The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 11 penyelamatan



Di dalam treya masih merasa kesakitan. di sekujur tubuhnya, perlahan lahan dia bangkit memandang sekitar lalu mengambil bunga yang tidak jauh terhempas darinya, untung saja tidak rusak, betapa malang nasib bunga itu.


Sebuah jalan papan begitu panjang terhapar di depannya. di setiap sisinya ada pilar pilar kayu merah, masing masing memiliki jarak beberapa meter dari yang lainya dengan ujung yang tidak kelihatan karena di tutupi kabut. meskipun berada di dalam dan pintu tertutup tidak ada kegelapan yang terlihat, semuanya terlihat begitu jelas, namun ada beberapa tempat yang tertutup kabut.


Di dalam pikiran treya, sungguh ingin mengungkapkan kemarahannya, namun setelah melihat sesuatu yang ada di depannya, dia melupakannya.


Dia berjalan perlahan lahan sambil menebarkan pandangannya segala sisi yang menarik perhatiannya.


Beberapa detik hingga dia tiba di depan kabut putih yang tebal, membuatnya sedikit takut. Dia lalu menarik nafas panjang, menutup mata kemudian berjalan.


Seketika semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat di definisikan, yang terlihat langit biru dengan lantai yang dapat memantulkan segalan sesuatu.


Treya yang sudah membuka matanya merasa heran dan kagum, baru pertama kalinya dia mengunjungi tempat seperti ini, tetapi dia bertanya tanya bagaimana bisa ada tempat yang luas bagaikan benua di dalam sebuah bangunan? Treya mengabaikannya.


Sesaat memandang sekitar, dari kejauhan dia melihat seseorang yang sepertinya terikat dari rantai yang menyilang.


Treya berjalan mendekatinya, semakin dekat, dia dapat melihat orang itu adalah perempuan dengan gaun putih, semakin dekat, itu seorang gadis dengan kedua tangan dan kakinya di rantai dua menanjab ke bawah. di rantai duanya lagi entah kemana menancap, wajah gadis itu tidak kelihatan, dia menunduk, rambut putihnya jatuh ke depan.


Treya memandangnya, apakah dia kamaniya? Pikirnya.


Treya mendekatinya lagi, saat jaraknya 10 meter dari kamaniya, beberapa tentakel menyerangnya dengan sangat cepat. tentakel itu memiliki ukurang yang besar setara dengan tubuh orang dewasa. treya terkejut dan untung saja dia dapat menghindarinya, walapun nyaris mengenainya.


Setelah melakukan serangan, tentakel itu mundur.


“Bocah, apa kau bisa melepaskan aku?” Ujar kamaninya lalu menganggkat wajahnya. dapat treya lihat wajahnya begitu jahat dari sela sela rambutnya, dia juga kebingungan bagaimana cara menyelamatkannya.


“aku tidak bisa.” Jawab treya, dia sunggu tidak mengetahuinya, dia berpikir akan mengetahuinya seiring waktu berjalan.


“matilah!” ujar kamaniya di susul dengan tentakel yang lebih banyak muncul lalu mengarah posisi treya.


Treya dengan cepat mengeluarkan pedang dan juga mengalirkan energi alam yang dia miliki.


Bunga di pindahkan ke tangan kiri. meskipun akan sedikit sulit, dia tetap melakukannya, dia yakin pasti ada manfaatnya.


Tentakel itu bergerak menyerang, dengan cepat treya menghindar. dia bergerak menghindari segala serangannya yang datang dan juga sesekali menebang tentakel itu, namun tentakel itu begitu keras membuat treya kesulitan.


Tentakel itu bergerak dengan cepat, jika saja kamaniya tidak terikat oleh segel, tentakel itu akan bergerak lebih cepat dan tentunya treya tidak dapat mengimbanginya.


Beberapa saat treya terus menghindar dan menyerang, dia mengetahui jika terus seperti itu akan membuatnya kalah secara perlahan, sehingga dia berpikir keras.


Hingga beberapa saat dia memutuskan untuk mendekatinya jika bisa memeluknya dia pastinya tidak akan membunuhnya, mungkin itu adalah pilihan yang memalukan dan juga mungkin akan di hina, namun tindakan itu saat ini yang memungkinkan setelah memikirkan kecepatan tentakel itu yang sulit di hentikan secara mendadak.


Treya terus menghindar dan jika ada kesempatan dia akan berlari mendekat, melalui punggung tentakel serta melalui bawah.


