
Lorong itu sangat panjang yang di hiasi pilar-pilar kayu merah yang elegan dan megah. Tingginya sekitar 20 m. Di samping kanan dan kirinya hanya ada tembok kayu yang dihiasi beberapa jendela.
Setelah 1 menit berlangsung aku mulai melihat para penjaga yang menjaga tempat utama dengan gagah lengkap dengan tombak di sampingnya.
...*****...
Suasana mencekam mulai aku rasakan saat memasuki aula utama yang indah ini. Setiap sisi di jaga oleh prajurit dengan tegap. Aku dapat melihat semuanya saudaraku berkumpul di samping kanan yang tidak jauh dari singgasana
Para selir berkumpul di sisi kiri bersama dengan para pelayan kerajaan dan beberapa orang tidak aku kenal ikut di sana menatapku dengan penuh gembira. Yang paling aku tidak suka seorang anak muda asing memandangku dengan tatapan mesum.
Suasana ini tidak pertama kali aku rasakan, bahkan sering. Aku terus berjalan tanpa gentar dan rasa takut.
Beberapa meter dari singgasana aku menunduk hormat, “hormat yang mulia.” Ucapku dengan hormat.
Aku mengangkat kepalaku saat tangan kaisar melambai.
Kaisar tidak sendirian ia bersama selir kedua di sampingnya yang sudah menjadi permaisuri menggantikan ibuku dan juga orang yang aku benci. Dia memandangku dengan tajam dan tersenyum jahat.
“Aku memanggilmu karena ada hal penting yang harus di beritahu.” Ujar kaisar dengan bijaksana.
“ baik yang mulia.”
“ aku ingin menjodohkan mu dengan pangeran kekaisaran ungu utara.”
Deg, seketika jantungku berdetak lebih kencang, apa aku salah dengar? Tidak mungkin ini benar, tapi kenapa kaisar menjodohkanku bukanya aku sudah di buang olehnya.
“kamu tidak perlu terkejut seperti itu. Sebenarnya kamu itu anakku.” Ucapnya yang tidak ada rasa malu dan bersalah sedikit pun.
“Pangeran.” Ucapnya memandang pria yang aku benci itu.
Pria itu masuk ke tengah. “ salam yang mulia.” Salamnya yang sama aku ucapkan, lalu memandangku dengan senyuman di wajahnya, senyuman yang penuh dengan nafsu, aku tidak mempedulikannya dan sungguh membencinya.
“putriku ini adalah pangeran kekaisaran ungu utara namanya Rana umurnya setara dengan mu, apakah kamu menerimanya?”
Aku sekarang tidak tau harus berkata seperti apa, apakah iya atau tidak, aku sangat bingung, kenapa dia mendadak menjodohkan ku? Dan juga aku kan masih kecil Apa yang harus aku katakan.
Tenang-tenang Niya ini bukan pertama kalinya kamu mengalaminya.
“Begini saja, aku akan memberimu waktu, bagaimana?” ujarnya yang memecah lamunanku.
Mungkin itu yang terbaik, tetapi ini saat yang baik juga yang harus aku katakan .
“ Baik yang mulia, tapi apakah aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” tanyaku dengan serius. Aku harus berani ini adalah kesempatanku.
Ayahku memandangku dengan serius lalu menarik nafas dan membuangnya. “ baiklah apa yang kamu tanyakan.”
“mengapa anda menggagap aku sebagai putrimu?” tanyaku tegas tanpa ada rasa takut. Meskipun di depanku seorang kaisar aku tidak gentar memandangnya. Sekarang ini adalah masalah anak dan ayah.
“karena kamu anakku, aku menitipkannya saat kamu kecil, saat itu aku sibuk berperang dan tidak dapat mengurusimu” jawabnya dengan tenang.
“bagaimana bisa seorang ayah menitipkan anaknya kepada orang lain, apalagi seorang kaisar, apakah tidak ada yang lain di istana, istana ini tidak mungkin kekurangan pelayan!” Ujar ku
“Kamu tidak....” dia berhenti berbicara saat melihat tangan ayahku terangkat.
