
Dan akhirnya dia mendapatkananya dan lagi-lagi burung itu terlihat biasa saja membuatnya heran bagamana bisa burung itu seperti itu terhadap orang asing, mungkin dia bodoh?
Treya memperhatikan setiap jengkal bulunya, baginya ini adalah pertama kalinya dia memegang seekor burung, apalagi ini burung merpati yang jika di jual akan mahal harganya. Hingga beberapa saat dia melihat gulungan kecil di kakinya, tanpa sadar dia membuka gulungan itu dan bertuliskan ‘ibu aku merindukanmu.’ Itu saja membuat treya berpikir mungkin saja ibunya ada di sekitar sini lalu dia mengembalikanya dan menaruhnya.
Beberapa hari kemudian lagi-lagi burung itu mendarat di dekat treya, membuat treya heran. Apakah dia tidak tau di mana ibunya? Pikirnya.
Dia sejenak berpikir dan menyadari bahwa surat yang dia baca tidak memiliki alamat. Bagaimana bisa? Pikirnya.
Dia mendekati burung itu, seperti biasa dia begitu luguh. treya memandang kertas itu, ya memang tidak ada nama pengirim dan alamat penerima, jika saja ada mungkin saja treya bisa membantunya, tapi ternyata tidak.
Treya bergegas pulang bersama burung dan kertas di tangannya.
Di rumah dia bingung apa yang harus dia lakukan, membalasnya? Tidak baik, mengembalikannya? Mungkin burung itu akan tersesat dan kembali lagi.
Treya memutuskan untuk membalasnya. Dari sejak itu dia terus mengirim surat tapi surat terakhir tidak sempat dia kirim dan sekarang menjadi kenang-kenangan.
Treya menaruh secarik kertas itu dan ke luar mengunjungi ibunya yang berada di kebun. Biasanya ibunya akan membersihkan kebun atau melakukan sesuatu yang kurang menguntungkan, bagi treya hal itu wajar di karena tidak ada lagi hal yang perlu di kerjakan.
“ibu!” Ujar treya yang melihat ibunya tengah duduk di undukan memandang bukit di depannya.
“Apa kau sudah membeli lampion?”
“sudah, tapi tidak yang besar.”
“tidak apa.”
Sekarang treya sudah duduk di samping ibunya dan benar saja ibunya tidak melakukan hal yang berguna; ibunya menanam bunga di bawah rerimbunan pohon Cemara, entah dari mana ibunya mendapatkannya, baginya itu usaha yang sia-sia.
“apa kau heran?” tanya ibunya yang melihat sorotan mata treya yang menyapu sekitar.
“Ya, bukankah tumbuhan memerlukan cahaya matahari. Jika ibu menanam seperti itu bukankah itu melakukan hal yang sia-sia?”
Ibunya tersenyum seperti sudah mengetahui apa yang di pikirkan anaknya.
“Tidak.” Treya memperlihatkan ekspresi heran. “ibu hanya ingin memberikan pengalaman hidup yang lain dari yang lainnya, ibu ingin tumbuhan itu mendapatkan pengalaman yang lebih menantang dan sulit.”
“Mengapa?”
“Karena jika ibu menanamnya di tempat yang melimpah dari hujan dan cahaya Matahari, hidupnya akan terasa membosankan, tapi jika ibu menanamnya di sana, maka hidupnya akan menantang.”
Entah apa yang ibunya pikirkan membuat treya heran, kebanyakan orang akan menanamnya di suatu tempat yang terbaik baginya dan selalu merawatnya, tapi bukankah yang di tanam ibunya sedikit aneh!
“pasti kau berpikir bahwa ibu aneh.”
“Tidak.”
Ibunya tertawa kecil. “jangan berbohong.” Treya memperlihatkan ekspresi canggung setelah mendengar ibunya yang mengetahunya. “jika kau sudah besar dan memiliki seseorang yang baik kepadamu, jangalah kau bersandar di bahunya, jadikanlah dia sebagai sesuatu yang seimbang dan kau akan memerlukannya Jika memang itu sangat di perlukan.”
“aku mengerti, tapi apakah ada hubunganya dengan yang ibu lakukan?”
“sudahlah ayo kita pergi.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Treya mendengarnya sedikit kecewa, tapi dia tidak memperlihatkannya, baginya sekarang ibunya adalah sesuatu yang paling berharga.
Ibunya berjalan perlahan-lahan.
“jika ada hujan gerimis dan di terangin cahaya matahari mungkin itu bertanda alam sedang bergembira.” Gumamnya yang samar-samar treya dengar.
Ibunya terus berjalan menuju sungai, treya hanya mengikutinya dari belakang sambil menebarkan pandanganya ke kanan dan kiri jalan. Suasana yang dia rasakan tidak jauh berbeda dari dulu yang dia rasakan.
Suara gemericik air samar-samar terdengar olehnya yang menandakan bahwa mereka sudah dekat dari sungai.
“ibu bukankah air di kolam masih penuh?” tanya treya beranggapan.
