
Ibu Nandong duduk di samping Daniel. “ aku akan membunuhmu.”
Meskipun dia sebenarnya mulai menyukai Daniel, tetapi demi membalaskan dendam ibu dan ayahnya dia harus melakukan itu.
Daniel memalingkan wajahnya. “ Tunggu sampai aku menyelesaikan sesuatu yang sangat penting bagiku.”
“ Bagaimana jika kau melarikan diri?”
“ Aku seorang jendral tidak akan melarikan diri, percayalah.” Ujar Daniel meyakininya
“ Aku tidak percaya. Meskipun kau seorang jenderal.”
Saat mendengarnya, dia sedikit kesal, perempuan di sampingnya ini benar-benar terlalu berhati-hati
“ Apa yang harus aku lakukan.”
“potong satu tanganmu.” Ucap ibu nandong dengan serius.
Daniel agak sedikit terkejut akan hal itu, dengan cepat dia berkata, “Tidak bisa, aku Sangat membutuhkannya sekarang.”
“ baiklah kau bisa membawa anak-anak itu dan mencarikan yang orang tua yang layak.”
Ini mungkin keputusan yang paling baik untuk saat ini
“ baik.”
“Ibu.” Ujar Nandong dan Nani yang mendengar percakapan mereka. “ apa ibu tidak sayang dengan kami.” Ucap mereka yang sudah memeluk ibu nandong dengan erat.
“ ibu sangat sayang, tetapi ibu tidak bisa menjaga kalian dengan baik, ibu harap kalian bisa mendapatkan kehidupan yang layak.” Ucap ibu nandong sambil memeluk mereka berduaan.
“ tapi Bu, aku ingin selalu bersama ibu.” Ujar Nani Sambil menangis. Ibu nandong mengelus-elusnya berharap akan menenangkannya.
“ benar, aku juga tidak ingin pergi.” Seru nandong.
“ kalian sudah besar, kalian akan mendapatkan sesuatu yang baru, apa kalian ingin mempunyai orang tua yang baru?”
Mereka masih menangis. Beberapa tahun mereka bersamanya, dan mereka sudah menganggap ibu nandong sebagai ibu mereka yang baru. Oleh karena itu, membuat mereka enggan berpisah dengannya.
“ Apa kalian ingin membuat ibu bahagia.”
Mereka mengangguk.
“ jadi kalian harus mengikuti tuan Daniel ya.”
Mereka mengangguk lagi.
Setelah percakapan itu ibu nandong melambaikan tangannya dengan lembut sambil tersenyum. Dia memandang kepergian anaknya hingga tidak terlihat, lalu berbalik, dia merasakan kepalanya pusing dan tidak sadarkan diri.
...****...
Satu bulan sudah berlalu namun Daniel masih belum menemukan Seseorang yang di carinya, membuatnya kesal, apalagi anak-anak yang di bawanya entah menghilang ke mana dan menambah bebannya sekarang. Dia Harus mencari anak-anak itu.
Dia menarik nafas panjang, suara-suara bising terus mengusik telinganya. Dia sekarang sungguh tidak nyaman dengan situasi ini, jika bukan karena dia harus mencari anak-anak itu mungkin saja dia sudah pergi dari sana.
Dia mendekati seseorang paru baya. “ permisi tuan.”
“ Apa Anda melihat anak-anak yang satu perempuan dan satunya lagi laki-laki?”
“ tidak.” Jawab pria itu dengan cepat dan tidak memberikan Daniel waktu.
Dia melanjutkan pencarinya lagi hingga matahari sudah di atas, dan memutuskan untuk beristirahat tidak jauh dari pasar itu.
Di bawah pohon yang tidak terlalu besar namun cukup untuk beber istirahat. meskipun agak sedikit panas dia duduk dengan melengkungkan badanya ke belakang, kedua tangannya di gunakan untuk menopang tubuhnya
Di dalam pikirannya sungguh kacau, dia tidak bisa berpikir jernih, merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata berharap saat bangun anak-anak itu sudah di sampingnya, mungkin ini adalah pikiran yang naif, tetapi apa yang bisa dia lakukan, jika dia melanjutkan dia mungkin akan sangat kelelahan dan hasilnya sangat tidak menentu, jika beristirahat sebentar tidak ada salahnya juga.
Dia sekarang berada di kota batu bara yang merupakan ibu kota kekaisaran barat.
Kota ini di penuhi bangunan yang terbuat dari batu bata tersebar di sekitaran ibukota, namun jumlahnya masih sedikit.
Suasana kota ini begitu ramai. Meskipun bangunan-bangunan tidak banyak, tetapi karena sebagian besar di jadikan tambang dan lahan kosong membuat udara di sekitar semakin panas. Hujan hanya akan terjadi 2 kali dalam setahun, membuat kota ini kering dan kekurangan air.
Kota ini memiliki tambang batu bara yang luas dan memiliki wilayah yang lumayan besar. Mayoritas penduduk memilih menjadi penambang batu bara dan pedagang.
Setiap jam mereka akan pergi menyalurkan batu bara ke kekaisaran daerah lain kecuali kekaisaran Utattarian.
