
Treya dan danel sudah tiba di sebelah selatan ibu kota dan untungnya mereka tidak ada yang melihat. mereka duduk di pinggir tebing sambil melihat pemandangan ibu kota yang tampak begitu indah, walapun cuacanya sedang mendung.
“siapa kau sebenarnya?” tanya treya yang penasaran dengan identitas danel yang sebenarnya, rasa penasanya bertambah saat melihatnya bertarung dan begitu mudahnya menghajarnya.
“Aku mantan jendral kekaisaran Uttarian.” Jawabnya dengan tenang.
“Mantan?”
Daniel mengangguk, “kekaisaran Uttarian sekarang hancur, menyisakan daratan yang di penuhi es di ibu kotanya.” Jelasnya.
“siapa yang melakukannya?”
Danel membuang nafas. “Putriku.” Ucapnya lemah.
“Putrimu? Bagaimana bisa, dan juga kau kan kuat, kenapa membutuhkanku?”
“Nanti kamu akan mengetahunya.” Ucapnya singkat.
Treya menjadi penasaran bagaimana bisa putri danel menghancurkan satu ibukota yang makmur itu, apalagi saat dia membaca cerita dalam buku, putrinya sama dengan orang lain dan tidak ada tanda tanda jahat.
“Namaku treya, siapa namamu?” tanya treya, mereka belum berkenalan saat pertama kali bertemu, saat ingin berbicara mereka hanya menggunakan kata ‘kau’ dan ‘kamu’ di setiap pembicaraannya.
“aku danel, kamu bisa memanggilku apapun.” Ujarnya. dia tahu mungkin treya masih membencinya, orang yang telah membunuh ibunya, ya walaupun itu berbohong.
“baiklah.”
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka.
Daniel sibuk dengan pikirannya, memikirkan bukankah begitu kejam memutuskan aliran energi? Dan juga dia tidak menyangka bahwa treya bisa bertindak seperti itu. yang dia tahu dari ibunya, treya tidak memiliki pengalaman, tapi saat dia bersamanya itu sangat salah, treya sungguh berhati hati saat mengambil keputusan.
Sedangkan treya memikirkan, apakah orang itu tidak akan membencinya, jika saja waktu kembali mungkin dia akan mengikatnya dan menyerahkannya kepada pihak yang berwajib dan pastinya dia harus membuat mukanya bonyok terlebih dahulu atau juga menariknya di depan prajurit dan berekting. Treya menggelengkan kepalanya, yang sudah terjadi biarkanlah.
Di sore hari mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kaisaran Uttarian. beberapa hari lagi mereka akan tiba di daerah kekaisaran Uttarian bagian utara. walaupun begitu perjalannya masih panjang.
Saat tiba di hutan selatan, Treya lagi lagi duduk membaca buku sedangkan danel pergi sebentar mencari makanan.
Treya membaca buku dengan sangat serius bahkan sesuatu yang ada di sekitarnya tidak dapat mengganggunya sedikitpun.
Beberapa menit dia sudah menyelesaikan cerita yang kedua dan akan memulai membaca cerita yang ketiga.
Cerita kedua baginya sungguh kurang baik, bagaimana bisa seorang ayah menikahi putrinya hanya karena kekuasaan, dia sungguh membenci perilaku kaisar, apalagi anaknya baru enam tahun itu, sedangkan kamaniya baginya sungguh pintar bisa mengetahui situasi apa sedang dia hadapi, ini sungguh seseorang yang langka. walapun treya tidak memiliki pengalan sesuatu di luar, tapi dia sering membaca buku yang selalu ayahnya belikan saat ada pedagang buku yang mampir, sehingga itu membuatnya mengerti apa yang ada di luar, meskipun tidak pernah ke sana.
Treya sedikit heran bagaimana seorang gadis bisa mengerti tentang seperti itu?
Saat hendak mulai membaca cerita ketiga, danel sudah membawa beberapa buah buahan, itu tidak lagi membuat treya heran.
“Makanlah.” Ujar danel yang duduk di samping treya dan menghidangkan makanan di sampingnya.
Treya mengangguk dan menaruh bukunya.
Saat acara makan malam berlangsung, treya membuka pembicaraan. “anakmu sungguh luar biasa ya?”
Danel menoleh memandang treya.
