The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 9 peristiwa perjalanan



Setelah latihan malam itu, treya semakin menguasai teknik berpedang namun belum bisa mengeluarkan energi alam dalam tubuhnya yang membuatnya kesal, dia sungguh ingin sekali seperti Daniel, baginya itu sungguh mengagumkan, jika saja ayahnya masih hidup dia pasti akan meminta mengajarkannya.


Di desa yang menjadi perbatasan antara kekaisaran Uttarian dengan kekaisaran ungu, mereka tengah duduk santai sambil memakan buah buahan dari hutan.


treya membaca buku cerita lagi. sekarang dia sudah menyelesaikan cerita 3 dan sekarang mulai membaca cerita 4. setelah beberapa menit membacanya dia terkejut mengetahui bahwa surat yang di tulis kamaniya sama persis dengan surat dari temannya dan juga itu yang pertama di tulis olehnya.


Dia tidak meragukan lagi bahwa itu adalah temannya, teman yang sangat dia suka. walaupun banyak bertanya, saat pertama kali mereka berkenalan, dia memang sudah sangat menyukai nya, baginya orang yang banyak bertanya adalah seseorang yang sangat mengagumkan.


Tereya menutup buku kemudian tersenyum membayangkan saat dia membalas surat itu dengan sangat bergembira lalu memikirkan bagaimanakah reaksinya?


membayangkan itu, dia memutuskan untuk menyelamatkannya dengan sebaik baiknya, sekarang itulah satu satunya yang dia punya.


Dia beranjak pergi dan berlatih dengan sangat giat.


Tidak beberapa lama danel menghampirinya. “kamu sudah mulai melakukanya dengan baik.”


Treya mengangguk.


“sekarang kamu akan belajar mengeluarkan energi alam.”


Treya merasa senang, inilah sesuatu yang sangat dia inginkan.


“kau bersila lalu pusatkan semua nafasmu di dalam paru paru dan tahan beberapa detik lalu keluarkan. lakukan beberapa kali, kemudian rasakan energi di sekitar lalu cobalah serap dengan perlahan lahan.” Jelas danel dengan panjang lebar.


Treya mengangguk lalu melakukanya hingga di sore hari, tetapi tidak ada hasil.


Mereka melanjutkan perjalanannya.


...🌸🌸🌸🌸...


Di sebuah ruangan yang tidak begitu besar dengan penerangan yang cukup, jendela di sisi kanannya dan beberapa hiasan, baraddaka berdiri menghadap tiga wanita gunung.


“Kita akan pergi besok.” Ujar baraddaka.


“Baik.”


“tuan, apakah kita akan membawa pasukan?” Tanya utria.


Baraddaka medekati jendela dan menyebar padangannya keluar seperti sedang melihat sesuatu yang aneh. “tidak perlu.”


Lalu dia kembali memandang tiga wanita. “kita berempat saja sudah cukup untuk memusnahkannya. Kalian pergilah.”


“baik.” Ujar mereka bertiga lalu menghilang dengan cepat.


“daniel kita akan bertemu lagi.” Gumamnya, dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bangunan es itu adalah menara segel es yang di gunakan danel untuk menyegel putrinya dan segel itu dari pedang yang menjadi andalannya. pedang itu tidak dapat di gunakan Daniel untuk sekarang, secara otomatis dia melemah.


Tapi bukan baraddaka namanya jika bukan merencanakanya secara matang dan memastikan kemenangan ada di tangannya, dia pastinya akan merencanakan sesuatu yang sangat matang.


...🌸🌸🌸🌸...


Beberapa hari treya terus berlatih hingga akhirnya dia bisa menggunakan energi alam, walaupun masih awam.


Sekarang dia tengah berlatih di desa bagian Utara kekaisaran Uttarian yang masih begitu damai, walaupun ibu kota sudah membeku.


Danel yang tidak jauh berada tersenyum. awalnya dia menganggap bahwa latihan yang mungkin treya bisa hanya teknik dasar, namun setelah melihat perkembangannya membuatnya lebih merasa yakin bahwa putrinya akan selamat.


Hingga sore pun treya masih berlatih dengan giat, tetapi dengan gerakan kian melambat dan melemah, di wajahnya sudah membanjir keringat. tidak beberapa lama dia memutuskan untuk beristirahat sebentar.


Treya merasakan tubuhnya begitu lemah bahkan tanganya terasa berat untuk di gerakkan.


