The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 15 kembalinya seorang ayah



Ke esokkan Harinya dia mulai mencarinya lagi. Dia mulai mencari lebih dalam menelusuri setiap kota, karena kota tidak terlalu ramai membuatnya dengan mudah mencari anak-anak, sampai siang pun dia tidak menemukannya membuatnya kesal, di dalam hatinya dia sungguh menyesal dan menanyakan kenapa masalah ini terjadi lagi menimpa dirinya, apakah ini yang namanya nasib?


Dia memutuskan untuk duduk di alun-alun kota yang kering dan sedikit pepohonan di sana, kembali lagi duduk di bawah pohon, melihat-lihat orang-orang yang sedang duduk menikmati hari bersama pacar, keluarga, teman dan lain-lain. Mereka kelihatannya sungguh bahagia membuat Danel sedikit iri, dia lalu mengambil buku.


Cerita 4


Waktu berlalu dengan cepat, tanpa dia menunggu, tanpa harus di tunggu; dia berjalan dan melangkah tanpa ada hambatan, sungguh aku iri dengannya. Yang selalu ada menghiasi malam dan siang, yang selalu melihat musim-musim dan kebahagiaan, tawa dan canda orang-orang di dunia, aku iri.


Tiga bulan pun berlangsung, selama itu aku selalu di rundung oleh saudara-saudaraku, mereka selalu mencari cara untuk mengerjaiku, selama itu juga aku selalu melawan dan melawan, tapi aku masih lemah, dan tidak ada orang yang membantuku. Hanya ada mereka yang membawakan makanan. saat aku bertanya mengapa mereka tidak melayaniku, Mereka menjawabnya. “ kami di perintahkan untuk memberikan makanan saja dan tidak boleh melayani anda.” jawabnya sambil menundukkan kepala.


Aku mengerti , aku kembali teringat seorang pekerja akan selalu mematuhi majikannya. Aku menyuruhnya untuk keluar dan dia mengangguk dengan sopan lalu keluar. Pandanganku tertuju pada langit biru dari jendela terbuka, tanpa sadar aku mendekatinya.


Saat aku memandangnya aku melihat Wiwit, burung merpati. Kukelipkan mataku, ternyata itu hanya bayangku, buku aku ambil dan mulai membacanya.


Seseorang lalu datang.


Aku menutup buku, dan memandangnya, dia adalah salah satu saudaraku, Pangeran ke empat.


Dia sedikit ragu-ragu untuk melangkah, “apa yang ingin kamu lakukan?” tanyaku membuatnya sedikit terkejut.


“Maaf.” Balasnya sambil menunduk.


“Hah.”kata-kata itu keluar dengan sendirinya, aneh!


“maaf aku...tidak bisa membantumu.” lanjutnya.


“Apa kamu bodoh!”


Ia agak sedikit terkejut dan menaiki kepalanya memandangku. “Aku tidak bodoh!”


“aku hanya ingin meminta maaf.”


“baiklah.” jawabku yang lelah dengan semua ini.


“Apa kamu memaafkanku?”


“iya.”


“sungguh!” sekarang wajahnya di penuhi rasa bahagia.


“I..ya”


“Terima kasih, aku pergi dulu.” Ujarnya dengan bergembira lalu pergi.


Aku heran bagaimana bisa seseorang bergembira dengan seperti itu.


Setelah itu aku terus membaca buku.


Hari-hari aku terus melakukan itu, walaupun masih ada orang yang merundungku, tetapi Pangeran ke empat tidak terlihat lagi di antara mereka, hingga akhirnya aku muak dengan semua itu.


Kututup dan kunci pintu, lalu duduk di ranjang, sesekali aku memandang buku, tetapi sekarang buku-buku itu tidak dapat menarik minatku.


Yang aku lakukan hanya tidur, makan dan mandi, baru kali ini aku merasakan kesepian, hingga akhirnya aku melihat sesesok putih mengepakkan sayapnya di dekat jendela. “ Wiwit.” rasa kesenanganku kembali.


Wiwik lalu berpindah tempat di lenganku, aku langsung saja mengelus-elus bulu putihnya itu, yang selembut Kapas, sudah lama aku tidak merasakannya, membuat aku ketagihan untuk mengelusnya.


Mulai hari itu dia selalu mengunjungi ku, membuatmu nyaman dengannya, tetapi suatu hari aku iri dengan saudara-saudaraku yang memiliki ibu sedangkan aku tidak.


Aku hanya bisa memandang mereka dari kejauhan, mereka tampak sangat bahagia dan lengkap, sedangkan aku, hanya anak pembawa sial dan tidak ada istimewanya.


Andai saja ibuku masih hidup mungkin aku hidup bahagia; tidak seperti sekarang ini, sendirian.


