The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 23 surat



Dalam pikiran Daniel siapa yang ada di cermin itu? Yang pasti itu adalah roh jahat yang tersegel di sana, kenapa dia tidak mengetahuinya?


Di taruh bukunya di meja, kini rasa penasarannya ternyata benar mungkin roh itu lah yang membuat putrinya menjadi seperti itu, tapi itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat bahwa putrinya berada di situasi yang sulit dan itu menentukan masa depannya. Jika dia mengetahuinya mungkin saja kejadian itu bisa di hindarkan, namun semua itu sudah berlalu.


Daniel menyebarkan pandangannya menatap pintu keluar, seorang wanita berdiri dengan anggun tengah menatap Daniel, dia sangat cantik dan terlihat tegas.


Daniel memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, di depannya adalah orang yang dia kenal, istrinya, yang sudah meninggal, tapi mengapa dia berdiri di depannya, sungguh kejadian aneh! Oleh sebab itu Danel memejamkan matanya agar istrinya sudah tiada di sana.


Tidak ada lagi sosok itu membuat Daniel lega. “maaf.” Ucapnya entah kepada siapa.


Lalu dia tertidur.


Ke esokkan harinya dia melanjutkan lagi perjalanannya, setelah sarapan pagi di hutan.


Daniel terus berjalan melewati desa yang ramai dengan aktivitas warga, hingga lagi-lagi ada hutan yang memisahkan. Dia bertanya mengapa harus hutan lagi? Meskipun baginya itu sangat menguntungkan, namun seseorang pastinya akan menanyakan sesuatu yang aneh!


Daniel berlari dan melompat lompat, karena dahan-dahan pohon yang rindang dan banyak membuatnya dapat lebih cepat keluar dari hutan tersebut.


Kali ini buka desa ataupun sejenisnya yang menyambutnya, sebuah taman yang penuh dengan bunga seruni, persik, mawar, melati yang sedang bermekaran. Di tengah-tengah ada sebuah kolam yang tidak begitu besar, kolam itu memiliki air yang jernih bahkan dasarnya kelihatan dari atas dan tidak seperti kebanyakan kolam yang berisi lumpur, hanya ada batu kerikil warna-warni yang indah. Jika ada seseorang mengulurkan kepalnya memandang air itu terlihat jelas gelombang yang bersih, apalagi saat disinari matahari akan terlihat bercahaya.


Di permukaan ada tanaman-tanaman teratai yang menghiasinya, teratai itu berwarna ungu yang bersih. Tidak ada telur-telur keong yang menempel di batang batangnya. Daun-daunnya terlihat indah menghiasi kolam itu, kuntum-kuntum bunga teratai ada beberapa yang menjulang ke atas dengan eloknya, kuntum itu berwarna ungu dengan sari yang berwarna putih bersih.


Tidak ada Ikan, hanya ada kecebong dan sebuah pohon sakura yang tepat berada di tengah-tengah kolam itu, pohon itu besar dan berkeriput, menjulang tinggi, akar akarnya mencengkeram tinggi beberapa meter dari batang, dahan-dahannya membentuk kubah yang besar bagaikan payung, ranting-rantinya hampir menyentuh air karena berat menanggung bunga-bunga sakura yang bermekaran. Tidak ada kelopak-kelopak bunga sakura yang jatuh, karena pohon itu baru berbunga.


Daniel mendekatinya dan membasuh muka dengan lembut, segar, ya itu yang dirasakannya, betapa sejuknya saat pertama kali menyentuhnya, dari berbulan bulan dia tidak merasakannya. Dia lalu pergi meninggalkannya sambil menyebarkan padangan menatap taman itu. Mengapa orang-orang membangun sebuah taman di tengah hutan? Dan begitu bersih seakan di bersihkan setiap hari.


Daniel berlari melompat lompat dari satu pohon ke pohon lain dengan cepat. Tibanya dia di perbatasan hutan, sebuah Sungai besar mengalir deras di depannya, itu adalah sungai tiga aliran yang melewati kota Uttarian bagian barat, namun berbeda dengan di kota Uttarian, sungai itu tidak memiliki lembah. Aliran sungai itu begitu deras dan lebar, kedalaman sungai itu sangat dangkal, berbatuan menjadi dasarnya.


Daniel mengikuti pinggiran sungai itu, dia tahu bahwa pastinya ada desa dekat sungai, bagai semua kehidupan, air adalah salah satu syarat untuk hidup. Dia berlari dan melompat lompat dan ditemani Suara air sungai mengalir yang menciptakan nada samar-samar namun indah, dia juga samar-samar mendengar Sura istrinya saat dia hidup.


