
Aku menarik nafas panjang, jika aku punya orang terdekat yang sama seperti mu, mungkin aku akan melakukan sama Persis dengan mu, namun aku hanya sendirian sekarang; tidak ada lagi orang yang seperti itu sekarang. Dulu bibi yu selalu menasihatiku, dia akan menerangkannya dengan lembut, namun dia sekarang pergi entah ke mana dan juga itu karena kesalahanku. Aku menaruh surat itu di tempat rahasia.
Dan kembali membalaskannya, terlintas di pikiranku, apakah orang di cermin itu memang bisa membantuku? Jika itu mungkin akanku gunakan untuk keputusan terakhir.
Terima kasih atas bantuannya, tapi aku tidak punya orang lain lagi di sisiku, mungkin ini yang namanya takdir yang tidak bisa di ubah.
Aku sungguh senang saat kamu mau menulis surat baru untukku. Baru pertama kalinya aku memiliki teman manusia, ternyata begitu indah ya.
Jika ada waktu mungkin aku akan pergi ke sana untuk membuktikan kebenarannya.
Sampai jumpa.
Aku menggulungnya lalu mengikat di kaki wiwit dengan lembut. Ku elus-elus dia kemudian memberikannya untuk pergi dari hadapanku.
Hari ini aku tidak melambaikan tanganku, tapi sebagai gantinya aku tersenyum memandanginya walaupun itu hanya pura-pura.
Aku memutuskan untuk beristirahat,
Sepanjang hari pikiranku selalu di penuhi cara untuk keluar dari masalah ini, namun hasilnya nol, tinggal 15 hari lagi, aku akan menikah, apa aku memang harus hidup seperti ini, aku pernah menulis bahwa hidup ku mungkin bagaikan Musim yang selalu berubah, tapi bedanya, musim yang menghiasinya adalah musim-musim buruk.
Mungkin aku terlahir di musim gugur, musim yang jatuh, musim yang kehilangan warna-warna hijau daun yang indah.
“apa yang akanku aku putuskan.”
“Hahaha.” Ah Sura itu lagi, aku mendekatinya.
‘”bagaimana?” tanyanya, mungkin untuk keputusanku.
“Aku masih memikirkannya.”
Dia tertawa, “ kenapa kau sulit sekali memutuskannya, apa kau tau bahwa kecebong akan tetap menjadi katak dan tidak pernah menjadi yang lainya lagi.”
“apa maksudmu!?”
“Kau itu anak pembawa sial untuk orang lain dan juga untuk dirimu, kau sudah di takdirkan untuk itu, jadi kau tidak bisa lari ke mana-mana, hanya aku yang bisa mengatasi semuanya.”
“Itu bohong!” bagaimana bisa dia samakan aku dengan kecebong, mereka kan memang harus begitu. “aku akan mengubahnya.”
Dia tertawa lagi. “Bagaimana kau bisa mengubahnya, kau mengubah situasi mu saja sudah tidak mungkin, dan itu malahan membuat orang-orang terdekatmu meninggalkanmu, sendirian.”
Perasaan ku di tusuk olehnya bagaikan jarum kecil namun menyakitkan. Dia benar saat aku ingin mendapatkan keadilan dari ayah kandungku, namun dia malahan membuat bibi yu pergi. “apa yang kamu bisa lakukan?”
“aku bisa membuatmu tertidur dengan nyaman dan kau tidak akan pernah merasakan sakit lagi, pikirkan baik baik.” Ujarnya perlahan-lahan menghilang,
Aku duduk termenung memikirkannya, apakah tidak ada jalan lain lagi kah?
Oh sungguh malang hidupku ini, jika ayah ada mungkin semuanya akan berubah, namun mereka pasti sudah merencanakannya dengan matang, membuat ayah berdiam di perbatasan dan menahannya pergi.
Apa ini yang terbaik yang harus aku lakukan, mengorbankan diri sendiri untuk kekaisaran ini, namun mereka pasti menganggapku sebagai alat saja. Ah kepalaku sungguh pusing, di tambah lagi kehidupan yang kacau, kesedihanku ikut juga berbaur dengan yang lainya.
Hari+hariku terasa hambar, pahit, seakan cahaya Mentari yang aku lihat perlahan-lahan memudar. Setiap hari aku hanya termenung dan termenung, dan tidak ada yang memperdulikannya. Bahkan pelayan yang selalu menjagaku tidak pernah bertanya; dia hanya diam saja, mematung, entah apa yang dia pikirkan, aku tidak mempedulikanya.
Baru kali ini aku rasakan kesedihan yang mendalam, walaupun air mataku tidak menetes, hanya mataku yang redup bagaikan tidak ada kehidupan lagi, aku hanya duduk di meja ini, sambil menunggu, akhir hidupku,
Malam harinya aku tidak tidur di ranjang, aku hanya duduk dan termenung sambil berdoa dan berharap ada keajaiban yang datang, namun semuanya tiada hasil. Kadang-kadang diriku bermimpi buruk, dalam mimpi itu aku menangis dan menangis, tiada cahaya, orang terdekat, hanya ada gelap yang mengelilingiku tanpa batas.
“Tinggalkan aku sendiri.”