Tanpa aku sadari air mataku menetes, aku langsung menuju ke kamar dan merebahkan diri, aku bisa saja bergembira dengan Wiwit, tetapi dia seekor burung merpati yang tidak akan bisa memahami perasaan manusia, andai saja bibi yu kembali pasti akan lebih baik, dimanakah dia sekarang?


Aku teringat, kata kata bibi yu ' orang yang mati akan berada di atas dan berkumpul dengan yang lainya, ibu anda pasti sedang ada di sana’ Saat aku mengunci kamar sendirian, entah mengapa perasaanku menjadi lebih baik.


Aku menuju meja, bukan untuk membaca melainkan menulis sebuah surat, aku mulai menulis


Ibu aku merindukanmu


“pergilah dan sampaikan pesanku kepada ibu.” Ujarku sambil melambaikan tangan dari jauh.


...****...


Sampai sekarang Wiwik belum kembali, apa ia kebingungan mencari ibuku? Mungkin saja. Sekarang aku menyandarkan daguku di lorong istana, duduk menunggu ayahku kembali, aku mendengarnya dari para pelayan yang membawa makanan untuku, mereka tidak memberitahuku, tapi aku mendengarnya saat mereka berbicara.


Perasaan hangat mulai tumbuh lagi dalam diriku, meskipun aku tahu bahwa ayahku kadang-kadang terlambat datang mungkin juga tidak datang yang selalu membuatku kesal.


Sebenarnya aku sudah mengetahui dari dulu, tetapi aku lupa!


Cahaya seperti biasa menyinari tumbuhan-tumbuhan di taman.


Aku menggerak-gerakan kakiku ke depan dan belakang. Menunggu membuatku tidak merasa bosan dan sambil memikirkan jika ada surat balasan, apa yang akan ibu tulis, apakah di atas ada kertas dan pena?


Atau ada sesuatu yang lain? aku tidak sabar menunggunya walaupun itu mungkin hanya harapan yang akan sia-sia.


Orang-orang istana seperti biasa lalu lalang dengan tegas layaknya menjaga daerah kekuasaan mereka. Burung-burung merpati sedang berdiskusi dengan akurnya, Tapi tidak ada Wiwik di sana.


Aku lupa menulis namaku di kertas itu!


Aku begitu ceroboh, kenapa aku bisa melupakan hal penting seperti itu,


Ah sudahlah, aku harap ibu mengerti akan hal itu dan pastinya dia akan menertawai di atas bersama teman-temanya.


Selama 10 menit aku menunggu akhirnya gerobolan prajurit lengkap dengan pakaian tempurnya memasuki istana.


Prajurit-prajurit itu tidak berjalan, mereka menunggangi kuda dengan gagah berani, tetapi yang paling mencolok adalah ayahku!


Ayahku memimpin di depan bagaikan seorang yang akan membantai musuh-musuhnya, dia memandang sekitar, wajahnya tersenyum saat memandangku begitu juga aku, aku bergegas lari ke sana dengan cepat.


“ ayah!” ujarku mendekatinya.


Orang-orang di sana langsung memusatkan perhatiannya kepadaku, tapi aku tidak merasa risih dengan semua itu.


Ayahku turun dari kudanya langsung mengangkatku dan pastinya dia memutarkan badanku yang membuatku seperti terbang bagaikan burung, aku tertawa, perasaan ini sungguh aku inginkan.


“Apa kamu senang ayah kembali?” tanyanya setelah menurunkan kanku.


Dia menurunkan tinggi badannya, setara denganku, ayahku gagah dan tinggi membuatnya terlihat sangat kuat.


“ Aku sangat senang dengan kedatangan ayah!”


Ayah teratwa. “ apa kamu senang berada di istana?”


Aku sedikit terkejut, mengingat perlakuan saudara saudaraku di istana,


“ baik, aku senang di istana.” Jawabku meski berbohong, bagiku senyuman ayah harus di jaga.


Semua orang sudah bubar termasuk para prajurit di sekitar, mereka kembali ke tempat masing-masing.


“ Ayo kita Pergi.” kata ayah.


“ ke mana?”


“ kita akan pergi seperti biasa, mengunjungi pasar dan duduk di dekat lembah .”


“ tidak, tidak, ayah harus istirahat dulu.”


“ Ayah tidak lelah, ayahmu ini seorang jendral yang hebat mana mungkin kelelahan.”


Aku menarik nafas dalam hatiku. “ ayah, ayah itu seorang manusia, sehebat hebatnya akan kelelahan juga, nanti jika ayah sakit apa ayah bisa melihat Niya sedih?”


Ayah tidak menjawabnya.


Aku memegang tangannya lalu menariknya. “ayo aku antar ke kamar.”


“ Baiklah.”