The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 2 masa lalu



Treya tengah duduk di teras rumah memandang cakrawala yang perlahan lahan mulai tenggelam. Tidak ada raut wajah yang begerak, tidak ada suara-suara keramaian, hanya matahari yang perlahan lahan tenggelam, dia hanya memandangnya.


Selama 10 menit dia memandangnya, ibunya duduk dengan lembut di sampingnya. “sudah nak, mungkin sudah takdir.” Ucap ibunya yang memecah suasana. Meskipun dia bekata dengan lembut, tetapi di dalam hatinya dia masih tidak ikhlas untuk kepergian suaminya yang secara mendadak dan mengenaskan, siapapun pasti akan terluka saat melihat anggota keluarganya begitu.


Sebagai seorang ibu yang menjadi seorang panutan untuk anaknya dia harus melupakan itu dan membuang jauh-jauh pikiran itu.


Treya tidak menjawab, dia terus memandang cahaya matahari,


Ibunya membelai rambutnya dengan lembut. “sudah nak, sampai kapan kau akan begini.” Katanya sambil membelai rambut treya.


“Apa kau ingin ibumu menderita.” Ucapnya yang sedikit meninggi, bukan maksudnya untuk mengancam tetapi sebagai seorang ibu, tidak ada orang yang ingin melihat anaknya menderita.


Treya perlahan lahan memandang ibunya. “apa ibu sudah ikhlas dengan kepergian ayah?” Tanyanya lembut.


Ibu treya mengangguk.


“Bohong.” Ucap treya yang memandang mata ibunya yang masih menyimpan kesedihan.


“Bagaimana bisa ibu melupakan kejadian itu?”


“Tapi nak, jika kamu terus begini, ibu tidak bisa membiarkanya.”


“Aku tau Bu, aku juga tidak ingin seperti itu, tetapi kepergian ayah terlalu menyakitkan.”


Mendengar jawaban treya, ibunya dapat merasakan kesedihan yang mendalam. Dia tau bahwa kepergian seseorang yang dekat memang menyakitkan tapi jika tidak di obati itu akan berdampak besar. “ tetapi jika kamu seperti ini, ayahmu bisa sedih melihatnya.” Kata ibunya dengan lembut untuk menenangkan anaknya. Ibu treya sudah sadar jika dia tidak menghentikan ini, itu akan membuatnya menjadi sedih dan bersedih hingga tertelan kegelapan.


“Tapi Bu.” Jawab treya ragu-ragu.”


Ibu treya membelai rambutnya. “sudah nak, jika kamu tidak ingin membuat ayahmu menderita, kamu masih bisa memenuhi permintaannya.”


Tapi Bu...”


“Tidak ada tapi-tapian, kamu harus mengiklaskan kepergian ayah dan menganggap dia bahagia di alam sana.” Potong ibunya menyakinkannya.


“Berikan aku waktu Bu.” Jawab treya dengan lemah.


“Ibu akan selalu ada untukmu.” Ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Ibu akan pergi memasak dulu, jangan lupa mencari ikan.” Ibunya bergegas ke dapur.


Saat mendengar ibunya mengatakan itu membuatnya terkejut, satu yang dia lupakan yaitu tidak mencari ikan.


Tanpa banyak berpikir dia bergegas memancing ikan.


Hari demi hari terus berlanjut. Treya tidak memberitahu jawabanya, tetapi dia lebih ceria dan mulai menerima kenyataan. Meskipun pahit dan sakit kehilangan, tetapi dia sadar bahwa rasa sakit itu akan menjerumuskannya ke dalam kegelapan dan kehampaan yang tak terhingga.


Sehigga dari pada dia begitu dan membuat ibunya menderita dia selalu menyibukan diri dengan segala perkerjaanya yang membuat dia melupakan ayahnya, meskipun sulit, dia terus berusaha.


Ibunya yang melihat perubahan anaknya menjadi bergembira, telah membuatnya sadar, dia sekarang hanya satu orang yang harus dia bahagiakan yaitu anaknya, dan berjanji akan memberikan segalanya asalkan itu baik untuknya.


...🌸🌸🌸🌸...


“Nak, nak, nak.” Ujar ibunya yang membuat lamunan treya lenyap.


“Ibu.” Saat dia berkata seperti itu kepalanya sudah di pangkuan ibunya.


“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya ibunya lembut.


“Tidak ada.”


“Jangan berbohong”


“Aku bilang...” treya berhenti berkata dan menyadari bahwa dia tidak bisa menyembunyikanya lagi.


“aku mengingat kematian ayah.” Jawabnya rendah dan menoleh memandang desa.


“Kenapa bisa begitu.” Tangan ibunya mulai membelai rambut treya dengan lembut.


“Kenapa kita tidak balas dendam saja Bu?” tanya balik.


Ibu treya tekejut saat mendengar pertanyaa treya, dia tidak pernah mengajari seperti itu dari mana treya mengetahui nya?


“Tidak baik seperti itu.” Jawabnya lembut.


“tidak baik bagaimana, orang yang membuat salah harus mendapatkan hukuman”


“bagaimana kamu tau jika yang membunuh ayahmu salah?”


“buktinya saja dia membunuh ayah sudah tentu dia salah.” Jawabnya yang agak meninggi.


“belum tentu nak.”


“Belum tentu bagaimana Bu, aku sangat mengenal ayah dan kenapa ibu meragukan ayah?” tanyanya mencurigai.


Setelah mendengat jawaban ibunya treya tidak bisa membantahnya, apa yang di katakan ibunya ada benarnya, dia tidak tau bagaimana masa muda ayahnya,


“apa yang harus aku lakukan Bu?”


