The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 5 kembali pulang



Dia adalah danel.


Treya melihat itu membuatnya takut dan marah. Dia mengira bahwa Danel lah yang membunuh Ibunya.


“Siapa kau!?”


“Kamu tidak perlu tau.”


“di mana ibuku!?”


“ikutlah denganku.” Ucapnya tenang.


“Mungkinkah kau yang membunuh ibuku!?” ujar treya langsung mengarahkan pukulannya dengan kuat.


Danel tidak menghindar, dia cepat menahan pukulan treya dengan satu telapak tangannya dan dengan santai lalu mendorong treya hingga tersungkur di tanah.


“Bukan, aku tidak membunuhnya.”


“Eh, seorang pembunuh tidak akan mengaku dirinya membunuh!” Ujar treya yang berusaha berdiri.


Danel merasa situasinya sangat buruk. Jika bukan karena musuh tadi menyerang, mungkin dia tidak akan mengalami masalah ini, apalagi dia harus mencari cara agar treya mengerti.


Treya dengan cepat mengarakan pukulanya lagi, dan lagi danel menghempaskannya.


“Hari ini aku akan membunuhmu!” Ujar treya yang sudah di penuhi rasa dendam yang kuat. Berlari dengan secepat mungkin yang dia bisa lalu mengarakan pukulanya lagi yang pastinya akan lebih lemah dari tadi.


Daniel tidak menangkisnya, dia dengan cepat memegang tangan treya dengan tangan kanannya yang sebelumya membuang pedang, lalu dengan cepat tangan kirinya menopang lengan treya, kemudian danel menggangkat treya lalu membantingnya ke belakang dengan keras dan membuat lantai kayu hancur membentuk lubang kecil.


Treya seketika memuntahkan darah segar dan langsung tidak sadarkan diri.


“Mungkin ini sedikit berlebihan.” Lalu dia membawa treya ke kamarnya kemudian menyembuhkannya.


Danel kembali mengambil pedangnya kemudian membersihkan mayat-mayat perajurit kekaisaran barat yang menyerangnya, lalu duduk di kursi sekedar mengistirahatkan dirinya dan sambil menunggu ibu treya kembali pulang.


Ibu treya seperti biasa pulang membawa sayur-sayuran, dia terhenti melihat danel yang duduk di kursi. Rasa takut mulai menghampirinya, tetapi dia tidak menjauhinya.


“Siapa kau?”tanya ibu treya.


Daniel mendekati ibu treya. Dia sebenarnya sudah mengatahui ibu treya sudah datang tetapi, dia ingin menikmati pemandangan lebih lama lagi.


“aku danel, jendral kekiasaran Uttarian.”


“aku tidak percaya.” Ujar ibu treya, dia tahu bahwa seorang jendral pastinya akan membawa pasukan dan juga memakai zirah, tetapi danel tidak memiliki dua persyaratan itu. Di pandangan ibu treya, danel terlihat bagaikan seseorang penjahat.


“Aku mengerti, daerah tempat ku bersal sudah hancur.”


“Jadi kau adalah mantan Jendral?”


“Bisa di bilang begitu. Aku ingin membawa anakmu untuk menyelesaikan semua.”


“apa kau bercanda?!” Ujar ibu treya. Dia sangat mengenal anaknya yang telah lama tidak keluar dari bukit dan juga pengetahuan dunia luar yang dia miliki sedikit, bagaimana mungkin anaknya bisa menyelesaikan masalah, apalagi menyangkut satu negara.


“Tidak.”


Ibu treya tertawa. “bukankah kau sudah bertemu dengannya? Dia anaknya kurang pandai, bahkan pengalaman luar pun tidak dia miliki, bagaimana kau bisa membawanya dan juga itu tidak akan berguna bagimu.”


“tapi... kristal ini memberitahuku bahwa anakmu adalah orangnya.” Ucap danel mengeluarkan kristal merah dari dalam jubahnya.


“kristal?” tanya ibu treya yang terkejut


“Ya, kristal ini merupakan pemberian gruruku untuk mencari orang yang tepat dan itu adalah anakmu.”


“Memangnya apa yang bisa anakku lakukan?” tanya ibu treya dengan nada meninggi dan enggan untuk memberikan treya ikut bersama daniel.


Danel sedikit tersinggung, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. “aku tidak tau, tapi guruku pasti mengetahuinya.”


“jangan kahwatir aku akan selalu melindungi anakmu.” Sambung danel meyakinkan ibu treya.


Ibu treya menarik nafas panjang, sebenanya dia sungguh enggan untuk membiarkan treya pergi, tetapi saat melihat mata danel yang tidak berbohong dengan ikhlas menerimanya.


“baiklah silahkan masuk dulu.” Ucap ibu treya lalu masuk ke rumahnya di ikuti danel di belakangnya.


“Apa yang terjadi?” ujar ibu treya yang melihat lubang di lantai rumahnya.


“Itu... Aku yang melakukanya.”


“Iya, tapi aku akan memperbaiki nya.” Ucap danel dengan cepat.


Danel mengarakan tangannya, dengan cepat retakan-retakan itu bergerak dan memperbaiki lantai seperti semula.


“Bagaimana dengan anaku?”


