The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 18 orang-orang itu terlalu jahat



Setelah kami puas menikmati pemandangan pasar, kami langsung pergi menuju pohon beringin dekat lembah yang megah itu, yang selalu membuat seseorang tertarik melihatnya. Entah dia laki-laki ataupun perempuan semuanya sama sepertiku yang memperlihatkan ekspresi wajah kagum dengan mata lebar melihat keindahannya,


Ngomong-ngomong aku mengetahuinya dari buku yang aku baca.


Saat kami tiba angin kencang menerpa wajah kami berdua, aku sungguh menikmati angin ini yang terasa segar dan menyejukkan di bandingkan angin yang aku rasakan di istana.


Kami berdua duduk menebarkan padangan melihat lihat pohon beringin yang masih terlihat indah. Meski sudah tua, benang-benang merah meluncur bergoyang-goyang seperti menikmati hembusan angin yang sejuk itu.


Tidak ada pembicaraan di antara kami.


Bayangan-bayangan muncul di benak ku membuatku bersedih mengingat bahwa aku akan menikah dengan seseorang yang tidak aku suka dan juga bekas luka dahulu tidak kunjung menghilang. Sungguh aneh jika luka tidak terlihat lebih sakit daripada luka yang terlihat, seperti merasakan manis yang mudah menghilang yang aku sebut melambangkan kegembiraan dan rasa pahit yang aku lambangkan kesedihan.


Apa ada orang yang bisa hidup tanpa merasakan perasaan semuanya yang ada?


Mungkin ada namun itu sangat jarang sekali, sungguh beruntung orang itu tidak merasakannya.


“Apa kamu menyukainya?” tanya ayah yang memecah keheningan dan lamunanku.


“aku selalu senang ayah, berada di sini.”


“ayah selalu mengharapkan begitu, apa kamu ingin pergi menikmati kota?” tanyanya.


“Bukankah kita sudah melewati kota?”


“ Iya, tapi apa kamu tidak ingin memandangnya lebih lama?” Tanya ayahku.


Aku menggelengkan kepala. “tidak ayah, aku tidak menginginkannya.” Jawabku. Bagiku Suasana kota sungguh ramai yang membuatku merasa risih berada di sana.


Aku kembali teringat jawaban ayah itu, terbiasa, aku terbiasa membaca buku dengan tenang, membuatku risih dengan suara-suara.


“Ayah mengerti.” Ucapnya lalu tidak ada lagi pembicaraan di antara kami hanya ada suara tipuan angin dan kicauan burung-burung yang tampak begitu bergembira.


Sungguh aneh, bagaimana bisa burung-burung itu berkicau saat seperti ini, saat sore begini? Mungkin aku tidak tahu apa yang mereka katakan tetapi kata-kata burung pasti memiliki makna tersendiri yang pastinya hanya Mereka yang dapat mengerti.


Ngomong-ngomong apakah bahasa burung bangau yang berada di daerah lain dengan di sini memiliki perbedaan?


Ah lupakan saja. Pandanganku tertarik pada 2 kupu-kupu kuning yang melintas di depan kami. Kupu-kupu itu tampak senang sambil bermain kejar-kejaran, mereka sedang berkencan.


Kupu-kupu itu berwarna kuning cerah yang nampak indah tidak terhalangi.


“Apa kamu merindukan ibunya?” tanya ayah yang membuat ku terkejut, ya aku sangat merindukannya dan ingin meminta maaf jika itu aku bisa lakukan. Namun itu tidak mungkin dia sudah mati saat aku lahir, tapi aku mengirim surat untuknya.


Aku mengangguk pelan.


“Apa kamu tidak kesepian dan kekurangan kasih sayang?” Tanyanya lagi yang membuatku harus berpikir keras membuat Jawaban yang meyakinkan.


“aku mendapatkan kasih sayang dari ayah dan bibi yu, bagiku itu saja cukup.” Jawabku sambil tersenyum kecil.


Ayah menarik nafas panjang, “ayah kasihan padamu.” Ujarnya lalu memandang sisi lain.


Aku tidak berkata kata lagi.


Aku juga kasihan pada ayah, yang selalu menemaniku walaupun aku tahu ada sesuatu yang ayah sembunyikan, dan itu mungkin tidak boleh aku ketahui.


Ah, angin lagi-lagi menerpa wajahku, helai-helai rambutku beterbangan dengan lembut, aku langsung memperbaikinya, rambut putih seindah dan selembut salju.


Apa ibuku juga mempunyai rambut berwarna putih? Dari mana asal usul ibuku? Kenapa orang-orang tidak memperlihatkan ekspresi heran saat melihatku?


Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiranku.


