The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 20 balas surat



Beberapa menit pertanyaan itu berputar di kepalaku seperti jarum jam Dan aku memutuskan untuk membalasnya, jika dia sudah tua mungkin aku akan jadikan teman, jika muda aku jadikan teman juga.


Aku mengambil pena dan membalas surat itu.


Namaku Niya aku berasal dari kekaisaran Uttarian yang terletak di selatan. Ngomong-ngomong terima kasih telah membalas suratku


Anda dari mana dan bekerja sebagai apa dan bagaimana keadaan di sana dan satu lagi apa anda bahagia berada di sana?


Lagi umur anda berapa? Apa masih muda?


Maaf jika bertanya terlalu banyak, tapi jika jawaban anda masih muda dan berumur sekitar 15 -16 tahun apa kita bisa berteman?


Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak.


Ah, mungkin ini terlalu banyak, tapi kekaisaran ungu itu letaknya jauh. Sepengetahuanku, kekaisaran itu memiliki hutan yang lebat dan asri. Penduduknya tidak banyak, tapi mereka selalu akur satu sama lainya, aku sungguh iri dengan mereka, meskipun kekaisaran Uttarian sama makmur dan kaya. Aku tidak suka di sini! Aku pernah membaca dari buku bahwa ada desa terpencil lain dari yang lainya, mereka tidak menggunakan uang atau semacamnya, tapi menggunakan alat tukar yang di butuhkan, misalnya aku membutuhkan sebuah buku dan aku mempunyai pena yang tidak di butuhkan jadi aku bisa menukar dengan seseorang yang menginginkan pena dan memiliki buku yang tidak di butuhkan, sama-sama menguntungkan, tapi ada kekurangannya: tidak selamanya seseorang akan memilikinya. Hanya itu yang aku tahu.


Aku menggulung kertas itu dan memasukkannya di dalam bambu kecil, alasan aku menggunakannya, simpel saja, supaya tidak terkena hujan dan rusak. Lalu aku menyimpannya dengan aman kemudian aku mengambil buku kesukaanku.


“Tuan putri, Tuan putri.” Ujar dari seseorang wanita dari balik pintu.


“ya, aku datang.” Aku langsung membuka pintu, senyuman masih menyambutku, aku tersenyum sebagai balasan. Seorang wanita muda membawa tray yang lengkap dengan makanan di atasnya, dia adalah seorang pelayan yang selalu membawaku makanan. “tuan putri ini makan siangnya.” Aku langsung saja menyiapkan tanganku dengan sopan “terima kasih.” Ujarku. “apa Anda mengetahui di mana bibi yu sekarang?” tanyaku, entah mengapa muncul begitu saja?”


“maaf tuan putri, aku tidak mengetahuinya dan jangan panggil saya anda, panggil saja kamu, itu lebih akrab aku dengar.” Ucapnya dengan ramah.


“Baiklah.”


“kalau begitu aku pamit.” dia memberi hormat dan langsung pergi, aku masih menemaninya hingga dia pergi lalu aku masuk dan memakan makanan siangku yang rasanya sama saja


...****...


Daniel menyebarkan pandangan melihat sekitar yang sudah terasa lebih dingin, tidak ada aktivitas yang mencurigakan baginya, kemudian memasukkan kembali buku itu. Lalu bangkit dan berjalan dengan perlahan lahan, dia tidak ingin berlari sekarang, hanya ingin menikmati hutang yang lebat ini sekarang.


Di dalam pikirannya membayangkan apa saja yang di alami putrinya lagi saat dia tidak ada di istana. Sekarang dia kecewa terhadap anaknya yang tidak mau berbagi terhadap apa yang di alaminya, bukankah dia adalah ayahnya? Walaupun ayah angkat, tetapi dia memberikan kasih sayang lebih pada anaknya bagaikan seorang ayah kandung, tapi mengapa? Dia kembali teringat bahwa anaknya ingin membuat senyumannya tetap, tapi dia tidak memikirkan perasaan Daniel jika mengetahui itu, dia tidak memikirkan perasaan orang lain, hanya keegoisan dia lah itu menjaga senyuman Daniel, mungkin ini yang terbaik bagi kamaniya, putrinya, namun bukan inilah yang terbaik bagi Daniel, ayahnya, baginya seorang ayah harus melindungi anaknya hingga akhir hayatnya.


Daniel terus berjalan di iringi nyanyian burung yang bersandar di dahan-dahan pohon yang lebat. Cahaya matahari hanya bisa menyusup dari dedaunan dan ranting-ranting pohon. Dapat di lihat sesuatu yang melayang-layang dari sinar tersebut. Berbagai Suara lainya lagi yang dia dengar seperti desisan ular dan kodok hutan.


Hingga tiba dia di desa yang sebelah Utara, desa itu memiliki gerbang, namun tidak memiliki tulisan nama desa. Daniel mendekatinya dan memasukinya dengan aman tanpa hambatan. Dia terus berjalan, sesekali berpapasan dengan penduduk desa dan pastinya mereka memasang ekspresi wajah heran dengan tatapan mencurigakan, tapi Daniel tidak mempedulikannya. Hingga dia tiba di perbatasan desa lagi dan lagi hutan. Sekarang dia berlari dengan cepat hingga tiba di pemukiman berjalan dan berlari lagi hingga siang berganti malam lalu dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu rumah penduduk yang tidak berpenghuni, rumah itu tidak ada yang rusak, hanya saja debu-debunya sangat tebal melapisi permukaan membuat Daniel harus membersihkannya.


