The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 15 end



Wajah daniel sedikit memerah. dia malu saat di lihat oleh treya dan ibunya.


“baiklah ayah pergi.” Lalu dia berjalan menjauh.


Treya, ibunya dan kamaniya tertawa.


“ayah aku akan selalu merindukanmu!!” seru kamaniya saat Daniel Sudah menjauh.


Daniel hanya melambaikan tangannya ke atas.


Kamaniya tersenyum lebar melihat ayahnya.


Daniel kembali menuju istana kekaisaran. Perjalanan yang dia tempuh akan sangat panjang. dia memperhitungkan mungkin akan sampai sekitar 1 bulan dari sekarang dia berjalan. meskipun jauh, tetapi baginya itu sangat sepadan dengan apa yang dia dapatkan.


saat perjalanan dia tersenyum sambil mengingat putri mencium pipinya. Perasaan hangat yang pernah membuatnya seperti ini lagi. sebelumya dia juga merasakan perasaan ini bersama istrinya namun, istrinya terbunuh, bukan karena sakit, melainkan karena tidak sengaja. dia membunuhnya membuat sedih dan sampai bertemu dengan kamaniya.


Saat mengingat kejadian itu, senyuman di wajah menghilang digantikan rasa penyesalan dan kesedihan


Satu persatu penyesalan mulai dia ingat, dan mengingat dia harus pergi menuju rumah ibu Nando, dan melupakan untuk pergi ke kekaisaran, dia menarik nafas panjang berharap semuanya akan lancar.


Dia sekarang sudah berada di depan rumahnya. rumah itu terlihat sudah di perbaiki dari sebelumnya dan banyak di tumbuh tumbuhi bunga bunga di pekarangan rumahnya.


Daniel berjalanan perlahan lahan. kakinya sekan hilang kekuatannya di sedot oleh tanah yang di injaknya, dia hanya memandang tanah. tidak ada rasa harga diri yang dimilikinya setelah semua yang dia lakukan.


Dia berhenti di depan pintu dan mendengarkan suara suara dari dalam. suara suara itu penuh dengan kebahagiaan namun Daniel tidak mempedulikannya.


Dia mengangkat kepalanya memandang pintu. Tangannya ragu ragu dia angkat untuk mengetuk pintu, rasanya tangannya sangat berdosa untuk mengetuk pintu itu, tetapi dia meneguhkan hatinya.


Dia mengetuknya beberapa kali. setelah 5 detik menunggu akhirnya seseorang membukakan pintu.


“ Akhirnya kau datang!” ujar ibu nandong yang terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


Daniel mengangkat kepalanya, dia memandang wajah ibu nandong seakan akan dia mengenalnya sekarang. jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dia seakan melihat istrinya kembali.


“Apa kau sudah siap mati?”


Daniel mengangguk pelan. “ aku sudah siap, tetapi, aku gagal mencarikan anak anak itu orang tua, kamu bisa membuang mayat ku di sungai yang banyak buayanya dan memberinya mencabik cabik mayatku, sebagai gantinya.”


Wajah ibu Nando seperti biasa tegas. “ baik.”


Daniel mengeluarkan pedangan dan menopangnya secara horizontal dengan kedua telapak tangannya, lalu bersimpuh dan tangannya ke atas sedangkan kepala menghadap ke bawah.


Dia mulai merasakan, pedang itu sudah di angkat lalu dia meletakan kedua tangannya di depan dan memandang teras sebagi pandanganya terakhir.


Pedang itu terayun dengan keras namun Daniel tidak merasakan sakit apapun membuatnya bingung, dia melihat darah mengalir dari depannya, dengan cepat dia memandang ke atas.


Daniel sangat terkejut akan hal yang terjadi di depannya.


Pedang itu menusuk tepat di dada kiri ibu nandong; menusuk jantungnya.


“Kenapa...” bibirnya bergetar bersama dengan matanya.


Ibu nandong tersenyum memandang Daniel, “ selamat tinggal.” Lalu tidak sadarkan diri.


Dengan sigap Daniel membaringkannya, kepalanya di letakan di pangkuannya.


“kenapa, kenapa, kenapa kamu melakukan ini!!” serunya bersama air mata keluar dengan deras membasahi tubuh ibu nandong.


“ Kenapa kamu melakukan ini.....” tanya meski tidak ada jawaban.


Dia terus menangis dan menangis, sesekali meraung.


“apa salahku?....”


“apa salahku.” Ucapnya sambil mengangkat kepala ibu nandong yang sudah terasa dingin.


