
Siang hari kulihat Wiwit sudah nampak dari jauh. Aku mendekati pelayan yang berada di samping pintu dengan sikapnya yang khas dan terlatih,
“Bisakah kamu mengambil sabun mandi untuk?”
“Bisa, tapi mengapa anda mandi saat siang seperti ini?” tanyanya Heran, mungkin dia belum pernah melihat orang istana mandi pada siang hari. Mengingat juga kota Uttarian tidak akan kepanasan saat siang hari.
kota Uttarian yang memiliki 2 musim, musim hujan dan musim semi yang membuatnya terus sejuk.
“Aku merasa tidak nyaman saat ini.”
Dia memandangiku seakan enggan untuk pergi, aku mengerti apa yang ada di dalam pikirannya, permaisuri adalah salah satu orang yang berkuasa di istana ini jadi sewajarnya dia merasa enggan.
“aku tidak akan lari dari sini.”
“tapi...” Ucapnya dengan suara parau.
Aku memegang pundak Kanannya berharap dapat menenangkannya. “aku kan menunggumu dan tidak akan ke mana-mana, tapi jika kamu tidak menurutku, aku akan melaporkannya kepada permaisuri, apakah kamu ingin di pecat?”
Sudah ku duga, dia akan terkejut setelah mendengarnya. “tidak tuan putri, aku tidak ingin di pecat.”
“Baiklah sekarang pergilah.”
Ia mengangguk dan undur diri sampai menutup pintu, aku langsung mendekati jendela.
Wiwit sudah mendekat lalu hingga di jendela dengan salam anginnya.
Aku melepaskan gulungan darinya dan menyuruhnya pergi, lalu aku menyembunyikannya di dalam gaunku. Tempat mengambil sabun tidak jauh jadi aku tidak bisa membacanya sekarang dan untungnya juga dia tidak curiga, mungkin dia tidak pernah melayani orang mandi di istana yang membuatnya tidak curiga, aku harap dia tidak mengetahuinya.
Tidak lama dia kembali membawa sabun yang aku suruh. “ini tuan putri.” Ujarnya dengan sopan sambil menyodorkannya ke depan .
Aku mengangguk dan mengambilnya tapa memberikan dia waktu pergi dengan cepat aku berkata, “tidak usah kamu temaniku, aku ingin sendirian.”
Dia yang mengetahuinya maksudku dengan cepat berkata, “Baik.” Lalu dia kembali ke tempat asalnya, yaitu samping pintu.
Dengan sabun di tangan kananku aku menuju kamar mandi. Aku tidak langsung madi aku hanya berjongkok di pinggir kolam dan membuka gulungan itu, mungkin dalam surat ini akan ada jalan keluarnya untukku.
Nona namaku T...... Aku tidak akan memberitahumu huruf kelanjutan nya, bagiku tidak ada yang spesial dengan itu, jadi mohon di maklumi. Aku tidak memberitahumu, aku ingin kau menjadi penasaran akannya.
Ngomong-ngomong dari tulisanmu, pastinya kau sedang ada masalah yang serius. Selama hidupku aku pernah mengalaminya, tapi bukan dua dinding; hanya satu, itu pun bagiku sangat berat, apalagi kau yang mengalami keduanya pastinya akan sangat berat, yang pasti akan ada jalan keluarnya, percayalah!
Takdir ya, bagiku takdir akan selalu bersama manusia layaknya seperti bayangan yang seberapa jauh kau menjauhinya tidak akan mungkin menghindarinya, namun bayangan akan hilang jika tidak ada yang menerangi kita. Kesimpulannya takdir ada dua yang bisa dan tidak bisa di rubah, dia selalu akan mengikuti kehidupan.
Untuk kehidupanku di desa tidak sesuai yang kau bayangkan, aku selalu kekurangan uang dan selalu bekerja setiap hari. Pasti hidupmu tidak bahagia, tapi percayalah bahwa malam tidak akan abadi, dia hanya menunggu matahari terbit lagi.
