
Daca terus menyerang dua wanita gunung itu dengan ganas, bahkan mereka sangat kewalahan, mereka hanya bisa bertahan dan bertahan.
Serangan yang Daca lakukan itu sangat mengerikan. meskipun meraka bisa menahannya, efek serangannya masih mengenainya bahkan salju di belakangnya berhamburan dengan cepat.
Dua wanita gunung itu tidak menyangka mereka mendapatkan lawan begitu kuat bahkan mungkin kekuatannya bisa menghancurkan kekaisaran.
Sesaat melakukan serangan itu, Daca mengubah serangannya menjadi lebih kuat.
Dia melesat begitu cepat, itu bagaikan sesuatu yang lebih cepat dari roket membuat salju di sekitanya berterbangan tidak karuan, sepertinya dia berniat mengakhirinya.
Dalam sekejam mata dia berada di depan mereka, tentu membuat mereka sangat terkejut. dengan cepat dia mengayunkan pedangnya. saat di ayunkan dengan cepat bayangan naga terbetuk. naga itu memiliki tiga kepala kemudian terbelah menjadi tiga
Dua wanita gunung itu tidak sempat bergerak sehingga mereka terkena serangan yang begitu kuat membuat mereka terlempar beberapa meter bersama dengan tiga naga yang mendorongnya, bahkan tebing tebing di sekitarnya tidak dapat menahannya. mereka dapat merasakan sakit yang luar biasa, bahkan memuntahkan darah segar. akhirnya berhenti di puncak gunung yang ketiga. tubuhnya seakan terasa rembuk dan hancur. Di puncak gunung itu ada cekungan bekas hantaman mereka.
Sesaat Daca kemudian muncul.
“apakah ini sudah berakhir?” Ujarnya seolah olah bukan dia yang menang.
Mereka berdua batuk batuk bersamaan mengeluarkan darah segar.
“belum.” Ucap utria dengan terengah engah.
Daca tersenyum mendengarnya. “kalian memang layak menjadi anjing setia.”
“beraninya kau mengatakan itu!” Ujar badria. meskipun dia terluka, dia tetap memiliki suara yang keras.
Dengan sisa tenaganya, mereka berdua melepaskan cengkraman, kemudian berjalan dan melompat mendekati Daca.
Kondisi mereka berdua sangat memprihatinkan, terlihat beberapa luka sayatan sekujur tubuhnya.
“Kita harus melakukan itu.” Ujar utria.
Badria mengangguk.
Kedua tubuh mereka bercahaya.
Daca hanya memandanginya dengan datar, dia menunggu apa yang akan terjadi.
...🌸🌸🌸🌸...
“Kau tidak bisa menipuku.” Ucap tudria dengan dingin lalu menusuk ibunya dengan kasar. meskipun dia sangat merindukannya, namun yang dia rindukan bukan bayangannya, melainkan dia yang asli.
Tudria berlari dengan cepat dan mengayunkan pedangnya, namu lagi lagi ayah dan ibunya menghalangi. “nak, apa kau sungguh ingin membunuh kami?” Tanya mereka berdua secara bersamaan.
Tudria merasa terusik, dengan cepat dia menebas keduanya.
Lalu melanjutkannya lagi.
Saat mengayunkan pedangnya, beberapa cm dari tubuh istri daca, semuanya beruba lagi.
Dia sekarang berada di halaman rumahnya. tepat di depannya, seorang gadis kecil berlari keluar dengan kincir angin di tangannya, dia begitu senang, rambutnya di kepang dua, tentu itu adalah tudria kecil.
Dia berlarian kecil melintasi halaman rumah dengan indah.
Mengitari beberapa kali sambil tertawa, tudria memandangnya sambil tersenyum.
“Tudria.... tudria.... Tidria....” teriak dari seseorang wanita dari dalam rumah, suaranya lembut.
Tudria kecil dan tudria dewa bersamaa memandang arah sumber suara.
Seorang wanita yang tidak begitu cantik berjalan keluar, ya dia adalah ibu tudria yang masih muda.
“Tu, mari bersama ibu.” Ucapnya dengan halus bediri di teras rumah.
“tidak mau!” tudria kecil berlari melanjutkannya sambil tertawa kecil. angin tidak begitu baik sehingga dia harus berlari lebih cepat, membuat kincir angin di tangannya bisa berputar dengan baik.
Ibunya tidak memangilnya lagi, dia tersenyum melihat anaknya berlarian riang.
