The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 17 usaha terus-menerus



Hari-terus berlanjut, yang membuatnya meneyerah mencari mereka, dia memutuskan untuk mencari seseorang yang bisa menyelamatkan anaknya. Meskipun egois, tetapi dia tidak bisa membuang waktu lagi, dia khawatir putrinya tidak bisa di selamatkan lagi. Walaupun dia gagal mencarikan mereka orang tua, dia akan bertanggung jawab atas semuanya setelah menyelesaikan semuanya ini.


Sekarang dia sudah mencapai perbatasan kekaisaran barat dan menuju kekaisaran ungu bagian utara.


Dia berjalan sambil menyelinap ke dalam orang-orang yang akan pergi, tapi penjaga begitu ketat mengawasi setiap orang yang lewat membuatnya kesusahan mengatasinya.


“Buka jubahmu!” pekik penjaga.


“tuan aku menderita penyakit....”


“tidak ada alasan! Cepat buka” potongnya.


Daniel tidak membukanya, dia memegang gagang pedang dalam jubahnya dan bersiap-siap untuk melawa, dia sadar tidak bisa mengelak dari penjaga gerbang ini. Meskipun dia mungkin akan di kejar, itu lebih baik daripada identitasnya terbongkar.


“cepat buka.” Ujarnya membuat daniel lebih waspada.


Penjaga itu terlihat mulai menggapai jubahnya namun sebelum menyentuhnya, sebuah kilatan panjang terlihat memotong kedua penjaga itu.


Penjaga itu jatuh dan darah mengalir dengan deras.


Semua orang yang melihatnya terkejut dan berteriak histeris serta tidak sadar daniel sudah tidak ada di sana.


...****...


“Aku harus cepat mencari makanan.” Ujar daniel melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Kecepatannya sangat cepat bagaikan cahaya, orang awam mungkin tidak sadar bahwa itu manusia,


Meski kecepatan sangat cepat, Daniel hanya berlari seperti bisa, alasan mengapa sebelumnya dia tidak menggunanya karena musuh akan mengetahuinya


Dia tahu musuhnya banyak di kekaisaran barat, merupakan keajaiban dia tidak di ketahui saat berada di sana.


Dia terus berlari menjauh sesekali memalingkan wajahnya ke belakang.


Kekaisaran ungu merupakan kekaisaran yang paling kecil di antara yang lainya. Wilayahnya banyak di penuhi hutan-hutan yang lebat membuat suasana kekaisaran ungu terasa sejuk dan ini merupakan keberuntungan bagi daniel, dia dapat mencari makanan dan bersembunyi di sana sampai situasi aman,


Hutan di kekaisaran ungu memiliki sedikit binatang buas yang membuatnya aman untuk di Kunjungi.


Malam pun tiba, daniel memutuskan untuk mencari makanan di sekitar, dia melompat lompat bagaikan kera. Setelah 10 menit berlangsung dia mendengar suara air terjun yang besar.


“Akhirnya.” Gumanya bersama menuju air terjun itu.


Saat tiba di pinggir air terjun, dia langsung menyelam mencari ikan-ikan.


Setelah beberapa menit mencarinya daniel pun muncul dari air. “Ahhh.” Gumanya senang, dia menuju pinggiran. Di tangan kirinya terdapat beberapa ikan, di tangan kananya ada sebilah pedang yang di gunakan untuk menebas ikan-ikan yang di temui.


Ikan-ikan yang di bawa hanya ada luka sayatan yang rapi namun itu mengenai organ vitalnya, hanya ujung pedangnya saja menggores tubuh ikan tersebut.


Daniel ahli dalam menggunakan pedang dan pedang juga menjadi senjata andalannya untuk bertarung sehingga tidak heran dia bisa melakukan itu dengan sangat baik.


Daniel menaruh ikan-ikan tersebut di pinggir air terjun yang di hiasi bebatuan putih yang bersih, lalu dia mencari kayu bakar di sekitar.


Kemudian dia menyalahkan api dengan energi alam yang di milikinya, energi alam adalah energi yang berhubungan dengan alam termasuk unsur-unsur di dalamnya, sehingga dia dengan mudah menghidupkan api.


Kemudian membakar ikan-ikan tersebut.


Meskipun api sangat berbahaya di hutan karena dapat menarik hewan-hewan buas di sekitar mendekat, daniel adalah seorang jendral jadi jika bukan seorang manusia dia dapat dengan mudah untuk menghindarinya.


Setelah makan dia langsung pergi, bukan karena dia bersemangat, tetapi takutnya musuh melihat dan mendekati.


Daniel terus melompat-lompat dengan cepat, bahkan kecepatannya melebihi tadi. Sepanjang perjalanannya dia tidak melihat hewan buas atau semacamnya yang membuat perjalanan lebih baik dan lancar.


2 jam pun berlangsung dari kejauhan dia mendengar suara orang-orang yang sedang beraktivitas dengan bergembira dan dari jauh juga dia melihat kelap kelip lampu, dia menyimpulkan bahwa itu pasar malam, pesta atau semacamnya.