Setelah membersihkannya, dia menyalakan lilin Yang ada di meja samping ranjang, lilin itu sudah tersisa setengah namun cukup untuk bertahan hingga beberapa jam.


Daniel duduk di pinggir ranjang, dia merasa tidak nyaman untuk duduk di sana, tetapi dia berusaha untuk menyamankan dirinya. Di ambilnya buku dan membukanya.


...****...


Hari-hariku seperti biasa selalu aku penuhi dengan membaca buku dan berkeliling istana, meskipun sedikit membosankan, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuatnya tampak lebih indah.


Satu bulan pun berlalu dan aku melihat lagi Wiwit mendekat. Rasa deg-degan mulai menghuni jantungku, tapi mengapa? Mungkin pertama kalinya aku menerima balasan surat dari seseorang yang tidak aku ketahui. Wiwit semakin dekat dengan kedua sayapnya melambai lambai seolah menyapaku dan lalu hinggap di jendela, tanpa memberikan dia mencari cengkraman yang baik aku langsung melepaskan gulungan itu, lagi-lagi jantungku berdetak lebih cepat dari tadi mungkinkah ini bertanda baik atau buruk?, ku beri tenaga pada jari jariku dan membukanya perlahan-lahan, bukan untuk membuat sesuatu yang lebih keren, tapi bagiku yang pelan-pelan terasa lebih lama dan aku menikmatinya.


Saat kertas itu terlihat semunya, mataku yang selalu suka membaca langsung saja membacanya.


Aku tertawa saat membukanya, kau begitu banyak bertanya ya, tapi tenang saja aku akan menjawabnya, namun kau tidak boleh terkejut dengan jawabanku, ya.


Aku mulai merasa lebih penasaran akan lanjutannya


Tidak ada istimewa dalam diriku, ataupun luarnya!


Aku masih muda, jika kau ingin berteman denganku, tidak apa-apa.


Terima kasih.


Bukanya terkejut, Aku merasa sedikit kecewa dengan jawabannya, bagaimana tidak, dia hanya mengatakan itu yang sama saja tidak memberitahukan identitas, apa dia malu, Tapi dia tidak usah malu denganku, aku juga begitu. Setelah membaca sampai akhir aku nyatakan sekarang aku memiliki teman, meskipun baru pertama kali dan juga tidak tahu namanya, yang penting aku punya teman, bagiku teman itu adalah hubungan dengan seseorang yang aku kenal meskipun aku tidak tahu wujudnya. Aku mengambil kertas dan pena dan kembali menulis untuk membalasnya saat ujung pena rendah dan hampir menyentuh dasar kertas, pena itu berhenti, apa yang akan aku tuliskan ya? Aku memikirkannya beberapa menit.


Nahh aku tahu,


Siapa namamu?


Itu saja yang ingin aku tanyakan meskipun dalam pikiranku begitu banyak yang ingin aku ketahui, tetapi mengingat bahwa dia mengatakanku banyak bertanya membuatku enggan, tapi bukankah orang banyak bertanya akan menjadi pintar?


Aku menggulungnya menjadi kecil lalu memasukkan di lubang bambu yang sudah aku persiapkan. Saat hendak mengirimkannya, Wiwit sudah tidak ada ah, dia melarikan diri.


Aku memutuskan untuk menyimpan surat itu.


Ku ambil buku-buku yang selalu di baca, namun entah kenapa perasaanku begitu bergembira, bagaikan bunga-bunga yang di hinggapi kupu-kupu; bagaikan tumbuhan yang menari-ari setelah menerima tetesan demi tetes air langit yang sudah lama dia inginkan.


Ku pusatkan semua perhatianku dalam kata-kata setiap lembar kertas buku itu, namun aku tidak bisa fokus membacanya, surat itu selalu terbayang bayang dalam pikiranku seperti layar otomatis yang menyala dan tidak bisa di matikan. Aku menutup buku dan menaruhnya di samping kanan tubuhku lalu bersandar dengan tangan kananku, menatap arah Wiwit terbang, apa ini namanya perasaan, perasaan saat memiliki teman? Jika iya begitu indahnya seperti hempasan air terjun yang menyejukkan.


Tanpa ku sadari aku tersenyum membayangkan apa yang dia tulis Apakah dia perempuan?, itu akan lebih bagus, jika laki-laki mungkin aku akan memainkannya.


Kemudian aku bangkit dan duduk di lorong istana menyebarkan pandangan melihat orang-orang istana yang selalu bertindak tegas dan cekatan dalam melakukan tugas tugasnya. Walaupun matahari masih menyengat tubuh, mereka seperti tidak terpengaruh olehnya. Tidak ada burung merpati yang berdiskusi membagikan makannya dan makanannya pun tidak ada. Aku menoleh ke sana sini melihat lihat semuanya agar aku tidak merasa bosan. Dua pelayan berjalan-jalan, masing-masing Tangannya membawa tray yang lengkap dengan makanan, sesekali kulihat mereka sedang berbicara dan tertawa kecil, apakah itu rasanya jika memiliki teman, bisa di ajak berbicara, lalu mereka berbelok menuju lorong istana yang menuju ke dalam.


“Tuan putri.” Ucap dari seseorang pelayan yang berjalan menyapaku dari arah lain.


Aku tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban lalu dia berjalan dengan sopan tanpa Suara langkah kaki yang aku dengar, mereka sangat berpengalaman, aku tahu kakinya pasti juga akan bersuara namun aku tidak mendengarnya karena suaranya begitu kecil