
Tuan putri.” Ucap dari seorang pelayan dengan makanan di depannya.
“Tuan putri ini makanan anda.” Ucapnya dengan lembut, lalu aku berdiri dan mengambilnya, “terima kasih.” Ucapku dengan senyuman sebaik yang aku bisa.
“Tidak tuan putri ini sudah kewajiban saya.” Balasnya.
“aku tahu, tapi aku ingin berterima kasih kepadamu.” Tungkasku.
Ia tersenyum. “anda memang sopan.” Jawabnya. “baiklah saya pergi dulu.” Sambungnya.
Aku mengangguk lalu dia menjauh dan menghilang lalu aku kembali masuk ke dalam kamar dan melakukan acara makanku.
Setelah itu aku membaca buku, lagi -agi layar itu menggangguku, tapi lebih rendah, jadi setelah satu jam layar itu menghilang dan aku dapat fokus membaca buku Tanpa hambatan. Di sore hari aku mengunci pintu untuk berjaga-jaga apakah mereka akan kembali atau tidak, kali ini aku menguncinya dengan berbagi barang yang ada di kamarku, membutuhkan sedikit waktu.
Dan aku merasa kelelahan setelah melakukannya lalu ku jatuhkan diriku dengan kasar, dan memejamkan mata sebentar beristirahat.
Malamnya aku bangun. Tidak ada tanda-tanda mereka masuk; semuanya masih di tempat dalam keadaan baik. Hatiku lega mereka tidak datang, ku bersihkan semua itu dengan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan Suara, kemudian mandi, membersihkan Semua keringat yang menempel, baru kali ini aku merasa sungguh lelah.
Setelah mandi, buku pun aku buka lagi sambil menunggu pelayan datang membawa makanan malam. Jika hidupku baik-baik saja mungkin aku akan keluar makan bersama yang lainya, bagaimana perasaan mereka bisa makan bersama ya? Setelah beberapa menit terdengar Suara ketukan pintu dari luar .
“Tuan putri.” Ucap dari seseorang wanita di balik pintu, suaranya sedikit terbenam oleh pintu yang menghalangi.
Ku bukan pintu dengan perlahan dan lagi-lagi pelayan wanita itu tersenyum rama dengan ku, aku pun membalasnya.
“Tuan putri ini makanan malamnya.” Ujarnya,
“terima kasih.” Ucapku saat makanan itu sudah ku pegang.
“sama-sama, tuan putri aku pergi dulu.” Ucapnya.
Aku mengangguk mempersilahkan dan dia pun beranjak pergi.
Lorong-lorong istana terlihat beberapa cahaya-cahaya kuning yang menghias, cahaya itu berasal dari lilin-lilin yang di pasangkan di setiap kayu-kayu di sampingnya, di taman juga ada beberapa yang memasang pencahayaan.
Aku masuk ke dalam memulai acara makan malamku lalu mengembalikannya. Saat aku hendak tidur, terdengar lagi Suara ketukan pintu yang keras, itu mungkin bukan pelayan istana karena aku sudah makan malam dan juga itu bukan saudara-saudaraku, mereka selalu masuk tanpa permisi.
Aku langsung membukanya, wajah seorang wanita cantik dengan gaun hijau berada di depanku, dia adalah selir kedua yang menjadi permaisuri sekarang.
Aku mempersilahkan ia masuk. Dia masuk dengan senyuman angkuhnya itu dan memandangku dengan tajam. Ketajaman matanya sekarang lebih dari sebilah jarum kecil yang membuatku tidak berani menatapnya.
Lalu aku menutup pintu dengan pelan dan mendekatinya. Dia berdiri di samping ranjangku dengan tegap.
“tapi...”
“tidak ada tapi lagi.” Ucapnya memegang daguku dan mengarahkannya. “apa kamu ingin ayahmu menderita, dan asal kamu tahu yunia pergi karena kesalahanmu, jika kamu tidak menurutinya ayahmu akan pergi juga.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan ku.
Itu adalah sebuah cabai yang dia masukan dengan paksa, cabai itu begitu besar membuatku mengeluarkan keringat yang membasahi tubuhku.
Apa yang harus aku lakukan? Aku langsung menjatuhkan tubuhku menatap langit-langit, “apa yang harus aku lakukan?” gumamku, bagiku ini adalah masalah yang serius dan mengancam hidupku, bagaimana bisa mereka mengancamku seperti ini, ini bukan lah sikap yang bijaksana. Aku sudah mempermalukan ayahku di depan mereka, tetapi mengapa mereka setuju, mungkin mereka menginginkan sekutu yang kuat.