Sepanjang perjalanannya ternyata keputusannya salah; tidak ada kehidupan di sekitar sungai! Namun dia tetap mengikutinya, harapan masih menghiasi perasaannya, apalagi di depannya ada air terjun yang tinggi dengan dinding-dinding batu yang tinggi dan tidak ada jalan keluar, membuat Daniel yakin bahwa penyebabnya para penduduk tidak ada karena tidak ada jalan menuju ke bawah. Dia tidak melompat ataupun melanjutkan perjalanan, dia duduk di atas salah satu batu besar di pinggiran sungai lalu mengeluarkan kristal, betapa semangat terlihat di wajahnya saat kristal itu bereaksi membuatnya lega.


“akhirnya.” Gumamnya dengan Sura lega.


Di keluarkan bukunya lagi, tinggal beberapa halaman lagi yang belum dia baca.


****


Di malam hari aku keluar sebentar untuk mencari Wiwik dengan gulungan kecil yangku bawa. Tibanya di depan para penjaga mereka memandangiku dengan tatapan tajam, sebegitu kah diriku harus di pandang? Salah satu dari mereka berkata. “tuan putri jika ada yang lain yang anda inginkan, kami bisa membantu anda?”


“Tapi tuan putri.” Sanggahnya ingin menghentikanku, namun aku sudah menyiapkan jawaban yang kuat dan pastinya dia tidak akan bisa menjawab.


“apa kalian ingin menghentikanku begitu?.” Ucapku memojokkan mereka.


“Siapa kalian? Aku hanya ingin melihat langit malam, aku tidak akan ke mana mana.”


Mereka tidak membalas, mungkin pikiran mereka sedang kacau dari seranganku tadi, aku pun pergi tanpa ada yang menghentikan.


Tibanya aku di atas aku memanggil nama Wiwit beberapa kali, aku tahu mereka pasti akan mendengar, tapi mereka tidak akan curiga, karena tidak ada burung yang di latih seperti itu di sini.


Setelah memanggilnya aku pun terdiam menunggu sebentar. Angin malam yang ku rasakan melintasi kedua sisi bahuku dengan lembut, kelembutan itu tidak lebih seperti rancun yang mematikan, layaknya sebuah penyakit yang tumbuh perlahan-lahan lalu menyerang dengan brutalnya.


Wiwik tidak kunjung datang, aku pun memanggilnya sekali lagi lalu menunggunya, sesaat hendak memanggilnya lagi, dia pun terlihat mendekat, jika bukan karena cuaca yang cerah dan di penuhi bintang-bintang mungkin aku melihatnya.


Dia hinggap di atas tembok, di depanku, aku langsung mengelus-elusnya. Sudah lama aku tidak mengelusnya sepeti ini, lalu aku memandang sekitar, memastikan semuanya aman, dan mengikatkannya.


“Maaf, merepotkan.” Ujarku sambil mengelus-elusnya.


“Pergilah.” dia pun terbang menjauh, aku Hanya melambaikan tanganku dan pastinya dia tidak berbalik menatapku. Aku tersenyum memandanginya. Di hari aku mendapatkan surat, hatiku begitu bergembira sama ketika bersama ayah, rasa hampa itu tidak terasa lagi, mungkinkah ini rasanya jika memiliki teman?


Aku kembali menuju kamar dan langsung merebahkan tubuhku.


Satu bulan pun berlalu dia datang, aku pun menutupi tubuh Wiwit supaya surat itu tidak di lihat oleh pelayan.


Aku mengelus-elusnya dengan lembut, setelah puas aku pun menyuruhnya pergi dan memerintahkannya kembali nanti.


Malamnya dia kembali, segera aku ambil Surat itu dan membacanya.


Ayahku meninggal beberapa tahun lalu, aku sangat sedih, perasaan ku terpukul oleh sesuatu yang sungguh keras membuatku bersedih berhari-hari. Di dalam hatiku selalu bertanya-tanya mengapa mereka melakukan itu ? Dan berusaha bisa menemukan jawaban nya, namun aku tidak bisa, aku terlalu lemah. Sungguh menyakitkan ya jika kehilangan seseorang, apalagi seseorang itu orang terdekat kita, hanya ada satu di dunia ini.


Aku hanya duduk termenung, selalu bertanya tanya mengapa? hingga ibuku mendampingiku dan memberikan solusi nya kepadaku, itu membuatku menjadi mengerti bahwa ayahku memang sudah di takdirkan untuk meninggalkan kami berdua, itu adalah takdir yang tidak mungkin bisa di rubah; kematian akan selalu menghampiri makhluk hidup.


Sayang sekali ya jika kau tidak heran, tapi aku tidak akan menjawab pertanyaanmu, katanya tidak heran.


Kau tidak akan mengerti jika tidak mengunjungi desa kami. Ngomong-ngomong kau tinggal di mana? Apakah di istana, harem, atau yang lainnya.


Memang jika kau melihatnya mungkin akan jatuh cinta kepada desa kami, tapi ingatlah yang terlihat indah tidak pasti Indah.