The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 13 puncak pertarungan



Angin di sekitarnya menjadi kecang dan lebih kencang bagaikan badai. di sekitar sosok dewi muncul enam tornado yang begitu tinggi. setiap sesuatu yang di lewatinya akan hancur berkeping keping, tornado itu mengitarinya.


Sosok Dewi hanya memandangnya dengan tatapan kengerian dan ketakutan, dia ingin berlari namun sekarang dia tidak bisa bergerak, hanya menunggu dia kalah atau mati saja.


Booom!!!


Suara ledakan yang begitu besar bersamaan dengan lemparan dua bilah hitam dan putih serta beturan pedang besar itu.


Asam terbang bagaikan 29 gunung berapi meletus mencuat begitu tinggi bersamaan dengan getaran yang maha dahsyat, lebih dari tingkat getaran gempa bumi yang pernah ada.


Daca tersenyum kemudian dia roboh dan memuntahkan darah segar, dia merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, itu bagaikan rasa sakit yang lebih parah dari sakit yang pernah dia rasakan sebelumya. dia tidak merasakannya, tetapi setelah apa yang terjadi, dia mengetahui rasa sakit datang di belakang setelah kemampuannya melemah.


Istri Daca dengan cepat membantunya berdiri dengan merangkul lengan kananya.


“terima kasih.” Ucap daca lirih.


Istrinya tersenyum dan itu merupakan pertanda buruk bagi Daca dengan cepat ekspresi berubah pucat.


5 menit kemudian asap menghilang menyisakan lembah yang begitu besar dan 3 wanita gunung terbaring tidak sadarkan diri.


...🌸🌸🌸🌸...


“bisakah kau kembalikan semuanya?” Ucap daca dengan nada memohon.


Daca sekarang sudah sembuh total, tentu bantuan istrinya.


Istri daca tesenyum lalu memainkan seruling dengan cepat dua naga air muncul dari langit.


Daca memandangnya dengan ngeri, meskipun istrinya menghormatinya , tetapi saat dia marah tidak ada yang bisa menghentikannya, walapun itu suaminya sendiri.


Daca dengan cepat berlarian, namun naga itu begitu cepat.


“Wuaaaaaa!” Teriaknya di lempar ke atas beberapa kali, sekarang dia bagaikan anak kecil yang dimarahi ibunya.


...🌸🌸🌸🌸...


Perlahan lahan kamaniya membuka matanya, dia merasakan ada memeluknya, menyebarkan padanganya dan benar saja, treya memeluknya, membuatnya malu, dengan cepat dia mendorongnya lalu berdiri, memandang sekitar, yang sekarang di kelilingi dinding es menjulang tinggi tepatnya dia berada di suatu ruangan es. di tangannya sudah memegang seikat bunga dan dia tahu dari mana bunga itu berasal.


“Apa yang terjadi?” Gumamnya.


Tidak beberapa lama treya bangun, dia merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit. perlahan lahan dia bagun dan mencari cari pedangnya yang ikut terlempar. setelah mendapatkannya, dia mendekati kamaniya.


“apa yang terjadi?” tanya kamaniya.


“Bukankah kau sudah tahu?” Tanya balik.


“Tidak.” Jawab kamaniya singkat terungkap jelas dia kesal.


“Kau di segel di sini.” Ucapnya datar sambil mencari seikat bunga yang di berikan Daniel.


“di segel?” tanya sambil memandang treya mencari bunganya.


“ya, nanti ayahmu akan mejelaskannya lagi, ngomong ngomong dimana bunga tadi, apa kau melihatnya?”


“oh, iya ini.” Ucap kamaniya memberikan bunga kepada treya.


“t–tidak, itu untukmu.” Ucapnya ragu.


Wajah kamaniya memerah. “terima kasih.” Ucapnya nyaris berbisik.


Bangunan kemudian bergetar dan mau roboh, Treya dengan cepat memegang tangan kamniya lalu mengajaknya berlari. beberapa meter kemudia setitik cahaya kuning bersinar, membuat kamaniya terheran dan berhenti, treya yang melihatnya pun ikut berhenti.


Cahaya itu makin redup dan meredup, terlihat sebuah pedang melayang. tanpa berpikir kamaniya berlari mengambilnya, Itu adalah pedang ayahnya.


