
Matahari sudah berada di timur dengan cahaya yang nampak baru. Meskipun itu cahaya yang sama, yang selalu terlihat. Angin sepoi-sepoi berembus menyejukkan pohon-pohon membuat dedaunan berterangan mengelana yang sampai entah ke mana.
“Ini, pakai.” Ujar Daca memberikan jubah hitam panjang.
Daniel mengangguk. Ini adalah keberuntungannya, dengan memakai jubah hitam dia bisa menyembunyikan identitas aslinya sebagai Jendral.
Berita kejadian yang terjadi pasti sudah menyebar segala arah dan jika ada penduduk negara lain yang mengetahuinya sudah pasti dia sangat terancam mengingat musuhnya sangat banyak.
Daniel lalu memakainya dan menyiapkan semua barangnya.
“ Terima kasih.” Ucapnya lalu pergi.
Daca mengangguk lalu bergegas masuk.
Saat dia suda tiba di ruangan tamu, dia menarik nafas panjang dan langsung duduk dengan santai.
“ kau bisa keluar sekarang.” Ujarnya yang entah kepada siapa.
“Hahahaha.” Tawa seorang wanita yang penuh dengan kefeminiman.
Butiran cahaya merah berkumpul yang entah dari mana asalnya. Sosok wanita cantik dengan gaun merah muncul di depanya lalu duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
“Kenapa kau harus menyembunyikan identitasmu.” Ucapnya dengan sedikit memprovokasi.
Daca seperti biasa dengan wajahnya. “ aku tidak ingin adikku mengetahuinya. Jika dia tahu, mungkin dia akan marah dan menjauhiku.”
Wanita itu pindah duduk di sampingnya, dia mendekati wajah Daca bahkan Daca bisa merasakan nafas wanita itu. “ jika dia tahu yang sebenarnya mungkin dia akan lebih merasa menderita. Bagaimana bisa seorang kakak yang selalu dia hargai, kini hanya bisa bertemu dengannya hanya dengan memakai topeng wajah.”
“ Itu lebih baik.” Jawabnya singkat tidak memandang wanita itu.
“ Kau memang selalu seperti ini, aku sungguh kagum denganmu, seperti tidak memiliki perasaan di luar, tetapi di dalamnya sungguh lembut. Aku selalu memprovokasimu, tetapi hasilnya selalu begini.” Ucapnya sedih, wajahnya tadi seperti hanya sandiwara yang di buat-buat.
“oleh Karena itu lah kau selalu mendampingiku.” Jawab daca dengan senyuman di wajahnya.
“Aku pergi memasak dulu.” Ujarnya lalu pergi ke dapur.”
...****
...
Saat ini Daniel sedang berada di kota Barat kekaisaran uttarian selatan. Kota ini masih tradisional. Rumah-rumah mereka terbuat dari bambu dan papan, mempunyai tinggi yang sama. Meskipun begitu desa ini terlihat indah,
Setiap sisi jala semua rumah berjejeran rapi. Orang-orang sebagian terlihat beraktivitas lalu lalang di jalan sesekali memandang Daniel dengan tatapan tajam dan berhati-hati. Dia yang memakai jubah hitam yang menutupi semua tubuhnya. Mungkin mereka penasaran apakah Daniel orang jahat?
Daniel tidak memperdulikannya, dia terus berjalan menuju ke barat letak kekaisaran matahari terbenam, tempat sekarang yang dia tuju.
“ Haha. Haha, ayo tangkap, ayo!” ujar seorang anak kecil sambil mengangkat tangan yang memegang sebuah pisang.
“ Hey, kembalikan!” ujar temanya yang berlari mengejarnya.
“ hah.” Ucapnya terkejut saat melihat Daniel di depannya, dia tidak mengetahui Daniel di depanya, jadi wajar saja dia terkejut.
“ jangan takut aku bukan orang jahat.” Ucap Daniel lalu berpapasan dengan anak itu.
Mereka dari kejauhan memandang daniel, kedua mata mereka memperlihatkan rasa penasaran memandangnya beberapa saat dan melanjutkan lagi aktivitasnya.
...****...
Daniel memandang gerbang yang ada di depanya, lalu mendekatinya, dia berusaha menekan energi sihir dalam dirinya, karena dia tahu bahwa dia mulai memasuki daerah musuh.
Di depan gerbang dua orang berjaga dengan gagah, matanya mempertahankan ketajaman jiwanya yang tidak takut kepada siapa pun. Di pinggangnya terselip pedang panjang lengkap dengan sarungnya.
Daniel berjalan seperti biasa, tetapi karena dia memakai jubah hitam membuat dua penjaga memperhatikannya.
“ siapa kau!” ujar penjaga di kanan dengan tegas.