Di taruh pedangnya. dia merasa bahwa latihan hari ini begitu menyenangkan apalagi merasakan perkembangannya yang sudah meningkat.


“Ambil ini.” Ujar danel yang memberikan treya air.


“Tengah malam nati kita akan bergerak lagi.” Ujarnya setelah treya meminum air.


Treya mengangguk pelan


Danel lalu duduk di samping treya. “beberapa hari lagi kita akan sampai.” Katanya, dia merasa perjalanannya kembali terasa sama saat dia datang, pedahal dia mencari lebih dari satu bulan dan kembali sekarang belum satu bulan


Treya hanya mengangguk.


Hari demi hari terus berlanjut hingga mereka tiba di perbatasan antara dataran yang membeku dan tidak, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di sana.


Dalam perjalanan, treya terus berlatih dan juga dia sudah menyelesaikan membaca buku itu, dia mengerti bagaimana perasaan kamaninya yang di nikahkan secara paksa, tidak ada orang yang membantunya, di rundung oleh saudara saudaranya, itu sungguh kejam apalagi seseorang yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


Sekarang dia tahu mengapa kamaniya menanyakan itu kepadanya, dia mengalami sesuatu yabg lebih parah darinya. itu bagaikan jeruji besi yang ada di atas jurang yang dalam dan di tonton oleh orang orang.


Tebakannya tidak salah dia adalah temannya.


Mereka tengah duduk di atas tebing, memandang ke seberang yang terlihat putih, tidak ada cahaya matahari.


Angin dingin dapat di rasakan dari sana.


“Apa yang terjadi dengan Putrimu?” Tanya treya yang tidak mengetahui apa kelanjutannya.


“itu yang terjadi.” Danel menunjuk hamparan es itu yang terasa berubah saat terakhir dia melihatnya.


“Lalu?” treya mengerti ucapan danel.


“aku menyegelnya.” Jawabnya tanpa memandang treya.


“Aku mengerti, kau menyuruhku untuk menyadarkannya?”


danel menoleh. “iya, tolong.”


“tenang saja aku akan menolongnya.” Ujar treya dengan bersemangat.


Mereka berdua bagaikan murid dan guru sekarang.


Beberapa orang terlihat lalu lalang di bawah, sebagian besar mereka berjualan di pasar dan yang lainya terlihat bertani, ada yang mencangkul, memanen dan juga menanam.


Mereka tampak begitu giat melakukan profesi mereka masing masing.


Beberapa kali angin dingin menerka wajah treya dan danel, mereka dapat merasakan angin itu begitu dingin dan menyejukkan, itu seperti jeritan penduduk yang membeku dan kemaraha kamaninya yang sungguh mengerikan.


“Baiklah, ayo kita pergi.” Ujar treya sambil berdiri dan meletakan pedang di punggungnya.


Danel sedikit terkejut, biasanya dia yang akan mengatakan itu di setiap perjalanan, entah kenapa treya yang sekarang mengatakan itu, yang pastinya itu adalah bertanda baik.


Daniel tersenyum kecil. “ayo.”


Mereka meneruskan perjalanan hingga di soreh hari. mereka sudah memasuki hamparan salju membuat danel khawatir, bagaimana bisa awalnya es sekarang menjadi salju, semua pikirannya di renggut oleh kakawatiran kepada putrinya dan selalu menyakini dirinya, semuanya akan baik baik saja.


“Apa kau baik baik saja?” Treya yang menyadari wajah danel buruk.


Danel menarik nafas panjang dan menggeleng kecil, dia tidak ingin memberitahunya, entah itu karena tidak ingin ataupun sesuatu yang lain.


Treya tidak bertanya lagi, dia menyadari bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang tidak ingin disampaikan.


Beberapa jam pegunungan es sudah terlihat, cahaya kuning dari satu titik awan terlihat menyinari bagunan penyegel, namun karena terlalu jauh yang terlihat hanya cahaya kuning itu.


Treya yang menyadarinya merasa heran, bagaima bisa ada cahaya di dalam hamparan salju, tapi dia tidak menanyakannya, dia tahu bahwa akan melewatinya.


...🌸🌸🌸🌸...


Baraddaka dan tiga wanita suci tengah berlari dan melompat lompat dari tebing-tebing dan kayu yang mereka lewati, bergerak dengan sangat cepat, hanya terlihat bayanganya saja yang melintas.


