
Danel masih tertidur dengan lelap di atas pohon.
Treya memutuskan untuk lari dari sana sejauh mungkin. meskipun tidak tau kemana arah tujuannya, asalakan bisa bebas darinya. Pikirnya, namun baru berlari beberapa meter, tubuhnya seakan menabrak sesuatu yang membuatnya terhempas.
Dia meraung kesakitan merasakan beberapa bagian tubunya sakit. “apa yang terjadi!?” ucapnya sambil menyentuh dahi yang terasa sakit.
“Kamu tidak akan bisa pergi dari sini.” Ucap danel yang sudah berada di belakan treya dengan tenang berdiri.
“aku tidak peduli!” treya bangun dan menyerang beberapa kali pelindung itu dengan sekuat tenaga yang dia bisa, namun kelihatanya kekuatannya tidak bisa menandingi pelindung itu.
“sampai kapan kamu akan melakukan itu?”
“terserah!” ujarnya sambil berusaha menghancurkannya.
Danel membuang nafas panjang lalu pergi dari sana.
30 menit berlalu namun treya masih tidak bisa menghancurkannya, itu membuatnya sedih. Keringat mulai membasahi bajunya. Tanganya sudah berdarah. Dia terlungkup dan mulai menangis, mengeluarkan semuannya yang di deritanya. Dia sungguh merindukan ibunya sekarang.
10 menit kemudian danel menghapirinya lalu berkata, “kamu sungguh lelaki yang lemah.”
Treya tidak menjawab, dia masih membenamkan mukanya di kedua lengannya.
“Ibumu pasti akan menyesal jika mengetahuinya.” Sambungnya.
Treya mengangkat kepalanya. “ibu? Kau apakan ibuku!!?” Dia mendekati danel dengan tertatih tatih lalu memegang kedua kerah bajunya. “apa yang kau lakukan?”
Dengan dingin danel menjawab. “aku membunuhnya.” Danel berbohong.
Mata treya bergetar, waktu terasa berhenti seketika, bahkan jantungnya yang selalu berdetak kini hanya berdiam seakan di tusuk oleh jarum kecil, sakit menghampirinya.
“Kau berbohong!! Tidak, tidak mungkin, itu tidak mungkin!!”
“Kau pasti berbohong!” Ujarnya sambil menangis.
“Aku tidak berbohong.” Kata danel menegaskan.
Treya dengan cepat mengarahkan pukulanya, tetapi pukulanya terlalu lemah dan dengan mudah danel menangkisnya, tidak mundur dia mencobanya lagi, namun tidak bisa.
Lalu danel menghempaskanya ke tanah dengan kasarnya.
Lalu berbalik hendak pergi, tetapi treya berkata. “pembunuh.” Ujarnya dengaan lirih
“kamu bisa menyebutku apapun.” Ujarnya lalu pergi.
Treya lagi lagi menangis dengan keras. burung-burung di sekitarnya berhamburan pergi, tidak tahan mendengar.
Dia terus menangis hingga matahari berada di atas. Tangisannya kian melemah. sekarang dia memeluk kedua lututnya dengan erat dan menyadarkan dagunya memandang ke depan, namun matanya terlihat kosong seperti tidak memiliki pantulan sesuatu di sekitarnya.
Rasa sakit yang dia rasakan begitu mengerikan. peredaran darahnya terasa begitu lebih cepat mengalir dan di susul suhu tubuh kian meninggi. rasa sakit yang sekarang dia rasakan teralalu menyakitkan, ibunya adalah orang satu-satunya yang dia miliki, sekarang meninggalkannya dan lebih parahnya lagi di bunuh! Sama seperti ayahnya.
Danel mendekatinya, dia merasa kasihan kepada treya namun apa buat dia harus melakukanya, itu adalah sesuatu yang seorang ibu inginkan, tapi bukankah itu terlalu menyiksa?
“apa kamu sudah selesai.” Tanyanya seolah-olah tidak tau keadaan treya.
Treya masih terdiam
“Apa kamu sudah selesai?” Tanyanya lagi dengan nada meninggi.
Daniel menarik nafas panjang, dia menuggu sebentar, jika tidak ada reaksi maka dia akan mentotok treya dan membawanya.
Seperempat jam tidak ada pembicaran di antara mereka hingga treya berkata pelan, “mengapa?”
“Membawamu?” tanya danel.
“Mengapa kau membunuh ibuku?” dia masih menenggelamkan wajahnya.
Daniel diam sejenak mencari jawaban yang pas. “karena dia menghalangiku.”
“Kau egois!” ujar treya dengan suara meninggi. di dalam hatinya dia bertanya mengapa tidak saja dia bawa pergi dan meninggalkan ibunya dengan aman, bukankah dia yang menjadi penyebab ibunya meninggal?
