
"Apa kabar?" Sapa Liu xan kepada Salsa, Aulia, dan Putri dengan gaya yang sengit. Salsa memutar bola mata malas menanggapi.
"Eh kok gak di jawab sih? Kalian tuli?" Tanya Liu xan memancing dengan nada seolah sedih.
"Baik" Jawab Salsa singkat. Mereka ingin sekali meninggalkan tempat ini, tapi masalahnya makanan yang mereka habiskan belum lah di bayar. Bisa malu jika keempat gadis rusuh itu tahu.
"Nah gitu dong, kan kita teman. Seharusnya teman saling sapa" Kata Hara tersenyum miring.
"Kalian berisik, mending cari tempat lain" Kata Salsa ketus sambil menatap Kim Hara dan teman-temannya.
"Cari tempat lain?. Terserah kami lah mau dimana, kenapa jadi kau yang mengatur?" Salsa mencoba untuk tetap bersabar walaupun tangannya sedaritadi terkepal. Sedangkan Aulia dan Putri memilih untuk diam saja, tidak mau ikut campur dan angkat bicara.
"Yaudah, tapi kan kalian bisa gak berisik disini" Kata Salsa mencoba untuk tenang dan bersabar menghadapi Kim Hara dan teman-temannya.
"Sepertinya karna sudah dekat dengan anak bangtan, mereka jadi melunjak seperti ini. Mereka besar kepala" Kata Bella memanas manasi.
"Kau benar, mereka memang besar kepala" Tangan Salsa sudah mengepal dengan kuat sedaritadi. Aulia dan Putri yang melihat itu bergidik ngeri takut.
"Sabar sal" Bisik Aulia di telinga Salsa sambil mengusap bahu gadis itu, mencoba untuk menenangkan.
"Cih, aku sungguh muak dengan kalian"
Liu xan mengambil jus jeruk yang ada di meja lalu tanpa di duga menumpahkan nya pada baju Salsa yang membuat baju gadis itu basah dengan noda kuning yang mengotori seragamnya.
byurrr!
Salsa segera bangkit dengan marah dan menatap tajam kearah Liu xan.
"Sialan!. Apa yang kau lakukan?!" Marah Salsa kepada Liu xan karna beraninya menumpahkan minuman di seragam sekolahnya. Aulia dan Putri ikut berdiri sambil mencoba membersihkan seragam Salsa dengan tisu.
Kim Hara dan teman-temannya tertawa puas karna berhasil mengerjai Salsa dan membuat gadis itu marah.
"Aku tak punya masalah dengan kalian! Kenapa kalian malah bertindak kurang ajar?!. Apa mau kalian?!" Bentak Salsa penuh dengan emosi.
"Kami hanya ingin kalian menjauhi anak bangtan, hanya itu" Salsa menggertakkan giginya karna sangat marah.
Gila nih cewek!
Batin Salsa.
"Mau aku dekat dengannya atau tidak, itu bukan urusan kalian!. Lagipula kalian bukan siapa-siapa mereka, kalian tidak punya hak!" Jelas Salsa menggebu-gebu.
"Tentu saja itu urusan kami. Kalian saja yang kecentilan" Kata Bella tersenyum miring.
"Kau-"
"Kalian lagi rupanya, tidak kapok ternyata" Suara Marissa tiba-tiba terdengar dan membuat perhatian tertuju padanya yang baru saja sampai dari luar. Aulia menghela napas lega karna melihat kehadiran Marissa, begitu juga dengan Putri. Sedangkan Hara dan teman-temannya malah tersenyum miring dan menatap Marissa sengit.
"Kalian berulah lagi. Kalian tidak puas ku permalukan depan anak bangtan? Kalian mau lagi?. Tak masalah, semuanya sudah ku rekam" Kata Marissa datar sambil menunjukkan ponsel di tangannya. Hara dan teman-temannya melotot terkejut saat tahu bahwa Marissa merekam kejadian tadi.
"Beraninya kau-"
"Beranilah, lebih baik kalian menyerah dan tidak mengganggu kami lagi. Kalau tidak, Video ini akan ku sebar satu sekolah dan reputasi kalian akan hancur di muka umum serta di depan anak bangtan" Ancam Marissa dengan satu alis terangkat, seolah menantang.
"Sebentar" Ujar Marissa kepada Salsa, Aulia, dan Putri. Marissa pergi sebentar untuk membayar ke kasir semua hidangan yang sudah ia pesan lalu kembali lagi ke tempat semula, Dimana masih ada teman-temannya dan Hara yang masih terdiam.
"Ayo" Ajak Marissa pada tiga sahabatnya. Salsa, Aulia, dan Putri hanya mengangguk patuh. Namun baru beberapa langkah, Marissa berhenti dan berbalik kearah Liu xan dan tanpa di duga ia mengambil segelas jeruk di atas meja juga dan menumpahkan nya tepat pada baju milik Liu xan dengan tersenyum sinis.
byurrr!