Jalan keluarnya? Bagaimana caranya aku menemukan jalanya? Aku di awasi dari segala sisi istana ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bunuh diri, atau membuat tubuhku jahat sehingga mereka membatalkan pernikahannya, tapi jika ayah pulang bukankah itu akan menyayat hatinya? Ah lupakan saja.
Aku mengganti pakaianku dan merendam tubuhku. Dengan kepala yang menengadah aku membayangkan seperti apa kehidupan di sana dan jika itu buruk, bagiku itu tidak seburuk di sini yang setiap hari selalu menderita, mungkin saja kehidupan di desa itu keras, namun mereka bebas, sedangkan ku di sini tidak meski aku tidak bekerja, lebih baik hidup di desa di akui sebagai anak yang setia hari bekerja keras namun diakui, Sedangkan di sini aku hanya sebagai alat yang akan di butuhkan sesaat dan membuangnya jika tidak di perlukan.
Aku memejamkan mataku menikmati dinginnya air, ternyata berendam di siang hari begitu hangat ya, tubuhku terasa segar aku berendam semalam 10 menit dan mengganti pakaian lagi.
Pelayan itu tidak ada di tempatnya lagi, mungkin dia sedang beristirahat. Pelayan di istana ini akan selalu bergilir untuk beristirahat, setiap orang akan mendapatkan waktu selama 1 jam dan untuk yang sudah selesai mereka akan mengganti pelayan lain yang beristirahat, semoga saja dia lambat menggantinya.
Aku dengan cepat menyambar kertas dan pena Sambil memasang semua alat pendengaranku.
Jika kamu pernah mengalaminya, bagaimana cara menemukan jalan keluarnya? Aku tidak akan menanyakan hal lain lagi, kecuali kenapa kamu harus menulis huruf depanmu saja?
Tapi sayangnya aku tidak akan merasa penasaran akannya, ada hal yang lebih penting yang harus aku selesaikan.
Bagiku kehidupan di desa sungguh menakjubkan! Aku bisa merasan segarnya udara di pagi hari, melihat pepohonan yang rindang dan lain sebagainya, coba kamu gambarkan bagaimana situasi kehidupan di sana.
Aku rasa begitu saja sudah cukup.
Aku tidak mendengarkan suara-suara, atau sesuatu yang datang lalu dengan cepat aku mendekati jendela, oh tidak bagaimana caranya aku harus memanggilnya, dan mengapa aku tidak berbicara dengannya tadi, aku terlalu bersemangat hingga aku melupakannya, semoga dia datang lagi.
Aku memutuskan untuk menyimpannya di tempat rahasia bersama dengan buku cerita yang aku buat lalu aku menuju cermin hias, untuk merapikan rambutku.
Aku seperti bisa menyisihkan rambut putih ini. Saat menatap cermin aku mengingat terakhir kali bayangku mengedipkan matanya seolah memberi Isyarat bahwa dia di sana, mungkin itu mimpi, tapi saudaraku yang melihat buku-buku ku terkejut, aku tidak dapat menjelaskan itu.
Aku seperti biasa merapikan rambut yang berombak ini dengan lembut agar dia mau lurus dan rapi sesuai keinginanku. Sambil menatap bayangku, namun semakin ku tatap dia semakin berubah menjadi lebih seram, bagaimana bisa?
Sesaat aku perhatikan bibinya terbuka kecil dan berkata, “Apa kau memerlukan pertolongan ku.”
Tentu saja aku terkejut, tidak sengaja menjatuhkan kursi di belakangku, “kamu bisa bicara?” tanyaku jelas dengan nada takut.
“jangan takut aku akan menolongmu.” Ucapnya di iringi tawa.
Tawa itu membuatku lebih takut, dengan tawa nada seperti itu aku tidak percaya bagaimana bisa dia menolongku. “aku tidak percaya.”
Dia tertawa lalu memandangiku. “Aku pastikan kau akan membutuhkannya.” Lalu ia menghilang hanya menyisakan bayanganku yang semula.
