The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 10 Masa lalu membunuh seseorang



Di sebuah puncak gunung yang tidak jauh dari tempat daca bertarung, istrinya berdiri dengan anggun, mengeluarkan seruling panjang yang tidak begitu besar, dia meniupnya dengan lembut sambil menunggu tudria datang.


“apa kau ingin menghiburku?” Tanya tudri dengan dingin berdiri di bukit yang satunya lagi.


Pelan pelan istri Daca membuka mata dan menghentikan pertunjukannya.


“bukan, aku ingin kamu melihat drama ini.” Setelah mengatakan itu, awan menjadi gelap lebih gelap dan bahakan lebih gelap dari malam yang gelap, membuat tudria merasa ketakutan dan bingung.


1 detik berlangsung kemudian cahaya putih mulai terpancar dengan sangat kuat, membuat badria tidak bisa melihatnya, kemudian cahaya itu menghilang di gantikan dengan sebuah pemandangan yang sangat dia kenali.


Tapi mengapa dia berada di sana, bukankah dia akan mulai bertarung?


Dia merasakan dinginnya bukit dan sejuknya angin berhembus, dia berpikir mungkin ini adalah ilusi atau sejenisnya.


Ada sebuah rumah di atas bukit yang di kelilingin pepohonan yang rindang. di halam rumah itu ada sebuah pohon yang sangat tua dengan tempat duduk di bawahnya.


Seorang gadis berusia 6 tahun tengah duduk di atasnya, kakinya dia ayunkan saling berpapasan. sorot matanya memandang ke bawah, melihat pepohonan di bawah bukit. dia terlihat sangat bersedih.


Wajah gadis itu bisa di golongkan cantik dengan rambut panjang yang lebat dan poni di keningnya yang sangat serasi.


Gadis itu memakai gaun merah yang tidak begitu panjang.


Tudria tidak jauh berdiri dari gadis itu menyebarkan pandangan melihat adegan itu dengan sedih. itu adalah adegan, saat dirinya masih kecil menunggu ayah dan ibunya tidak pernah menjemputnya lagi setelah beberapa bulan mereka ditinggalkan di sana bersama seorang pria paru baya yang dia benci.


Istri Daca tidak ada di sana seolah olah menghilang.


Perlahan lahan kaki gadis melambat dan berhenti, matanya meredup, setetes air mata mengalir lalu jatuh di gaunnya yang indah.


Tudria sangat mengenal adegan ini.


Di susul air mata yang lainnya, semakin membasahi pipi yang lembut, dia menunduk menangis tersedu sedu.


“ayah, ibu, kenapa kalian meninggalkanku?” Ucapnya dengan lirih.


Wajah tudria menjadi mendung lalu menurunkan wajahnya sedikit, ingatan tetang itu kembali tergambar di dalam pikirannya, sebuah ingatan yang tidak ingin dia ingat dan muncul di dalam kehidupannya.


Tudria mendongak memandang gadis itu.


Kini wajahnya terlihat dingin. “Kau adalah masa lalu.” Ujarnya dengan dingin.


Gadis itu menghilang bersamaan dengan semua yang ada di sekitarnya, semuanya menjadi gelap lagi, tidak beberapa lama terdengar Suara tangisan anak kecil, kembali Semuanya berubah.


Tudria sekarang berada di dalam pondok yang semuanya terbuat dari kayu. tidak jauh darinya tudria kecil duduk di sudut ruangan memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya.


Tudria merasa hatinya sesak, terasa ada yang menganjal entah apa, ingatannya tentang orang tua itu, mengurungnya di dalam sendiri membuatnya sedih, namun kenapa dia tidak membantunya?


Tudria melangkah kan kakinya satu langkah dan terhenti lalu mengembalikannya. “ini hanya ilusi.” Gumamnya meyakini bahwa ini bukan sesungguhnya.


Namum adegan itu tidak ada yang berubah, dia tetap mendengar tangisan itu, dan lebih menyakitkan untuk di dengarnya, lagi lagi ingatan penyiksaan itu tergambar, membuatnya marah.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dengan kasar membuat dirinya dan tudria kecil terkejut, seorang pria paru baya datang, dia memiliki tubuh yang gagah dan wajahnya terlihat begitu marah.


Pria itu berjalan medekati tudria kecil yang terlihat ketakutan.


“apa kau tidak bisa diam!!” ujanya dengan keras membuat tudria kecil terkejut..


Tanpa tudria sadari dia menusuk jantung orang itu dari belakang, dia sungguh tidak ingin melihat adegan ini lagi.


Saat menusuknya, semua yang ada di sekitarnya pecah bagaikan sebuah kaca yang hancur, semuanya menjadi gelap.


“tudria.... Tudria.... Tidria....” Suara lembut dan menggema dari seorang perempuan.


Tudria merasa kebingungan mencari cari arah suara itu, tidak beberapa lama cahaya putih yang kuat bersinar membuat tudria tidak dapat melihat apa apa.


Saat dia membuka matanya, Seorang wanita paru baya tengah menuju dirinya. “ternyata kau di sana.” Ujarnya tersenyum memeperlihat sebagian giginya.


“ibu.” Ujar tudria.


Wanita itu mendekatinya dan kemudian melentangkan tangannya. “tudria mari.” Ujarnya lembut.