“Ayo kita lari!” Ujarnya sambil memegang tangan treya.


Sekarang wajah treya memerah, ini adalah pertama kalinya dia merasakan tangan wanita.


Mereka terus berlari menuju pintu. Treya sedikit terkejut soalnya jalan yan di laluinya berbeda dari tadi yang dia lewati.


Setelah keluar, bangunan itu perlahan lahan menghilang.


“ayah!” Ujar kamaniya melihat ayahnya di kurung dalam sangkar lalu melihat baraddaka yang duduk di depannya.


Baradaka tertawa “siapa yang ingin mati duluan?” baraddaka sudah berdiri.


Treya melihat sekitar terkejut, melihat lembah yang begitu besar bagaikan hantaman meteor.


Daniel merasa lega, dia begitu senang saat mendengar anaknya keluar dengan selamat, tanpa ada cedera sedikitpun, tetapi dia juga kahwatir sekarang tidak bisa melakukan apapun, sangkar itu begitu kuat.


“Kalian pergi–” Teriakan Daniel terpotong saat sesuatu cahaya yang cerah melesat ke arahnya kemudian Suara besi yang di potong terdengar dan sangkar itu hancur.


Wajah baradaka menjadi pucat dengan cepat dia melesat menuju kamaniya dan treya berada, dia memegang erat erat kapaknya.


“Ayah!” ujar kamaniya melemparkan pedang Ayahnya.


Treya mengeluarkan pedangnya untuk berjaga jaga, meskipun dia tahu, dia tidak mungkin bisa mengalahkannya tetapi mungkin saja dia bisa melindungi kamaniya.


Treya maju melindungi kamaniya.


Beberapa meter lagi baraddaka menjangkau mereka, namun tiba tiba Daniel tiba di depannya dan mengayunkan pedangnya.


Trankk!!!!!


Suara kapak dan pedang beradu, suara itu melengking dengan keras.


“daka! Mari kita selesaikan sekarang!” Ujar Daniel dengan semangat bertarung yang berapi api.


Baraddaka tidak menjawabnya, tetapi dia tersenyum.


Dengan cepat mereka melesat bagaikan cahaya yang saling pedangnya. percikan percikan api terlihat bagaikan kembang api, apalagi saat malam hari, akan terlihat begitu jelas.


Beberapa saat terlihat jelas baraddaka terdesak, segala serangan yang dia lakukan tidak mempan, dengan cepat dia pun mendarat di tanah dengan nafas terengah engah begitupun Daniel mendarat tidak jauh darinya.


Wajah baraddaka menjadi redup, semuanya yang dia rencanakan gagal dan hanya satu lagi yang dia lakukan hari ini, meskipun resikonya sangat berat, dia tidak punya lagi yang lain.


“daka terimalah kekalahanmu.”


“ kalah? Eh, hari ini kau yang akan kalah!” Energi sekitarnya menjadi lebih kuat dan kuat.


Menyadari ada sesuatu yang aneh daniel melesat mengarahnya.


“eh, terima ini!!” baraddaka melempar kapaknya dengan keras, membuat kaosnya itu bergetar sangat cepat, bahkan hempasan angin yang di akibatkannya membuat salju berterbangan.


Daniel dengan cepat menahannya, namun dorongannya begitu kuat hingga membuatnya terseret beberapa meter. kapak itu kembali ke tangan baraddaka dengan mudah.


Daniel lagi lagi melesat dengan cepat, pedang ditangannya mengeluarkan aura hitam dan putih yang begitu peka.


“daniel sekarang marilah!” baraddaka berlari sambil menyeret kapaknya, gerakannya begitu cepat dan membuat jejak di salju.


Saat mereka semakin dekat raungan yang menggelegar terdengar lalu di iringi tabrakan energi yang begitu kuat. treya dan kamaniya yang tidak jauh berada merasakan kekuatan dan dorongan yang begitu kuat membuatnya berusahan berpegangan erat dengan pedang yang di tanjabkannya, Treya juga memegang tangan kamninya dengan erat.


Tabrakan energi itu begitu kuat membuat lubang di bawah mereka.