Aku memandang ayah yang masih memandang ke depan. Jalan menikung dari Utara menuju kota Uttarian yang selalu di hiasi para pendatang. Namun hari ini para pendatang tidak ada yang kelihatan.


“ayah apa kamu bahagia?” tanyaku melihat raut wajahnya yang gagah terlihat.


Ayah memalingkan wajahnya. “aku.... Bahagia.” Jawabnya dengan ragu-ragu.


Aku tahu bahwa ayahku tidak bahagia, tapi aku tidak ingin mencari tahunya, pastinya karena istrinya yang telah meninggal.


...****


...


Betapa indahnya jika sesuatu di hiasi dari sesuatu yang serasi dan tepat juga.


Namun aku juga berpikir bahwa ini tidak akan berlangsung lama bagaikan ruangan yang dihiasi saat hari raya akan di lepas saat setelahnya.


Tidak terasa umurku sudah 16 tahun, kemarin ayahku pergi lagi, sebenarnya aku sungguh kesal saat dia pergi tanpa pamitan. Namun aku tidak ingin berdiam saja, aku langsung berlari mengejarnya, hasilnya aku bisa mengucapkan salam kepadanya, usaha tidak menghianati hasilnya, begitulah.


Sekarang aku duduk sambil memandang langit dengan tanganku sebagai tiang menopang wajahku yang sebenarnya tidak perlu.


Suara langkah kaki kembali aku dengarkan. Suara langkah kaki yang sangat aku kenal, ya itu adalah saudara ku, mengapa mereka sekarang datang lagi? setelah sekian lama, mungkin mereka takut.


Aku memalingkan wajah dengan cepat.


“apa hari-harimu sungguh indah sebelumnya.” Tanya putri dari anak permaisuri lagi.


“Mengapa kalian datang?”


Ngomong-ngomong aku tidak melihat pangeran ke empat di sana.


“kami ingin memberikanmu malam yang mencekam.” Ujarnya dengan senyuman Jahat di wajahnya.


“Sekarang lepaskan sandalmu?” sambungnya.


“tidak.”


Ia memandang saudaranya yang lain kemudian mengangguk memberikan kode.


Mereka mendekatiku dengan ekspresi wajah yang tidak dapat aku pastikan.


“Apa yang akan kalian lakukan!?”


Mereka tidak menjawab, terus melangkah mendekatiku, lalu berhenti di samping rak buku bukuku.


Tangan mereka bergerak dengan cepat merobek robek bukuku, aku mendekati mereka dan memegang kedua tangan yang ada paling dekat denganku. “Apa yang kalian lakukan!” teriakku.


Mereka tidak berhenti terus berusaha menyobek buku-buku dan aku berusaha menghentikannya. Namun apa daya, aku sendirian mereka berdua, membuatku sulit untuk menghentikan aksi mereka, aksi yang tidak patut untuk di contoh,


“ berhenti, apa yang kalian lakukan!”


Mereka tidak mendengarkan sekan-akan tidak ada telinga di samping kepalanya atau mereka memang tidak punya telinga.


Beberapa orang maju dan melakukan hal yang sama, membuatku marah. Aku berusaha menjauhi mereka dari rak-rak bukuku. Namun bukannya mereka menjauh, sebaliknya aku yang terhempas di lantai.


Air mataku keluar, sudah tidak ada yang membendung. Aku gagal mencegah mereka.


“Nahh, jika kamu sudah menangis, baguslah.” Ujarnya putri dengan senyuman penuh kemenangan.


Aku menunduk melihat lihat semua kertas berhamburan, “mengapa?, Mengapa kau terus menggangguku?” tanyaku lirih.


“Mengapa?, Bukankah kamu sudah tahu kamu itu anak pembawa sial!!” Ujarnya dengan keras.


“ayo kita pergi.” Sambungnya lalu pergi di ikuti oleh mereka dari belakang. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mereka, mungkin penuh dengan kegembiraan sama seperti pemimpin mereka,


Aku memandang sekitar melihat buku-bukuku yang sudah robek sana sini. “mengapa mereka mau menurutinya.” Gumamku dengan air mata yang masih mengalir.


Sambil merangkak aku mengambil kertas-kertas yang berhamburan begitu banyak.


Setelah selesai aku duduk di depan meja dengan tangan kanan aku jadikan Tian penopang daguku.


Cahaya orange bersinar redup menebarkan cahaya menatapku.


Ingatan-ingatan kejadian itu masih terulang ulang dalam pikiranku. Aku merasa marah, benci dan lain sebagainya.


Aku berusaha untuk melupakannya, namun memoriku tidak mau melupakannya apalagi menghapusnya.