Tudria dewasa tersenyum mengingat saaat dia masih kecil yang begitu bahagia dari hal hal yang sederhana kemudian wajahnya menjadi medung mengetahui ibu dan ayahnya sekarang sudah meninggal.
Tudria dewasa menarik nafas panjang. “sampai kapan kau akan menunjukannya?” Ucapnya dengan dingin.
Seketika semuanya berubah menjadi putih, dia dapat mendengar suara air terjun yang begitu keras, dan udara dingin yang menyengat.
Cahaya putih itu kemudian menghilang. dia berdiri di atas tebing yang di penuhi rumput. di depannya air terjun yang begitu besar dan tinggi. tengah tengah ada batu yang begitu besar dan kokoh seolah olah dia menjadi pembatas, istri daca berdiri di atasnya.
Sekarang dia berada di tengah hutang dengan bukit bukit kecil yang mengitarinya.
“mari kita mulai.” Ujarnya lalu memainkan serulingnya.
Perlahan lahan naga air terbentuk di sisi kanan dan naga udara terbetuk di sisi kiri istri daca. Naga itu tidak besar, tapi memiliki tubuh yang panjang.
Kedua naga itu meraung dengan keras membuat angin badai.
“akhirnya.” Ujar tudria melesat dengan cepat bersamaan mengalirkan energi merah di tangannya, dia sepertinya ingin segera mengakhirinya.
Tudria melakukan beberapa serangan membuat naga naga itu terpotong, tetapi usahanya tidak berguna, naga itu kembali pulih lalu menyerangnya lagi.
Pertarungan itu terus berlanjut membuatnya semakin marah dan terus menyerang meskipun usahanya gagal.
Satu hal yang tudria lupakan bahwa dia sekarang ada di alam ilusi yang di kendalikan oleh istri daca.
...🌸🌸🌸🌸...
“Akhirnya selesai.” Gumam istri Daca memandang tudria yang berdiri mematung dengan mata tertutup seolah olah dia tidur berdiri. sebenarnya yang terjadi adalah dia mengirim bayanganya untuk bertarung melawan tudria di alam ilusi, sayat yang harus dia lakukan adalah memasukan lawannya terus ke dalam ilusi. semakin dalam, semakin sulit lawannya untuk keluar.
Istri Daca hendak pergi, tetapi dia terkejut melihat tudria yang membuka matanya.
“tunggu pembalasanku.” Ucapnya dingin kemudia tubuhnya bercahaya dan pergi.
Istri Daca mengikutinya. dia bertanya tanya bagaimana bisa tudria bisa kelur dari alam ilusi nya. setahu dia hanya orang yang memiliki kekuatan yang melebihinya dan orang yang tidak punya hati yang bisa melakukanya. dia sudah mengamati lawanya dengan baik dan keduanya tidak ada di dalam tubuh tudria.
Beberapa menit dia mengejarnya akhirnya tiba di tempat daca, dia menghampirinya. Cahya itu bersatu dengan cahaya yang ada di depannya.
“apa yang terjadi?” tanya dengan serius.
Daca memandangnya. “tentu ada sesuatu yang lebih spesial yang akan muncul.” Ucapnya dengan santai seolah olah itu sesuatu yang biasa saja.
Istri Daca tidak mempercayainya. sepanjang hidupnya, daca memang selalu seperti itu, misterius!
Lonjakan energi tersebar mendadak dari cahya itu, energi yang di keluarkan sungguh mengerikan.
“jangan berbohong!” ujar istri daca yang marah dan penuh rasa penasaran.
Daca menarik nafas panjang “mereka adalah tiga wanita suci kekaisaran ungu.”
Istri Daca terkejut, ternyata orang yang mereka lawan sesuatu yang mengerikan, tapi bukan saat mereka belum melakukan penyatuan. Saat mereka melakukan penyatuan roh tubuhnya akan menjadi seseorang yang sangat kuat. di rumorkan bahwa kekutannya bisa menghancurkan kekaisaran tetangga.
Setelah terkejut wajah istri Daca kemudian tersenyum seolah olah sebelumya itu adalah akting. “jika begitu, aku ingin sekali melihatnya.”
Istri daca tidak melanjutkan.
Guncangan hebat terjadi, menyebabkan beberapa longsor di sekitarnya bahkan bebatuan yang besar berguling ke bawah.