“jika begitu bunuh saja aku.” Sambung treya.
Daniel sedikit terkejut dengan perkataan treya, dia tidak percaya bahwa ada seseorang yang begitu lemah sehingga ingin rela dirinya di bunuh. “kamu pecundang.”
“kau yang pecundang! Bagaimana bisa kau membunuh ibuku seorang wanita lemah hanya karena sesuatu yang sepele!” Ujarnya dengan suara sedikit meninggi.
Daniel terdiam, dia berpikir mencari cari kata-kata lagi, sungguh sulit untuk membalasnya.
“Itu bukan sesuatu yang kecil.”
“aku tau, yang aku maksud membawamu, tapi bukan seperti itu caranya, apakah kau merasakan bagaiman rasanya jika orang terdekatmu meninggalkanmu seperti itu?”
Danel terdiam lagi, bayangan-bayang istrinya tergambar dalam benaknya, adegan ini sungguh tidak ingin dia lihat, namun memorinya bagaikan tirai yang akan terbuka jika ada penonton. Dia tidak menyangka akan sesulit ini untuk merendam amarah treya.
“Maaf.” Ucapnya dengan lemah meskipun itu tidak benar benar terjadi, namun dia harus bertanggung jawab telah menusukkan duri kecil yang begitu tajam di hati treya.
“maaf? Apa kau pikir dengan begitu aku bisa tenang?”
“apa kau bisa mengembalikan ibuku? Jika bisa aku akan memaafkanmu.”
Maaf, pikirnya bukan untuk treya tapi ibu treya, dia sudah berjanji untuk melakukan itu, tapi melihat keadaanya tidak memungkinkan, dia tidak bisa melakukannya.
Danel mengangguk pelan, “ya, aku bisa.”
Treya mengangkat kepalanya. “kau berbohong!”
“terserah, aku ingin kamu menyelamatkan putriku setelah itu aku akan menyelamatkan ibumu.”
“Putrimu?”
Danel mengangguk. “aku tunggu.”ujarnya lalu meninggalkan treya yang masih memeluk lututnya.
...🌸🌸🌸🌸...
30 menit danel bersandar menunggu treya akhirnya dia datang.
“aku akan melakukanya.” Ucapnya melemah. “kau tidak usah melakukanya.” Sambunya lagi.
Danel terkejut mendengar itu, baru tadi dia ingin ibunya kembali, tetapi mengapa dia mendadak berubah pikiran, danel ingin bertanya mengapa, tapi dia tidak mengatakannya.
“aku sadar, ibuku pernah mengatakan bahwa aku harus mengiklaskan segalanya yang pergi dan menerima apa yang datang, dengan begitu hidupku akan lebih tenang, meskipun sulit, tapi aku akan mencobanya.”
Membuat anaknya seperti ini.
Danel tersenyum. akhirnya dia bisa menyelesaikan janjinya ke ibu treya. “apa yang kamu pilih?” tegasnya.
“aku akan membantumu.” ucapnya dengan suara meninggi, meperlihatkan matanya yang sedikit bercahaya.
“Ayo kita pergi.” Danel berjalan.
Treya mengangguk dan mengikutinya.
...🌸🌸🌸🌸...
Mereka berjalan beberapa hari hingga tiba di sebuah desa sederhana dan memutuskan untuk beristirahat di bawah salah satu pohon dengan menyadarkan punggungnya.
“kenapa putrimu?” Tanya treya, dia sudah terlihat seperti normal dan tidak membenci danel lagi, tapi malahan dia bersemangat mengajak Daniel berbicara.
“Putriku....”
“Kamu baca ini dulu.” Ucapnya membelokkan pembicaraan dan menyodorkan buku anaknya.
Treya sedikit heran saat mendengarkan nya. “Apa ini?”
“buku anaku. kamu akan mengetahui semuanya di sini.”
“baikilah.”
“aku akan pergi sebentar.” Ucap danel lalu pergi.
Treya kemudian membaca buku cerita itu.
...🌸🌸🌸🌸...
Daniel berkelili sebentar melihat lihat desa yang begitu asri. selain itu dia juga melihat seorang wanita yang membersihkan beras dari kulitnya, tidak jauh dari dua orang anak berlarian saling mengejar dengan tawa yang riang.
Dia terus berjalan Jalan, beberapa orang berpapasan dengannya. ada yang membawa kereta, kuda dan lainya. mereka menatap danel dengan heran dan bertanya tanya apakah dia orang berbahaya. selain itu ada juga yang seperti menjauh darinya.
