The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 11 cerita 3



Cerita 3


Satu tahun sudah berlalu dari peristiwa itu, namun aku salah, sangat, aku pikir dengan begitu ayah kandungku akan mengerti, tetapi, batu bata tetap batu bata, ayahku lebih membenci diriku.


Setelah pembicaraan waktu itu, permaisuri datang mengunjungi kamarku, bukan bermaksud baik. Dia menamparku dengan keras dan mengancam aku harus menikah dengan pangeran itu, orang yang aku benci. Meskipun, baru mengenalnya, tetapi pandanganku sangat aku percaya. Aku tidak mau menikahinya, karena ini bukan menyangkut hal yang sederhana saja. Tetapi apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa menolak ataupun lari dari hal itu.


Apalagi mereka pasti akan melakukan hal lain lagi. Dengan air mata yang masih mengalir aku mengangguk, mengiyakan


Hari-hari setelahnya bibi yu tidak pernah terlihat lagi membuatku khawatir, apa karena itu? Memikirkannya membuatku sedih. Aku begitu egois. Aku mencarinya ke segala ruangan yang ada, namun tidak menemukannya, pelayan teman bibi yu mengatakan bibi yu sedang pulang kampung dan tidak tahu alasannya membuatku heran. Apa ada masalah dengan keluarganya? Tidak mungkin, mungkin karena sedang ada acara? Pikirku positif, tetapi kenapa dia tidak mengabarkannya?, Sungguh aneh!


Aku sekarang sendirian menunggunya, tidak ada teman di sisiku lagi.


Beberapa hari aku selalu membaca buku di kamar dan mengurung diri, rasanya, sungguh menyenangkan, memasuki setiap dunia yang berbeda, andaikan aku seperti cerita dalam buku ini hanya sebagai pembaca, ikut merasakan apa yang di rasakan tokohnya, tetapi tidak perlu terlibat di dalamnya.


Kadang-kadang juga aku teringat dengan pernikahan ku yang akan menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah bangun, juga ada perasaan yang sungguh sakit diiringinya, itu kadang-kadang juga membuat air mataku menetes.


3 hari kemudian saudaraku anak dari selir ke dua datang mengunjungi ku. Saat dia masuk, aura di sekitar menjadi lebih tegang. Dia masuk bersama yang lain.


“ apa” ujarnya. Menatapku.


Sungguh tidak ada sopan santun


“ tidak ada apa-apa.” Aku melanjutkan aktivitas membaca lagi.


Saudara-saudaraku yang lain tertawa entah menertawakan apa.


“ Kami mempunyai kejutan untukmu.” Lalu mendekatiku, aku tidak menolehnya hanya fokus membaca buku. Tiba-tiba saja aku merasa dingin sekujur tubuhku. Dia menyiramku dengan air dingin, aku langsung terperanjat. “apa yang kamu lakukan!?”


“aku dengar kamu marah beberapa hari lalu, jadi aku menyiramimu agar kamu bisa lebih tenang.” Ujarnya yang tidak memperlihatkan ekspresi bersalah sedikit pun. Anak dan ibu sama saja!


Buku dan meja menjadi basah karenanya. Aku sungguh marah, tetapi saat mengingat statusnya sebagai putri permaisuri membuatku enggan melampiaskannya. Meskipun dia yang salah.


Orang-orang yang melihatnya tertawa. Apakah penderitaan orang lain itu lebih menyenangkan saat di tonton?


Aku hanya memandangnya, tidak melakukan apa-apa, aku tahu jika aku membalasnya, mungkin akan ada lagi yang akan mereka lakukan, mungkin akan melaporkannya. Sungguh nasib kurang beruntung hidupku ini.


Aku akan pergi bersama ayahku untuk berperang saja.


Aku langsung pergi ke kamar mandi, semua saudara-saudaraku menertawaiku. Saat ini perasaanku sangat marah dan kesal, tetapi hanya bisa mengepalkan kedua tanganku dengan erat saja.


Aku berendam dan menyandarkan kepalaku sambil memejamkan mata membuatku merasa tenang, sesaat kemudian penghinaan itu muncul di dalam pikiranku, kemarahan mulai menguasai tubuhku dan juga aku sungguh bodoh! mengapa aku tidak melihat mereka membawa air serta mengapa aku tidak mengetahui mereka memiliki niat jahat. Rasa marah, kesal bercampur aduk di dalam hatiku.


Aku menarik nafas panjang, berharap akan membuatku lebih tenang. Aku selalu di didik oleh bibi yu, dia selalu mengajarkanku bagaimana cara bersikap dan mengendalikan muatan yang berlebihan di dalam diriku; muatan itu seperti muatan rasa kemarahan yang terlalu mendominasi atau yang lainnya, katanya tubuh manusia harus seperti timbangan yang selalu seimbang semuanya, jika berat sebelah akan berdampak negatif kepadanya.


