The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 6 kejadian aneh



Setelah aku selesai memberi makanan kepada burung merpati, aku memutuskan untuk pergi ke kamar.


kamarku berada di dalam istana, tetapi di tempat para pelayan biasanya di tempatkan. Kamarku sangat berbeda dengan mereka, aku memiliki kamar pribadi untuk ku, karena ayahku seorang jendral, dan juga aku seorang putri jadi wajar aku memiliki kamar pribadi. Luas kamarku tidak terlalu besar, tetapi itu sangat cukup untuk ku yang kecil ini. Kamarku memiliki satu ranjang, satu jendela, lemari pakaian, rak buku dan meja belajar serta satu meja hias.


Aku langsung bergegas menuju rak buku. Bukuku tidak terlalu banyak, karena ayahku melarangku untuk membaca semua buku katanya ‘kamu masih kecil, jadi bacalah buku-buku cerita’ ucapnya dengan lembut saat aku ingin membawa buku dari perpustakaan.


Aku langsung mencari buku yang ingin aku baca. Aku lihat-lihat semua buku yang ada di rak buku beberapa saat, hingga aku menemukan sebuah buku yang memiliki sampul bergambar: buku yang terbuka di dalam halamannya terdapat satu tangkai bunga seruni tiga warna yang membuatku mengambilnya. Buku itu memiliki judul, “petualangan tumbuhan.” Itu saja kalimat yang ada, tidak ada nama penulis dan lain-lainya, yang membuatku penasaran akan isinya. Tanpa banyak berpikir aku bergegas menuju meja.


Saat aku sudah duduk, aku tidak langsung membacanya, aku punya tradisi yang setiap hari aku jalani, tradisi pribadi yaitu membuka jendela sebelum membaca buku. Meskipun sederhana, tetapi itu sangat bermakna. Dengan begitu aku bisa menikmati pemandangan dan cerita di dalam buku. Aku seolah-olah berada di dua dunia yang berlainan saat melakukan tradisi ini!


Aku langsung saja membuka jendela dengan kedua tanganku yang kecil ini. Meskipun kecil, aku sangat bertenaga saat membukanya. Mungkin karena aku selalu melakukannya?


Saat aku membuka jendela, perlahan-lahan cahaya yang berwarna putih menyusup dari celah jendela yang semakin terang dan jelas, aku tidak bisa menahan diri berkata, “sungguh indah.”


saat memandang langit yang berwarna biru tidak ada yang menghalangi, dan pemandangan dua bukit yang indah, seakan-akan sebuah gambar yang pernah aku gambar. Gunung-gunung itu seperti buah dada yang besar, tapi bedanya itu berwarna hijau yang memancarkan kesejukan. Sedangkan buah dada itu memancarkan cita kasih saya ibu kepada anaknya.


Aku langsung bergegas membaca buku sembari di cerahkan cahaya Matahari orange.


...*****...


Aku terbangun di sore hari, suara kicauan burung menyambutku saat aku sadar. Mataku sebenarnya masih ingin tidur, tetapi aku dengan cepat membuka jendela dan entah mengapa jendela itu tertutup “ kenapa kamu kesini?” Tanyaku saat melihat burung merpati yang aku beri makan tadi pagi. Aku sangat mengenalnya, dia memiliki bulu yang lembut dan putih seperti kapas, matanya sedikit bercahaya saat memandangku,


Dia tidak berbicara apa pun, hanya diam di dahan pohon yang berada di dekat jendela, aku tau mungkin dia ingin makan. “apa kamu ingin makan?” tanyaku dengan antusias.


Burung merpati itu menggelengkan kepalnya membuatku terkejut, apakah burung itu bisa mengerti bahasa manusia?, “apa kamu mengerti?” tanyaku heran. Baru kali ini aku melihat burung bisa mengerti bahasa manusia.


Burung itu mengangguk dengan pelan yang membuatku heran dan pastinya itu membuatku penasaran. “ kalau begitu boleh aku berteman denganmu?” tanyaku lembut memandangnya.


Aku ingin berteman dan memiliki teman yang bisa selalu di sisis ku, orang-orang istana tidak mau berteman denganku, mungkin karena alasan itu mereka tidak mau, tetapi kali ini aku akan menanyakannya kepada merpati ini, meskipun sedikit aneh sih.


Merpati itu menoleh kesan kemari lalu mengangguk.


“baiklah aku beri nama kamu Wiwit bagaimana?”


Merpati itu tidak mengangguk, tetapi dengan cepat dia terbang menghampiriku. Dengan aku menjulurkan tangan sebagai pijakannya dan pastinya ia mau menerimanya.


Saat dia sudah memantapkan pijakannya dia mengangguk dua kali. “apakah kamu menerimanya?” Tanyaku memastikan. Ia mengangguk lagi.


“Tuan Putri.” Ujar dari seseorang yang sudah berada di depan pintu, aku sangat tau sekali siap pemilik suara itu, ya itu adalah bibi yu..


“Tunggu sebentar bibi yu.” Aku lalu bergegas membuka pintu bersama si Wiwit.


Bibi yu seperti bisa sudah membawakan aku pakaian bersama dua pelayan di belakangnya. Mengapa aku seorang putri Jendral di perlakukan layaknya seorang putri? Ah aku lupa lagi, bahwa aku seorang putri kerajaan ini, putri yang selalu di anggap anak pembawa sial, tapi mengapa di saat sore seperti ini?