Tentakel tentakel terus tumbuh lebih banyak dan menyerangnya dengan berutal membuatnya lebih sulit mendekat.


Kamaniya yang tidak jauh, tersenyum jahat melihat treya yang kelihatan begitu kesulitan melewatinya.


Treya terus berusaha. ketika ada satu tentakel yang menyerangnya dengan cepat dia melompat dan berlari di atasnya. di belakang, beberapa tentakel terus mengikutinya.


Tentakel yang dia pijaki adalah tentakel terakhir yang di keluarkan kamaninya, mungkin dia sudah kehabisan energi.


Melihat treya terus mendekat membuat ekspresi kamaniya menjadi buruk, sesaat sebelumya dia sungguh percaya diri bahwa dia bisa membunuhnya dengan mudah, tapi melihat dia berlari mendekat membuatnya marah.


Seketika treya melompat dengan merentakan tangannya yang memegang seikat bunga dan pedang.


Kamaniya seketika menghentikan serangannya secara medadak dan tentu treya berhasil memeluknya, meskipun itu memang sangat memalukan, tetapi itu berhasil.


Treya sekarang dapat memandang wajah kamaninya dengan dekat, walaupun dia malu, wajanya cantik.


Mata Kamaniya terlihat bengong seolah olah ada sesuatu yang penting, membuat treya heran. Dan seketikan semuanya berubah, sekarang treya berada di suatu tempat yang di penuhi warna putih bagaikan surga. beberapa meter darinya kamaniya berdiri, tersenyum ramah kepadanya, membuat treya sedikit malu, melakukan sesuatu yang tidak perlu.


Kamaniya mendekatinya, tentu membuat treya tambah malu.


“terima kasih.” Ucap lembut kaminiya yang sudah berada di depannya.


“Tolong, katakan kepada ayahku, aku sudah tidak ingin kembali.” ucap kamaniya lembut.


Treya terkejut dengannya, dia tidak menyangka kamaniya memilih untuk pergi, meninggalkan ayahnya.


Dengan ragu ragu dia memegang tangannya, tidak membiarkannya pergi, ini adalah pertama kalinya dia memegang tangan seorang wanita, ternyata begitu lembut.


Kamaniya menoleh.


“A–aku kesini untuk menolongmu.” Ucap treya malu.


Kamaniya tersenyum. “kamu tidak perlu menolongku.”


Treya lebih terkejut, kamaniya melanjutkan, “aku sudah hidup damai di sini.”


Perlahan lahan kamaniya berjalan menjauh dan tangan treya perlahan lahan melepaskannya, treya masih bingung dengan semua yang terjadi dan entah apa yang akan dia lakukan sekarang.


Saat kamaniya menjauh dan mulai tidak terlihat, treya berteriak, “apa kau akan selamanya hidup di dalam mimpi ini!!” Entah mengapa dia begitu.


Kamaniya terkejut lalu menoleh. “lebih baik seperti ini.” Ucapnya lembut.


Treya berlari dan menggenggam tangannya, seolah tidak membiarkan kamaniya pergi. “aku kesini untuk menolongmu.” Ucapnya lembut.


“itu hanya kenyamanan palsu.” Ujar treya


“Aku tahu, tapi ini yang–”


“Apa kau ingin ayahmu menderita?” Potong treya.


Kamaniya menunduk sedikit dengan wajah mendung dia menggeleng kecil.


“jika begitu kembalilah.”


Kamaniya mengangkat wajahnya. “aku tidak bisa.”


Treya mengangkat alisnya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “mengapa?”


“aku tidak ingin kembali dan juga ayahku sudah mengetahuinya, dia tidak mungkin akan bersedih.”


“Niya, jika memang ayahmu tidak bersedih, dia tidak mungkin mencariku untuk menyelamatkan mu.”


Mendengar panggilan treya membuat kamaniya heran, siapakah dia?


“aku tidak bisa.” Perlahan lahan kamaniya berjalan menjauh.


Treya hanya mematung membiarkannya pergi, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk berteriak. “musim gugur adalah awal untuk sesuatu yang baru!” Suaranya begitu keras dan bergema membuat kamaniya memandangnya lagi.


“kau pernah menulis, musim gugur adalah lahirmu, aku pernah membacanya, satu hal yang kau lupakan semua musim pastinya memiliki umur dan tidak selamanya begitu.”


