
Danel menggeleng kecil. โ maaf, ayah sudah melakukan kesalahan itu dan juga ayah tidak bisa memenuhi permintaanmu serta juga ayah mungkin sama dengan kaisar waktu dulu.โ
Danel menarik nafas panjang untuk menghentikan kenangan kenangan buruk masa lalu yang mulai terputar lagi dalam pikirannya, kenangan itu sungguh menyakitkan baginya, jika saja dia sadar akan kesalahnya mungkin saja mala petaka itu tidak terjadi dan mungkin istrinya tidak menjadi korban ke egoisnya.
Dan juga mengapa baru baru ini dia melihat bayangan Miranda lagi?
Danel melipat kertas itu dan kembali memasukannya. Danel berlari ke atas dengan cekatan sekan akan gravitasi tidak mempengaruhi nya. Dengan kaki yang menepel dia berlari dengan cepat, sepersekian detik dia sudah berada di atas. Dia tidak memandang kemana mana lagi; dia pergi melajutkan perjalanan.
10 menit berlalu dia sudah tiba di depan desa yang indah, danel kembali mengeluarkan kristalnya memastikan arah yang tepat yang harus ditempuh.
Setelah memastikan dia pun pergi.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Desa lampion
Desa lampion adalah salah satu desa bagian dari kekaisaran ungu yang berada di sebelah Utara. Desa ini terletak di lembah yang besar yang di kelilingin hutan dan sungai, serta perbukitan. Meskipun lembah, desa ini terletak di dataran tinggi. desa ini sangat asri karena penduduknya sangat tradisional, selain itu karena terletak di pegunungan desa ini memiliki suasana yang dingin dan segar, tidak jarang jika seseorang berada di atas lembah pada pagi hari akan melihat embun embun putih yang di sinari cahaya matahari pagi.
Nama desa ini adalah desa lampion, yang berasal dari tradisi yang secara turun-temurun mereka jalani yaitu hari harapan dengan menerbangkan lampion ke udara. Mereka menganggap lampion sebagai pengantar pesan, harapan, dan keinginan mereka kepada penguasa di atas. Mereka percaya bahwa setiap pesan dan harapan yang mereka tulis akan tersampaikan baik dalam lampion yang masih utuh atau sudah rusak.
Di bukit sebelah Utara adalah tempat yang paling tinggi di tempat itu dan di situlah mereka selalu melakukan ritual itu. Mereka akan berdiri di pinggir bukit atau tebing yang mengarah pemandangan ke desa. Mereka menganggap bahwa tepat tinggi merupakan tempat yang sakral dan bersemayam roh parah leluhur. Sebelum mereka melakukanya, mereka biasanya memberikan sesajen di sana sebagai tanda permisi atau meminta keselamatan dalam melakuka ritual itu.
Rumah-rumah mereka semua terbuat dari kayu termasuk alat-alat yang di gunakan dalam keseharian mereka. Di desa ini tidak ada listrik mereka hanya mengandalkan lentera di setiap rumah sebaga cahaya mereka di malam hari. Meskipun mengandalkan cahaya lenteran, desa itu sangat indah apalagi dari pegunungan di atasnya.
Para penduduk semuanya bermata pencarian petani. Mereka masih sedikit primitif, tidak mengenal uang. Mereka hanya menerapkan sistem tukar menukar, mereka menganggap bahwa dengan begitu semua barang yang mereka inginkan akan memuaskan kedua belah pihak, contohnya jika seorang petani yang memiliki sayuran satu jenis dan menggiginkan sayuran yang lain mereka hanya perlu mencari orang yang menginginkannya. Jika tidak ada yang menginginkannya? Itu tidak mungkin karena mereka hanya menanam sayuran satu jenis dan satu pekerjaan, leluhur mereka menganggap dengan menjalani satu pekerjaan dan menumbuhkan satu sayauran itu akan membuat hasil yang lebih baik.
Jalan-jalan yang menghubungkan rumah-rumah penduduk hanya jalan setapak yang terbuat dari kayu yang berasal dari hutan sekitar yang menambah keindahan desa.