“aku sungguh kagum bagaimana seorang anak bisa berkata seperti itu apalagi saat dia berumur 6 tahun.” Sambung treya.
“Dia selalu mendapatkan didikan oleh seorang yang aku perintahkan. sejak kecil dia memang giat belajar, aku juga sungguh heran saat dia berumur sangat kecil sudah bisa mengerti jalan sebuah cerita.”
“aku kagum dengannya.”
“Setelah makan, kita akan belajar bela diri.” Danel bangkit dan berjalan menjauh.
Mendengar itu, treya sedikit terkejut dan ingin bertanya tetapi danel sudah berjalan menjauh darinya.
...🌸🌸🌸🌸...
Setelah treya selesai makan, dia mencari danel yang pergi. beberapa saat dia menemukanya di atas pohon dan bersandar sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.
“tuan...” ujar treya.
Danel menengok ke bawah mencari siapa yang memanggilnya tuan.
Dia melihat treya yang menghadap ke atas.
Danel tersenyum, sungguh tidak menyangka bahwa treya memanggilnya tuan, dengan cepat dia melompat ke bawah.
Saat kakinya sudah menyentuh tanah dengan cepat danel berkata. “ikut aku.” Lalu berjalan.
Treya mengikutinya.
Mereka berjalan beberapa menit hingga tiba di sebuah lapangan yang berada di hutan. lapangan itu di selimuti rumput hias yang lebat dan tebal. di tengah tengahnya terdapat sebuah pohon tua yang besar dan sudah berkeriput bahkan daun daunya sudah sedikit.
Treya memperlihatkan ekspresi kagum, baginya itu sungguh indah dan sangat misterius.
“kamu kelilingi lapangan ini selama yang kamu bisa.”
“kenapa aku harus berlatih seperti itu?” tanya kesal.
“untuk nanti.” Jawab danel singkat.
Treya mengangkat sedikit kepalanya, dia ingin sekali membantahnya namun setelah melihat wajah danel yang sangat serius, membuatnya enggan untuk membantah.
Treya langsung berlari selama 30 menit lalu istirahat; berbaring di bawah pohon dengan nafas masih terengah engah dan juga wajahnya di lapisi keringat.
Danel duduk di batang pohon yang melengkung dengan santai, memikirkan apakah dengan begitu bisa menyelamatkan putrinya.
Seperempat jam, danel mendekati treya yang sudah duduk dan juga kelelahannya terobati.
Menyadari danel mendekat, tanpa sadar treya memandang danel hingga pria itu duduk di sampingnya. “kita akan menginap di sini semalam.”
“bukankah itu tidak aman?” Ucap treya, dia menyadari bahwa tidur di bawah pohon ini akan berbahaya, tempat ini baginya terlalu mencolok dan jika musuh datang, itu akan mudah menyerang mereka dari segala arah.
“tidak.” Jawab danel.
“aku sudah memasang pelindung di sekitaran.”
“baiklah.” Kata treya lalu berbaring.
Di pagi harinya seperti biasa mereka sarapan kemudian danel menyuruh treya untuk berlari mengelilingi pohon lagi.
Treya mau tidak mau harus melakukanya, dia tahu bahwa mungkin ini adalah sesuatu yang sangat penting.
Setelah berlari, dia berbaring mengisi energinya di bawah pohon. dengan cahaya matahari yang panas dan lapangan yang cukup luas membuatnya semakin berkeringat.
Kelelahan yang dia rasakan lebih parah dari kemarin, sekarang dia merasakan kakinya sakit dan juga tenggorokannya begitu kering.
Beberapa saat danel datang dan memberinya air. treya meminumnya dengan cepat.
Setelah itu dia mulai membaca buku cerita itu lagi
Dalam beberapa menit dia sudah menyelesaikan dua cerita lagi, dia sudah mengetahui lebih banyak tentang kamaniya; seorang gadis yang memiliki teman seekor burung merpati.
Treya lagi lagi menjadi penasaran akan kelanjutannya, namun dia memutuskan untuk menutup buku.
“siapa sebenarnya putrimu?”tanya treya yang penasaran. dia masih teringat ingat bagaimana bisa seorang anak kecil yang berusia 6 tahun bisa menyatakan itu di depan ayahnya dengan baik dan berani seolah olah dia memang selalu melakukan itu.