“tuan putri.” Sapanya tersenyum, aku tau sekali saat bibi yu berbicara seperti itu.


“Silakan bibi bisa masuk dulu.”


Bibi yu hanya tersenyum yang membuatku penasaran.


Aku memandangnya dengan heran menebak-nebak apa ada yang salah dengan diriku, biasanya bibi yu berbicara seperti itu pasti ada yang salah.


“Tuan putri kenapa anda membawa burung ke kamar anda.”


Astaga aku lupa dengan Wiwit, “ bibi, ini Wiwit temanku dia tadi pagi mengunjungiku, aku tidak membawanya masuk.” Jawabku dengan cepat.


“ baiklah, jangan di ulangi lagi ya.” Ucapnya ringan dengan senyuman di wajahnya.


Aku bergegas mendekati jendela lalu membiarkan Wiwit terbang dengan indah.


“ Jangan lupa berkunjung lagi ya!” ujarku memandang Wiwit dari kejauhan.


Lalu aku kembali


Aku memandang bibi yu dan tersenyum. “ baik.”


“ ibi kenapa sore ini aku harus mengganti pakaian?” tanya ku heran, biasanya aku selalu di bawakan baju saat di pagi hari atau saat ada acara, mungkin ada acara mendadak?


“ayo tuan putri.” Ucapnya sambil membawaku ke meja rias.


“anda harus berpakaian rapi hari ini.” Ucapnya mengambil sisir rambut dengan lembut.


Aku sekarang hanya bersama bibi yu di kamar, berdua, dua pelayan yang tadi sudah keluar yang entah ke mana.


“Rambut seputih salju.” Gumanya,


Rambutku seputih salju, rambut yang aneh. Biasanya rambut orang-orang hitam, tetapi rambutku putih, putih bukan di cat ya, ini putih sejak lahir, yang membuatku penasaran apakah rambut ayah yang putih itu di cat atau cuma kebetulan saja. jangan-jangan aku memang anak kandungnya?


Jika aku anak kandungnya mustahil orang-orang istana memanggilku seperti itu, terutama selir kedua yang selalu menyebut ku begitu, seperti memiliki dendam.


Aku jadi bingung.


“ sudah selesai tuan putri.” Ucapnya.


Aku memandangi kaca, rambut yang indah yang di hiasi pita dan jepit rambut bunga seruni tiga warna. Bunga itu adalah bunga ke sukaan ku. Meskipun bunga itu sangat mudah di temukan dan harganya sangat murah, bagiku bunga itu memiliki kekuatan yang selalu membuatku nyaman dari hinaan orang-orang. Warnanya melambangkan warna-warni kehidupan.


“Sekarang anda berganti lah.” Lalu menyajikan gaun putih yang dia bawa.


Kenapa berganti sesudah menghias rambut?


“baik bibi.” Aku langsung mengganti pakaian ku.”


...*****...


“nahh lengkap sudah, Anda cantik seperti putri salju.” Pujinya.


“ nahh sekarang anda mandi.” Ujarnya dengan riang.


Sekarang keadaannya lebih aneh, seperti terbalik, apakah ini mimpi?


“ bibi kenapa aku harus mandi setelah berdandan?”


“oh, i– ya ya, kenapa harus mandi?” gumanya yang balik bertanya.


“Baiklah, kalau begitu jangan.” Ujarnya


Ada apa dengan bibi? Kenapa bibi berbeda sekarang. Meskipun sudah tua, tetapi ini sudah kelewatan, setahu ku bibi selalu melayaniku dengan baik, apa bibi punya masalah dengan keluarganya?


“Bibi ada apa sekarang?” tanyaku mendongak memandang bibi.


Mata bibi redup dan tidak mengeluarkan cahaya sedikit pun, pasti ada masalah!


“bibi, bibi.” Ujarku sambil menepuk tangan nya yang berada di bahuku.


Bibi yu terkejut. “ ada apa tuan putri?” tanya lembut seperti biasa, tetapi aku sangat tau sikapnya yang aneh.


“ada apa sekarang bibi?” tanyaku lembut.


“ bibi juga tidak tau, Kaisar menyuruh bibi untuk memanggil tuan putri dan di juga di perintahkan untuk tuan putri bersiap-siap.” Mungkin dia berbohong.


“aku mengerti bibi.” Ucapku menenangkannya. Apakah masalahnya ada hubungannya dengan ayah kandungku? Entahlah yang pasti aku akan mendapatkan jawabannya sekarang.


“ baiklah tuan putri sekarang ayo kita pergi.”


Aku mengangguk, lalu beranjak dari kursi, aku berjalan bersama bibi yang ada di belakangku. Saat aku tiba di luar pemandangan istana yang seperti biasa menyambutku dengan riangnya, para prajurit dengan gagahnya berdiri di depan gerbang.


Taman yang indah yang selalu di tumbuhi rerumputan hijau lengkap dengan burung-burung merpati yang selalu berdiskusi dengan gembira, cahaya Matahari sore yang menyinari dengan anggunnya. Aku berjalan di lorong istana yang panjang menuju tengah-tengah istana yang merupakan jalan utama menuju tempat ayah kandungku yang selalu tidak memperdulikan ku.


Sebenarnya saat aku mendengarnya sedikit terkejut, tetapi aku menyembunyikan, dan berusaha bersikap tenang.