Saat tudria hendak berlari, seseorang gadis menembus tubunya dengan tertawa rianganya dia mendekati wanita itu.


Wanita itu mengajaknya lalu memutarnya membuat gadis itu tertawa riang.


“ibu.” Ujar tudria sambil melihat kenangannya yang begitu indah.


“ibu.” Ucapnya lagi, dia sungguh merindukan kehangatan tangan ibunya dan ingin sekali mendengar suara ibunya yang lembut itu.


Kemudian semuanya menjadi putih bersih, seberapa jauh pun memandang tidak ada yang akan terlihat.


Suara tawa wanita yang bergema dan memenuhi ruangan terdengar.


Tudria mencari cari sumber suara itu, namun dia tidak menemukanya.


Istri Daca samar samar mucul tepat di depan wajahnya, membuatnya terkejut. “apa kau menikmatinya?”


“drama yang bagus.” Ujar tudria dengan dingin.


Dengan cepat menebaskan pedang mengarah tepat di wajah istri daca, namun tepat menebasnya semuanya lagi lagi retak dan hancur.


Tudria terjatuh ke sebuah kawah yang panas, dia dapat merasakan betapa panas suhunya, dengan cepat dia berbalik.


Larva di bawahnya menggelembung gelembung mengeluarakan udara panas yang begitu panas, membuatnya takut. di dalam pikirannya dia bertanya tanya bukankah ini ilusi? Tapi kenapa begitu nyata.


Dia tidak memusingkannya, baginya mungkin ini adalah takdir, sesungguhnya di dalam hatinya dia sudah mati, tiada perasan gembira yang muncul di dalamnya, dia mati saat ayah dan ibunya meninggalkanya sendirian.


Perlahan lahan dia menutup matanya, bersiap untuk mati, namun saat bersentuhan dengan larva itu bukan panas yang dia rasakan, tapi sejuk air pegunungan. saat membuka matanya, dia melihat ikan ikan menari nari mengelilinginya. perlahan lahan dia menuju dasar laut. semakin ke bawah semakin menghitam dan menghitam. dia sudah tidak heran lagi, entah apa yang muncul dia sudah tidak mempedulikanya lagi.


Kemudian dia merasakan angin yang begitu keras menerpanya, dia terjun dari atas yang begitu tinggi, dia bisa melihat awan awan yang ada.


Semakin ke bawah, dia semakin merasakan terpaan angin yang begitu kuat.


Saat dia mendarat, di depanya istri daca bediri dengan seruling di tangannya.


“Apakah pertunjukannya sudah selesai?” ujar tudria.


Istri Daca tersenyum, tidak ada tanda tanda dia kecewa ataupun sedih, membuat tudria heran apa tujuannya menampilkan semua itu?


“Belum, tapi baru di mulai.” Ujarnya dam mulai memainkan seruling di tangannya.


Tudria dengan cepat berlari mengarahnya. saat mengayunkan pedangnya, tiba tiba saja seseorang perempuan menahan serangannya.


Tudria membesarkan matanya, tidak percaya apa yang di lihatnya. “ibu.”


Dia adalah ibu tudria memperlihatkan senyuman manisnya. “nak, apa kau ingin membunuh ibumu?” ucapnya dengan lembut.


...🌸🌸🌸🌸...


Daniel dan treya sudah berada di depan bagunan sudah tertimbun salju di atapnya.


Danel melankah mendekati dan di ikuti treya di belakanya, dengan mata yang bercahaya dan kekaguman dalam perasaan treya memandan bangunan.


“apakah di sini kau mengurungnya?” tanya treya yang ingin memastikannya.


“ya.” Jawabnya singkat.


Ketika berada di depan pintu danel, merogoh sesutu dari dalam jubah hitamnya, seikat bunga sruni dia keluarkan, entah dari mana dan juga bunga itu terlihat begitu segar, dia memberikannya kepada treya.


Saat menerimanya treya sedikit merasa aneh.


“Berikan kepada putriku.” Ucap danel datar.


Treya menjadi malu, dia tahu apa namanya jika seseorang pria memberikan bunga kepada seorang wanita, treya memikirkan bagaimana caranya mejelaskan saat memberikanya.


Danel berbalik tidak menghiraukan ekspresi wajah treya kemudian mengulurkan tangannya, sebuah lingkaran sihir terbentuk kemudian dia memutarnya.


Rantai yang menyilang menghilang seolah rantai itu tidak ada sebelumnya dan pintu terbuka.


Danel terkejut dia merasakan sesuatu yang aneh sedang mengawasinya, dengan cepat dia melempar treya ke dalam, walapun belum sepenuhnya terbuka, tapi cukup untuk melempar treya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat treya marah namun saat hendak memarahinya pintu di depnya tertutup dengan sangat cepat.


Danel hendak berlari namun dia terlambat, sebuah sangkar muncul mengrungnya dan naik ke atas, tidak ada penarik ataupun semacamnya dari atas.


“Kau terlalu berhati hati.” Ucap dari seorang pria yang perlahan lahan muncul di bawahnya.


“lama tidak berjumpa, baraddaka.” Ujar danel yang sedikit sombong.


Baradaka sudah muncul sepenuhnya dengan kapak di tangannya, kapak itu melebihi ukuran normal atau sebelumnya.