
"Kita udah sampe" Kata Marissa memberhentikan mobilnya tepat di sebuah restoran yang terlihat lumayan besar tersebut. Segera yang lain tersadar dan mereka semua turun dari dalam mobil.
"Ini restoran yang lo maksud?" Tanya Aulia kepada Marissa. Yang di tanya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo" Keempat gadis itu melangkah kan kaki memasuki restoran sambil memperhatikan sekeliling.
Restoran tersebut bernuansa elegan yang sangat mengagumkan serta membuat siapa pun yang datang merasa nyaman.
Salsa, Aulia, dan Putri heran dari mana Marissa mengetahui tempat seperti ini.
"Widihhh mantep nih tempat" Puji Putri melihat sekeliling.
Kini mereka telah duduk di salah satu meja dengan nomer 8 dengan posisi yang berdekatan, berserta jendela besar yang menampilkan jalanan dimana orang-orang berlalu lalang.
Untunglah pas sekali kursi yang terdapat di sana juga ada empat, jadi cukup untuk mereka makan bersama.
"Lo tau dari mana tempat ini?" Tanya Salsa kepada Marissa yang duduk di sebrang nya dengan Putri di samping gadis itu.
"Internet" Jawab Marissa yang diangguki oleh yang lain.
"Yaudah ayo makan. Udah laper nih gue!" Rengek Aulia tak sabaran. Di atas meja sudah terdapat buku menu dan para gadis melihat satu persatu menu makanan yang terdapat buku tersebut.
Setelahnya, mereka memanggil salah seorang pelayan untuk memesan makanan. Pelayan pun menurut dan pergi untuk menyiapkan makana.
"Btw, tadi mereka beneran udah gak ngikutin kita?" Tanya Aulia membuka percakapan.
"Kayaknya sih udah enggak" Jawab Salsa menerka. Marissa mengangguk setuju sebagai jawaban.
"Tapi kok gue sempet ngeliat ada mobil anak bangtan juga ya?" Tanya Putri. Salsa mengangguk cepat saat mendengar ucapan Putri.
"Iya sama, apa mereka ngikutin kita ya?" Tebak Salsa menerawang. Marissa menggelengkan kepala tidak setuju.
"Gak mungkin, kurang kerjaan. palingan mereka mau balik juga" Kata Marissa. Aulia mengangguk pelan sebagai tanggapan.
"Tau lo sal, GR banget" Ledek Aulia kepada Salsa yang berada di sampingnya.
"Kan gue bilang mungkin!" Balas Salsa menatap Aulia malas.
Marissa menatap kearah luar jendela, lebih tepatnya jalanan. Otaknya kembali memutar memori dimana anak bangtan mengusir anak laki-laki yang mengikuti tadi di jalan. Marissa tak tau pasti apa yang di bicarakan anak bangtan dengan mereka, yang jelas Marissa merasa bahwa anak bangtan seolah membantunya. Entahlah...
Bahkan sekarang Marisa tidak sadar bahwa kedua sudut bibirnya terangkat sendiri membentuk senyuman. Salsa dan Aulia saling bertukar pandang saat melihat Marissa tersenyum sendiri tanpa sebab. Mereka berdua mencoba untuk ikut melihat kearah dimana pandangan Marissa tertuju, namun tidak ada apapun yang menarik kecuali kendaraan dan orang yang berlalu lalang.
"Sal, Marissa kenapa sih?. Dari tadi senyum-senyum gak jelas, gue jadi ngeri sumpah" Bisik Aulia kepada Salsa. Salsa menggeleng sebagai jawaban.
"Gue juga kagak tau, lo tanya lah" Aulia menggeleng. Ia tau jika nanti bertanya, Marissa akan menjawab 'tidak apa-apa' atau 'gapapa'. Sama saja. Tak percaya? Baiklah kita coba. Ayo Aulia, tanya...
"Ris"
"Hhm?"
"Lo kenapa? Lo ngeliat apaan sampe senyum-senyum sendiri?. Ada cogan?" Tanya Aulia bertubi-tubi. Marissa membenarkan duduk nya menjadi lebih tegak dan menatap Aulia lalu menggeleng.
"Gapapa"
Tuh kan, gue bilang juga apa.
Dugaan gue bener...
Batin Aulia puas karna tebakannya benar sambil melirik Salsa, sedangkan Salsa hanya mengedikkan bahu acuh.
