
Antar aku ke sana.”
Anak itu seperti ragu-ragu dan takut saat Daniel berkata seperti itu.
“ jangan takut aku bukan orang jahat.” Ujar Daniel yang melihat ekspresi anak itu.
Anak itu mengangguk perlahan mengiyakan.
Daniel lalu mendekati anak itu. “ ayo.” Ucapnya sambil memegang tangan anak itu.
Anak itu sedikit malu dan seperti merasa kurang pantas bersama dengan Daniel, tetapi dia tidak bisa menolaknya, baginya itu kurang sopan untuk seseorang yang baru dia kenal.
Saat perjalanan anak itu menunjukkan arahnya sambil membicarakan sesuatu tentang desa.
...****...
“Kita sudah sampai.” Ujar anak itu.
“Namaku Nando.”
“Namaku... Jen” ucap Daniel berbohong, dia berbohong untuk kepentingan diri dan orang sekitarnya. Jika dia memberitahu nama aslinya itu akan menjadi berbahaya untuk dirinya dan sekitarnya.
Mereka suda tiba di depan rumah yang sungguh tidak layak untuk di tinggali; atapnya sungguh memprihatinkan, ada beberapa lubang di beberapa bagian, temboknya terbuat dari anyaman bambu yang sudah terlepas dari tempatnya, rumah itu tidak memiliki pintu.
Di depannya seorang gadis yang berusia lebih muda dari Nando duduk di kursi panjang seperti sedang menunggu seseorang, kakinya dia gerak gerakan untuk menghilangkan rasa bosan.
Mereka berjalan masuk.
“Kak!” ujar gadis itu yang menyadari kakaknya sudah datang langsung berlari dan memeluknya. “ kenapa Kakak pulang lebih awal?”
Nando mengelus elus kepala adiknya. “ sekarang kita kedatangan tamu.”
“hah.” Ujarnya seakan tidak percaya lalu memandang Daniel di sampingnya.
“ jangan takut dia bukan orang jahat. Namanya tuan Jen, tuan Jen ini adikku Nani.”
Daniel mengangguk lalu tersenyum dan memandang ke depan. “ Apa kalian yatim piatu?”
“Hah.” Ujar mereka bersamaan lalu menunduk seperti memikirkan sesuatu, yang pastinya itu buruk.
“ maaf, jika....”
“tidak apa-apa, kami tidak keberatan akan itu. Kami tidak yatim piatu, tetapi kami memiliki seorang ibu, ibu kami.... Sakit, yang tidak kami ketahui sakit apa itu dan cara menyembuhkannya.” Potong Nando menjelaskan panjang lebar.
Nani mengangguk membenarkan.
“ Boleh aku lihat.”
“Jangan!.” Ujar mereka berdua.
“ ibu kami sakit parah dan orang-orang bilang penyakit ibu kami bisa menular, oleh karena itu kami harus tinggal di sini, tapi kami tidak percaya bahwa penyakit ibu kami menular, buktinya kami masih sehat sekarang.”
“aku akan memeriksanya, antarkan aku ke sana.”
Nando dan Nani mengangguk. Meskipun agak ragu-ragu, tetapi mereka tahu kalau tidak di coba, mereka tidak akan tahu hasilnya.
Nando dan Nani berjalan di ikuti Daniel dari belakang.
Saat Daniel masuki rumah, dia dapat melihat, rumah itu memiliki 2 ruangan: 1 dapur dan 1 kamar.
Di dalam kamar itu memiliki 2 ranjang yang berjejer dengan alas jerami. Di kanan seorang wanita yang memiliki wajah pucat tengah tertidur, wajahnya berwarna putih keabu-abuan yang seperti tidak memiliki darah sedikit pun, tubuhnya begitu kurus bahkan terlihat bentuk tengkoraknya. Dia adalah ibu Nando.
Daniel melihat itu merasa iba, di dalam pikirannya dia bertanya kenapa orang-orang menjauhinya bukan menolongnya, apakah mereka tidak memiliki perasaan kemanusiaan?