Treya menarik nafas panjang, sesungguhnya dia begitu penasaran.
Sesaat kemudian danel beranjak pergi, treya yang duduk tidak mengikutinya dan membiarkannya pergi.
Suara tebasan pedang mulai terdengar dengan cepat, treya monoleh, danel menggenggam satu batang pohon dan segera melakukan tebasan dengan cepat, tidak sampai seperempat detik sebuah pedang kayu terbentuk di tangannya lengkap dengan ukiran ukiran, membuat treya terheran heran bagaimana bisa seorang bisa membuat pedang dengan cepat seperti itu, apakah dia manusia?
Danel menghampiri treya lalu menyerahkan pedang itu.
“ikut aku.”
Treya memperhatikan pedang kayu di tangannya, dia merasakan pedang itu begitu halus dan tajam. bagaimana bisa? Pikirnya yang selalu dia tahu bahwa pedang itu terbuat dari logam dan tentu pastinya akan tajam, lalu mengapa pedang di tangannya ini begitu tajam dan juga terbuat dari kayu.
Treya tidak ambil pusing memikirkannya lalu dia menghapiri danel yang sudah berdiri beberapa meter darinya.
“Kamu perhatikan ini.” Ujar Daniel lalu berjalan beberapa meter dan dia membuat kuda kuda.
Treya memperhatikan dengan seksama, dia tahu bahwa Danel akan mencontohkan gerakan pedang, oleh karena itu wajahnya di penuhi rasa penasaran.
Daniel mengayunkan pedangnya dengan lambat meskipun begitu, hempasan angin di sekitar danel terhempas dengan sangat keras, bahkan itu mencapai posisi treya,
Treya sedikit terkejut dengan hempasan angin itu, lalu dia memperhatikan lagi gerakan selanjutnya yang akan di lakukan sambil memikirkan seberapa kuat pedang itu di gerakan?
Daniel lalu mengayunkan pedang itu dengan pelan dan juga menggerakkan kakinya dengan sangat perlahan lahan. beberapa detik setiap gerakan itu begitu tepat dan terlihat sangat kuat dan kemudian menjadi lebih cepat dan cepat.
Treya yang melihat itu begitu kagum, semakin cepat pedang itu, semakin kecil juga hempasan anginnya, itu membuat treya bertanya tanya bagaimana bisa?
10 menit Daniel melakukan gerakan itu lalu mendekati treya.
“cobalah.”
Treya mengangguk lalu pergi dan melakukan gerkan itu, tetapi saat melakukan kuda kuda, dia melakukan kesalahan.
“kakimu kurang di letakkan di belakang.” Ujar danel.
“seperti ini.”
“ya.” Ujar danel meskipun masih sedikit salah, tapi tidak apa apa lah.
Treya mulai melakukan gerakan pedang tadi, lagi lagi salah dan Daniel pun mengatakanya hingga sore pun treya belum bisa melakukanya dengan baik.
Mereka memutuskan untuk beristirahat dan tengah malam akan pergi dari sana.
...🌸🌸🌸🌸...
Istana kekaisaran barat berada di tengah tengah ibu kota yang di bangun dengan batu bata yang kokoh dan memiliki tiga tingkat, meskipun kalah dengan kekaisaran tetangga, tetapi istana ini memiliki pertahan yang begitu kuat dan berlapis lapis.
Di sekitarnya terdapat taman yang luas, dan tentu begitu panas. tidak ada rerumputan ataupun pepohonan yang tumbuh. di sudut halaman seseorang yang memiliki tubuh yang gagah memakai zirah yang lengkap, duduk dengan secangkir teh dan kapak di sampingnya. dia memiliki kumis yang lebat, mata yang tajam serta rambut panjang, perawakannya bagaikan seorang pelaut yang ganas ataupun tirani yang kejam.
Dia adalah jendral kekaisaran barat, baraddaka, dia meminum sedikit teh itu lalu menaruhnya lagi.
kemudian seseorang prajurit menghapirinya.
“Tuan, hanya satu orang yang kembali.” Ujarnya dengan sikap hormat.
“Panggil dia.” Dia sudah mengatahui bahwa akan seperti itu yang terjadi, namun dia sangat bergembira ada seseorang yang selamat.
“baik!” prajurit itu pergi.
Tidak lama dua orang menghampirinya.
“dimana dia!”