Cahaya terang itu terbang kemudian retakan retakan di tanah muncul di iringan tanaman teratai yang begitu besar. bunganya itu bisa menampung sepuluh orang, sedangkan untuk daunnya begitu lebar dan banyak.
Bunganya kembang dengan baik.
Daca dan istrinya menontonnya dengan santai seolah olah itu hiburan baginya.
Cahaya itu bergerak menuju tengah bunga, kemudia bunga itu menutup menjadi kuntum yang hendak bermekaran.
...🌸🌸🌸🌸...
Di depan bangunan, danel masih terkurung dan baraddaka tengah duduk dengan santai, dia menunggu tiga wanita gunung dan orang yang masuk kedalam.
Daniel mengetahui bahwa kurungan itu sangat kuat, selain itu mungkin ada sesuatu yang lain di lakukan baraddaka, dia memikirkan segala hal untuk melepaskan diri.
Beberapa saat duduk, baraddaka merasakan getaran dan energi yang begitu kuat membuatnya tertarik, Jika saja bukan untuk membalas dendamnya, dia akan pergi melihat apa yang terjadi.
Begitupun danel, di dalam pikirannya apa yang sebenarnya terjadi?
Sesaat kemudian mereka melihat teratai yang begitu besar bermekaran di atas bukit itu membuat mereka terheran-heran.
“Siapa sebenarnya mereka lawan?” Gumam baraddaka, dia tahu tiga wanita gunung yang dia bawa tidak akan menggunakan teknik itu kalau bukan mereka sangat terancam.
“Menarik.” Gumamnya lagi.
Daniel memadangnya dengan tatapan heran dan kagum, pertama kalinya dia melihat itu.
Seketika langit menjadi cerah, tidak ada awan yang menghiasinya, seolah olah angin yang begitu dasyat meniupnya.
Matahari dari timur bergerak menuju atas bunga teratai dan bulan sabit bergerak dari kiri.
Sungguh penomena yang aneh dan mengagumkan.
5 detik kemudian terjadi gerhana matahari sebagian, cahaya terang menyinari tepat di titik kuntum bunga teratai.
Bunga teratai bermekaran sedikit demi sedikit memperlihatkan sosok seperti Dewi. rambut terurai sangat panjang, memiliki enam tangan yang begitu indah, dia memakai gaun merah dengan variasi putih yang panjang, melayang di atas bunga teratai itu.
Perlahan lahan dia membuka matanya yang indah dan elegan. Jika seseorang yang melihatnya mungkin dia menganggap bahwa dia sosok seorang Dewi yang begitu cantik dan elegan.
“kalian terlalu berani melukai kami.” ujarnya dengan suara yang bergema dan indah.
“terimalah hukumannya.” Sepasang Tangan yang paling bawah kemudian menghilang.
Itu di namakan teknik penyatuan tiga tubuh menjadi satu, setiap tangannya mewakili kekuatan yang begitu dasyat, hanya tangan yang paling ataslah yang asli, kekuatan itulah yang menjadikan mereka sangat mengerikan.
Bunga teratai itu kemudian bergerak merambat, dengan cepat daun dan bunganya membentuk kuntum kuntum yang runcing mengarah Daca dan istrinya.
“Istriku.” Ucap Daca dengan suara menggoda.
Istri Daca mendesah. “baiklah.” Dia kemudian memainkan serulingnya dengan anggun, tetapi suaranya begitu keras bergema. angin dan air di sekitar berkumpul dengan cepat, itu bagikan badai yang dasyat membentuk 10 naga dengan masing-masing 5 naga air dan 5 naga udara.
10 naga itu meraung dengan keras membuat tiupan angin yang begitu kencang. Dengan cepat bergerak melilit dan menyerang tanaman teratai, membuat gerakan tumbuhan teratai itu terhenti lalu perlahan lahan layu. itu salah satu kemampuan naga yang meyerap kekuatan tumbuhan dan menjadi miliknya.
Sosok Dewi itu terlihat kecewa, tentu baginya serangan itu sangat kuat, tapi begitu mudahnya di kalahkan.
Naga naga itu berkumpul di belakang daca dan istrinya.
Istrinya tetap memainkan seruling.
“kalian membuatku marah!” sekarang wajah sosok Dewi itu terlihat marah. dia terbang meninggi, tangan kedua mengeluarkan bilah hitam perlahan lahan dia menjatuhkannya di iringi dengan menghilangnya pasangan tangan kedua.
Daca dan istrinya menjadi waspada, mereka merasakan kekuatan yang begitu dasyat terlempar dari langit.
