
Di sepanjang jalan kamaniya memandang banguna bangunan yang membeku, begitupun treya. setelah beberapa lama, kamyniya terkejut melihat beberapa penduduk membeku seolah olah mereka berlari dan dengan cepat dia menghampirinya.
“Bukankah semua penduduk sudah mengungsi?” Gumamnya.
“ayahmu berbohong.” Ucap treya dengan datar.
Kamaniya mendelik. “maksudmu?”
“aku bilang ayahmu berbohong semuanya bukan karena badai melainkan dirimu.” Ucap treywi dengan datar.
Kamaniya terkejut. “ tidak, tidak, itu tidak mungkin.” Ucapnya dengan cepat tidak percaya.
Kamaniya berlari.
“tunggu!”
Kamaniya tidak mau berhenti dia terus berlari, dia terus melihat lihat para penduduk membeku dengan pose yang sedang berlari hingga dia tiba di depan istana. Dengan nafas terengah engah dia masuk ke dalam, semuanya membeku dan juga tidak ada kehidupan di dalamnya.
Apa mungkin yang di katakan dia benar
Air matanya tidak dapat dia bendung peralahn lahan mengalir deras, lalu roboh, dia sungguh kecewa pada dirinya, dia bertanya tanya kenapa semuanya ini bisa terjadi, dia mengutuk dirinya.
Andai saja dia tidak melakukan itu, pasti semuanya akan baik-baik saja, namun semuanya telah terjadi dan tidak akan pernah kembali lagi.
Kamaniya kemudian bangkit melihat es yang runcing dari bawah tembok yang membeku dengan cepat dia mengambilnya, walaupun dengan susah payah, akhirnya dia bisa mematahkannya lalu mengarahkan tepat di dadanya, baginya seorang pembunuh sepertinya tidak layak untuk hidup. Dengan cepat Tangannya bergerak hendak menusuknya, namun di hentikan oleh treya. “apa yang kau lakukan!” serunya.
“Lepaskan, aku memang layak untuk mati!” Ujarnya lirih.
“apa dengan kau bunuh diri, semuanya akan kembali?”
Kamaniya terkejut, ya semuanya tidak akan kembali dan memang benar jika dia bunuh diri semuanya tidak akan kembali, tetapi ada rasa bersalah di dalam dirinya, “Tapi...”
“Semuanya sudah berlalu, Biarkanlah.” Ucap treya dengan datar.
“kita hanya perlu melanjutkan hidup dengan pengalaman yang dilaluli, bukan menyesali segal sesuatu yang sudah terjadi.” Timpalnya
Mungkin itu benar, tetapi sesuatu yang telah berlalu akan terus teringat samopi dia mati dan pastinya akan mengganggunya.
Kamaniya menangis lalu memeluk treya dengar erat, melepaskan semua yang dia pendam.
“Sudah biarkanlah.” Ucap treya dengan lembut menenangkannya.
...🌸🌸🌸🌸...
Daniel duduk di bawah pohon dekat gerbang. Wajahnya sangat kahwatir dengan putrinya, dia sungguh tidak ingin melihat putrinya bersedih lagi, tetapi apa yang dia bisa? Jika dia terus berbohong, itu tidak akan baik.
Sekarang yang dapat dia pasti kan, putrinya pasti sudah mengetahuinya, dia hanya bisa berharap Putri tidak melakukan hal hal yang membahayakan, dia juga mengingat tereya bersama, dan itu pasti akan baik baik saja.
Udara terasa lebih hangat, butiran butiran salju sudah menghilang, sekarang matahari bersinar terang bagaikan lampu raksasa yang menyinari.
Daniel merasa lebih nyaman dengan suhu itu, dia berangsur angsur merasakan hangatnya suhu kota kelahirannya, ya walaupun masih kurang.
Dia mendengar suara langkah kaki dari arah gerbang, tanpa dia sadari dia menoleh, kamaniya dan treya berjalan mendekat.