"Impas" Setelah mengucapkan itu, Marissa pergi. Salsa menjulurkan lidahnya kepada Liu xan sesaat sebelum pergi dari restoran tersebut.
Kim Hara, Liu xan, Bella reis, dan Hyo Nara hanya bisa menatap kesal kearah kepergian Marissa dan teman-temannya.
"Mereka benar-benar kurang ajar!. Kita harus balas perempuan gila itu!" Kata Hyo Nara.
"Aku tidak Terima di siram seperti ini. Dia benar-benar menjijikkan!" Saut Liu xan sambil membersihkan bajunya menggunakan tisu.
"Kita tunggu waktu yang tepat untuk balas mereka"
🌺🌺🌺
"Ish! Sebel banget sama tuh cewek!. Seenaknya nyiram gue tiba-tiba!" Cerutu Salsa geram. Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan Marissa memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk membantu Salsa membersihkan diri.
Sedaritadi Salsa tak henti-hentinya membangsat-bangsatkan Liu xan yang telah menyiramnya dengan air jeruk. Sungguh ini sebuah penghinaan bagi Salsa.
"Sabar Sal, kan yang penting udah di bales sama Marissa" Kata Aulia menenangkan Salsa agar tidak terlalu tersulut emosi. Putri mengangguk setuju dengan pendapat Aulia.
"Gue tau, tapi kan seharusnya gak gini juga!. Ini seragam sekolah!" Aulia dan Putri tidak tau harus berkata apalagi untuk menenangkan Salsa sekarang. Jadi mereka hanya pasrah mengorbankan telinganya karna mendengar ocehan Salsa yang sepanjang rel kereta api.
"Liat aja kalau sampe ketemu lagi, gue bejek-bejek tuh cewek!"
"Pakek ngatain kecentilan lagi!. Dia gak punya kaca kali ya di rumah, sampe gak sadar diri!"
"Die kira kita apa yang ngedeketin anak bangtan?!. Orang mereka sendiri yang kucuk-kucuk dateng, dasar cewek gila! Sarap!" Ocehan Salsa membuat Aulia menutup telinganya dengan bantal kecil yang terdapat di mobil. Putri menyumpal telinganya dengan handset yang ia ambil dari dalam tas. Marissa hanya fokus menyetir dan membiarkan Salsa melepaskan kekesalannya sendiri.
Tar juga capek sendiri ngoceh nya...
Batin Marissa cuek.
Benar saja, beberapa saat kemudian Salsa terdiam dan tak mengoceh lagi. Ia memilih untuk mengumpat saja dalam hati.
Mereka pun sampai di apartemen, segera mereka turun kecuali Marissa yang memarkirkan mobil terlebih dahulu baru menyusul ketiga temannya masuk kedalam kamar apartemen.
"Ganti baju gih!. Kotor tuh baju lo!" Kata Aulia menunjuk Salsa dengan raut wajah jijik.
"Yaelah, lo juga kali. Kan itu seragam sekolah juga!" Kata Salsa membalas menunjuk seragam Aulia. Aulia menyengir tanpa dosa saat baru menyadari bahwa ia juga mengenakan seragam sekolah.
"Semuanya ganti gih seragamnya" Kata Marissa lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk berganti baju.
"Gantian woy!" Kata Putri sedikit berteriak kepada Marissa.
"Ya" Jawab Marissa dari dalam kamar mandi.
🌺🌺🌺
"Hei, kau sedang apa?" Tanya Taehyung kepada Jungkook yang sibuk berkutat dengan laptop nya.
"Mencari apa?. Tunggu, untuk apa kau membuka biodata murid SMA SOPA?" Tanya Taehyung saat menyadari Jungkook tengah membuka situs sekolah yang berisi mengenai biodata semua murid di SMA mereka.
Jungkook tak langsung menjawab, ia malah menunjukkan sesuatu di layar monitor nya kepada Taehyung sambil memainkan alisnya naik turun.
Taehyung menatap Jungkook sekilas lalu melihat kearah layar monitor yang di tunjukkan Jungkook padanya. Seolah mengerti maksud Jungkook, Taehyung menatap Jungkook jahil.
"Jadi ini yang kau cari" Kata Taehyung yang diangguki oleh Jungkook.
"Mau kau apakan nomer telepon itu?" Tanya Taehyung lagi.
"Tentu saja untuk ku telepon orangnya" Kata Jungkook kembali fokus kepada laptopnya.
"Benarkah?? Kalau begitu aku juga mau. Pinjam!" Tanpa seizin Jungkook, Taehyung mengambil alih laptop tersebut dan ikut mengutak-atik benda tersebut. Lalu mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomer disana.
"Dasar" Umpat Jungkook saat melihat Taehyung melakukan hal yang sama dengannya.
"Kalian sedang apa? Apa yang kalian lakukan?" Namjoon datang dengan tiba-tiba sambil menatap Taehyung dan Jungkook curiga.
"Ka-kami sedang-"
"Sedang apa? Hayooo?" Tatapan Jahil timbul di mata Namjoon.