Tak lama, beberapa pelayan datang dengan beberapa nampan berisi makanan di tangan mereka lalu menaruhnya di meja keempat gadis tersebut.
"Ini pesanan kalian" Ucap pelayan itu ramah sambil menaruh nampan makanan diatas meja.
"Terimakasih" Kata Marissa dan pelayan itu mengangguk lalu pergi kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Aulia! Doa dulu!" Pekik Salsa sambil menoyor kepala Aulia yang hendak makan. Seketika Aulia menatap Salsa kesal lalu ia pun berdoa serta Putri dan Marissa ikut berdoa bersama.
"Enak juga nih makanan, bungkus boleh?" Ujar Aulia masih dengan mulut yang terdapat makanan di dalamnya.
"Makan dulu, baru ngomong" Kata Putri sambil terus menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Lo aja tadi ngomong" Celetuk Aulia kepada Putri.
"Habisin dulu yang ini, nanti pulang kita pesen yang baru" Kata Marissa membuat yang lain kegirangan seperti anak kecil yang mendapat hadiah dari orang tuanya.
"Asikkk mantaplah ris!" Girang Aulia.
Keempat gadis kembali melanjutkan makannya tanpa ada yang berniat mengeluarkan suara. Suasana restoran yang cukup ramai, terdengar mengisi keheningan.
"Gue keluar bentar ya?" Ujar Marissa tiba-tiba membuat yang lain bingung dan menghentikan makannya.
"Mau kemana?" Tanya Salsa mendongakkan kepala karna Marissa yang sudah berdiri.
"Keluar bentar, kalian tunggu sini"
Jawab Marissa.
"Jangan bilang lo mau kabur karna gak bisa bayar. Hayooo ngaku!" Kata Aulia negatif thinking. Marissa memutar bola mata malas.
"Jangan dong ris, tar kita di suruh cuci piring gimana?. Lo mah jahat" sambung Putri merajuk.
"Apasih, gue cuma mau keluar bentar. gak usah ribet deh, dah tunggu sini, abisin makanannya" Mau tidak mau Salsa, Aulia, dan Putri mengikuti apa kata Marissa dan melanjutkan makannya.
Marissa pun berjalan keluar dari restoran dan meninggalkan teman temannya. Kaki nya terus melangkah entah pergi kemana, yang jelas ia ingin mengunjungi suatu tempat.
Ia memasuki sebuah tempat penarikan uang (ATM) yang berada di sebrang restoran tersebut. Ia pun menyelesaikan kegiatannya disana untuk mengambil beberapa uang tabungan yang ia miliki.
Disisi lain...
"Si Marissa kemana sih?. Kita di tinggal" Kata Aulia ketakutan.
"Tenang, dia pasti balik lagi" Saut Salsa bersikap santai dan terus memakan makanannya, begitu juga Putri.
"Ya tapi kan kita belum bayar... Nan-"
Saat keempat gadis tengah dalam keadaan tenang, sosok tak di undang datang dan membawa suasana menjadi memuakkan.
"Luar biasa, kita ketemu kalian lagi disini"
🌺🌺🌺
"PAMAN!!! PAMAN!!! PAMAN ADAM!!!" teriak anak bangtan memanggil sang pemilik rumah.
"Kemana sih paman?" Tanya Hoseok kesal. Pasalnya sedaritadi mereka memanggil dan mengetuk pintu rumah berwarna coklat ini, namun tidak ada jawaban.
"Kita datang besok saja" Kata Namjoon final.
"Aku yakin paman masih ada di dalam. Mungkin dia tidur" Kata Jungkook tak putus asa dan kembali mengetuk pintu tersebut.
"Percuma, tidak ada. Mereka pasti pergi" Kata Jimin merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.
"Yasudah, bes-"
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya berbadan tinggi serta kacamata yang ia gunakan. Pria itu tersenyum saat melihat siapa tamu yang datang.
"Owhhh kalian rupanya. Berisik sekali, ada apa?" Tanya pria paruh baya itu kepada anak bangtan.
"Paman adam, kami mau minta bantuan mu" Kata Seokjin kepada pria paruh baya yang bernama adam tersebut.
"Baiklah, ayo masuk" Paman adam mempersilahkan anak bangtan masuk kedalam rumahnya dan mereka semua pun masuk kedalam rumah yang berukuran sederhana tersebut.