“baik, tuan putri.” Mereka langsung pergi,
“sudah selesai, hancur hidupku, kemalangan akan datang menyambutku”
“Apa kau sudah memutuskannya?” tanya sosok itu lagi mendadak muncul, aku tidak terkejut akannya,
“Aku akan menyerahkan semuanya asalkan aku bisa bebas.”
“ Dengan kata lain, kau menerima usulanku?”
Aku mengangguk, “beri aku sedikit waktu untuk menulis.”
Setelah aku menulis cerita terakhir dan secarik kertas aku menghampirinya dengan buku di tanganku.
...****...
Daniel menarik nafas panjang, sekarang dia sudah tau apa yang terjadi pada putrinya. Andaikan saja dia bersamanya mungkin itu tidak akan terjadi, tetapi semuanya mungkin sudah di rencanakan. Putrinya tidak ada jalan lain yang harus dia lakukan, selain seperti itu, jika putrinya menikah, mungkin saja dia akan memutuskan untuk bunuh diri dan itu sama saja.
Daniel menaruh buku di atas batu di dekatnya lalu menyebarkan padangan sekitar lagi-lagi, sosok wanita berpakaian merah muda tengah berjongkok dengan tangan yang dia ulurkan, merasakan derasnya air sungai, Miranda, Daniel melihat Miranda lagi, dia hendak menghampirinya namun, sesuatu mengingatkannya bahwa dia sudah mati, dan itu di tangan Daniel sendiri, tidak ada muka apa pun yang bisa dia hadapkan. Rasa malu dan bersalah begitu besar di dalam dirinya, jika istrinya ingin membunuhnya sekarang, dia akan merelakannya, namun sepertinya dia tidak mau melakukannya, dia hanya memperlihatkan tubuhnya di hadapan Daniel.
Air mata menetes satu demi satu sambil memandangi Miranda yang perlahan-lahan memudar bagikan angin lembut.
Daniel dengan cepat menggelengkan kepalanya, untuk menyadarkannya, bahwa dia harus pergi dari sini. Saat hendak berjalan sebuah kertas jatuh dari selipan buku putrinya, tidak membiarkannya menyentuh air, dengan sigap Daniel mengambilnya, mungkinkah ini surat yang di tulis oleh putrinya.
Untuk ayahku.
Ayah maaf mungkin surat ini merupakan surat terakhir dan pertama aku tulis untukmu, mungkin kamu marah, benci dan kesal terhadapku yang selalu menyembunyikan masalah yangku alami, tapi percayalah aku selalu menyayangimu, sebagai ayahku yang terbaik, bahkan jika seandainya ayah kandungku ingin menerimaku lagi aku tidak akan pernah memaafkannya dan begitu saja kembali kepadanya.
Seorang ayah seharusnya sudah tau apa yang akan dia tanggung jika memutuskan untuk menikah; membesarkan anak dan menafkahi keluarga salah satunya, tapi ayahku sangat tidak berpendidikan, coba ayah bayangkan bagaimana bisa seorang kaisar yang bisa memerintahkan seluru wilayah kekuasaan kekaisaran Uttarian itu, tapi tidak bisa menjadi ayah yang baik!
Bagiku ayah yang terbaik, meskipun aku hanya sebatas putri angkatmu, tapi aku sungguh bahagia sebagai putrimu. Sejak kecil aku akan selalu menjaga ayahku’ itu adalah motoku yang selalu aku lakukan, namun seiring waktu berjalan semuanya berubah, kadang-kadang aku selalu merindukanmu di saat aku dalam kesusahan, mungkin aku egois.
Dalam keseharian kita, ayah selalu mengajakku bermain di taman walaupun saat masih aku kecil. Mengajakku berkeliling pasar dan terakhir duduk merasakan angin di pohon beringin nan rindang itu, aku sungguh senang bersama ayah pergi. Aku akan tidak memutuskan untuk ke mana-mana jika ayah tidak bersamaku, bahkan hanya keluar untuk ke kota, bagiku jika tidak bersama ayah aku seperti kehilangan sebagian dari diriku.
Maaf jika aku pernah menanyakan album poto yang terpajang di lemari ayah, maaf jika aku melakukan kesalah.
Aku tahu bahwa mungkin aku akan mati atau sejenisnya setelah memutuskan untuk menerima tawaran sosok hitam itu, tapi aku tidak punya lagi jalan, tidak punya lagi teman di sampingku.
Ayah carilah kekasih lagi dan menikahlah dengannya dengan begitu ayah akan selalu bergembira.
Ayah pernahku tulis bahwa hidupku bagaikan musim gugur; Daun-daun itu melambangkan penyesalan saat aku lahir dan daun itu juga melambangkan adanya warna hijau sebelum warna coklat, pohon yang menyisakan kerangkanya melambangkan diriku yang mungkin akan di tebang menjadi kayu bakar atau juga menjadi bangunan dan membuangnya jika sudah selesai di gunakan.
Aku sadar bahwa aku mungkin terlahir saat musim gugur tanpa aku inginkan, tapi aku akan pergi sesuai keinginanku, jika ada waktu lagi aku ingin bersamamu, andai saja waktu lebih panjang mungkin aku akan menulis surat yang panjang sebagai luapanku terhadapmu namun waktu tidak mendukungku, aku hanya bisa menulis surat yang pendek ini.
Sekali lagi carilah seorang wanita dan menikahlah..
Selamat tinggal...
musim 1 tamat