
Sungguh sayang jika pengalaman buruk diingat begitu lama hingga akhirnya tersimpan.
Hatiku tidak tenang, baru kemarin aku merasa bahagia yang panjang, sekarang kebahagiaan itu tiada jejak lagi, bagaikan semuanya terhapus di dalam memoriku yang hanya penuh dengan kenangan buruk.
Anak pembawa sial, lagi, aku sudah mulai melupakannya, tetapi itu lagi-lagi keluar di bayanganku, tapi dayanya tidak begitu dahsyat saat aku dulu.
Setelah beberapa menit Baru aku sadari hidupku seperti musim yang selalu berubah ubah setiap tahunnya.
Kemarin cerah sekarang hujan yang deras.
Aku memandang tumpukan kertas di atas rak-rakku. Meskipun semuanya hancur, aku tetap menyimpannya. ntungnya aku masih memiliki satu buku yang setiap aku ingin menulis aku tulis di sana, bukuku berada di sela-sela rak-rak buku itu.
Tempatnya sangat rahasia jadi itu tidak mungkin mereka temukan.
Aku memutuskan untuk mandi.
Aku menyisir rambut yang berantakan karena air sambil melihat wajahku yang tampak memerah di bagian kantung mata.
Mendadak aku berdiri bukan karena aku ingin, tetapi terkejut! Bagaimana bisa bayanganku mengedipkan matanya?
Aku mendekati cermin dan membuat gerakan-gerakan kecil dan hasilnya normal saja, mungkin aku salah lihat.
Aku memutuskan untuk tidur.
Esoknya betapa aku heran semua buku-buku yang hancur kembali normal seperti tidak ada yang merobeknya.
Aku senang, tapi juga heran bagaimana bisa?
Aku memeriksa semua buku dan semuanya baik-baik saja.
Aneh!
Aku langsung menutup pintu dan menguncinya,
Aku kembali melihat-lihat rak buku dan lantai, tidak ada bekas apa pun di sana.
Apa kejadian itu cuma mimpi?
Tapi kenapa aku merasakan begitu jelas? Aku kembali mendekati cermin memandang bayanganku, tapi di sana tidak ada merah-merah lagi.
Ah mungkin aku bermimpi.
Seperti biasa aku melakukan aktivitas setiap hari, hingga menjelang sore hari aku bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu, alasannya karena saat inilah mereka akan datang.
Aku langsung membaca bukuku di meja sambil di temani pemandangan sore.
“Blak.”
Aku terkejut tanpa sadar aku memandang atas sumber suara.
“Oh, ternyata kamu disini.”
Orang itu lagi.
Mereka mendekatiku dan menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, betapa terkejutnya mereka saat melihat buku bukuku yang masih dalam keadaan baik.
“Bukankah buku itu sudah robek kemarin!?” putri selir kedua menanyakannya.
Mereka semua mengangguk membenarkan.
Apa itu memang bukan mimpi?
“Iya, aku masih merasakan betapa senangnya aku kemarin.” Gumam salah satunya.
Putri selir kedua berbalik memandangku.
“bagaimana kamu bisa memperbaikinya?” Tanya heran.
“Aku tidak memperbaikinya, buku-buku itulah yang sendirinya kembali seperti semula.” Jawabku.
“mustahil!” pekiknya seakan tidak percaya akan kenyataan di depanya.
“Sudahlah, kalian bawa dia.” Sambungnya.
‘”apa yang akan kalian lakukan lagi!?”
“sudahlah ikuti saja.
Dua orang memegang membuatku tidak dapat bergerak.
Lagi-lagi air mataku mengalir deras seakan-akan tahu akan apa yang akan aku alami.
Putri kedua mengambil air dan langsung menyiramku dari atas.
Aku hanya menunduk dan menyerah akan nasib yang aku terima.
Lebih baik begini, ya daripada aku melihat mereka dengan senyuman kebahagiaan yang terpancar di wajahnya!!
Mereka tertawa riang,
Mengguyurku dengan air, hingga membuat tubuhku gemetar dan kedinginan, lalu mendorongku hingga menyentuh lantai, kemudian meninggalkannya seakan-akan aku adalah barang mainan yang di buang setelah selesai mereka mainkan. Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang dingin dalam tubuhmu, tenggorokanku seakan akan ada yang menjagal membuatku sulit untuk bernafas,
Aku berjalan dengan lirih dan mengganti pakaianku yang basah, mengapa? Mengapa? Pertanyaan itu selalu menemani saat seperti ini.
