The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 8 rumah daca



Apa yang sedang kau baca?” Tanya daca yang sudah berada di samping Daniel, duduk dengan Santai.


Daniel menutup buku. “ bukan apa-apa.” Ujarnya cuek. Meskipun dia bersikap cuek di dalam hatinya dia sangat marah, marah karena putrinya ingin di jodohkan oleh kaisar. Saat kaisar memberikan kamaniya, dia berjanji akan tidak mencampuri hidupnya lagi, ternyata itu hanya omong kosong yang di lemparnya begitu saja, yang membuatnya sangat marah, dan lebih parahnya lagi, putrinya tidak memberitahunya tentang itu!


Daca tertawa“ Jangan berbohong, aku sudah mengamatimu sejak tadi, jika itu bukan apa-apa mungkin kau tidak membacanya sampai serius begitu dan juga baru kali ini aku tau bahwa Jendra sang penakluk dari kekaisaran uttarian selatan suka membaca buku.”


Daniel tidak menjawabnya dia hanya menyandarkan kepalanya menghadap ke atas melihat cahaya langit biru yang dihiasi awan-awan tipis tembus pandang lengkap dengan bulan dan bersama awan-awa yang bergerak terus.


Mungkin dengan begitu dia bisa meredam amarahnya yang tidak terkendali. Jika saja daca tidak di sampingnya mungkin saja dia akan memukul pohon Yang ada di belakangnya.


Daca lagi-lagi tertawa. “ Jika kau mengatakannya mungkin aku bisa membantumu.”


Daniel lalu memandangnya. Ekspresi nya tiba-tiba saja menghilang Yang entah ke mana. “ apa kamu sungguh-sungguh.”


Daca mengangguk. “ jika aku bisa.”


“Aku akan menceritakannya.” Lalu Daniel mengangkat kepalanya dan menatap daca. Dia menjelaskan apa yang terjadi mulai dari putrinya yang kerasukan roh jahat yang entah dari mana sampai dia harus mencari seseorang yang bisa menghilangkannya.


Matahari sudah memperlihatkan cahaya orange yang indah, awan-awah orange yang di sinarnya nampak elok, namun jauh di atas awan yang berwarna hitam yang melintasinya karena angin barat yang kencang, perlahan-lahan bulan mulai bercahaya.


Angin sore terasa menyegarkan saat orang-orang selesai bekerja dengan air keringat yang bercucuran membasahi tubuh. Angin itu terasa seperti hadiah saat setelah bekerja, namun saat sore hari hujan, suasananya berubah, orang-orang menjadi kesal saat mereka selesai bekerja dan memilih untuk tidur lebih awal.


Untungnya sekarang suasananya cerah, awan-awan terlihat berjalan dengan jelas melewati langit biru yang cerah yang di sinari matahari yang sudah tenggelam, seperti bulu-bulu mata yang mulai menutup mata. Angin-angin dari Utara menerpa wajah mereka dengan lembut.


“ jadi dia yang menyebabkan bencana alam ini. Bagaimana keadaan kekaisaran sekarang?” tanya heran, ternyata dia lebih mementingkan kekaisaran dari pada masalah yang Daniel ceritakan. Mungkin karena dia seorang pedagang yang harus berhubungan dengan kekaisaran.


Jika kekaisaran baik-baik saja mungkin situasi Ekonomi juga baik, namun dimanakah barang-barang yang di jualnya?


“ aku tidak tau, aku datang ke istana hanya mengunjungi kamar putriku dan tidak berminat dengan hal lain.” Hati Daniel dan isi kepalanya Hanya ada putrinya saja.


“aku mengerti, mungkin cinta yang bisa menjelaskannya dan memberikan cahaya kepada putrimu.”


“ mungkin itu dan jika memang itu harusnya berada di daerah sekitar sini.”


“ Mungkin iya mungkin tidak. Apa kau pernah mempunyai cinta pandangan pertama?”


Wajah Daniel terlihat serius. “ aku tidak mengalaminya, tetapi aku mempunyai pengalaman saat merasakan cinta,”


“ Apa yang kau rasakan, apakah cinta dapat mempersatukanmu, atau membuatmu menjadi egois?” tanya dengan menyandarkan kedua bahunya di atas paha.


“ aku tidak bisa menjawabnya.” Jawabnya dengan suara pasrah, sambil memandang daca.


“ terkadang waktu membuat kita lupa, jika itu menyenangkan, terkadang waktu juga membuat kita menyadarinya betapa lambatnya dia berjalan.” Daca menyandarkan kepalanya menatap langit.