Ayahku memandangku dengan raut muka hancur, hancur karena aku mempermalukannya di depan semua selir selirnya dan tamu tamunya.
Dia diam memikirkannya.
“apakah Anda sudah melarikan diri dari tanggung jawab pribadi anda yang mulia, jika iya, anda sungguh tidak layak di sebut kaisar, anda layak di sebut sebagai penjahat!” ujarku dengan marah, walaupun aku sudah mengetahui sejak lama dan berharap ayahku menerimaku dengan alasan logis ternyata aku hanya mendapatkan alasan yang tidak masuk akal.”
Raut wajahnya berubah menjadi marah dan kesal, dan aku dapat mendengar bisiki bisikan orang-orang yang berada di sisi-sisiku.
“Tuan putri.” Bisik bibi yu yang memegang tanganku mengisyaratkan untuk berhenti, aku memandangnya dan menggelengkan kepala, hari ini hati ku hancur lebih hancur sebelum aku mengetahui kebenaran ini; kebenaran yang sungguh menyakitkan.
“Kamu tidak tau diri!” ujar permaisuri yang sudah berdiri dengan kemarahan yang memuncak.
Aku memandangnya dengan tajam, sekarang permaisuri bukan tandinganku lagi. Meskipun aku masih berusia 6 tahun “ Anda yang tidak tau diri, sebagai seorang permaisuri seharusnya anda menyalahkan kaisar atas sikapnya yang tidak becus sebagai seorang ayah.” Aku lalu berjalan keluar sambil memegang tangan bibi yu sekarang sudah tidak ada lagi hal yang harus aku katakan.
Semua orang menatap kami berdua, aku tidak mempedulikannya aku terus berjalan dan menjauh.
...****...
“ Tuan putri, seharusnya anda tidak boleh bersikap seperti itu.” Ucap bibi yu duduk di sampingku yang menenangkanku sambil mengelus-ngelus kepalaku.
Malam ini tidak panas, malam ini hanya mengeluarkan aura dingin seperti biasa, tetapi berbeda dengan ku, tubuhku terasa panas dan berkeringat.
Aku memikirkan bagaimana bisa ayahku hanya memanfaatkan ku hanya untuk sebagai alat; sesuatu yang hanya akan di butuhkan saat keadaan yang harus membutuhkannya.
“Tapi bibi aku sangat kecewa, saat dulu, aku sudah menerima bahwa aku adalah anaknya, tetapi hari ini aku lebih kecewa dan marah saat aku hanya di gunakan sebagai alat.” jawabku.
“Tapi mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus anda lakukan.” Ucapnya lembut.
“Maksud bibi?” Tanyaku bingung, apakah bibi mendukung ayahku?
“Bibi tidak ingin anda menderita lagi; bibi ingin anda bahagia, saat anda berkata begitu tadi, mungkin sekarang anda akan terancam, buka itu saja orang-orang yang di sekitar anda juga bisa terkena, maaf jika ini menyakiti anda.”
Apakah mereka akan membuat orang lain menderita lagi? Jika iya berarti aku sudah salah, Aku memegang tangan bibi yang terasa hangat, “ apakah aku salah?” tanyaku memalingkan muka memandang bibi yu.
“ Anda tidak salah, anda juga tidak benar.”
“Maksud bibi?”
“ anda melakukan itu karena menurut anda benar, bahwa seorang ayah seharusnya tidak membuang putrinya dan membongkar kesalahannya, tetapi anda juga bisa di sebut salah karena perkataan anda bisa membuat orang-orang membenci anda dan jika itu terjadi anda mungkin sudah tau apa yang terjadi.” Ucapnya panjang lebar menjelaskan.
“lalu apa yang seharusnya aku lakukan?” tanyaku dengan perasaan bersalah.
Bibi yu tersenyum lalu menggenggam tanganku dan diletakannya tepat di depan dada kiri ku. “ ikutilah kata hati anda.”
Aku mengerti, aku harus memilih jalanku sendiri, aku tersenyum. “ baik.”