Dari tempat Daniel terlihat jelas istana kekaisaran yang besar di kelilingi bangun penduduk
“Bangun... Bangun... Bangun anak muda.” Ujar dari seorang kakek yang menggoyangkan bahu Daniel.
Daniel perlahan lahan mulai sadar dan memperbaiki posisinya.
“ Anak muda kenapa kau tiduran di sini?” Tanya langsung tanpa menunggu Daniel.
Seorang kakek tua memakai jubah hitam dengan tumbuh yang kurus dan jenggot putih panjang membuatnya tampak bijaksana.
“ Aku, kelelahan.” Jawab Daniel yang masih mengantuk.
Kakek itu tertawa kecil. “ kau bisa mencari tempat istirahat,”
“tidak baik istirahat di pinggir jalan seperti ini, kau bisa di rampok.”
Mata Daniel dengan cepat berubah dan memeriksa barang-barangnya. Dia menarik nafas lega, syukur barangnya tidak ada yang hilang kemudian mengangkat kepalnya memandang kakek itu. “ maaf,” ucapnya karena sudah mengacuhkannya.
Kakek itu menarik nafas panjang dan duduk di samping Daniel. “ sama-sama, apa yang membuatmu sampai tidur di sisi jalan?” tanya sambil memandang Daniel.
“Aku sebelumnya mencari anak-anak yang satu perempuan dan satu lagi laki-laki, apa kakek melihatnya?” Wajah Daniel pucat.
Kakek itu kembali tertawa kecil. “ aku tidak melihatnya, aku datang dari luar.”
“Eh, maaf, aku tidak mengetahuinya.” Rasa Canggu terlihat di wajah Daniel.
“ Tidak apa-apa, baiklah kakek pergi dulu.” Ujarnya lalu bergegas pergi, sudah beberapa meter berjalan dia berhenti. “ semoga kau menemukannya.” Ujarnya Tanpa berbalik dan melanjutkan perjalanan.
“ semoga saja.” Ucapnya pelan.
Dia menarik nafas lagi dan bergegas pergi mencari di dekat ibu kota. Meskipun sangat berbahaya, dia harus melakukannya, kali ini dia akan melakukannya sekuat tenaga yang dia punya, tidak akan menyia-nyiakan sekalipun kesempatan, baginya ini adalah solusi masalah yang dia timbulkan pada masa lalu, tetapi yang membuatnya bingung kenapa semua orang bersamanya pergi!
Dia menelusuri daerah pinggiran kota, menanyakan setiap orang yang dia temui, tetapi mereka semua memberikan jawaban yang tidak masuk akal atau hanya bilang tidak tahu, membuat Daniel sedikit kecewa, tetapi apa daya, dia hanya bisa melakukan itu untuk sekarang.
Sambil mencari, dia juga memeriksa setiap tempat yang dia kunjung untuk mencari seseorang itu.
Berhari-hari mencarinya namun dia tidak menemukannya. Di dalam pikirannya dia sungguh kacau, marah dan kesal, dia juga memarahi dirinya sendiri.
“ apa yang harus aku lakukan.” Gumanya sambil berjalan keliling dan menyebarkan pandangannya.
Orang-orang lalu lalang saling berpapasan dengannya, namun mereka seperti tidak melihat Daniel, apakah ini suatu kebetulan?
Kejadian ini sungguh aneh baginya, biasanya orang-orang akan melihatnya dengan tatapan heran, tetapi orang-orang di sini seolah-olah bertindak seperti bisa.
Daniel terus melakukan perjalanan sambil menanyakan kepada setiap orang yang tidak kelihatan sibuk.
“ Tua apa kau melihat anak-anak?”
Tuan itu menggelengkan kepalanya.
Dia melanjutkan lagi.
“ Tua apa kamu melihat anak perempuan bersama anak laki-laki?”
“ aku tidak melihatnya.”
Daniel menarik nafas panjang lalu melanjutkannya lagi.
Matahari mulai terbenam namun dia juga belum menemukannya. Sambil mencari, dia memutuskan untuk mengunjungi penginapan dan menanyakan orang-orang yang ada di sana.
1 jam pun berlalu Daniel sudah berada di depan penginapan. Penginapan itu tidak terlalu tinggi dan memiliki 2 lantai, cukup untuk beristirahat.
Daniel menebarkan pandangannya melihat teras yang sepi. Dia berjalan masuk.
“ apa kamu melihat anak-anak kecil yang berpakaian compang-camping?” tanya Daniel kepada pegawai penginapan.
“ Tidak tuan.” Ucapnya ramah.
Daniel lalu keluar dan tidak melihat apa pun di dalam dan juga tidak memesan kamar, dia memutuskan untuk tidur di luar, bukan karena dia ingin, tetapi dia tidak mempunyai uang.
“Kenapa semua orang mengatakan tidak?” gumanya sambil berjalan mencari tempat beristirahat. Dia sedikit heran bukankah setiap kota pastinya ada anak-anak, tetapi mengapa setiap orang yang dia tanyai tidak ada yang melihat dan juga dia belum melihat satu anak pun, aneh.