“Dia baik-baik saja.”


Ibu treya menarik nafas panjang dan mempersilahkan danel untuk duduk di kursi.


Setelah beberapa detik kemudian, ibu treya membawakan minuman untuk danel. Alasan ibu treya menerima danel dan tidak mencurigainya adalah sorotan matanya yang terlihat begitu jujur dan memiliki pembicaraan yang ramah.


Danel meminumnya sedikit.


“jika kau ingin sekali membawa anaku pergi, aku punya satu syarat.” Ucap ibu treya.


“apa itu?” tanya danel yang sudah menaruh kembali gelas minuman.


“syaratnya adalah......” ucap ibu treya dengan suara kecil dan sulit untuk di dengar.


Namun danel berbeda, dia sangat mengerti apa yang ibu treya katakan. “aku menerimanya.”


“sekarang pergilah dan bawa anakku.”


“Danel mengangguk dan bergegas pergi munuju kamar treya.


Sebelum pergi, danel membuat pelindung di sekitaran rumah treya, untuk berjaga jaga, mungkin saja musuh-musunya akan datang lagi dan menanyakannya.


Tidak lupa juga dia berpamitan dengan ibu treya dan juga ibu treya memberikan peta jalan yang terbaik untuk keluar dari desa. Lalu dia pergi membawa treya di punggunya.


“semoga kau mendapatkan pengalaman yang baik nak.” Gumanya lalu kembali masuk ke rumah.


...🌸🌸🌸🌸...


Jalan yang danel ambil sesuai dengan peta keluar dari lembah, baginya ini adalah keputusan yang terbaik. jika aku kembali ke jalan yang sama mungkin akan bertemu dengan musuh. Pikirnya.


Jalan yang dia lalu sangat ridang dengan pohon pohon besar yang tumbuh di sisi sisi jalan. meskipun begitu danel merasa kedinginan saat berjalan di saat malam hari seperti itu, wajar saja jika mengingat kekaisaran ungu sebagian besar wilayahnya hutan tropis yang lebat.


jika pada saat siang hari udara akan sangat bersahabat dengan orang orang sekitar, meskipun mereka berkerja keras, mereka tidak akan begitu terasa panas, justru akan merasa sejuk oleh udara sekitar.


Orang-orang biasanya akan mengatakan. “dingin.” Jika memasuki daerah kekaisaran ungu yang memiliki hutan tropis itu.


Tidak sampai seperempat jam dia sudah tiba di gua yang menjadi jalan keluar desa. gua itu tidak terlalu besar cukup untuk dua orang berjalan bersama. dinding gua begitu indah dengan paku-paku panjang berwarna hijau muda dengan rapi menghiasinya. kunang kunang berterbangan dan bercahaya bagaikan lampu bagi gua itu sehingga danel dapat dengan baik melihat jalan.


pandangan danel tidak bisa melewatkan hal itu dengan cepat; dia memperlambat lajunya—tentu untuk menikmatinya.


Di ujung Gua ada jembatan kayu yang melengkung ke dalam. di bawahnya terdapat lembah yang curam dan tidak terlalu besar yang merupakan hulu dari lembah di kekaisaran Uttarian


Dengan cepat danel berlari melewatinya.


Dia terus berlari mengarah ke tenggara menuju langsung pusat kota Uttarian. jalan yang dia pilih akan melewati ibukota kekaisaran ungu dan hutan lebat kemudian melewati desa-desa yang menjadi daerah kekaisaran Uttarian sebelah Utara.


Bulan sudah meninggi, dan bercahaya penuh. sesekali awan terlihat melewatinya.


Danel duduk di bawah pohon besar dengan akar-akar yang berepencar bagaikan akar pohon beringin yang selalu dia kunjungi. Bagian atasnya memiliki cabang-cabang yang besar dan lebat.


Di sampingnya ada rawa-rawa yang tidak begitu lebar dan dalam. airnya jernih. jika di siang hari endapan-endapan lumpur akan kelihatan jelas mengendap di bawahnya.


Di permukaan air di tumbuhi beberapa rumput yang menjulang ke atas. tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan ujunya melengkung hendak menyentuh air.


Danel lalu duduk di atas pohon dan meninggalkan treya tidur di bawah lalu tidur di atas. di dalam pikirannya, dia tidak perlu kahwatir lagi dengan keselamatannya karena dia sudah menaruh sihir pelindung bahkan orang terkuat pun tidak akan bisa menembusnya.


...🌸🌸🌸🌸...


Di pagi hari treya bangun dan terkejut melihat sekitar yang di kelilingi pepohonan yang rindang. dia memperlihatkan ekspresi bingung lalu bangun melihat-lihat sekitar.


“Bagaimana bisa aku di sini?” Gumamnya lalu membasuh mukanya di pinggiran rawa-rawa. Sesekali melihat rawa-rawa itu, pemandangan itu asing baginya.


Treya lalu mengingat apa yang terjadi denganya kemarin lalu melihat sekeliling, sambil berharap tidak ada orang itu namun keberuntungan tidak memihaknya


“orang itu.” Gumam treya sambil memicingkan matanya.


“Ya benar orang itu yang kemarin menyerangku!” ujarnya.