“kamu pernah berkata bahwa aku yang membunuh keluargamu, tetapi kenapa kamu tidak membalaskannya!”


Dia menangis dan terus menangis entah seberapa banya air matanya keluar dia tidak mempedulikannya.


“ kenapa kau menangis?” tanya seorang wanita yang berada di depannya, Suaranya tegas namun memiliki kelembutan di baliknya.


“Aku gagal!”


Aku gagal!!”


“kenapa?”


“Aku tidak bisa menebus kesalahanku.” Ujarnya denga suara yang lirih.


“kesalahan apa?”


“kesalahan yang sangat buruk dan tidak dapat di ampuni.” Ujarnya masih menangis dengan keras.


“Apa yang kau tangisi?”


Daniel terkejut atas pertanyaan itu lalu dia memandang ibu nandong yang sudah tidak ada lagi dan hanya pedangnnya yang berada di pangkuannya.


“Bagaimana bisa?” lalu dia memandang ke arah wanita itu.


Dia terkejut, waktu seakan akan berhenti, matanya bergetar bersamaan dengan bibirnya. “ kamu?”


“apa kau lupa denganku?” Tanyanya


Seorang wanita cantik seumuran dengan Daniel berdiri. dia memakai gaun warna merah jambu, rambut hitam terurai panjang, dia adalah Miranda, istri Daniel yang tidak sengaja dia bunuh.


“Miranda.” Ujarnya lalu memandang pedangnya, dengan cepat dia mengambilnya dan mengangkatnya. “kamu bisa membunuhku sekarang.” Ujarnya sambil memandang ke bawah.


“kenapa aku harus membunuhmu?”


“ Aku tidak layak hidup, aku terlalu egois dan memikirkan diriku saat itu dan...”


“ Membunuhku.”


Daniel mengangguk.


Miranda menurunkan tubuhnya dengan cepat memegang kedua bahu suaminya.


Daniel perlahan lahan mengakat kepalanya memandang Miranda di depannya.


“apa kau ingin hidup menderita lagi?”


“ tetapi... Aku tidak layak bersamamu.”


Daniel menurunkan pedangnya dan mengikuti perintah Miranda.


“aku sudah lama menunggumu.” Ujanya memeluk Daniel dengan erat dan melepaskan pelukannya. “ Masa lalu biarlah masa lalu, aku ingin hidup dengan mu di desa dengan bahagia.”


“ tetapi.”


“ Tenang saja tuan Daniel kami sudah menemukan orang tua yang baik!” Ujar Nando dan nani yang sudah berada tidak jauh dari nya.


“ Kalian.”


“Baiklah ayo kita masuk.” Ujar Miranda dengan suara tugas dan sedikit lembut.


Tanpa persetujuan Daniel, Miranda menarik tangannya.


Nani dan nando membicarakan bagaimana bisa mereka menemukan orang tuanya. mereka di culik oleh suami istri di kota batu bara. mereka sangat baik, alasan mereka di culik karena mereka tidak punya anak jadi dari sana lah Nani dan nandong menemukan orang tua mereka yang baru.


“ tuan Daniel terima kasih.”


“Tidak, itu karena kalian beruntung.”


“ jika bukan tuan yang menghantar kami, mungkin kami tidak menemukanya.” Seru Nani.


Daniel tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sudah kehabisa kata kata, dia menarik nafas panjang. “ Baiklah.”


Mereka terus membicarakan kehidupan masing-masing hingga orang tua nandong dan Nani menjemput mereka. sepanjang pembicaraa Daniel terlihat canggung dan malu akan dirinya.


“ibu, tuan, kami pergi dulu.” Ujar mereka dari jauh sambil melambaikan tangan ke atas.


Miranda dan Daniel hanya mengangguk lalu tersenyum ramah.


Miranda hendak kembali masuk, tetapi tangannya dengan cepat di pegang oleh Daniel . “ maaf.” Ucapnya dengan lembut.


“ aku sudah melupakannya.” Lalu hendak pergi tetapi di pegang erat oleh Daniel. “Bagaimana bisa kamu kembali hidup?”


“Waktu itu kau tidak sengaja menyegelku sebelum menusukkan pedang itu.”


“bagaimana bisa?” tanya Daniel heran.


“Apa kau tidak senang aku kembali?”


“ Tidak.” Ujarnya menarik Miranda ke dalam pelukannya. “aku tidak akan membuatmu menderita lagi, aku janji.”


Miranda membalas pelukan suaminya. “aku ingin kau hidup bersamaku di desa ini, menjalani hidup dengan sederhana.”