Wajah yang aku lihat di cermin tampak seakan sudah lelah dengan semua ini, Mata yang merah, kedua pipi yang memerah, begitu pun hidung yang memerah.
Aku beranjak dari duduk, lalu menjatuhkan tubuhku di atas ranjang yang empuk itu, jika mereka kembali Biarkanlah, jika menghancurkan buku-bukuku silahkan, aku sekarang hanya ingin tidur dalam mimpi yang indah, semoga begitu.
****
Pagi begitu cepat terbit, aku masih ingin menyelami dunia mimpi yang indah. Walaupun tidak selalu aku dapatkan, setidaknya mimpi itu hanya mimpi; tidak akan membuatku begitu sedih.
Aku membuka jendela, cahaya mulai meresap ke dalam mata dan ruanganku.
Aku duduk sambil menidurkan kepalaku yang berat ini dan membiarkan meja ini merasakan kulitku yang masih sedikit dingin.
Aku memandang keluar.
Andai saja aku tidak di lahir di sini, mungkin aku tidak akan merasakan hal-hal itu lagi.
Bagaimana bisa mereka bisa membuka pintu dengan mudah? Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Aku sudah menguncinya dengan baik, tidak mungkin dengan mudah mereka membukanya. Mungkinkah mereka bisa menggunakan sihir? Mungkin saja.
Dari kejauhan aku melihat sesuatu yang putih, sesuatu itu sangat jelas terlihat di langit biru, dia seperti burung yang mengepalkan sayapnya dengan kuat, mungkinkah itu burung? Dia mendekat dan semakin mendekat, sayap-sayap putih terlihat dengan jelas.
Mataku tidak bisa menahan terbuka lebar. “wiwit!” Ternyata itu Wiwik.
Ah sudah lama aku tidak melihatnya lagi, ternyata ia masih seperti dulu. Dia hinggap di jendela dengan perlahan lahan, membuat rambutku beterbangan bukan karena bergembira, tetapi hempasan sayap Wiwit yang membuatnya begitu.
Aku memandangnya dengan senyuman ramah yang khas.
“apa kabar?” tanyaku yang sudah menaiki kepala yang terasa lebih ringan,
Seperti biasa dia mengangguk atau bersuara untuk menjawab pertanyaanku.
Langsung saja tanganku tidak tahan mengelus-elusnya. Bulu-bulu putih yang alus terasa lagi di telapak tanganku.
“Eh.” teringat aku yang mengirim Wiwik untuk mengirim surat, aku memperhatikan kakinya yang masih ada surat itu.
Aku tidak mempedulikannya, tapi kemudian aku membukanya, aku keheranan, saat membaca isinya. “ siapa kau?”
Itu saja tidak ada yang lain, aku pastikan itu bukan dari ibuku, tapi siapa yang menerima suratku ini. dari yang aku baca, kata ‘kau' selalu aku dengar dari orang-orang pendatang, mungkin saja dia berasal dari negara atau kekaisaran wilayah lain.
Mungkin dari kekaisaran barat atau ungu. Aku meletakan surat itu di atas meja lalu memperhatikannya dengan lekas, walaupun singkat tetapi mataku masih sehat untuk melihat detail-detail yang kecil. Aku mebulak balikan kertas itu dan aku menemukannya! Kotoran-kotoran tanah, mungkinkah dia seorang petani?
Aku menaruhnya lagi kemudian memandang Wiwit yang masih hinggap di jendela. Dia sesekali mendekatkan kakinya di sisi paruhnya dam kembali memandangku. “siapa orang yang menerima surat ini?” tanyaku. “Apakah ia dari kekaisaran barat ?
Dia menggeleng kepala.
“dari kekaisaran ungu?”
Sekarang dia mengangguk. Mengapa harus sejauh itu? mungkin dia tersesat mencari penerimanya. rasa bersalah merasuki tubuhku, aku yang bersalah mengirimnya asal-asalan.
“maaf.” Ucapku dengan lirih, walaupun Wiwit seekor burung, ia pasti mengenal rasa.
Ia mengangguk.
“Pergilah, besok datang lagi ya.” Ucapku dengan senyuman lebar.
Ia pun mengambil sikap atletnya dan terbang, lagi-lagi angin membuat rambutku beterbangan. Aku memandanginya hingga ia tak kelihatan lagi.
Pandanganku lagi-lagi tertuju pada secarik kertas di atas meja. Aku berpikir: haruskah aku membalasnya atau tidak?