“ tuan aku seorang pengelana.” Jawab Daniel
“ perlihatkan wajahmu.”
“ Daniel tidak menjawabnya.
“apa kau tuli!” penjaga di kanan mendekati Daniel.
“ tuan, aku mempunyai penyakit yang jika kulitku terkena sinar matahari langsung akan terbakar dan akan meledak.” Ucapnya dengan cepat.
Penjaga berhenti setelah mendengar kata-kata Daniel dan memperlihatkan ekspresi wajah yang mengkerut seperti sedang berpikir keras, lalu memalingkan wajahnya menatap temanya. “ apa kau pernah mendengar penyakit seperti itu?” Tanyanya
“Tidak.”
Daniel mulai meraih gagang pedangnya sebagai persiapan jika rencananya gagal.
“ Jangan-jangan kau berbohong!, Aku tidak melihat kau seperti sedang menderita penyakit apa pun.”
“ tuan, jika tuan tidak percaya maka aku bisa membuka jubah ini dan membuktikannya, tetapi tuan jangan menyesal nanti.” Jawabnya sambil memberatkan nadanya.
Daniel lalu mengangkat tangannya mulai memperlihatkan tubuhnya dari bawah.
Saat ini penjaga memperlihatkan ekspresi takut dengan cepat berkata, “ tunggu!”
“ Baiklah kau masuk saja.”
Saat mendengar perintah yang di berikan oleh temannya yang satunya, penjaga yang masih berada di gerbang dengan cepat dia berkata. “jangan! Kita harus memeriksanya dulu.”
“ Apa kau ingin terkena penyakit!?”
“ tapi ....”
“Silahkan berjalan dengan cepat.” Ujar penjaga yang ada di depan Daniel.
“ terima kasih tuan.” Ucap Daniel sambil berjalan melewati gerbang.
Penjaga tadi sudah kembali ke tempatnya.
...****...
Setelah beberapa meter Daniel mulai mendengar samar-samar suara ramai dari desa pertama kekaisaran barat yang dia pihaknya sekarang.
Suara itu begitu ramai, membuat Daniel heran, mengapa saat dia berada di desa yang paling ujung kekaisaran barat begitu ramai? Mungkin karena penduduk kekaisaran uttarian banyak yang mengisi di daerah ini. Pikirnya. Dia memandang sekitar memastikan semuanya aman lalu mengeluarkan kristal merah dari tangannya. Kristal itu melayang di atas tangan Daniel lalu meledak mengeluarkan aura lingkaran yang membesar.
Energi dari kristal sudah meningkat 2 kali lipat dari sebelumnya, sehingga dapat menjangkau daerah yang lebih luas, dan hanya yang menggunakannya yang dapat merasakan energi tersebut, membuat Daniel bisa menggunakannya di sembarang tempat, asalkan tempat itu tidak ramai.
Setelah beberapa detik tidak ada reaksi apa pun, dia kembali memasukkannya. “mungkin jaraknya 2 desa dari sini.” Gumanya mengira-ngira, lalu berjalan sambil menarik nafas panjang. Dia kira dengan kristal yang sekarang dapat menemukannya dalam waktu 3 hari ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
...****...
Ini berapa harganya?”
“ satu koin emas.”
“Aku mau beli sayur sayuran.”
“ kamu jangan lupa lagi.”
Sura suara itu berasal dari pasar di depan Daniel yang begitu ramai. Semua orang lalu lalang seperti tidak ada hari besok, sekarang sudah terjawab Bahwa yang di dengar Daniel bukan suara-suara dari desa, ternyata itu berasal dari pasar di desa.
Daniel berjalan hanya memandang ke depan dan berharap tidak ada yang mencurigainya.
Setiap langkah yang di lakukan, dia dapat mencium bau-bau sayuran, buah-buahan, makanan dan lain sebagainya yang membuatnya rindu akan rasa makanan yang dia makan semalam bersama daca.
“ Tuan.” Ucap dari seorang anak yang sudah berada di sampingnya.
Daniel memalingkan wajahnya menatap anak itu.
Seorang anak yang berpakaian compang-camping dan kotor, rambut yang seperti tidak pernah keramas sedang mengeluarkan tangannya.
“ apa tuan punya makanan?” Tanya lembut.
“ Aku lapar.”
Daniel tidak tega melihatnya, tetapi saat ini dia tidak punya makanan satu pun. Apa yang harus aku lakukan pikirnya dalam hati.
Dia berpikir sejenak sambil menatap anak di sampingnya.
Setelah 5 detik berlalu anak itu memutuskan untuk pergi.
“ Di mana kamu tinggal?.” Ujar Daniel menghentikan langkah anak itu.
“ Aku tinggal di pinggir desa.” Jawabnya.