala sekolah.


"Iya. Kalian sangat beruntung karna mendapatkan beasiswa ke luar negeri hingga kalian lulus sekolah" Lanjut kata bu kepala sekolah.


"Kemana bu?" Tanya Putri penasaran.


Semoga ke Jepang, semoga ke Jepang.


Batin Aulia. Entah kebetulan atau apa, Salsa juga mengucapkan hal tersebut dalam batin nya.


"Ke Korea Selatan" Mulut mereka terbuka sedikit karna saking terkejutnya, terkecuali Marissa yang hanya mengerutkan alisnya heran.


"Ke ko-korea bu?" Tanya Salsa memastikan apa yang ia dengar.


Kepala sekolah mengangguk sebagai jawaban. Mereka saling bertukar pandang.


"Banyak sekali siswa-siswi yang menginginkan beasiswa ini, tapi kalian yang dapatkan. karna itu, manfaatkanlah beasiswa ini dengan benar dengan belajar yang rajin dan mampu membanggakan nama sekolah ini. Hanya itulah harapan dari semua guru yang ada disini. Jadi mohon di Terima" Mereka berpikir sejenak hingga saatnya, mereka mengangguk setuju dan menerima beasiswa tersebut.


Mereka harus bersyukur karna mendapatkan beasiswa yang di damba-dambakan para siswa-siswi di Nusa bangsa. Karna itulah, ini suatu keuntungan bagi mereka berempat.


"Tapi bu, kami tidak bisa berbahasa Korea. Gimana cara kita mengikuti pelajaran disana?" Tanya Putri yang di angguki oleh yang lain.


"Karna itulah, kalian di beri waktu untuk mempelajari kosa kata Korea dalam waktu yang sudah di tentukan" Jawab kepala sekolah.


"Berapa jangka waktunya bu?" Tanya Aulia.


"3 hari"


"HAH?!" Teriak mereka terkejut. Yang benar saja, mempelajari bahasa baru hanya dalam kurun waktu 3 hari?. Orang jenius mana yang mampu melakukannya?.


Mereka memang bisa berbahasa Inggris, tapi nyatanya bahasa Korea berbeda dari bahasa Inggris. Dilihat dari tulisannya saja sudah berbeda dan bahkan lebh rumit.


"Ta-tapi Bukannya itu terlalu singkat ya bu?. Kami belum tentu sanggup menguasi semua kosa katanya dalam bahasa Korea" Kata Salsa yang di angguki lagi oleh yang lain.


"Saya yakin kalian pasti bisa jika melakukannya. Lagipula ini hari terakhir kalian masuk sekolah, besoknya akan libur panjang. Jadi manfaatkan waktu kalian untuk berlajar bahasa Korea. Ingat, di hari ketiga kalian sudah harus berangkat ke Korea" Mereka menghela napas berat.


"Terus gimana sama keberangkatan kami, bu?" Tanya Aulia.


"Urusan itu, kalian tenang saja. Semuanya sudah di persiapkan, kalian hanya perlu membawa barang yang sekiranya kalian butuhkan untuk tinggal di sana" Mereka mengangguk mengerti.


"Mengerti? Kalian boleh kembali ke kelas. Dan ingat ucapan saya, jangan sampai kalian mengecewakan saya dan sekolah ini" Kata kepala sekolah mengingatkan. Keempat gadis itu mengangguk paham.


"Kami akan berusaha semampu kami. Terima kasih, kami pamit" Setelah sedaritadi diam, akhirnya si Marissa pun bersuara saat hendak meninggalkan ruang kepala sekolah.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Mereka semua terdiam di antara keributan yang menyelimuti suasana kantin yang riuh. Hanyut dalam pikiran masing-masing, membuat mereka tak ada niatan untuk membuka suara.


Kaneki... Aku gak bisa kesana. Maaf ya?☹️


~Aulia.


Gagal maning pengen ke JepangπŸ˜•


~Salsa.


Ke Korea ya? πŸ€”


~Putri


Waktu cuma 3 hari buat belajar bahasa Korea?.


~Marissa


"Oke fix!!, Nanti malem kita belajar bahasa korea!" Kata Salsa tiba-tiba membuat yang lain terkejut.


"Salsa ngagetin aja" Kata Putri.


"Tau nih. Eh tapi bener juga sih kata Salsa" Saut Aulia kini berpendapatan.


"Pulang sekolah kita ke gramedia. Beli kamus bahasa Korea" Kata Salsa memberi saran.


"Yah, tapi duit gue tinggal 30.000 ribu nih"


"Gue juga, tinggal 15.000 ribu malah" Jeritan anak sekolahan yang kurang uang. Salsa memutar bola matanya jengah.


"Lo pikir gue ada duit?. Gue juga gak ada duit kali" Kata Salsa membuat yang lain menatapnya sebal. Seolah tau siapa sumber harapan, Salsa, Aulia, dan Putri menatap Marissa seolah memohon meminta pertolongan.


Marissa hanya menaikkan satu alis seolah bertanya. Kenapa nih anak?.


"Marissa ku yang baik, bayarin ya?. Kami kaum miskin membutuhkan pertolongan mu" Kata Salsa dengan nada sok imut.


Marissa tidak tau berapa uang saku yang di berikan orang tua mereka untuk sahabatnya ini. Orang tua Salsa termasuk di kalangan menengah atas, begitu pula dengan Putri dan Aulia. Mungkin mereka terlalu boros dalam menggunakan uang.


"Iya nanti gue yang bayar" Final Marissa pasrah uang saku nya di gunakan. Toh ia bisa mendapatkan nya lagi dari pekerjaan paruh waktu yang biasa ia lakukan jika ada waktu luang. Hanya para sahabatnya yang tau bahwa Marissa bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.


"Ahhhh! Jadi makin sayang sama Marissa"


"Setan jahatnya lagi pergi, jadinya mau deh bayarin kita"


"Iya nih, nanti bayarin gue makan juga ya?"


"Lah lo doang? Gue juga mau!"


"Iya nanti di bayarin sama Rissa"


"Bacot, diem" 😐 Mereka pun terdiam saat dilihatnya wajah Marissa yang mulai kesal karna ulah mulut mereka yang berisik.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—