Pandangan Daniel terfokus pada putrinya, namun dia belum bisa melihat wajahnya, karena jaraknya terlalu jauh untuk di lihat.
Sesaat kemudian, dia bisa melihatnya, mata Kamaniya memerah. Daniel membayangkan putrinya menangis sebelumnya, ada rasa takut dan Kahwatir memasuki hatinya, itu bagaikan jendela yang jika mata melihat maka jendela itu masuk entah di masuki oleh rasa marah, benci ataupun kesedihan.
Daniel berdiri.
“Ayah!” teriak kamaniya bergegas berlari menghapiri ayahnya dan memeluknya dengan erat.
“Ayah!.” Suaranya keras kemudian perlahan lahan menurun. “ terima kasih.”
Daniel sedikit terkejut, ini adalah pertama kalinya putrinya memeluknya, perlahan lahan dia membalasnya, sesaat kemudian tangan kananya naik lalu mengusap ngusap rambut putrinya yang selembut salju itu.
“Untuk apa?” tanya Daniel datar, meskipun di dalam hatinya dia begitu takut.
Kamaniya melepaskan pelukannya. “sudah menyelamatkan ku.”
Ada rasa lega dalam diri Daniel mendengar itu. “tentu ayah pasti akan selalu menyelamatkanmu, tetapi bukan ayah yang menyelamatkanmu.”
“ayah!” wajah kamaniya kesal.
“aku tahu, tapi jika bukan karena ayah, mungkin aku tidak akan selamat.” Timpanya.
“Baiklah.” Daniel menyerah. “apa kamu sudah berterima kasih dengan treya?”
Kamaniya memandan treya dengan malu malu, entah mengapa dia berubah sikap seperti itu.
Treya memperlihatkan senyuman yang terbaik.
Kamaniya berbalik menatap ayahnya. “nanti saja.” Ucapnya dengan malu malu
Treya memperliatkan ekspresi senang. “terima kasih tuan.” Itu yang kedua kalinya dia berkata seperti itu, sekarang dia bagaikan anak yang sopan dan juga entah mengapa dia berubah sikapnya.
“tidak, tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu.”
“ah, itu tidak seberapa.” Ucapnya dengan pelan.
Daniel menarik nafas panjang. “baiklah kita sekarang pergi.”
Mereka terus berjalan hingga sampai di rumah tereya. sepanjang perjalanan, kamaninya di liputi rasa kagum yang luar biasa, berbagai hal dia lihat dan tentunya itu belum pernah dia lihat, apalagi tiba di desa lampion, dia sunggu menantinya, wajah bahagia terpancar jelas.
Saat hendak menaiki tangga, treya mengembalikan buku ceritanya, walaupun dia malu malu. Begitu pun kamaniya yang terlihat malu malu menerimanya, kenapa mereka malu malu sekarang?
Treya berjalan menaiki undakan. beberapa meter lagi dia sudah mencapai halaman rumahnya. semakin dia melangkah semakin terlihat rumanya dari atas, ada rasa sedih yang menghampirinya, mengingat ibunya sudah meninggal.
Treya berhenti. “apa kau mengubur ibuku?” tanya treya dengan serius.
Daniel berhenti. “Kau bisa melihatnya.” Lalu melanjutkan
Kamaniya yang mendengarnya merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Wajah treya mendung, dengan berat hati dia terus melangkah, langkah demi langkah dia lewati, semakin terlihat atap rumahnya. dia melangkah terlihat ujung pintu rumahnya, melangkah lagi, dia melihat seseorang kepala perempun tengah berdiri di depan rumahnya.
Treya mendelik tidak percaya, dia berlari melewati kamaniya dan Daniel.
Saat berada di depan rumahnya, dia begitu terkejut.
“Ibu!”