Wajah kamaniya yang lembut menjadi sedikit tertegun, “kamu benar, tapi aku sudah lama menunggunya, tapi itu tidak kunjung datang menghampiriku.” Dia lalu berbalik dan berjalan lagi.


Treya merasa semuanya yang dia lakukan tidak mempan dan bingung apa yang harus dia lakukan, dia berlari mengejar kamaninya yang terus berjalan menjauh.


Kamniya mengetahui bahwa treya mengejar, tetapi dia tidak menghiraukannya.


Beberapa meter dari kamaniya dia dikejutkan asap hitam yang muncul dari bawah, dengan cepat sosok wanita yang sedikit mirib dengan kamaninya muncul di depannya, bedanya dia memiliki rambut hitam, memaki gaun hitam serta wajahnya terlihat begitu jahat.


“bocah matilah.” Setelah mengatakan itu rerumpunan tentakel mengitarinya.


Treya sungguh marah, hingga dia menekan giginya, dengan cepat dia mengeluarkan pedang dan bertarung dengan tentakel itu,


Kamaniya yang menyadarinya berbalik memandang treya yang sedang bertarung dengan tentakel itu tanpa ekspresi.


“kau bisa tidur kembali.” ujar sosok mirib kamaniya tanpa menoleh.


Kamaniya tidak menghiraukannya.


Beberapa menit pertarungan itu berlangsung. karena kecepatan tentakel itu menyerang dan juga begitu banyak membuat treya terkurung oleh tentakel tentakel itu, sepertinya sosok itu ingin membunuhnya secara perlahan lahan.


Sosok itu menoleh memandang kamaninya. “apa kau ingin membunuhnya?”


Kaminiya tidak menjawab, tapi dia mendekati treya.


Treya yang terkurung berusaha melepaskan diri.


“Terima kasih.” Ucap kamaniya lembut lalu di tangannya muncul seikat bunga yang di bawa treya tadi, itu membuat treya heran bagaimana bisa bunga itu ada padanya.


Lalu dia menaruh bunga itu di dekat treya hendak pergi namun treya menggenggam kakinya dengan erat, tidak mau melepaskannya.


“Apa yang kamu lakukan?” Ucap kamaniya lembut sambil menoleh.


“Beberapa saat aku mengingat seseorang, yang pernah menjadi temanku. dia ingin sekali pergi ke desa dan menikmati pemandangan nya dan dia sunguh banyak bertanya dan itu kau.” Kamniya terkejut lalu menunduk seolah olah dia bersalah.


Treya melanjutkan. “kupikir kau orang yang selalu ingin berusaha dan mencari solusi setiap masalah yang di hadapi, ternyata kau begitu lemah dan mudah menyerah.”


“kamu tidak mengerti apa yang aku alami. sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dan juga ayahku membenciku dan yang paling menyakitkan dari semuanya, ayahku, ayah kandungku menganggapku sebagai alat, benda yan bernilai tinggi!”


“kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya tidak ada orang yang menganggap tidak bernilai!”


“aku mengerti, tapi kamu berpikir terlalu sempit.”


Kamaniya terkejut dengannya.


“Tidak ada yang baru, tidak ada sesuatu yang lama, semuanya akan terjadi dan mulai serta akan berakhir. apa kau pernah pikirkan bukan kamu saja yang mengalaminya? ada seseorang yang lain mungkin lebih parah darimu. kau beruntung memiliki ayamu sekarang dan juga bibi yu yang selalu mendampingimu saat kecil. mungkin saja ada orang lain yang lebih parah dari ini yang tidak memilikinya.”


Kamaniya lebih terkejut dan menangis seolah olah dia tidak punya tenaga lagi akhirnya bersimpuh dan menangis dengan keras dan untung saja treya dengan cepat menarik tangannya.


Dia menangis begitu keras dengan wajah ke bawah dan di tutupi oleh kedua tangannya.


Treya merasa bersalah telah mengatakannya, namun dia tidak punya pilihan lain lagi.


“sekarang aku harus mencari yang lain.” Gumam sosok hitam kemudian perlahan lahan menghilang lalu di susul dengan tentakel tentakel itu.


“Ayo kita kembali.” Ucap treya lembut sambil mengulurkan tangannya.


Namun kamaniya masih menangis. hingga beberapa saat dia pun memandang treya dengan senyuman terbaiknya, meskipun masih terlihat matanya merah, dia tetap cantik.


Kamaniya perlahan lahan menggenggam tangannya.