“Nando, Nani.” Ucapnya dengan lemah, sangat lemah, seperti tenaganya hanya di habiskan untuk berbicara saja.
“ Ibu.” Ucap mereka berdua lagi
“ Nando kenapa kau pulang lebih awal?” Ucapnya memandang anaknya.
“ ibu, aku membawa seseorang tamu.”
Ibu Nando mengerakkan matanya memandang Daniel, dia dapat melihat Daniel seperti orang jahat. Di dalam hatinya jika dia ingin membunuhnya, dia akan ikhlas, asalkan anaknya tidak di buangnya, itu adalah keputusan yang terbaik yang bisa dia ambil. Jika anaknya terus bersamanya mungkin anaknya tidak bisa hidup, tetapi anaknya mungkin bisa hidup, jika bersama penjahat. Walaupun itu tidak baik, tetapi itu yang terbaik sekarang, menjadi seorang budak. Mengapa dia berpikir seperti itu?
“ apa kau ingin membunuhku? Jika iya bunuh lah, tapi aku punya satu permintaan, jaga anak anakku mungkin mereka akan berguna untukmu.”
Nando dan Nani terkejut. “ ibu, kenapa ibu berkata seperti itu.” Ucap Nando sambil memeluk ibunya.
Daniel tidak menjawabnya, dia mengeluarkan telapak tangannya. Energi berwarna hijau samar-samar terbentuk menjadi bulatan kecil yang memancarkan ura kehidupan kental, lalu dia mendekati ranjang.
“ apa yang kau lakukan.” Ujar Nani.
“aku akan menyembuhkannya, jangan khawatir.”
“ Kenapa kau menyelamatkan ku.” Ucap ibu Nando.
“ Aku akan memberitahumu nanti.”
Daniel lalu mengarakan bola itu tepat di jantungnya berada, samar-samar energi itu mengalir ke seluruh tubuhnya.
Ibu Nando merasakan sesuatu yang segar mengalir melalui peredaran darahnya ke seluruh tubuh, rasa itu sangat menyegarkan.
30 menit berlalu akhirnya Daniel menyelesaikan perawatannya, tetapi dia belum bisa menyembuhkannya secara utuh. Saat mengalirkan energi kehidupan, dia menyadari ibu nandong terkena racun yang mematikan dan jumlahnya begitu banyak, sehingga dia memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk menyembuhkannya.
“ aku akan melakukannya besok lagi, ibu kalian di racuni.” Ucap Daniel seperti biasa saja.
“ Bagaimana bisa ibu di racuni!” Ujar Nandong dan Nani terkejut akan hal itu, mereka selalu merawat ibunya jadi itu tidak mungkin akan terjadi. Selain itu mereka sungguh mengenal orang-orang di dekat mereka.
“mungkin ada orang yang membenci kalian.”
Melihat ekspresi mereka berdua sangat serius Daniel memutuskan untuk keluar dan duduk di teras rumah yang sederhana itu.
Tidak beberapa lama datang Nandong menghampirinya.
“Tuan terima kasih atas bantuannya.” Ujar Nando yang sudah berada di samping Daniel.
“aku akan melakukan apa pun yang tuan minta.” Sambungnya lagi.
“ Tidak perlu.”
“Tapi tuan aku bisa memasak, mencuci dan banyak lagi.”
“ aku bilang tidak perlu.”
Nando terkejut setelah mendengarnya dengan nada sedih dia berkata, “ Baiklah.” Lalu Nando masuk ke dalam.
Daniel sekarang terikat 2 hari lagi sampai dia dapat menyembuhkan ibu Nando, dia ingin segera pergi lagi, tetapi apakah baik meninggalkan orang yang sakit parah?
Dia menarik nafas. Dia tidak percaya baru dia keluar dari rumah orang, dan memasuki rumah orang lain lagi. Dia memutuskan untuk membuka buku lagi.