“bukan seperti itu, ibu ingin mencuci muka dan tangan.”
“kenapa tidak di kolam saja?”
“Airnya kurang bersih.” Jawab ibunya lalu membersihkan semua kotoran yang menempel di kaki dan tangannya.
Air sungai begitu jernih dan dangkal. Lumut-lumut di bawahnya sangat terlihat jelas menyelimuti bebatuan kecil bagikan jalan yang di susun. Ibunya berada di tengah-tengahnya membelah air yang mengalir tenang itu, meskipun begitu, air itu seolah-olah ingin mengajaknya berbicara dengan bahasa mereka sendiri yang tidak dapat di pahami.
“Ayo.” Ajak ibunya dengan suara pelan.
Treya mengangguk.
...🌸🌸🌸🌸...
“dimana lampionnya?” Tanya ibunya yang sudah berada di ruangan tamu.
“Aku ambilkan.” Jawab treya lalu pergi mengambilnya.
Setelah beberapa detik pergi, akhirnya treya kembali membawa lampion di sela-sela kedua tangannya. “Ini.” Ucapnya mnyerahakan lampion itu, tapi sepertinya ibunya tidak ingin memeganyanya lalu treya menariknya.
“Lumayan.”
“ya Bu, apa yang akan ibu lakukan?”
“kembalikan saja.”
Treya mengangguk.
Di malam harinya setelah semuanya selesai, treya dan ibunya berdiri di halaman rumah.
Di tangan ibunya lampion itu sudah bersinar. Mereka akan melakukannya sekarang. Meskipun mereka melakukannya di rumah, itu tidak akan mengurangi kualitasnya, karena mereka sudah berada di dataran tinggi, walaupun lebih tinggi bukit, tapi bagi mereka itu sudah cukup. Mereka bisa saja pergi ke atas bukit tapi, kalau ada yang mudah kenapa di sulitkan?
Di desa bawah terlihat beberapa lampion yang berterbangan perlahan-lahan. Mereka yang menerbangkannya adalah para lansia yang tidak dapat pergi ke bukit.
Lampion-lampion itu berterbangan dengan perlahan-lahan.
Lampion itu berwarna merah dan putih, berterbangan perlahan-lahan menghiasi cakrawala malam yang indah. Bintang-bintang tidak mau kalah dengan-nya, mereka bersinar terang begitu pun bulan yang sudah menyiapkan cahaya purnamanya yang sempurna. Tidak ada awan yang menghalangi mereka, sungguh indah malam itu.
Dari atas lembah akan terlihat begitu indah. Lengkap sudah lampion dari bawah dan bintang-bintang di atas.
“Sungguh indah.” Gumam Daniel yang berada di kebun treya sendrian menatap lampion-lampion itu.
Danel sudah beberapa hari tiba di sana namun dia masih ingin tinggal di sana. Meskipun dia sudah menemukan orangnya dan orang itu adalah treya, dia menunggu itu melakukan di saat waktu yang tepat.
Dari air akan terlihat pantulan bayang-bayang lampion yang semakin meninggi kemudian kodok melompat dengan gesit membuat lingkaran lingkaran di air yang indah, dan tidak jauh darinya, beberapa kodok bernyanyi riang seperti menyambut acara itu dengan bahagia.
“Lihat!” Ujar dari seseorang gadis kecil yang berdiri di pinggir tembing melihat lampion-lampion itu.
Matanya berbinar cerah. Ini adalah pertama kalinya dia melihat acara ini, baginya ini adalah salah satu pengalaman terindah dan akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan serta adalah acara pertama yang di lihatnya.
“Apa kau menyukainya?” Tanya ibunya yang memegang tangan si gadis dengan erat. Dia tahu bahwa berdiri di pinggir tebing akan sangat berbahaya apalagi bersama anaknya, anak yang di sayangnya.
“Ya.”
Ibunya menggakat anak itu dan menggendongnya.
“Lihatlah!” Ucap ibunya sambil menunjuk ke bawah.
Mata anak itu bersinar cerah memandang cahaya-cahaya dari desa yang begitu indah.
...🌸🌸🌸🌸...
Treya dan ibunya memegang lampion bersama yang berwarna merah. Pelan-pelan mereka melepaskanya sambil berdoa dan berharap, hingga beberapa detik kemudian mereka menyelesaikannya dan itulah lampion terakhir yang terbang.
Mereka tidak beranjak pergi, memandang beberapa menit hingga lampion itu terbang tinggi.
“Sungguh indah ya?” Tanya ibunya sambil menengadah memandang lampion.
“Ya.” Jawab treya yang masih menengadah.
“semoga seperti ini akan terus berlangsung.” Ibunya sekarang sudah memandang ke lembah.
“jika ibu mati, kau tidak boleh bersedih ya?” lanjutnya entah mengapa berkata seperti itu, ibunya mengatakannya dengan ekspresi biasa seperti sudah mengetahui dan baru sekarang dia mengatakannya.
Treya terkejut akan perkataan ibunya dengan cepat dia menurunkan kepalanya. “tidak ibu, kau akan selalu hidup melihatku menikah hingga kau mempunyai cucu.”