“ itu sudah tentu, saat aku senang aku melupakan segala hal kecuali kesenangan itu, saat aku sedih, aku juga melupakan segalanya kecuali kesedihan itu.” Mata Daniel lebih terbuka. “ aku harus mencari orang yang bisa melupakan kesedihan itu.” Ucapnya yang teringat lagi akan orang yang harus di carinya.


Setelah itu Tidak ada percakapan di antara berdua, hanya suara serangga dan cahaya kunang-kunang yang terlihat dan bersuara menghiasi malam hari yang cerah. Sedangkan mereka Hanya duduk menikmati cahaya bulan yang indah dan selalu di lintasi awan malam.


Danel hanya memandang dari kejauhan sampai dia masuk ke rumah dan memalingkan wajahnya memandang langit yang di tutupi cabang-cabang pohon. Dari sela-sela cabang itu terlihat jelas bintang-bintang berkelap kelip dengan tidak terhitung jumlahnya.


Meskipun udara malam terasa dingin, Daniel tidak merasakannya, tubuhnya terasa berada saat siang hari, tidak ada rasa dingin dalam tubuhnya, di pikirannya ataupun hatinya. Mungkin ini karena daca yang mengajaknya berbicara yang tidak terlalu jelas membuatnya berpikir berat.


Dia memandang pedang yang berada di sampingnya. Pedang itu dia terima saat dia di angkat menjadi Jendral. Saat itu suasananya begitu ramai dengan sorak-sorakan para prajurit dengan perasaan bangga, bangga karena mereka mempunyai Jendra yang tangguh lagi setelah sekian lama menunggu.


Kemudian mereka menaklukkan beberapa daerah yang menjadi daerah kekuasaan kekaisaran uttarian. Danel ingat sekali saat bertempur pertama kali menjadi Jendral, dia merasa kuat, tidak ada yang bisa mengalahkannya baik dalam hati maupun fisik, dan mencapai kejayaan kekaisaran terbesar di dunia saat itu.


“ Apa yang kau lamunkan?” Daca sudah kembali di samping Daniel.


“ Tidak ada.” Daniel memandang rumah yang sudah bercahaya terang berwarna kuning. Di teras rumah hanya ada satu obor yang menyala membuat suasana tampak lebih cerah.


“ ayo kita duduk di sana.” Ucap daca sambil berjalan menuju teras rumah.


Danel mengikutinya dari belakang.


Setelah mereka sampai di teras rumah, daca meminta untuk menunggunya, lalu dia masuk ke dalam. Sambil menunggu Daniel berbalik menatap halaman rumah yang gelap, dia baru menyadari bahwa halaman itu tampak gelap sekali. Jika daca tidak memintanya mungkin dia akan berdiam lebih lama di sana.


Daca kembali keluar membawa dua kursi kayu lengkap dengan sandarannya yang tidak terlalu besar, meletakkannya secara berjejeran dengan jarak 1 m. Dia tersenyum menatap Daniel lalu kembali masuk, itu membuat Daniel bingung kenapa dia tidak menggunakan sihir saja? Jika dia bertanya mungkin hanya jawaban tidak menentu yang di terimanya, dia berbalik lagi.


Kemudian daca membawa satu meja yang tidak terlalu besar; cukup untuk menaruh beberapa hidangan.


“Ayo duduk.” Ujarnya lalu kembali masuk,


Daniel lalu duduk di kursi yang paling timur. Dia merasa nyaman saat duduk, mungkinkah ini perasan mendapatkan pengalaman baru?


Daca kembali membawa tray yang di atasnya sudah ada 2 gelas teh, dan beberapa makanan ringan Lalu dia menghidangkannya.


“ ayo minum.” Ujarnya lalu duduk.


Danel hanya memandang lurus ke depan, bukan karena dia tidak ingin meminum minuman yang di berikan, tetapi mungkin ada racun yang di berikan mengingat dia adalah seorang jendral kekaisaran uttarian yang selalu membantai para musuh-musuhnya.


“ Tidak ada racun minum saja.” Ujar Daca yang sudah lebih dulu meminumnya.


Daniel agak terkejut, apakah dia bisa membaca pikiran ku ? Lalu mengambil salah satu makanan.


Saat makanan itu digigit dengan lembut olehnya, dia merasakan rasa yang baru, rasa itu enak dan sedap. Dia tidak menyangka bahwa makan tradisional sama rasanya dengan makanan yang selalu dia makan.


Dia mengambil minuman dan langsung meminumnya dan hasilnya sama.


Dia mulai terus memakannya sampai tidak bisa memasukkannya lagi, lalu bersandar dengan ekspresi puas sambil memandang ke depan.


“ Kau bisa tidur di mana saja, asalkan tidak tidur di kamarku.” Lalu Daca masuk sambil membawa tray yang kosong.


Daniel hanya memandangnya lalu memutuskan untuk tidur di kursi panjang.