
Angin mulai berembus lagi, aku memandang kesan kesini seolah-olah seperti orang kebingungan.
Sekarang aku memandang cahaya matahari senja yang indah itu; tidak ada awan-awan yang menghalanginya. Langit biru seolah-olah tersenyum melihatnya.
Suara langkah kaki perlahan-lahan mendekatiku. Suara itu bukan satu orang melainkan beberapa orang secara bersamaan.
Aku menoleh sumber suara itu, ah saudara saudaraku yang tadi. Dari kejauhan aku dapat lihat mukanya tersenyum menyeringai sebagai Tandak yang tidak baik.
“ apa kamu sudah merasa tenang.” Ujar saudaraku, ya putri yang tadi menyiramku. Dia tersenyum seakan-akan sungguh bahagia.
“ Iya, aku sungguh merasa tenang, setelah itu!” ujarku lalu berjalan.
Saat aku berpapasan dengannya, tangannya memegang pergelangan tanganku dengan erat. “ Tunggu.”
“Apala...”saat aku berbalik, serbuk merah dia lemparkan mengenai wajahku. Aku memejamkan mata. Rasa panas mulai tumbuh di mataku, rasa itu sungguh panas. “ apa yang kau lakukan!!” aku langsung berlari menuju kamar. Samar-samar aku mendengar tawa mereka; tertawa yang sama, yang aku dengar tadi. Tawa itu kedengarannya sangat bahagia. Aku berlari turun tanpa bisa melihat. Hanya berlari dan mencari air yang ada di dalam pikiranku. Sesekali aku menabrak orang dan tembok.
Aku rasa sudah mencapai tangga yang paling bawah, tinggal beberapa meter lagi!
Saat aku turun, kakiku meleset dari target; aku terjatuh, oh sungguh nasib yang sial! Dengan kaki dan bahu yang sakit aku tertatih tatih berjalan. Sungguh saat ini aku membutuhkan pertolongan! Tetapi tidak ada yang menghampiriku
Aku terus berjalan hingga sampai di kamar, langsung saja menuju kamar mandi dan merendam wajahku di dalam wajan. Perlahan lahan rasa panas itu menghilang.
Saat ini aku sungguh marah!, Aku ingin memberinya pelajaran, sungguh kurang ajar, apakah tidak cukup tadi siang saja?
Yang paling membuatku marah kenapa semua orang yang ada di dekatku tidak ada yang mau menolongku!? Apa mereka tidak mempunyai rasa kemanusiaan?
3 menit pun berlalu aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur empuk.
“ Semua orang menjauhiku.”
Mungkin saja karena aku anak pembawa sial?
Aku merasa geli, orang-orang itu selalu mempercayai takhayul!
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
“ sudahlah, mungkin saat ayah datang 3 bulan lagi akan mengubah semuanya; termasuk pernikahanku.”
...****...
Daniel menutup bukunya, rasa kecewa, marah bersatu di dalam dirinya. Dia tidak dapat membayangkan, dirinya selama ini seperti tidak di anggap sebagai ayah.
Putrinya ternyata selalu memakai topeng yang mempunyai lem yang kuat. Meskipun dia ingin Daniel bahagia, tetapi itu justru membuatnya kecewa.
Daniel menarik nafas panjang, menahan rasa marah di dalam dirinya.
“ tuan mari masuk.” Ucap Nandong bersama Nani yang sudah ada di samping Daniel. Mereka sudah ada dari tadi di sana. Melihat Daniel yang sepertinya tidak dapat di ganggu membuat mereka enggan untuk mengganggunya.
“baiklah.” Jawab Daniel langsung mengikuti mereka dari belakang.
Saat mereka sudah berada di dalam, Daniel melihat meja makanya hanya terdapat nasi saja, tidak ada yang lain.
Nandong yang melihat wajah Daniel yang sedikit terkejut dengan cepat berkata, “ maaf kami hanya bisa menyajikan itu saja.” Ucapnya dengan lirih.
Nani mengangguk.
“ Aku tidak lapar, kalian dan ibu Kalian saja yang makan.”
“ Tetapi...”
“ tidak apa-apa, aku biasanya tidak makan beberapa hari, tenang saja.”
“Tapi tuan anda adalah tamu kami, jadi kami seharunya melayani anda dengan baik. Ibu kami pernah berkata bahwa seorang tamu itu bagaikan raja yang datang mengunjungi rumah, jadi kami harus melayani anda dengan baik.” Seru Nani menjelaskan panjang lebar.
Daniel tersenyum lembut “ tidak apa-apa, jika aku lapar aku akan memakannya.”
“ Apa ibu kalian sudah baikkan.”
Nani dan nandong membungkuk. “ terima kasih tuan, ibu kami sudah baikkan.” wajahnya terlihat lebih baik.
Nani dan nandong memperlihatkan ekspresi bingung. Kali ini mereka mendapatkan tamu yang seperti ini, biasanya saat orang datang mengobati ibunya mereka terlihat senang saat di layani dengan baik.