Aku menarik nafas lega dan mengembalikan posisi kursi yang jatuh. Melanjutkan menyisir Rambutku sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, dulu aku pernah membaca buku tentang ilmu sihir, dalam buku itu di jelaskan apa itu sihir, bagaimana cara menggunakan dan mengembangkannya. Bagaimana rasanya memiliki kekuatan? dan apa keuntungan serta kelebihannya. Namun yang tadi aku lihat sungguh tidak ada dalam buku sihir itu dan juga kenapa aku tidak berpikir bahwa saudara-saudaraku mungkin bisa menggunakan sihir, mungkin saat itu aku lupa.
Ku ambil jepit rambut bunga Seruni dan menyelipkannya di sela-sela rambutku, sambil memandang wajahku, apakah sudah sesuai.
Jepit rambut itu selalu aku gunakan namun aku tidak pernah menulisnya, jepit itu pemberian ayah waktu aku kecil. Saat itu aku berulang tahun, aku sangat menyukai bunga, apalagi bunga Seruni jadi dia memberikanku, sungguh betapa senangnya diriku yang tidak dapat aku utarakan lewat kata-kata.
Lalu aku duduk kembali di meja belajar. Aku menyandarkan kepalaku dengan tangan kanan sebagai penyangganya Sambil memikirkan solusi apa yang akan aku ambil untuk keluar dari masalah ini, sesaat aku memikirkannya, dan aku menemukannya, apakah dengan menggundul rambutku, membuat mereka membatalkannya, tapi itu akan membuatku jelek, tidak apa-apa asalkan aku bebas, apakah mereka memiliki ramuan semacam itu, ramuan yang bisa menumbuhkan rambut atau menyembuhkan luka?, Ah pasti mereka punya lalu apa yang harus aku lakukan
Sambil membuang nafas kesal, ngomong-ngomong Dimana pelayan tadi? Kenapa dia tidak datang-datang, ah sudahlah.
Sesaat kemudian terdengar Sura ketukan pintu di iringi terbukanya pintu itu, seorang wanita memakai gaun sedannya dia salah pelayan yang tadi.
“Maaf tuan putri, saya ada kesulitan tadi.” Ujarnya setelah masuk dan kembali melakukan tugasnya.
“apa ada yang bisa saya bantu.” Lanjutnya memberikan bantuan, mungkin sebagai kompensasinya terhadap keterlambatannya.
“tidak, tidak yang aku perlukan.” Jawabku dengan ramah.
“terima tuan putri.” Ucapnya dengan lega.
Kemudian tidak ada percakapan di antara kami lagi, dia senang dengan pekerjaan nya yang berdiri itu, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu yang indah membuatnya begitu betah berdiri di sana, sedangkan aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari masalah ini, namun aku tidak menemukannya membuatku kesal hingga perutku juga berbicara kesal, ah aku lupa aku belum makan, namun bagaimana aku bisa lupa ya?
“Tuan putri, saya akan mengambilkan anda makanan dengan cepat.” Ujarnya lalu pergi setelah melihat ku mengangguk pelan.
Ternyata dia memang memikirkan sesuatu dari tadi dan baru menemukan jawabannya jika tidak, mungkin dia masih diam di sana tidak melakukan kewajibannya, mungkin juga dia terganggu oleh suara perutku.
Sura tawa wanita terdengar di telingaku, suara itu begitu keras dan menakutkan dan berasal dari cermin hias yang membuatku terkejut, lalu aku mendekati cermin, ia lagi.
“apa kau sudah melihatnya, seorang pelayan juga akan mengabaikanmu, hanya aku yang bisa menolongmu dan juga aku bisa menghilangkan nama anak pembawa sial itu.” Ucapnya panjang lebar menjelaskan.
“Aku tidak percaya!”
“terserah, tapi cepat atau lambat kau akan memerlukan bantuanku.” dia tertawa dan menghilang.