“Ibu juga berharap seperti itu.”
Ibunya memandang treya yang terlihat murung dengan cepat dia berkata, “jangan di pikirkan.” Ucap ibunya menenangkan lalu masuk ke dalam.
Treya masih memikirkan dan bertanya mengapa ibunya berkata seperti itu, apakah ada sesuatu yang terjadi baru-baru ini, apakah akan ada yang terjadi.
Treya menarik nafas panjang, dia tidak ingin memikirkanya, semakin memikirkanya kesedihan itu akan semakin menguasainya.
Dia memutuskan untuk duduk di kursi sambil melihat lampion-lampion yang menjauh dan mengecil.
Semakin dia tatap semakin terlihat lampion-lampion itu bagaikan bintang-bintang yang bergerak. Setelah lampion-lampion itu tidak kelihatan, treya masuk ke rumah.
Keesokan harinya seperti biasa Mereka makan bersama. ibunya terlihat seperti biasa namun treya terlihat murung seperti sedang memikirkan sesuatu dan itu baginya cukup untuk membuatnya menderita.
“Ada apa nak?” tanya ibunya yang menyadari anaknya murung.
“Eh, tidak ada apa-apa.”
Beberapa detik tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka hingga ibunya membuka pembicaraan. “untuk tadi malam jangan di pikirkan, ibu hanya bercanda.”
“aku tau Bu tapi, rasanya aku sungguh tidak nyaman dengan itu.”
“ibu tau, ibu hanya ingin mengetesmu, tapi ternyata kau membuat ibu kecewa.”
“Maksud ibu?” Treya menghentikan makannya dan memandang ibunya dengan penasaran.
Ibunya menarik nafas panjang. “kau masih seperti dulu, kau harus mengiklaskannya dan percaya sesuatu yang datang pasti juga ada sesuatu yang pergi.” Ucap ibunya melanjutkan makan dengan tenang.
Treya masih kelihatan bingung dengan ibunya dan tidak mengerti apa yang dia bicarakan, namun dia tidak menanyakanya dan kembali makan.
Setelah makan seperti biasa treya pergi ke sungai sedangkan ibunya akan pergi ke kebun.
Di pinggir air terjun, treya memancing dengan tenang sambil memikirkan, apa maksud ibunya mengatakan ‘kau harus mengiklaskanya’
Dia berpikir sejenak dan menelusuri segalan sesuatu yang dia ketahui dari kecil hingga sekarang. Beberapa saat memikirkannya, dia mengatahui bahwa dirinya masih mengingat ayahnya, tapi bukankah itu wajar? Mengingat ayahnya pada saat itu dan merupakan pukulan berat baginya mengetahui bahwa ayanya mati terbunuh hingga sekarang tidak mengetahui siapa pembunuhnya.
Treya mengganti umpannya dengan yang baru berharap ikan mau memakannya.
Umpan yang dia pakai adalah cacing tanah yang selalu di gunakannya. Saat-saat pertama memancing dia selalu membawa apapun di rumah namun seiring waktu berlalu dia mulai sedikit demi sedikit mendapatkan ikan. Pernah suatu kali dia perpikir apakah ikan bosan memakan cacing? Tapi bukankah ikan memang memakan cacing? Dia memutuskan untuk mencari tau umpan ikan yang lainnya namun sampai sekarang pun tidak mengetahunya.
“Keberuntunganku mungkin menjauh.” Gumamnya setelah selesai memasang umpan.
Dia membersihkan tangannya lalu kembali berdiam.
nyamuk akan selalu menyertai yang membuatnya terganggu akan sengatan nyamuk yang banyak. Waktu pertama dia memancing, dia memiliki bukit-bukit kecil di beberapa bagian tubunya. Bukit itu adalah bekas gigitan nyamuk.
“lain kali nyalahkan dupa.” Saran ibunya yang melihat treya seperti itu.
Saat itu dia selalu membawa dupa, bukan satu, melainkan beberapa untuk jaga-jaga jika nanti dupa yang satu telah habis lalu menggantinya. Dia selalu melakukan itu hingga nyamuk-nyamuk tidak berani lagi mendekatinya dan sekarang dia bebas untuk membawanya ataupun tidak.
Kembali dia memikirkan dan bertanya mengapa ibunya bertanya seperti itu.
Hingga siang pun dia tidak mendapatkan ikan ataupun memecahkan apa yang ibunya maksud, lalu dia memutuskan untuk pulang.
Setibanya di depan rumah, dia melihat beberapa orang sudah tergeletak tidak bernyawa. Darah segar mengalir membuat treya takut.
“Ibu!” Ucapnya dengan cepat membuang alat pancingnya dan bergegas ke dalam. Di dalam hatinya dia merasakan takut yang luar biasa, takut kehilangan ibunya, baginya sekarang ibunya yang paling terpenting.
Saat tiba di ruangan tamu dia melihat seseorang yang memakai jubah hitam memegang pedang panjang. Di bilahnya terlihat darah menetes.