“ Baik, aku akan melakukannya.”


Lalu mereka secara bersamaan melepas pelukan. “ baiklah ayo masuk.” Ucapnya dengan tegas namun memiliki perasaan yang lembut.


Lalu memegang tangan Daniel dan menariknya.


Perasaan ini, pikir Daniel, perasaan yang sangat ingin dia rasakan setelah bertahun tahun lamanya. perasaan yang sangat membuatnya nyaman.


Mulai hari itu mereka hidup seperti dulu, hidup yang selalu mereka jalani dengan damai dan selalu di hiasi tawa setia harinya.


Mereka makan bersama, memancing ikan, memetik bunga dan membuat kursi di taman, segala hal mereka lakukan bersama sama.


...🌸🌸🌸🌸...


Di pagi hari Daniel bangun dan mengumpulkan nyawanya lalu melihat Miranda sudah tidak ada di dalam kamar, dia tidak terkejut, istrinya memang selalu bangun pagi, dia beranjak berdiri, Namun dia berheti oleh suara yang di dengarnya.


Suara alunan merdu sasando dari luar, suara itu begitu merdu membuat Daniel cepat cepat keluar.


Miranda sudah duduk dengan anggun. jari jari tangannya memetik setiap senar dengan anggun seperti Dewi,


Burung burung berkicauan seperti sedang menari.


Daniel tidak jauh berdiri membuatnya terpukau, musik ini sudah lama dia tidak mendengarnya, lalu dia mendekatinya dan duduk di depan Miranda sambil memandangnya.


Mereka tampak bahagia.


...🌸🌸🌸🌸...


“akhirnya adiku tersenyum lagi.” Ujar daca yang bersila di atas langit yang jauh.


Memandang adiknya yang sudah kembali seperti dulu.


Istrinya di samping menarik nafas dengan kesal. “ kenapa kau tidak kunjungi saja dia?”


“Biarkan jadi rahasia.”


“terserah kau saja.” Lalu istrinya menghilang.


Daca menarik nafas kesal. “istriku tunggu!” Lalu ikut menghilang.


...🌸🌸🌸🌸...


Di bukit treya dan kamaniya duduk berdampingan memandang desa bawah dengan wajah tersenyum.


Mereka sudah menikah sebulan yang lalu.


“aku tidak berfikir kita akan bisa bersama sama.” Seru kamaniya dengan wajah yang gembira.


“benarkah?” Goda treya.


“huh, jika kamu tidak menginginkannya, aku bisa pergi sekarang.” Ujar kamaniya sambil mengelembungkan kedua pipinya menghadap ke samping.


Treya menarik nafas kesal, jika ini akan terjadi mungkin dia tidak akan menggodanya.


...----------------...


...----------------...


Ku pikir musim gugur adalah musim yang buruk; akhir dari segala musim, jatuhnya dedaunan yang mengering dan berterbangang oleh tiupan angin yang lembut entah ia dekat dengan rumhanya ataupun menjauh, aku tidak tahu.


aku selalu mengingat dan memebenci angin yang menerbangkan semua dedaunan yang coklat itu dari ranting ranting pohon yang selalu menjaganya. bagiku itu bagaikan kenangan kenangan yang terindah dan terbaik bagi pohon itu. dia mungkin mengenangnya dan mengingatnya saat dedaunan itu memberikan ridang ranting ranting pohon, memberikan makanan ke pada ulat bulu sebelum ia mejadi kupu kupu yang indah dan berterbangan bahkan orang orang pun di buat sejuk oleh dedaunan itu. mereka tentu akan mencari tempat yang teduh dan lembab untuknya beristirahat, sejenak ataupun lama.


Sekarang aku sadar, daun daun itu memang sudah waktunya di ganti. seseorang pernah mengatakan padaku: ‘sesuatu yang berlalu biarlah.’ Aku menyadarinya memang sudah waktunya dedaunan itu untuk di ganti dengan yang baru dan lebih baik dari sebelumnya, yang lebih hijau dan lebih indah.


Aku menyadari semakin pohon itu mengganti daunnya maka ia akan semakin tumbuh menjadi lebih besar dan akhirnya berbuah bagaikan kehidupan yang selalu seperti itu sebelum menemukan kebahagian itu.


Musim gugur sekarang bagiku, musim untuk pohon berganti baju merasa dinginnya angin, teriknya matahari dan panasnya suhu bumi. musim yang tidak baik, tetapi mereka harus seperti itu, sebelum mendapatkan baju yang baru dan lebih indah