The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 3 membeli lampion



Tanpa sadar treya sudah tiba di depan kebunnya. Sudah lama dia tidak pergi ke kebun itu, membuatnya begitu bersemangat untuk melihat-lihat apa yang berubah dari kebun itu.


Dia berjalan jalan mengelilingi kebun. Kebun itu di kelilingi pohon-pohon Cemara yang begitu rindang.


Dari kebun itu nampak jelas perbukitan perbukitan di atasnya, treya kadang-kadang akan duduk di sana setelah makan siang. Waktu ayahnya dulu masih hidup, dia selalu akan begitu hingga saat dia di suruh ibunya untuk memancing ikan di sungai, hanya utuk lauk ataupun di jualnya namun itu kadang-kadang.


Kebun itu di tanami sayuran-sayuran oleh ibunya. Karena selalu di bersihkan, kebun itu nampak begitu indah dan bersih. Kebun treya berada di pinggir sungai hulu sehingga sayuran-sayuran yang mereka tanam tidak kekurangan air. Ayahnya membuat saluran irigasi dari sungai menuju ke sebuah kolam yang ada di samping kebun, jika air kolam kering mereka hanya tinggal melepas pengganjal yang ada di sungai, dan ini juga merupakan sumber kehidupan di dalam rumahnya.


Treya berkeliling memandang sekitar. Tidak ada pohon jatuh ataupun tanaman lainnya di sekitar kebun, mungkin mereka enggan untuk tumbuh  di bawah daun-daun Cemara yang begitu rindang.


Treya memutuskan untuk duduk di atas pondok kecil yang berada  samping kolam. Pondok itu sedikit ke dalam sehingga dia dapat melihat air kolam dan kebun yang berada di bawahnya. Sudah lama dia tidak duduk di sana walaupun kolam itu sudah tua dan mulai di makan rayap. Tapi rasanya sama saja waktu dia masih kecil.


Dia menyebarkan pandangan menatap kolam yang di hiasi lumut hijau muda dan tua, mengambang di dasar-dasar kolam itu. Lumpur lumpur kelihatan dari sela-sela yang dibuat oleh lumut-lumut itu.


Setelah treya merasa sudah cukup, dia pun pergi memanen sayuran dengan sebuah pisau kecil yang dia bawa. Dia pun memanen dua ikat sayuran lalu pergi dari sana.


...🌸🌸🌸🌸...


“berapa harganya?” tanya seorang yang tidak jauh dari treya berdiri. orang itu tengah berhadapan dengan seorang pedagang


“satu ikat sayuran.” Jawabnya sambil memberikan sekikat sayuran yang dia inginkan


“terima kasih.”


Tidak jauh Dari sana dua orang tengah berjalan keluar dari pasar. “ibu aku ingin membeli itu!” Tanya seorang gadis kepada ibunya sambil menunjuk ke arah sebuah mainan yang dia inginkan.


“Nanti sayang sekarang kita pergi dulu.” Jawabnya


“Uemwahhh, tidak mau! aku ingin membeli itu!” Anak gadis itu menangis namun ibunya tidak terlihat mempedulikanya, mungkin ibunya tidak punya uang yang membuatnya seperti itu.


ibunya memegang tangan anaknya dan menuntunya pergi, mereka berpapasan dengan treya yang baru memasuki pasar.


Treya menarik nafas menandakan bahwa dia tidak nyaman dengan situasi seperti ini, apalagi suara bising dari para pedagang yang membuatnya tambah kesal. Saat waktu kecil dia tidak bersikap seperti ini. Saat itu dia masih berada di desa bawa yang lekat dengan suara bising, namun sekarang dia sungguh merasa tidak nyaman, mungkin karena dia selalu saja diam di bukit.


Pasar desa lampion memiliki Luas seperempat dari lapangan sepak bola itu begitu ramai pengunjung, apalagi saat seperti ini pastinya banyak yang pergi ingin membeli barang-barang yang di gunakan untuk nanti malam. Di sisi jalan para pedagang menaruh barang-barang dengan rapi, apalagi, pasar ini memliki aturan, salah satunya masing-masing pedagang akan mendapatkan tempat yang sama besarnya.


Jalan di tengah merupan jalan setapak yang terbuat dari kayu yang kuat, di pegang-pegang oleh rumput-rumput hias yang tumbuh di tanah. Rumput itu lebar dan panjang membuat suasana menjadi sedikit sejuk, apalagi pemandangan bukit yang begitu indah dari sana, membuatnya bagaikan maknet yang menarik para pengelana untuk mengunjunginya.