Danel menarik nafas panjang, di dalam hatinya dia berkata, memang sesuatu yang berbeda akan selalu menjadi pusat perhatian.
Daniel memutuskan untuk duduk di salah satu pohon di dekatnya.
Dia bersemedi di atas dan menyamarkan diri.
Tidak sampai satu detik dia sudah berada di alam bawah sadarnya.
Sejauh mata memandang akan terlihat berwarna biru dengan lantai yang dapat memantulkan segalanya. Itu bagaikan surga.
Daniel membuka matanya. “guru.” Ucapnya pelan.
Kemudian samar samar guru long muncul, dia muncul seperti dari udara sekitar.
“apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Kamu hanya perlu melatihnya sedikit dan sisanya biarkan dia yang melakukanya sendiri.
Danel tau apa yang di maksud gurunya, mengajarinya teknik dasar yang dia miliki. “terima kasih guru.”
“Aku harap kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Ujarnya yang sudah menghilang.
Danel memberi hormat kemudian kembali ke alam nyata dan pergi menghapiri treya.
“ayo kita pergi.” ujarnya
Treya sedikit terkejut dengan kesal dia menutup buku dan beranjak mengikuti danel yang berjalan.
Sebenarnya dia ingin sekali membaca kelanjutannya lagi, namun danel mungkin tidak memberikannya.
Beberapa hari mereka terus berjalan hingga tiba di ibukota kekaisaran ungu yang begitu indah.
Treya sudah terbiasa akan tidur di alam terbuka sehingga sekarang tidak menjadi sesuatu yang buruk.
Ibu kota ini memiliki segudang pesona alam. di tengah tengah kota akan terlihat jelas taman yang begitu asri bagaikan paru paru ibu kota tersebut.
Rumah rumah penduduk berjejeran mengelili taman tersebut; melingkarinya. berbagai jalan menuju taman akan terlihat jelas dari dataran tinggi, bagaikan labirin yang indah.
Istana kekaisaran terletak di bukit yang berada di selatan dan itu tempat tertinggi di ibu kota. Istana itu memiliki 30 lantai, sehingga akan begitu tingginya, bagaikan tempat menuju surga. Itu tidak mengherankan mengingat kekaisaran ungu memiliki jumlah pohon yang begitu banyak. Jalan undakan akan terlihat begitu Jelas berbelok-belok menuju istana kekaisaran, dan di bawahanya ada lapangan yang luas untuk pasukan yang berlatih atau saat kaisar ingin menyampaikan pidatonya.
Treya dan Daniel sudah tiba di depan gerbang ibu kota. gerbang itu berhiasi tanaman rambat bunga yang menjulang.
Di sisi sisinya telah ada prajurit yang menjaga.
Itu membuat danel lebih waspada dari sebelumnya. jika saja ada jalan lain pastinya dia akan melewatinya, dan kalau saja dia dapat berlari mungkin ini akan menjadi mudah baginya.
Danel memperlihatkan ekspresi wajah yang tajam.
Sedangkan treya terlihat begitu senang, wajahnya memperlihatkan kekaguman terhada sesuatu yang ada di depannya. Apalagi saat dia melihat istana kekaisaran yang tinggi dan megah bagaikan tempat menuju surga itu. ini adalah pertama kalinya dia pergi ke ibu kota.
Setelah memandangnya sebentar, dia mengingat ibunya dan ayahnya dan mengandaikan jika mereka masih ada dan pergi bersamanya pasti akan menjadi kenangan terindah dalam hidupnya.
Danel berjalan dan di ikuti treya dari belakang, dia melihat punggung danel, rasa dendamnya kembali muncul dalam pikirannya dan dengan cepat dia menggelengkan kepala dan mengingatkan dirinya.
Salah satu Perajurit maju ingin memeriksa danel, dia memperlihatkan ekspresi wajah yang tajam bagaikan jarum.
“Tuan aku sedang sakit.” Kata danel dengan suara lemah dan diikuti batuk batuk yang di buat. kali ini dia melakukannya lebih baik lagi.
Prajurit itu menghentikan langkahnya. “sakit?”
Treya yang tidak jauh di belakangnya terkejut. Danel yang selalu bersamanya bagaikan orang sehat mendadak berkata seperti itu, membuatnya penasaran penyakit apa yang di derita danel yang kelihatan sehat itu.
“iya, aku memiliki penyakit yang akan menular.”
Prajurit itu memandang ke arah temannya seperti sedang menunggu perintah.
Temannya mengangguk memberikan mereka masuk.
“tapi sepertinya kau tidak sakit?” tanyanya lagi. dia tidak percaya dengan danel yang wajahnya terlihat sehat.
“tuan aku memliki penyakit dalam.”