Prajurit yang tadi sedikit terkejut. “Tuan, ini dia.”
Baraddaka sedikit terkejut, dia sangat mengenal danel yang begitu hati hati dan juga tidak pandang bulu saat menghabisi musuhnya, tapi kenapa seorang yang datang begitu sehat?
“Apa kau bercanda?”
“Tidak tuan.” Ujarnya dengan kesungguhan yang dalam.
“Apa yang kau dapatkan?” baraddaka bertanya kepada prajurit yang ada di sampingnya.
“tuan aku sudah mengetahunya, dia jendral kekaisaran Uttarian yang tengah mencari seseorang untuk menyelamatkan putrinya.”
“Ada lagi?” Tanya baraddaka.
“tidak tuan.”
Baraddaka mengambil kapaknya dan mengarahkanya tepat di depan wajah prajurit itu. “apa kau tahu apa hukumannya jika berbohong?”
Prajurit itu memperlihatkan ekspresi ketakutan, tubuhnya bergetar, dia sangat mengenal baraddaka yang begitu sadis dan tidak akan segan membunuh seseorang yang di anggapnya musuh bahkan jika itupun putrinya.
Prajurit itu dengan cepat bersimpuh dan menyentuhkan dahinya ke tanah beberapa kali. “tuan aku tidak berbohong.” Ucapnya dengan lirih.
“bawa dia dan kurung di penjara.”
Mata prajurit itu bergetar, meskipun dia berkata jujur tetap saja dia mendapat hukuman.
“tuan aku berkata jujur.” Ucapnya berapa kali hingga dia di bawa menjauh.
Baraddaka melemparkan kapaknya dan terdiam di badan tembok dengan sangat kuat.
Dia kembali duduk dan meminum tehnya.
Hingga beberapa jam datang tiga orang wanita yang memakai jubah hitam.
Tiga wanita itu adalah pasukan yang akan dia bawa untuk menaklukan kekaisaran Uttarian.
Mereka dari kekaisaran ungu dan memiliki kekuatan yang sangat mengerikan bahkan jendral sang penakluk tidak mau berurusan dengan mereka. Dengan adanya mereka kekaisaran ungu menjadi aman, apalagi mereka tidak ingin menaklukan apapun hanya ingin hidup damai.
Tapi jika mereka di perintahkan oleh kaisar ungu, mereka akan berusaha dengan sangat baik.
Mereka di kenal sebagai tiga wanita gunung suci dari tiga gunung, satu di Utara dan dua di selatan.
Baraddaka mengunjungi kekaisaran ungu untuk meminjam mereka, karena kecerdasan dan kelicikannya dia berhasil membawa mereka.
“Apa kalian sudah mendapatkanya?” tanya baraddaka, setelah mendapat kabar bahwa seseorang membunuh perajurit penjaga dan memastikan bahwa itu danel dia mengirim tiga wanita itu untuk pergi melihat situasi kaisar uttarian yang di kabarkan membeku.
“tuan, Kami tidak mengetahui apa penyebab sebagian wilayah kekaisaran Uttarian membeku, tapi aku melihat bangunan yang begitu tinggi yang terbuat dari es, pintunya di rantai menyilang, aku hendak masuk, namun rantai itu begitu kuat sehingga aku tidak bisa membukanya.” Ucap wanita yang ada di tengah.
“tuan, aku sudah menemukan kaisar uttarian berserta istri dan anak anaknya dan juga telah membunuhnya.” Ucap wanita yang berada di kanan.
“Tuan, istana kekaisaran Uttarian sangat sepi tidak ada apapun lagi di sana.” Ucap yang berada di kiri.
Baraddaka tertawa girang. “kalian pergilah.”
Baraddaka memikirkan bahwa ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk membalaskan dendamnya dan juga memperluas wilayah kekuasaan, dia hanya tinggal membunuh danel saja, kekaisaran Uttarian tidak akan pernah bangkit lagi seperti dulu.
Dia tersenyum gembira membayangkan saat dia berhasil membunuh danel dan menyiksanya. Pertama-tama dia akan membunuh putrinya, putri yang sangat dia sayangi lalu memutilasi tangan dan kaki daniel kemudian membuangnya ke jurang. Sungguh mengerikan dan kejam
Baraddaka tertawa lebar. “danel aku akan membalasmu!”