Bentuk jalanya berbentuk huruf u dari masuk hingga keluar sehingga tidak terlalu memakan tempat.


Treya berjalan mencari pedagang lampion yang ada. Sepanjang perjalananya, dia tidak bisa tidak mempedulikan sesuatu di sekitarnya meskipun suasana itu menggagunya, tapi rasa penasarannya melebihinya.


Treya melihat para pedagang yang begitu bergembira mempromosikan barang dagangan nya, entah itu menarik pembeli ataupun tidak. Selain itu bau-bau busuk, enak dan lainya berganti-ganti menggoda hidung treya, meskipun begitu, treya sudah besar jadi bau-bau itu tidak akan mempengaruhinya, kecuali dia kelaparan yang sangat menggangu.


Setelah 10 menit berjalan, akhirnya di kanan jalan terlihat papan bertuliskan lampion, membuat treya segera ke sana, tetapi saat hendak ke sana, orang-orang mengatri membeli lampion membuatnya kesal karena atriannya sangat panjang.


Dia memberiakan 2 ikat sayur itu kepada penjual, namun bukanya senang, sebaliknya memperlihatkan ekspresi murung membuat treya bertanya. “ada yang salah?”


Pedagang itu terkejut dengan cepat dia berkata. “ tidak, tapi ini belum cukup untuk membeli lampion”


Treya sedikit canggung setelah mendengarnya. “apakah harganya naik?”


“tidak, tapi sayuran yang kau bawa sudah layu, jika kau ingin membeli sebuah lampion, apakah kau mau yang kecil?”


Tereya menarik nafas. “baiklah.” Ucapnya dengan ringan.


Pedagang itu membungkus lalu memberikannya.


“terima kasih.” Ucap treya lalu pergi dari sana.


Pedagang itu menarik nafas panjang, melihat lihat hasilnya yang begitu banyak, membuatnya berpikir keras, bagaima caranya membawa itu semuanya.


Sayuran-sayuaran yang begitu banyak menumpuk di belakanya.


“memang perlu usaha yang lebih.” Ucapnya di iringi dengan mengambil sayuran-sayuran.


...🌸🌸🌸🌸...


Tibanya di rumah, treya meletakan lampion di tempat yang aman dari air atau yang lainnya yang dapat merusak.


Dia memutuskan untuk duduk di halaman rumahnya. Untungnya cuaca sedang berawan membuat tubuhnya sejuk di terpa oleh angin selatan.


Ibunya masih melakukan aktivitas harianya dan saat sore dia akan kembali pulang dengan membawa berbagai makanan yang akan di masak.


Kuntum-kuntum bunga rumput masih terlihat sedang berusaha beremekaran. Treya akan hati-hati saat musim seperti ini, dia ingin sekali melihat bunga-bunga itu bermekaran menghiasi tamannya itu. tapi tahun ini rasanya mereka tidak akan berbunga entah apa yang membuatnya begitu.


Setelah merasa energinya sudah pulih dia masuk menuju kamar-nya. ah bau bau kamar yang khas menyambutnya seakan mereka menunggu treya masuk,


Duduk di meja baca, treya mengambil secarik kertas di mejanya “sudah lama aku ingin membalasnya.” Gumamnya, dia memperhatikan sejenak kertas itu sambil tersenyum kecil, dia mengingat saat-saat menemukan surat dari seseorang yang tidak dia kenal dan membalasnya. mungkin itu adalah tindakan yang tidak baik, tapi syukurlah tidak di marahi oleh nya, sebaliknya pengirim surat bertanya banyak tentangnya,


Dia menemukannya dengan tidak sengaja saat memancing di sungai. Saat itu tiba-tiba saja seekor burung merpati mendarat di dekatnya, dia pun memandangnya. jika aku jual mungkin akan mendapatkan sesuatu yang berharga, pikirnya. Saat hendak berdiri diapun menyadari bahwa mungkin saja burung itu akan terbang saat mendekatinya, membuat treya kembali duduk.


1 menit pun berlangsung, burung itu tidak terbang, dia hanya mematuk-matukkan paruhnya seperti sedang mencari makanan dari sela-sela batu dan juga sepertinya dia tidak terganggu akan kehadiran manusia di dekatnya.


Treya menyadari bahwa burung itu sepertinya tidak akan pergi jika dia dekati.


Perlahan-lahan dia mendekatinya dan burung itu terlihat seperti biasa tidak ada sesuatu yang berbahaya baginya, treya pun mengulurkan kedua tangannya perlahan-lahan mengarahkanya.