Sesaat kemudian Daniel terhempas dan mengeluarkan seteguk darah segar, tubuhnya terlempar beberapa meter hingga akhirnya dia dapat menahannya.


“Eh.” Ucap baraddaka lalu melesat mengarah Daniel .


Daniel yang tidak siap membuatnya terkena beberapa serangan yang membuat tubuhnya lagi lagi terhempas dan mengeluarkan seteguk darah segar.


Daniel sekarang menderita cedera yang parah, dia juga terkejut bagaimana bisa kekuatan baraddaka begitu kuat dan juga mendadak.


“Ayah!” ujar kamaniya yang sudah menyeimbangkan tubuhnya, dia hendak berlari mendekati ayahnya, tetapi Treya dengan cepat memegang tangannya.


“Lepaskan!”


“niya itu berbahaya.”


“aku ingin kesana!”


“Niya apa kau ingin ayahmu lebih menderita?!”


“Tapi–.”


“tenang saja.”


“Daniel hari ini adalah hari kematianmu.” Baraddaka dengan cepat melesat hanya dengan seperempat tarikan nafas dia sudah menebaskan kapaknya tepat di jantung Daniel .


Daniel terkejut, dia membeku.


“ayah!!” kamaniya berlari dengan cepat mengarah Ayahnya, tereya mengekornya.


“sekarang giliran kalian.” Mengarahkan kapaknya ke arah kamaniya dan treya.


Kamaniya tidak menghiraukannya, tetapi dengan cepat treya memegang tangannya.


“ Niya kau larilah.”


“apa kamu bercanda! Bagaimana mungkin aku meninggalkan ayahku.”


“Aku akan menyelamatkannya.”


“tapi–.”


“cepat lari!”


Kamaniya tidak berani menjawabnya, dia berjalan.


“apa kalian sudah selesai.” Baradaka kemudian melesat, tetapi kekuatanya melemah dan kembali seperti biasa.


Dengan cepat treya mempersiapkan pedangnya.


Trankk!!!!


Suara bilah pedang beradu.


“Eh, kau terlalu nekat!” baraddaka dengan mudah mematahkan pertahanan treya lalu menyerangnya dengan mudah.


Beberapa saat pedangnya patah, begitu pula dirinya yang menderita luka sayatan di sekujur tubuhnya.


“Matilah!”ujar baraddaka sambil mengangkat kapaknya.


Treya sudah tidak bisa melakukan apapun, dia sudah kelelahan, mustahil untuk dirinya menghindar.


Treya tersenyum dan menutup matanya.


Ibu kita akan bertemu


Sedetik pun berlangsung, namun kapak itu tidak kunjung menyentuhnya, perlahan lahan dia membuka matanya.


Treya terkejut, baraddaka membeku dan akhirnya terpecah menjadi seribu keping, dia merasakan aura dingin yang begitu peka dari belakangnya, ternyata benar aura itu berasal dari kamaniya yang berdiri tidak jauh darinya.


Kamaniya menunjukan ekspresi wajah kosong, aura di sekitarnya semakin kuat, membuat Treya kahwatir, dia akan kembali berubah. dengan sisa tenaganya dia berusaha mendekatinya, walapun terasa sakit dia terus mencobanya, sesaat kemudian akhinya dia bisa menjangkaunya dan langsung memeluknya berharap dia bisa lebih tenang.


“semuanya akan baik baik saja.” Ucap Treya dengan lembut sambil mengelus elus rambutnya yang putih.


Aura dingin di sekitarnya melemah, membuat treya lega. melemah dan melemah akhirnya menghilang.


Treya melepaskan pelukannya. “sudah, semuanya tidak ada yang terjadi.”


Kamniya mengangguk, dia merasakan sesuatu yang hangat bagaikan saat dia bersama ayahnya, namun itu lebih hangat lagi.


Kamaniya dengan cepat menuju ayahnya dan begitupun treya mengekornya.


“Ayah!” Kamniya memegang tangan ayahnya yang dingin dan yang membuatnya terkejut, tidak ada detak jangtung yang terasa.


“Ayah...” ujarnya sambil menangis memeluknya.


Treya hanya bisa memandangnya; tidak bisa melakukan apapun.


Tidak jauh dari sana daca dan istrinya duduk sambil memandang mereka berdua.