Ibu tereya sedang menapini beras berada di depan rumahnya. saat mendengar seseorang yang memanggilnya, dia menghentikannya lalu memandang ke arah suara.
Dia terkejut melihat anaknya, sudah berdiri di depannya.
Treya berlari menghampiri ibunya, begitu ibunya menaruh lampid lalu mendekati anaknya.
“Kau akhirnya kembali.” Ucap ibunya datar.
“ibu aku sudah kembali!” treya sedang berhadapan dengan ibunya.
“Mari masuk.” Ujar ibunya dengan bergembira menyambut anaknya kembali dan memegang tangan anaknya hendak menariknya namun treya tidak merespon nya.
“ibu aku membawa tamu pulang.”
Ibunya terkejut lalu memandang jauh, melihat kamaniya dan Daniel berdiri.
Ibunya lalu menyetuh keningnya. “ ibu sungguh terlalu senang.”
Ibunya lalu mengajak semuanya masuk dan makan, semuanya bergembira. Daniel dan kamaniya begitu senang atas pelayanan ibu treya yang begitu sopan, apalagi makanan yang di hidangkan tidak pernah di makan mereka berdua, itu menambah kesan tersendiri.
Setelah makan, ibu Treya dan Daniel menceritakan semuanya, mereka saling memberikan alasanya masing masih. treya yang mendengarnya, tentu itu membuatnya sedih. tetapi tidak beberapa lama dia di tenangkan oleh kamaniya dengan kata katanya sendiri.
Daniel dan kamaniya berhari hari tingga di rumah tereya. walaupun itu sempit, mereka akan tidur di ruangan tamu, meskipun kurang nyaman. tapi itu menambah pengalaman tidur mereka.
Mereka selalu di ajak memancing oleh treya dan kemudian pergi ke kebun untuk melihat kolam. kamaniya sangat ingin pergi ke bukit yang ada di atas bersama ayahnya, akan tetapi ayahnya bilang ada urusan, jadi dia meninggalkanya dulu dan akan menjemputnya.
“Ayah jangan lupa! Berkunjung ya.” Ujar kamaniya sambil menangis memeluk Daniel .
“ Tentu saja ayah tidak akan melupakan putri ayah ini.” Jawabnya sambil membalas pelukan hangat putrinya. tangannya mengusap ngusap rambut kamaniya dengan lembut. “Jangan menangis nanti malu.” Godanya.
Kamaniya melepaskan pelukannya dan langsung mengusap air matanya yang mengalir, dia mengangguk. “ Baik, aku tidak akan menangis lagi.” Serunya dengan suara yang sediki lirih.
Treya dan ibunya yang tidak jauh berada hanya tersenyum melihat putri dan ayah mengucapkan selamat tinggal.
“baiklah ayah pergi dulu.”
“tunggu ayah.” Ujarnya lalu melepas jepit rambut seruni di kepalanya. “ayah ambil ini, sebagai kenangan, jika ayah merindukanku, ayah ambil ini saja.” Katanya meletakan jepit rambut itu di tangan daniel.
Daniel sedikit canggung, kamaniya selalu menggunakan dan membawanya setiap saat dan menjadi bagian dari hidupnya, bagaimana bisa dia memberikannya seperti ini “ tapi...”
“Tidak usah, aku iklas memberikannya.” Ujarnya dengan wajah tersenyum seperti dulu namun senyuman itu kelihatan terlihat lebih indah dan menyebarkan aura kehidupan yang kental.
Daniel menarik nafas. “ baiklah ayah akan selalu membawanya meski harus mempertaruhkan nyawa ayah.
“ayah!” ujarnya sambil menggelengkan kedua pipi nya.
Daniel tertawa melihat ekspresi wajah kamaniya, baru dua kali dia melihat, tetapi kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya.
“Eh.” Daniel terkejut saat kamaniya mencium pipi kananya.
“ini hadiah yang kedua.” Ujarnya dengan tawa yang bahagia.