“ Aku keluar dulu.” Ujar Daniel memecah lamunan mereka.
Mereka mengangguk.
Daniel hendak keluar, tetapi mendadak memikirkan keadaan ibu Nandong. Tanpa banyak berpikir lagi dia langsung masuk ke kamar.
“ Kenapa kau menolongku?” Ucap ibu nandong dengan suara parau.
Daniel mendekatinya. “ Bukankah orang yang di tolong sebaiknya berterima kasih.”
“ orang yang selalu datang karena menginginkan sesuatu, tidak layak di beri ucapan terima kasih.” Ucapnya dengan cuek.
Meskipun Daniel mendengarnya merasa risih, dia tidak berani melawannya, dia bangkit. “aku bukan seperti orang itu.” Ujarnya lalu pergi.
Ibu Nando berbalik dan beristirahat.
...****...
Saat malam hari di atas pohon yang tidak jauh dari rumah nandong seorang wanita muda memakai gaun hitam dengan rambut yang selaras tengah berdiri sambil tangan kananya memegang dahan pohon.
Wajahnya bisa di bilang cantik dengan tato kupu-kupu di dahi dan poni indah menghiasi dahi mulusnya itu.
Dia tersenyum jahat sambil menggerak-gerakan telunjuknya yang ada kupu Hitam yang menari nari di atasnya.
“ hari ini aku akan menyelesaikannya.” Dia berubah menjadi pecahan kupu-kupu Hitam kecil dan bergerak menuju rumah nandong.
Daniel sedang duduk di teras rumah, menyebarkan pandangannya ke segala arah. Dia akan berjaga malam ini untuk mengetahui siapa pelaku yang meracuni ibu nandong, dia mengetahui rancun yang ada di dalam tubuh ibu nandong adalah butterflies black hell merupakan salah satu rancun yang sangat mematikan dan hanya di miliki oleh penyihir yang di anugerahi kemampuan itu saja.
Saat pertama kali Daniel mengetahui jumlah rancun dalam tubuh ibu nandong, dia sangat terkejut. Dari pengalamanya, dia tidak pernah melihat ataupun mengetahui ada seorang yang bisa bertahan setelah teracuni begitu banyak, membuat Daniel heran, siapa sebenarnya dia.
Penyihir racun seperti itu memiliki kekuatan racun yang begitu mematikan dan dia juga memiliki tubuh anti segala racun. Yang paling berbahaya saat menghadapinya adalah tidak memiliki kekebalan terhadap racun.
Daniel sudah mempersiapkan segalanya yang di perlukan. Pertama dia terlalu sering terkena racun sehingga tubuhnya kebal terhadap racun. Selain itu, dia juga bisa menahan nafas dan menutup semua akses masuk ke dalam tubuhnya, jadi tidak masalah jika penyirih itu muncul malam ini.
Kedua pengalam bertempurnya sudah tidak diragukan lagi.
Ketiga dia sudah menyebarkan anti racun ke segala ruangan. Dia menggunakan bahan-bahan sekitar untuk membuatnya.
Dia juga menyuruh nandong dan Nani untuk berada di dapur, mereka sedikit terkejut, tetapi mereka mau melakukannya.
Selama 1 jam Daniel berjaga, dia tidak merasakan aura apa pun.
30 menit kemudian dia merasakan sesuatu yang aneh dan melihat sekawanan kupu-kupu hitam menghampirinya.
Dia tersenyum. Di dalam hatinya, dia sudah mengetahui bahwa itu adalah teknik pengubah wujud, yang biasa di kuasai penyihir terutama penyihir racun.
Daniel tidak melakukan apa pun, dia menyadari, dia tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Dia menunggu penyihir itu mengubah bentuknya dan menyerangnya langsung.
Setelah sekawan kupu-kupu itu masuk, dia bergesa membuat pelindung di sekitar dan membutuhkan waktu beberapa detik.
Di dalam kamar, ibu Nando belum tidur, dia masih memikirkan siapa Daniel, dia merasa akrab dengannya walaupun bertemu untuk pertama kali.
Dia merasa sangat mengenalnya, tapi di mana?
Kawanan kupu-kupu itu memasuki kamar membuat ibu nandong heran. dia biasanya hanya melihat satu atau dua, tetapi sekarang melihatnya begitu banyak.
Kupu-kupu itu berkumpul membentuk tubuh wanita.
Ibu nandong terkeju melihatnya, dia baru pertama kali melihat hal seperti itu.
Wanita itu tersenyum menyeringai menikmati keterkejutan ibu nandong.
Saat hendak berbicara, wanita itu menyentikan jarinya membuat ibu nandong seolah-olah kehilangan suaranya.
“aku heran mengapa kau bisa hidup sampai sekarang, setelah begitu banyak racun yang ada di dalam tubuhmu.”