"Bukan apa-apa hyung, kami hanya sedang berusaha" Kata Jungkook menimbulkan tanda tanya di kepala Namjoon.
"Berusaha apa?" Tanya Namjoon. Kini ia memilih duduk di samping Jungkook dan jadilah Jungkook berada di tengah-tengah antara Taehyung dan Namjoon.
"Ahhh jangan bilang kau sedang mencari nomer telepon Salsa ya?" Jungkook tersenyum kelinci saat Namjoon dengan mudah menebak apa yang ia lakukan.
"Kau juga, tae?" Tanya Namjoon kepada Taehyung.
"Tentu saja, kesempatan bagus" Kata Taehyung memainkan alisnya seolah berkata ini pilihan yang tepat.
"Kalian ini laki-laki, kenapa tidak minta langsung ke mereka?" Tanya Namjoon membuat Taehyung dan Jungkook terdiam sebentar.
"Entahlah hyung, kami canggung" Kata Jungkook membuat Namjoon merotasi kan bola matanya.
"Tentu saja canggung, karna kalian tidak ada yang berani memulai duluan. Seandainya kalian mengajak mereka bicara, pasti tidak akan canggung. Terlebih dengan sifat Marissa yang dingin, tentu harus kau dulu yang ajak bicara" Kata Namjoon menasehati sambil menatap Taehyung nampak tengah memikirkan ucapan Namjoon.
"Begitu ya, hyung?" Namjoon mengangguk pasti sebagai jawaban dari pertanyaan Jungkook.
"Tapi tak masalah, kalian bisa mulai dari mengirim pesan ke mereka dulu" Usul Namjoon.
"Itu aku setuju" Kata Taehyung bersemangat.
"Kapan kau akan mengirim pesan?" Tanya Namjoon kepada Taehyung.
"Entahlah, rahasia" Kata Taehyung.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa serius sekali? Aku jadi penasaran" Jimin tiba-tiba muncul dari arah dapur basecamp anak bangtan dengan membawa beberapa cemilan dan duduk di samping Taehyung.
"Anak kecil gak boleh tau" Kata Taehyung meledek. Jimin menyatakan kepala Taehyung.
"Hei! Kau dan aku lebih tua aku, jangan kurang ajar memanggilku anak kecil" Protes Jimin tak Terima dengan panggilan Taehyung kepadanya.
"Tua tapi bangga" Celetuk Jungkook terkekeh sambil terus memainkan laptopnya. Jimin menatap Jungkook tak Terima.
"Ohh maknae sekarang sudah kurang ajar" Kata Jimin menatap Jungkook.
"Mian" Kata Jungkook masih dengan kekehan nya.
"Dasar kalian, cepat katakan" Taehyung, Jungkook dan Namjoon menatap Jimin bingung.
"Katakan apa?" Tanya Namjoon. Jimin memutar bola mata malas.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?. Aku penasaran, jika berhubungan dengan gadis-gadis, aku mau gabung" Kata Jimin dengan senyum nakal dan memainkan alisnya.
"Dasar kau ini, selalu gadis-gadis. Sekali-kali perempuan" Kata Namjoon yang entah kenapa otaknya sedang bermasalah tiba-tiba.
"Hei sama saja!" Kata Jimin.
"Beda, gadis masih perawan. Perempuan belum tentu!" Kata Namjoon membela diri.
"Kurasa sama saja, kau saja yang membuatnya rumit"
"Mana ada, tentu saja berbeda. Memang nya kau mau dengan perempuan yang sudah tak gadis lagi?" Jimin menggeleng kuat mendengar ucapan Namjoon.
"Hei! Apa yang kalian bicarakan? Kenapa jadi kearah sana?!" Mereka semua terdiam saat mendengar suara Suga yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa. Tidak ada yang menyadari, sungguh misterius.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Namjoon kepada Suga yang kini merubah posisi menjadi rebahan.
"Sejak kau membicarakan gadis" Kata Suga cuek.
"Ohh" Mereka semua ber'oh' ria.
"Ganti topik pembicaraan nya. Sungguh tidak bagus di bicarakan" Kata Suga dan kini ia memejamkan matanya.
"Kau sih membicarakan itu" Kata Jimin menyalahkan Namjoon.
"Kan kau yang penasaran" Kata Namjoon membela diri.
"Tapi kan aku penasaran bukan tentang itu"
"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Lebih baik kita siap-siap untuk nanti malam" Kata Taehyung membuat Jimin mengerutkan alis.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Jimin lupa.
"Kan kita mau kerumah paman Adam, mau belajar bahasa" Ini bukan Taehyung yang menjawab melainkan Jungkook.
"Ahhh benar, aku lupa. Ayo kita bersiap-siap!" Ujar Jimin baru sadar.
"Hyung, bangunlah!. Jangan tidur" Kata Taehyung kepada Suga yang hampir saja memasuki alam bawah sadar.
"Iya bawel"
🌺🌺🌺