Aku memutuskan itu mengganti baju. Meski tidak ada pelayan lagi yang mendampingiku, aku tidak memikirkannya. Seorang pelayan pastinya akan tunduk pada majikannya, jadi karena aku bukan majikannya aku tidak mendapatkan pelayanan dan juga aku tidak memerlukannya.


Dapat kulihat wajahku yang jarangku pandang dari cermin, “wajahnya yang cantik” mungkin karena jarang aku lihat.


Aku mendekati meja tadi, pikiranku tepat, pelayan tidak ada yang membersihkannya. Aku segera membersihkannya. Rasa marah masih tersisa. Bukuku yang membuat hari-hari ku cerah sekarang tulisannya kabur tidak bisa di baca lagi. Setelah aku membersihkannya aku memutuskan untuk duduk, dan memandang jendela sambil memikirkan apa sebegitu salahnya diriku? Sampai-sampai mereka harus melakukan itu kepadaku.


Aku memilih memejamkan mata sambil berharap mungkin ayah sudah di sampingku dan menghentikan semua ini.


...****...


Sampai aku bangun ayah belum juga pulang. Ayah angkatku selalu pergi berperang.


Sekarang aku sendirian, menunggu.


“Aku bosan.” Aku memutuskan untuk pergi ke lantai atas istana, berharap itu akan menghilangkan rasa bosanku ini.


Angin selatan menerka wajahku saat aku datang seperti dia menyambutku. Aku menopang wajahku dengan lengan yang menyadar di tombok, memandang arah selatan yang terlihat indah saat cuaca sedang cerah, mungkin ini lebih baik dari tadi.


Para menjaga terlihat masih gagah berdiri di depan gerbang selatan, tempat masuk istana. Kebiasaan memang selalu membuat orang lebih menonjol ya!


Di timurku terlihat pohon beringin besar yang berada di pinggir tebing. Saat aku kecil ayah selalu membawaku ke sana, entah apa alasannya, dia selalu membawaku saat pulang dari berperang.


Meskipun jarak pohon begitu jauh dari istana, pohon itu masih terlihat jelas dan bercahaya saat sore ini.


Wajahnya yang terlihat bahagia saat berada di sana membuatku ingin mempertahankannya. Meskipun itu sulit di capai.


“Ayah kenapa kita kesini?”


“apa kamu tidak suka bepergian?”


“Aku suka, tapi aku ingin pergi ke pasar saja membeli semua makanan, pakaian dan mainan yang aku inginkan.”


“Nanti kita akan ke sana, sekarang nikmatilah pemandangan lembah itu.” Ujarnya menunjuk pinggir tebing.


Aku penasaran apa yang ada di dalamnya.


Aku mendekatinya, “sungguh indah.” Aku terpukau dengan pemandangan jurang itu. Pohon-pohon cemara yang indah, sungai yang jernih mengalir begitu indah, udara Segar dapat aku rasakan dari bawah. Meskipun itu sangat dalam, tetapi itu tidak membuatku takut, sungguh! Mungkin karena aku terisap oleh keindahan alam yang ada di dalamnya sehingga aku lupa akan hal itu.


“Apa kamu menyukainya?”


“ Sungguh, ayah, aku sangat menyukainya.”


Aku kembali duduk di samping ayah, rasa nyaman dan hangat selalu menghampiriku saat berada di sampingnya. Apakah memiliki orang tua rasanya sama seperti ini? Jika aku memiliki seorang ibu mungkin ini akan menjadi momen yang lengkap.


Daun-daun pohon berjatuhan seperti menari indah sebelum menyentuh tanah. Apakah orang bisa menari di dalam penderitaan hingga dia terjatuh?


Aku memandangi Sekeliling begitu juga ayah di sampingku. Tidak ada pembicaraan lagi di antara kami berdua, kami sibuk dengan dunia kami sendiri —dunia buatan


“ apa kamu kesepian saat ayah sedang tidak ada bersamamu?” tanya ayah memecah keheningan.


“ Tidak ayah, aku sangat senang saat ayah pergi berperang melawan semua musuh dan memperluas kekaisaran. Aku sangat bangga punya ayah seperti ayah” jawabku. Meskipun aku juga sedih saat ayah pergi, aku sangat membutuhkanmu.


Saat aku mengetahui aku bukan anak kandungnya, aku tidak ingin membuatnya kehilangan senyuman di wajahnya, oleh karena itulah aku harus tersenyum.


Orang bilang orang lain mungkin akan lebih memperhatikan kita di bandingkan keluarga kita. Pernyataan itu telah terjadi di dalam kehidupanku.


Ayah sedikit terkejut lalu tersenyum. “tapi apakah kamu tidak bosan jika ayah pergi.”


Aku memegang tangan ayah yang kasar itu, tangan yang selalu tidak kenal takut berperang; kasar, dan sedikit keras. “jangan khawatir ayah, aku selalu mendukungmu.”


“ terima kasih.” Ucapnya tersenyum.


Aku ikut tersenyum melihatnya. Mungkin ini adalah sesuatu yang harus aku jaga, agar tetap tersenyum selamanya.