“Apa masih jauh?” Tanya baraddaka.


“tidak tuan.” Ujar utria yang memimpin perjalanan.


Di dalam pikiran baraddaka, dia sungguh tidak sabar bertemu dengan danel, dan membayangkan rencananya akan berhasil, dia sudah merencanakan untuk meracuni danel lalu membunuhnya.


Tidak beberapa lama dua orang menghadang mereka tepat di tengah jalan.


Seorang pria dan wanita paru baya.


Pria itu memliki tubuh yang tidak begitu tinggi, namun memiliki aura yang begitu menakutkan, dia adalah Daca.


Dan wanita di sampingnya adalah istrinya.


Kelompok baraddaka memasang tatapan yang tajam dan mengawasi sekitar.


“Tuan biarkan kami yang melawannya.” Ujar utria.


Baraddaka mengangguk dan pergi, daca tidak menghentikannya.


“apa kalian sudah bosan tinggal di gunung?” Tanya Daca.


Utria tertawa kecil. “Tentu saja kami bosan dan kau akan menjadi hiburan kami.”


“Daca, apa aku yang melawannya duluan, aku sungguh tidak sabar mencabik cabik wanita kotor itu.”


Wajah Tiga wanita gunung menjadi marah, mereka sangat di hormati di tempat asal mereka, tidak ada yang merendahkan mereka, mendengar ucapan dari dia membuat mereka menjadi marah.


“Mari aku tunjukan bagaimana kekuatan wanita kotor ini.” Ujar baradia, dia hendak berlari namun di cegah oleh utria, itu membuat baradia kesal.


“kami tidak ada urusan dengan kalian, jadi jangan ganggu kami.”


“jika saja kalian tidak membatu baradaka, kami juga tidak akan menghalangi kalian.” Ujar daca dengan tenang.


“Baiklah, jika itu yang kalian inginkan.”


“Baradia bantu aku melawannya.” Ujar utria.


Baradia kesal, sesungguhnya dia ingin sekali melawan istri daca, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan pemimpinnya.


“Huh, Baiklah.”


“Jadi aku mendapatkannya ya.” Ujar tudria.


“Aku sungguh ingin sekali melawanmu.” Istri daca menunjuk Badria.


Badria menunjukan ekspresi kesalnya, namun tidak bisa membalas


“tetapi malah mendapat kanmu.” Dengan cepat istri daca pergi.


Tudria mengikutinya.


“kalian ingin beberapa ronde?”


“berisik!” Ujar utria, dengan cepat berlari kemudian di susul oleh Badria.


Di tangannya keluar cahaya merah, samar samar muncul pedang panjang dan lancip.


Badrai juga mengeluarkannya.


Pedang itu merupakan senjata suci gunung yang di miliki setiap gadis gunung, pedang yang sungguh tangguh dan begitu tajam serta memiliki daya regenerasi yang cepat.


Utria memegang pedang dengan kedua tangannya, dengan raungan keras dia mengayunkannya.


Daca dengan tenang memegang sesuatu di depannya, sesuatu yang tidak ada.


“Trankk.” Suara pedang beradu, utria terkejut, seperti ada sesuatu yang menahan pedangnya.


Daca mengayunkan sesuatu yang tidak terlihat membuat utria mudur beberapa meter.


Begitupun badria yang terhempas olehnya.


“kalian pasti penasaran dengan ini.”


Samar samar muncul pedang besar dan memiliki motif naga di bilah atasnya.


“mari kita mulai.” Ujar daca di iringi dengan kecepatan tinggi mengarah utria


Daca menggenggam dengan kedua tangannya langsung mengarahkan beberapa serangannya begitupun utria dan Badria. mereka bagaikan tiga cahaya yang bertarung; begitu cepat, meskipun daca sendiri, dia terlihat begitu seimbang melawan wanita gunung, beberapa kali dia terlihat melakukan serangan.


Beberapa saat pertarungan masih berlanjut, mereka saling menyerang dan menghindar. di kedua pihak masih memiliki kekuatan yang seimbang.


“kalian memang layak menjadi wanita gunung.” Ujar daca sambil menyerang mereka berdua.


“Kau juga, tapi kami pastikan kau akan mati sekarang.” Ujar utria.


“aku menunggunya.” Mengarahkan beberapa serangannya.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka hanya Suara pedang yang saling berbenturan membentuk melodi yang unik.