Mereka semua duduk di sofa panjang dan mulai berbicara.
"Paman, dimana bibi?" Tanya Taehyung kepada Paman Adam.
"Dia sedang pergi keluar, mungkin ke pasar" Taehyung mengangguk paham.
"Lalu kalian mau minta bantuan apa?" Tanya paman Adam kepada anak bangtan. Mereka saling lihat satu sama lain dan seolah memberikan kode.
"Kau saja" Bisik Hoseok kepada Namjoon yang berada di samping nya. Namjoon menghela napas, selalu saja dia yang bertindak. Dasar teman laknat...
"Paman, paman benar berasal dari Indonesia kan?" Tanya Namjoon hati hati untuk memastikan.
"Benar, memangnya kenapa?" Tanya paman Adam balik. Namjoon mengusap tengkuknya sejenak sebelum menjawab.
"Kami semua mau be-belajar bahasa Indonesia, paman. Paman mau mengajarkan?" Kata Namjoon penuh dengan waspada. Paman Adam berpikir sejenak sambil melihat masing-masing wajah anak bangtan yang juga tengah melihatnya.
Paman Adam tersenyum
"Kalian sungguh mau belajar?. Untuk apa?" Tanya paman Adam.
Mereka terdiam seketika saat mendengar pertanyaan itu. Mereka bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya Jungkook memberikan jawaban yang cukup melegakan.
"Kami hanya ingin menguasai bahasa lain, paman. Di sekolah banyak siswa-siswi yang berasal dari Indonesia, karna itu kami mau belajar bahasa Indonesia" Jelas Jungkook beralasan dan hal itu membuat anak bangtan lain setuju.
"Benar paman, tolong ajarkan kami" Ujar Jimin dengan puppy eyes nya.
"Kami mohon paman, nanti kami belikan coklat" Mendengar itu, paman Adam segera bangkit dari duduknya dan mengedipkan sebelah mata.
"Ayo, aku ajarkan kalian" Kata paman Adam. Anak bangtan berhigh five ria karna berhasil membujuk paman Adam untuk mengajarkan mereka.
"Terima kasih, paman"
"Eitsss tapi ada syaratnya!" Kata paman Adam membuat anak bangtan kembali serius.
"Apa itu?" Tanya Taehyung penasaran, begitu juga yang lain.
"Pertama, Kalian harus belikan paman coklat. Kedua, kalian harus rajin datang ke perpustakaan paman, dan yang ketiga... " Anak bangtan serius menunggu syarat ketiga dari paman Adam. Mereka yakin, mereka bisa menyanggupi semaunya.
"Apa yang ketiga?" Tanya Suga akhirnya bersuara, setelah seribu abad terdiam. (Tapi boong... 🤣)
"Kalian harus cepat punya pacar"
Mereka semua seketika menjadi lesu saat mendengar syarat ketiga.
"Paman, syarat pertama dan kedua kami sanggup. Tapi yang ketiga... Rasanya sulit" Kata Seokjin kepada paman Adam.
"Benar paman, jangan itu syaratnya" Kata Hoseok mengeluh.
Paman Adam tertawa mendengar keluhan dari keponakannya.
"Kenapa? Bukankah kalian tampan dan populer di sekolah?. Pasti mudah mendapatkan pacar" Kata paman Adam menyepelekan.
"Bukan begitu, kami tahu itu. Tapi kami mencari pacar yang setia dan Terima kami apa adanya. Bukan karna tampan dan populer" Kata Namjoon yang langsung di setujui oleh anak bangtan lain.
"Susah mencari pacar seperti itu sekarang" Kata Suga berbicara untuk kedua kalinya. Paman Adam mengangguk setuju, ia paham maksud dari anak bangtan.
"Tak masalah, paman yakin kalian pasti mendapatkan nya"
"Jadi bagaimana, mau tidak?" Mereka terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Gimana nih?"
"Enggak tau, aku ragu dengan syarat ketiga"
Setelah beberapa saat berunding, akhirnya mereka pun setuju untuk menyanggupi kemauan paman Adam yang cukup menyebalkan bagi mereka. Tapi tak masalah, di coba saja dulu.
"Baiklah kami mau"
"Nah! Itu baru laki-laki jantan!" Puji paman Adam.
"Oke, nanti malam kita akan langsung belajar" Kata paman Adam yang diangguki oleh yang lain.
🌺🌺🌺