“iklaskan saja, apa yang telah terjadi.”


Treya tidak menjawab. Matanya tetap menatap desa bawah.


Hingga beberapa menit, lalu beranjak pergi ke kamarnya. Bayang-bayangan ayahnya masih terlihat jelas di dalam kepalanya membuat treya sedikit gelisah akannya.


Treya duduk di pinggir ranjang, mungkin untuk menenangkan diri.


Kamar treya tidaklah terlalu besar tapi cukup untuknya yang selalu menghemat ruangan. Di selatan ada rak buku yang tidak terlalu besar yang di lengkapi beberapa buku yang dia koleksi. Di bagian kanan ranjang ada meja untuk membaca lengkap dengan kursinya, ya itu tempat yang selalu treya gunakan untuk menulis ataupun membaca.


Di atas meja itu terdapat secarik kertas yang berisi.


Trima kasih juga, aku sungguh senang saat bertemu denganmu, jika ada waktu aku ingin kau pergi ke sini melihat-lihat, bagaimana kehidupan di desa.


Kau adalah temanku yang pertama.


Mungkin itu adalah surat yang belum di kirim olehnya.


Treya menarik nafas panjang lalu berbaring. Sebelum menutup matanya, dia memandang secarik kertas itu dengan senyuman lembut lalu tidur, hingga beberapa menit hanya terdengar suara jangkrik dan hembusan nafasnya.


Ke esokan harinya dia seperti biasa akan pergi memancing ikan. Saat hendak pergi, ibunya memintanya untuk membeli lampion yang di balas iya olehnya lalu pergi.


Sekali dalam setahun mereka akan mengadakan tradisi itu. Saat matahari berada di sebelah Utara, mereka menganggap bahwa itu adalah tempat matahari yang paling sepurna untuk melakukan kegiatan tradisi.


Sore harinya treya pulang dengan membawa alat-alat pancing. Tidak ada rasa sedih ataupun gembira yang terlihat di wajahnya, dia memakluminya bahwa mungkin keberuntungannya kurang baik.


Di letakanya alat-alat pancingnya di tempat seperti biasa lalu bergegas untuk makan. Ibunya seperti biasa sudah masak di saat jam-jam seperti ini. Kemudian dia makan. Tidak ada suara lain yang menghiasi, hingga ibunya pun bertanya. “apa kau sudah membeli lampion?”


“Belum Bu, aku akan membelinya besok, saat pagi hari.” Jawabnya sambil menghentikan aktivitas makanya.


“Kau ambil sayuran di kebun ya.”


Treya mengangguk mengerti apa yang ibunya maksud, sebagai bayaran.


Setelah makan selesai mereka pun pergi tidur seperti biasa, suasana yang hening membuat mereka tertidur dengan cepat.


Ke esokan harinya treya pergi mengunjungi kebun yang berada di belakan rumahnya sebelah Utara. Dia harus melewati rerimbunan pohon Cemara yaang begitu tinggi. Pohon itu sekarang mengalami musim buah, buah-buahnya sudah matang dan sudah siap untuk menumbuhkan bibit baru.


Treya teringat saat dia masih kecil yang selalu memungut Buah-buah Cemara itu, baginya itu sungguh mengagumkan, buah yang berwarna coklat itu membuat kesan tersendiri baginya, dia selalu memungut dan memainkannya. Mula-mula dia akan mengelupasnya satu-persatu hingga tidak ada lagi yang bisa terkelupas kemudian dia membuangnya dan lagi mengambil yang lain.


Dia tidak sedirinya; bersama ayahnya waktu dulu. Ayahnya yang melihat anaknya melakukan itu hanya tersenyum kecil. Anak-anak memang selalu penasaran. “Apa kau suka dengannya?” Tanyanya yang mendekati Treya.


“Ya ayah, aku suka.” Jawabnya ringan tanpa memandang ayahnya.


Ayahnya duduk di salah satu pohon yang tumbang menunggu anaknya selesai.


“ayah juga selalu seperti dirimu saat kecil.”


“sungguh!” ujar treya sambil membuang buah Cemara itu dan mendekati ayahnya.


“Ayah coba ceritakan bagaimana ayah saat waktu kecil?”


Ayahnya tertawa kecil. “waktu ayah kecil dulu, Ayah selalu bermain Lumpur di sawah. Saat masa membajak sawah, ayah bersama anak-anak yang lain akan berlari se kencang-kencangnya melewati sawah yang penuh lumpur itu.”


“wah pasti sangat menyenangkan ya?”


Ayahnya mengangguk. “ya, sungguh menyenangkan, apa kau pernah melakukannya?”


“Tidak, aku tidak ingin melakukanya, aku membenci teman-temanku.”


“Mengapa?” tanya ayahnya heran.


“aku hanya benci saja.”


Ayahnya tersenyum kecil, dia memaklumi apa yang di rasakan anaknya. dia tahu bahwa sikap seperti itu memang kerap terjadi di kalangan anak-anak, tapi jika di biarkan itu akan menjadi bencana.


“kau tidak boleh membenci mereka.”


“Aku akan tetap membenci mereka.” Ujarnya menegaskan.


Ayahnya menarik nafas panjang, dia tahu mungkin suatu saat anaknya akan mengerti apa yang namanya hubungan dan seberapa pentingnya itu.


“ayah harap kau tidak akan menyesal.”


“ya, aku tidak akan menyesal.” Setelah memastikan ayahnya tidak ingin bertanya lagi treya memutuskan untuk melanjutkan permainan lagi.