Seperempat jam kemudian kedua pihak sama sama melompat ke belakang dengan nafas terengah engah.


“Bisakah kita serius sekarang?” Ujar daca dengan pedang di bahunya.


“Hey, kami sudah serius dari tadi!” Ujar badria.


Utria mengamati Daca yang sudah kelelahan namun bagaimana bisa dia berkata seperti itu?


“hmpp! kau sungguh sombong!” Ujar utria


Dengan cepat utria melesat. dari pedangnya samar samar muncul aura merah menyelubunginya.


“Baiklah.” Ujanya daca sambil berlari dengan cepat.


“trankkk.”


“kau masih bisa menahannya ya.” Ucap utria.


“Serangan yang baik.”


“Oh ya, kau harus menjaga punggungmu.” Ujar badria yang sudah di belakang Daca dan mengayunkan pedangnya yang memiliki aura merah.


Daca dengan cepat menghindar ke samping namun karena dia sedikit di tahan membuat punggungnya sedikit tergores.


Tanpa memberi jeda utria dan Badria melesat dan memberikan berbagai serangan.


Daca yang masih merasa kesakitan mau tidak mau harus meladeni mereka.


Dua wanita gunung itu terus mengarahkan serangannya, sesekali mereka tersenyum atas pencapaian mereka sebelumya.


Daca hanya bertahan dan menyerang balik, sebenanya dia hanya ingin bermain main sebentar, namun dua wanita gunung itu menganggapnya serius, mungkin ini lah jadinya jika mereka belum pernah mengelilingi dunia.


Beberapa menit dua wanita gunung itu terus melancarkan serangannya, tetapi seiring waktu berjalan serangannya seakan tidak akan pernah mengenai Daca sedikit, membuat mereka kesal dan bertanya mengapa semua serangan mereka tidak mengenainya padahal begitu cepat dan akurat.


Merasa ada yang aneh mereka pun melompat ke Belakang.


“apa kalian menyerah?” ujar Daca dengan nafas terengah engah.


“Bisakah kau bertarung dengan serius, kamu tidak punya waktu lagi!” ujar badria yang menyadari bahwa daca menahan mereka.


“Kenapa harus buru buru.”


“Badria.” Ujar utria memberikan isyarat untuk meningkatkan kekuatannya.


Badria mengangguk. Mereka berdua samar samar mengeluarkan aura merah dari tubuhnya, aura itu bagaikan api merah menyala.


Dengan cepat mereka berlari menuju Daca, kecepatannya sunguh luar biasa, selain itu kekuatan yang di kandungnya lebih kuat lagi bahkan es yang mereka injak hancur.


Daca meperlihatkan ekspresi senang, dan bersiap siap menerima serangan mereka.


Saat mereka sudah di depan Daca, dengan kuat mereka mengayunkan pedangnya.


Daca menahan serangan mereka, membuat suara keras yang bahakan orang dari 100 m dari titik suara merasa gendang telinganya hancur.


Gelombang yang keluarkan menyebabkan gunung gunung es runtuh.


Mereka kembali melompat dan menyerang dengan cepat, bahkan lebih mengerikan dari yang tadi.


Setiap serangan yang mereka arahkan membuat daca kewalahan, tetapi tetap saja dia bisa mengatasinya, entah apa yang dia pikirkan seolah olah dia melawan sesuatu yang terlalu sering dia alami.


Beberapa menit serangan itu di lakukan membuat daca harus melompat ke belakang untuk menghindarinya.


Mereka menunjukan senyuman tipis di wajahnya.


Daca berdiri dengan di bantu pedangnya.


“di mana kesombonganmu yang tadi?” Ujar utria.


Daca tidak menjawab.


“kita harus cepat menyelesaikan nya.” Saran Badria.


Utria mengangguk lalu berlari menuju Daca.


Beberapa meter darinya gelombang energi yang begitu kuat keluar dari tubuh daca, gelombang itu sangat kuat bahkan es di sekitar terangkat dan hancur berkeping keping,


Mau tidak mau dua wanita gunung itu harus mundur beberapa meter.


“Mari kita selesaikan ini.” Ujar daca dengan tatapa tajam, seperti dewa kematian, pedang besar di tangannya memiliki retakan retakan merah darah dengan aura kematian yang mencekam.


Dengan kecepatan yang melebihi dua wanita gunung, Daca berlari ke arah mereka.