Sungai yang mengalir dari pengunungan memiliki air yang jernih dan memiliki air terjun di bagian bawahnya. Meskipun tidak besar tetapi itu sangat tinggi dan indah jika terlihat dari desa lampion.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Di bawa air terjun seorang laki-laki sedang duduk di atas batu yang besar. Kedua tangannya memegan joran pancing bambu. Suara air-air terjun dan hawa di sekitarnya tidak dapat mengganggunya, sebaliknya ini adalah kenyamanan baginya di saat tidak ada orang yang menemani. Dengan sesekali dia terlihat mengedipkan matanya. Dia duduk membatu, matanya hanya memandang air dengan tenang, seolah-olah itu adalah hartanya. Meskipun di bawah air terjun, suasana air yang berada di bagian luar cukup tenang, pria itu dapat dengan tenang memandangnya tanpa takut tertipu oleh gelombang air
Pria itu mempunyai wajah yang tampan, rambut pirang hitam, tinggi 160m, memakai baju tradisional, pria itu adalah treya yang sedang memancing ikan di bawah air terjun.
Setelah 10 menit dia menunggu akhirnya dia merasakan bahwa umpanya telah di makan ikan. Treya dengan cepat berdiri, wajahnya yang fokus berubah menjadi gembira, mengangkat joranya dengan semangat, tetapi tenaga ikan yang kuat membuat joranya lebih melengkung, dia berusaha mengangkatnya tetapi dia di tarik dengan kuat. Meskipun tenaga ikan kuat, itu tidak memberikan efek yang kuat bagi pancingnya, pancing yang dia miliki merupakan pemberian ayahnya sewaktu dia kecil, pancing itu tebuat dari bahan-bahan yang bagus dan jika mengenai ikan hanya melengkung, jadi itu bukan masalah baginya jika pancingnya patah.
Dia terus berusaha menariknya hingga ikan itu melompatinya, treya yang melihat ikan itu, membuat matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka menatap ikan tersebut yang memiliki panjang empat meter, lalu melopat-lompat di atas rumput, dengan cepat treya menyergap ikan tersebut hingga tidak bisa bergerak.
Treya terkekeh, โDengan ini aku bisa makan ikan sepuasnya.โ Gumamnya sambil memegang ikan tersebut.
Dia lalu meletakan ikan tersebut di bahunya dan mengambil alat pancingnya kemudian pergi ke rumah.
Rumah treya berada di atas bukit yang di kelilingin pohon Cemara yang tinggi dan lebat di samping kanan kiri dan di belakangnya. Sedangkan di depanya di penuhi rerumputan yang indah dan kursi yang menghadap ke bawah. Sehingga rumahnya dapat terlihat dengan baik dari bawah.
Rumah treya terbuat dari kayu Cemara yang di atasnya ada cerobong asap. Saat cuaca cerah dia dapat mengetahui tempat rumahnya dari desa bawah. Dari asap yang muncul dari bukit dia dapat mengetahui bahwa ibunya ada di rumah, meskipun begitu, itu juga tidak mengutungkan baginya saat pulang, karena dia selalu merasa kelelahan pada saat tiba di rumahnya. Rasa lelah itu selalu menguasainya membuat dia memutuskan duduk di kursi depan rumahnya yang menghadap desa di bawah. Dia dapat melihat pemandangan yang indah. Sejauh mata memandang dia dapat mengetahui semuanya, yang paling dia suka pada saat pagi hari saat matahari menyinari lembah dan embun-embun naik, itu seperti surga yang di lihatnya.
Pada saat hujan dia tidak takut akan tanah longsor yang terjadi, karena di halaman rumahnya tumbuh ribuan rumput yang berwarna hijau muda yang berfungsi untuk mencengkram tanah dengan kuat, selain itu rumput itu bisa memiliki bunga yang berwarna ungu yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Treya duduk di atas batang pohon cemara yang sudah roboh oleh angin, air keringat mulai meluncur dari wajahnya, dia dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, suhu di tubuhnya meningkat apalagi Matahari yang sudah berada di puncaknya menambah kelelahanya.
Dia memandang ke atas untuk melihat asap yang muncul dari cerobong rumahnya. Wajahnya perlahan lahan tersenyum saat melihat asap yang naik. Di dalam hatinya dia sangat senang, dan membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat dia membawa ikan sebesar ini, walaupun dia mungkin sampai saat sore hari.
20 menit berlalu, dia melanjutkan perjalananya. Sampai ke rumah, dia harus melewati sungai hulu dan tangga menuju bukit yang tidak terlalu tinggi.