10 naga itu melingkar sebagai pelindung.
Tibanya bola hitam ke dasar dengan cepat meledak bagaikan bom atom yang paling dahsyat. memiliki daya ledakan yang sangat mengerikan, gunung gunung di sekitar hancur berkeping keping, salju menjuat ke atas seolah olah itu asap.
Di tempat danel semuanya hancur, hanya menyisakan bangunan penyegelan yang masih utuh dan sangkarnya. untungnya dia memasang pelindung, jika tidak, mungkin saja semuanya akan lebih parah.
Sesaat kemudian kawah yang begitu besar terbentuk, itu bagaikan sebuah meteor yang menghantam bumi. Daca dan istrinya samar samar terlihat, dia terengah engah sambil melindungi istrinya.
Kawah itu besarnya sampai di dekat bagian penyegelan.
Sosok dewi itu tersenyum penuh kemenangan. “kali ini, kalian harus mati.”
Sebuah gerbang yang besarnya satu gunung muncul di atas langit, perlahan lahan terbuka, memperlihatkan sebuah pedang yang begitu besar bergerak keluar.
Daca melihatnya dengan tersenyum, dia menaruh istrinya tidak jauh darinya. “istirahatlah sebentar.” Gumamnya.
Dia lalu berdiri menengadah memandang pedang yang begitu besar itu. Daca bisa saja lari namun dia tidak melakukannya.
Pedang itu terus mendekat, membuat badai di sekitarnya.
Saat sampai di dasar, pedang itu mengeluarkan suara yang begitu nyaring dan bergema, kemudian di susul dengan suara ledakan yang begitu dahsyat.
3 menit kemudian samar samar terlihat Daca yang sangat terlukan dan memuntahkan darah segar, dia masih berusaha berdiri.
Sosok Dewi itu terlihat tidak tenang, itu adalah serangan terkuatnya, orang akan meluap jika mengenainya, tetapi bagaimana bisa Daca bisa bertahan walapun dia sudah terlihat terluka sangat parah?
Istri Daca yang tidak jauh darinya tidak ada yang terluka, mungkin Daca lah yang melindunginya.
“Kau lawan yang tangguh.” Sosok Dewi itu menghilang dengan cepat, membuat daca lebih waspada, tentu bukan untuk melidungi dirinya, tetapi untuk istrinya, sekarang dia tidak bisa lagi melawan mereka, apakah dia bodoh?
Istri Daca bangun. dia merasakan kepalanya sakit, lalu menyebarkan pandangannya, matanya membesar terkejut melihat Daca yang sudah terluka parah.
Dia mendekati Daca, namun terhenti melihat sosok Dewi itu muncul di belakangnya hendak menusuknya. dengan cepat istri Daca memainkan seruling, seketika sosok Dewi itu membeku begitupun semuanya, tidak ada lagi gunung gunung salju, yang ada dataran es yang dingin
Istri daca dengan cepat mendekati daca. ada rasa lega di dalam hatinya saat ini dan untung saja dia tepat waktu, jika tidak, sesuatu yang mengerikan akan menghampirinya.
Daca terkejut melihat perubahan itu, dia juga masih waspada, walapun tingkat yang lebih rendah. dia berbalik, lagi lagi Daca terkejut melihat sosok Dewi itu membeku dan juga melihat istrinya menghampiri nya.
“Bisakah kita mengakhirinya sekarang?” Ucap Daca dengan tenang seolah olah tidak ada apa apa yang terjadi walaupun sekujur tubuhnya terluka.
Istri daca menarik nafas panjang. “bisakah kau lebih serius bertarung, aku sungguh kesal denganmu!” ujarnya kesal, dia kesal karena Daca hampir mati apalagi bisa bisanya dia berkata seperti itu seolah olah itu hal yang biasa biasa saja.
Daca tertawa kecil. “baiklah, dan ini yang terakhir!” Dia melempar pedangnya ke atas dengan keras membuat pedang itu berputar putar ke atas lalu menghilang.
Istri Daca mengangguk lalu mengerti lalu memainkan serulingnya.
Sesaat kemudian sebuah pedang yang begitu besar muncul di atas sosok Dewi yang membeku.
Itu pedang yang daca lempar, bedanya ukuranya begitu besar, dua naga hitam dan putih melilitnya. dengan raungan yang menggelegar, naga itu kemudian membuka mulutnya. enegi hitam dan putih berkumpul semakin membesar.