Dalam sebuah negara kekuatan militer merupakan sesuatu yang penting dan merupakan syarat mutlak dalam sebuah negara, jadi itu mungkin menjadi alasan mereka mau menikahkannya dengan ku, mungkin ini akan baik bagi negara ini, mereka mungkin berpikir bahwa aku ini anak pembawa sial dan itu akan mengancam keberadaan mereka, dengan menikahkanku dengan pangeran itu akan menjadi untung mereka. Selain mendapatkan sekutu mereka juga bisa menyingkirkan ku, bagaimana dengan ayah tiri ku yang selalu mendampingiku saat dia pulang, bagaimana tanggapannya jika anaknya menikah sebelum dia pulang, tapi bagaimana caranya aku bisa memutuskan semua ini, jika aku pergi itu tidak akan mungkin aku lakukan, semua pasti sedang berjaga dan permaisuri juga tidak akan diam, dia pasti sudah merencanakannya,
Air mataku mulai jatuh perlahan-lahan lalu menghilang, perasaanku hari ini sangat kacau, ku pikir mereka akan melupakannya, namun aku salah, sungguh, mungkinkah mereka tidak menggangguku karena aku kan mendapatkan penderitaan yang lebih menyakitkan dan itu akan selalu aku pikul selama hidupku. Ah sungguh betapa malangnya nasibku ini, ibuku meninggal, ayahku tidak mengakuiku. Sebagai anaknya, aku di jauhi oleh orang-orang istana yang mengetahui identitasku yang sebenarnya.
Aku sungguh sulit untuk memutuskannya, membuatku tidak bisa tidur awal, mungkinkah ini namanya takdir yang sudah di tentukan sebelum aku lahir.
Aku memutuskan untuk mengambil kertas tadi, yang akan aku kirim dan menulis lagi di bawahnya.
Jika kamu berada di situasi yang sulit yang terjebak di antara dua dinding yang mendekat apa yang akan kamu lakukan?
Sungguh indah ya jika kamu hidup desa; tidak ada yang memerintah, menggagu, hanya menikmati hidup dengan damai.
Apakah kamu percaya dengan takdir? Jika iya jelaskan mengapa?
Baiklah mungkin itu saja yang aku tambahkan lalu aku memutuskan untuk tidur dan pastinya aku sulit tidur. Saat kemarin aku bisa tidur dengan baik, bagiku setiap inci dari ranjang sangat nyaman, tapi sekarang semuanya terasa tidak nyaman.
Ke esokkan harinya aku mengikatkan surat kemarin di kaki kanan Wiwik dengan lembut dan tidak terlalu erat, pastinya dia berusaha membuat tubuhnya seimbang. Tanpa Pamit dia terbang langsung, dari jauhku lambaikan tanga ku dengan seindah yang aku bisa, sebagai tanda perpisahan, namun burung itu tidak menoleh sedikit pun kemudian seperti biasa aku selalu melakukan aktivitasku dengan baik tanpa ada gangguan, namun ucapan permaisuri kemarin masih menancap dengan keras di hatiku, aku selalu berusaha melepaskan paku itu namun aku terlalu lemah! Untuk melepaskannya.
Hingga sore hari pun mereka tidak menggaguku lagi, mungkinkah mereka sudah senang akan pernikahanku?
Aku memutuskan untuk tidur di sore hari meskipun tidak berjalan baik, tapi inilah kepustakaan yang berguna untukku sekarang.
Hari-hari terus berlanjut, suatu hari ada 3 orang yang mendatangi kamarku; 2 pria dan 1 pelayan kerajaan, mereka di utus oleh permaisuri untuk menjagaku, dua orang menjaga di luar dan satu pelayan mengawasi ku di dalam.
Mengapa harus seperti ini, bagiku ini adalah tindakan yang berlebihan, tanpa mereka jaga aku pun tidak akan bisa lari, mungkinkah mereka mengira aku memiliki sekutu atau sejenisnya?
Tunggu, aku bisa saja meminta pertolongan temanku yang baru itu, tapi kami baru kenal namanya saja aku tidak tahu, andaikan saja kami kenal lebih lama mungkin aku bisa meminta pertolongannya. Aku menarik nafas panjang, seperti biasa membuang kekesalanku.
Satu bulan pun berlalu dengan cepat, hari ini adalah hari biasanya Wiwit datang, bagaimana cara aku bisa mengambil dan membaca Surat itu? Sejenak aku memikirkannya dan memutuskan untuk menyuruhnya mengambilkan sesuatu saat Wiwi mulai kelihatan, aku harus mengatur waktu yang tepat.