Dia tidak melanjutkan perjalanannya. Dia menyebarkan pandangan sekitar, setelah memastikan semuanya aman dia langsung menuju salah satu dahan pohon, langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur,


Pedangnya masih di pegang dengan erat, ini adalah salah satu cara daniel untuk berjaga jaga jika ada musuh yang mendekati,


...****...


Burung-burung saling menyahut, membuat Daniel bangun dengan segar di pagi hari. Mula-mula dia regangkan badannya, memastikan semua barangnya aman, dia melompat turun.


Daniel mengeluarkan kristal itu dan mengalirkan energi namun tampaknya terlihat tidak ada reaksi yang menggembirakan.


Dia menarik nafas lalu memasukkannya lagi ke dalam, lalu berjalan mendekati tempat yang di kiranya pasar malam atau sejenisnya tadi malam.


Suara-suara itu tidak ada lagi yang terdengarnya,


Rumah-rumah sederhana berbaris saling memandang jalan yang terbuat dari tanah yang bersih dari rumput, membuat daniel heran mengapa malam hari begitu ramai dan sebaliknya mengapa siang hari begitu sepi, hanya terlihat daun-dedaunan yang berterbangan.


Daniel berjalan dengan hati-hati sambil memandang rumah-rumah yang terlihat begitu sepi.


Dia terus berjalan hingga tiba di perbatasan desa, dan sampai di desa sebelahnya yang begitu padat penduduk yang terlihat.


Daniel sedikit heran dengan desa sebelah, tetapi dia tidak bisa memikirkannya sekarang,


Daniel hanya berjalan, sampai pandangannya tertuju pada toko baju yang tidak jauh darinya, dia hendak ke sana, tetapi mengingat bahwa dia tidak punya uang membuatnya enggan dan kembali melanjutkan perjalanan.


Pakaian baginya sekarang sangat penting untuk menyamarkan identitas dirinya, dia berpikir sebaiknya memakai baju yang lain dari pada baju ini. Meskipun bisa menyamarkan identitas, tapi ini juga menambah kecurigaan orang-orang.


Daniel terus berjalan hingga sesampai di perbatasan dengan hutan langsung berlari dengan cepat melompat lompat dari dahan ke dahan dengan lihai.


Mungkin ini yang bisa sekarang dia lakukan sampai menemukan orang yang dia cari.


Tiba tengah hari dia memutuskan untuk beristirahat dan merubah warna rambutnya yang semula putih menjadi hitam dan kembali membuka buku anaknya, entah mengapa dia selalu membukanya meskipun merasa marah, benci terhadap isi buku itu.


...****...


Ke esokan harinya aku di bawa mengunjungi pasar yang begitu ramai aktivitas penduduk. Aku tentu saja tidak akan terkejut lagi, mengingat aku pernah mengunjungi pasar ini walaupun hanya sekali saat aku kecil.


Aku menebarkan pandangan ke arah para pedagang yang tampak selalu antusias mempromosikan barang dagangan nya, membuatku teringat saat waktu pertama kali aku melihatnya. Aku menanyakan kepada ayah bagaimana mereka bisa mengeluarkan suara yang begitu anggun dan menarik perhatian.


“mereka terbiasa melakukannya dan berlatih seperti kamu saat kecil, saat pertama kalinya kamu belajar berjalan, kamu melakukan latihan berkali kali meski hasilnya lebih banyak jatuh dari pada bisanya, tetapi kamu terus melakukannya hingga berhasil.” Ayah diam sejenak untuk menarik nafas. “andai setiap orang tetap seperti itu mungkin semua yang mereka mimpikan akan tercapai.”


Apakah ada sesuatu yang membuat ayah berkata seperti itu? Dari suaranya aku dapat mendengar ada pesan yang mendalam yang di sampaikan, tapi aku tidak mengerti dan hanya bisa mengangguk.


“Sudah lama ya kita tidak berjalan jalan.” Ujarnya memalingkan wajahnya menatapku.


Tanpa berpikir aku langsung menjawabnya. “iya, aku sungguh senang bisa bersama ayah lagi, ngomong-ngomong bagaimana keadaan ayah saat berperang?” tanyaku yang selalu membuatku kahwatir. Meskipun aku selalu membuangnya jauh-jauh di dalam ingatanku dan entah mengapa pertanyaan itu keluar dengan sendirinya.


“maaf, apa ayah membuatmu kahwatir?” Ujarnya dengan wajah sedih.


Aku menyesal menanyakan pertanyaan itu.


“tidak, ayah tidak membuatku Kahwatir.” Jawabku sambil tersenyum, meskipun aku berbohong.


Ayahku memandangiku dengan tajam dan kembali memandang ke depan.


Dapat aku pastikan dia mengetahui apa yang aku pikirkan. “kamu bagaimana keadaan di istana?”


“Aku, aku sangat senang.” Ujarku berbohong lagi.


“oh, iya, bagaimana keadaan bibi yu?”


Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan ayah ini, bukannya mengandung zat zat kejut, tetapi, aku bingung bagaimana harus menjawabnya, bibi yu menghilang tanpa jejak, kabar.


“bibi yu sedang pulang kampung ayah, karena ada upacara keluarga.” Ujarku berbohong bagian akhir.


Aku tersenyum dan berusaha menyembunyikan kebohonganku.


“ohh.” Ujarnya tidak menyadari.