“kenapa kau tidak menolongnya?” tanya istrinya yang heran.


“Tenang saja.” Daca mengangguk ke arah lain menunjukan sesuatu.


Istri Daca menarik nafas panjang. “jika kau tidak bisa menolongnya, maka aku akan pergi.” Saat hendak pergi baca memegang tangannya.


“lihatlah.”


Istrinya memandang ke arah yang di tunjukkan yang sudah ada sesosok wanita yang memakai gaun berwana pink melayang di udara.


“Siapa dia?”


“Istrinya?” jawab daca datar.


Istrinya mendelik.“Bukankah dia sudah mati?”


“tidak, dia belum mati.”


“Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi.”


“Ya, nanti.”


Istrinya menarik nafas kesal lalu memandang istri Daniel yang pergi ke atas Daniel.


Istrinya Daniel , ya Miranda.


Kamaniya terus menangis tersedu sedu sambil memeluk ayahnya.


Treya hanya bisa memandang Dengan redup hingga dia di kejutkan oleh miranda yang begitu saja lewat, tanpa memandangnya begitu kamaniya dia juga terkejut.


Miranda tanpa banya berpirki dia langsung mencium Daniel , kamaniya dan treya mendelik tidak percaya.


Kamaniya tahu sosok wanita itu adalah istri ayahnya, tapi setahu dia istrinya sudah meninggal, yang membuatnya bertanya tanya siapa dia?


Sesaat menciumnya, dia perlahan lahan menghilang bagaikan debu, itu semacam kekuatan yang menyalurkan enegi kehidupan melalui ciuman, Tetapi resiko yang di hadapi pengguna akan sangat patal, dia mungkin akan meninggal.


Tubuh Daniel perlahan lahan sembuh dan akhirnya kembali normal.


Daniel terbatuk batuk, perlahan lahan membuka matanya yang sudah di sambut oleh putrinya kamaniya.


“Ayah!” kamaniya memeluk ayahnya langsung.


Daniel mengelus elus rambutnya dengan lembut.


Treya yang berdiri tidak jauh merasa heran, kekuatan apa yang tadi itu dan bagaimana bisa menghidupkan orang, jika begitu mungkin saja apa yang di katakan Daniel memang benar.


Daniel bangun dengan hati-hati.


“ayo kita pergi.” Ajak Daca.


Istrinya mengangguk dan menghilang.


Di kota Uttarian salju perlahan lahan mulai menghilang, langit pun kembali mejadi cerah seperti dahulu kala.


Dengan sinar matahari yang begitu cerah membuat bangunan bangunan yang membeku mejadi mengkilat bagaikan cermit yang di pantukan cahaya.


Tidak ada angin, orang orang ataupun serangga yang berbunyi, kota itu bagaikan kota tanpa kehidupan.


Treya, Daniel dan kamaniya sudah ada di depan gerbang. kamaniya begitu sedih dan terkejut melihat kota kelahiranya yang bagaikan kota mati.


Daniel yang tidak jauh berada merasa kahwatir, jika putrinya bersedih lagi. sebelumnya dia ingin sekali mencegahnya kembali, tetapi kamaniya pegitu bersikeras untuk pergi.


“ayah apa yang terjadi?” Kamaniya menoleh ke arah Daniel.


Daniel diam, seperti tidak punya jawaban. jika menjawabnya dengan jujur itu akan membaut putrinya bersedih dan menyalahkan dirinya.


“ada badai salju yang begitu kuat, membuat kota menjadi seperti ini, semua orang sudah mengungsi.” Jawabnya berbohong.


“Ayo kita pergi.” Ucap Daniel .


“Tidak ayah, aku ingin melihat lihat.”


Seketika wajah Daniel menjadi muram.


Treya yang tidak jauh mengerti, tapi berbohong seperti itu juga tidak baik.


“niya, aku akan bersamamu, ayahmu ada urusan sebentar.”


Daniel terkejut lalu memandang treya di sampingnya. apa yang dia rencanakan?


“tenang saja, aku akan menjaganya.”


“tapi–.”


“Aku pergi dulu.” Potong treya lalu mendekati kamaniya yang ada di depannya.


Daniel menarik nafas panjang, dia kahwatir dengan putrinya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa. dengan muka murung dia pergi menjauh.