
Tak terasa dia sudah tiba di pinggir sungai. Dia meletakkan ikan dan alat pancingnya di atas batu dan lalu duduk di sampingnya.
Sesekali dia memandang rumahnya. Setelah merasa baikan, treya mendekati sungai lalu dia menyendok air dengan menyatukan kedua tanganya seperti manganggkuk. Tanpa banyak berpikir, treya menenggelamkan wajahnya dalam air, dinginya air membuat wajahnya lebih segar lalu dia kembali menngambil ikan dan alat pancingnya kemudian melanjutkan perjalanan.
Dia tidak pernah mencari ikan di sungai hulu, dia menganggap bahwa ikan di sungai bawah lebih besar dan mudah mencarinya.
Dia berjalan dengan perlahan-lahan, merasakan dan memastikan setiap batu yang di pijakinya.
Sungai hulu memiliki bebatuan yang rapi yang selalu menghiasi aliran sungai, batu-batu itu sangat kuat mencengkram tanah. Di atasnya selalu di selimuti lumut berwarna hijau muda yang membuatnya terlihat lebih indah.
Setelah menyebrangi sungai, dia merasa sedih karena dia tidak dapat merasakan sejuknya air sungai lagi.
Dia tiba di tangga kayu yang menuju bukit, tangga itu sedikit menanjak dan berlikak likuk. Di sisinya di hiasi pohon-pohon yang besar yang membuatnya lebih segar saat menaikinya
Saat memandangnya, dirinya menarik nafas dalam, hatinya bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mempersiapkan dirinya. Ini adalah tantangan besar yang harus dia lewati, dia percaya bahwa semakin besar tangtanganya semakin besar pula imbalannya.
Treya mulai menaiki tangga, setiap langkah yang dia lakukan terasa berat, semakin tinggi dia melangkah semakin berat rasanya melangkah. Air keringat mulai keluar dari tubuhnya membasahi setiap inci kulit dan bajunya, meskipun sangat melelahkan dia mempunyai trik yang selalu dia pakai saat begini.
Ibunya pernah berkata, ‘jika kamu ingin meraih sesuatu lakukanlah dengan menikmati setiap langkah yang kamu lakukan dan lupakan sesuatu yang kamu ingin raih, pusatkan perhatianmu pada langkahnya dengan begitu kamu akan mudah mencapainya’ trik itu lah yang selalu dia lakukan, tetapi hari ini yang dia lakukan sedikit berbeda, dia membayangkan reaksi ibunya saat dia tiba di rumah, dengan begitu dia akan lupa dengan apa yang dia tengah lakukan. Dengan kata lain, dia mengabaikan yang ada di depanya dengan bayangan reaksi ibunya saat dia tiba di rumah.
5 menit pun berlalu akhir dia mencapai di atas. Rasa kemenangan dan kepuasan menghampirinya, sesekali dia berbalik memandang desa yang berada di bawah lalu berkata, “sungguh indah.” Dia menatapnya selama 10 detik lalu melanjutkan perjalananya.
Saat cahaya matari sudah berwaran keorengean treya sudah tiba di depan rumahnya. Dengan cepat dia berlari masuk seolah olah tidak ada pintu yang menghalangi, “ibu! ibu!” Triaknya mencari ibunya.
Mula-mula dia mencari di kamar tetapi tidak ada, dengan cepat dia mencarinya ke dapur, “ibu!” Teriaknya membuat ibunya yang sedang memotong sayuran terkejut, “sudah ibu bila...” ucapnya terhenti saat dia melihat anaknya membawa ikan besar dengan cepat dia berkata, “bagaimana kamu bisa mendapatkannya?” wajah ibunya sangat terlihat heran, baru kali ini dia melihat ikan sebesar itu.
“Mungkin aku sedang beruntung Bu”
“Kamu itu selalu beruntung ya?” ucap ibunya sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
“Mungkin, tetapi...” jawab treya yang merendah mengingat kejadian 3 tahun lalu yang menimpa keluarganya.
“Sudah jangan di pikirkan. Apa kamu sudah mandi?”
“Belum.” jawab treya dengan suara rendah.
“Kalau begitu kamu mandi dulu ya.” Ucap ibunya dengan nada semangat.
Treya mengangguk lalu memberikan Ikan yang di tangkapnya kemudian bergegas mandi.
Setelah selesai mandi, treya bergegas pergi ke halaman depan rumahnya. Dia duduk di kursi panjang yang menghadap desa bawah, dia memandangi pemandangan desa. Cahaya Matahari sore yang menyinari sisi kiri lembah dengan eloknya seakan akan itu adalah salam perpisahan kepada lembah.
10 menit kemudian Matahari sepenuhnya tenggelam tetapi langit masih terlihat jelas, tidak ada awan yang menghiasinya hanya warna biru yang indah. Samar-samar dia mulai mendengar suara serangga-serangga malam yang seakan menyambut hari mereka dengan riang.
Treya memandang desa lampion yang terlihat indah di malam hari. Cahaya mulai muncul satu persatu seperti membentu pola yang indah. Meskipun hanya terlihat butiran butiran cahaya kuning dari obor dan lentera, tetap saja itu sungguh indah.
Saat memandang cahaya itu dia teringat saat keluarganya bersama sama seperti bulan purnama bercahaya yang di kelilingi bintang bintang indah dan selalu melengkapi.
Saat itu mereka masih lengkap dan belum pindah di atas bukit. Mereka hidup bahagia layaknya keluarga sejatra yang tidak pernah kekurangan.
Ayahnya berkeja sebagi petani, meskipun begitu ayahnya selalu menikmati setiap proses kerja yang dia lakukan. Selain itu ayahnya bisa bertarung dengan sangat baik yang membuat treya heran dan pernah bertanya kepada ayahnya mengapa ayahnya yang bisa bertarung memilih menjadi petani dari pada petualang?
Ayahnya menjawab “menjadi petualang harus memiliki jiwa yang siap untuk membunuh dan mempertaruhkan nyawa serta selalu siap untuk kehilangan,” ayahnya diam sejenak lalu berkata, “ayah tidak punya keduanya, ayah ingin menumbuhkan kasih sayang terhadap tumbuh-tumbuhan yang selalu lugu akan nasibnya.”
“Tetapi ayah, bukankah kemampuan ayah jadi tidak berguna?”
Ayahnya menggelengkan kepalanya, “ kemampuan ayah bisa di gunakan untuk melindungimu dan ibumu.” Jawabnya dengan tenang.
Percakapan itu yang menjadi pertemuan terakhir treya bersama ayahnya sebelum dia meninggal tanpa sebab.
Keesokan harinya treya seperti biasa membuka pintu rumah, alangkah terkejutnya saat melihat ayahnya tergeletak begitu saja di luar. Tubuhnya di penuhi luka sayatan, darah mengalir deras dengan posisi sedang meraih sesuatu. Dengan cepat dia menghampirinya dan berteriak memanggil ibunya.
“Ada apa nak, apa yang terjadi?” ujarnya saat melihat suaminya sudah tergeletak tidak bernyawa.
“aku tidak tahu Bu. Saat membuka pintu, aku sudah melihat ayah seperti ini,” jawabnya sambil menangis. Ibunya lalu memegang tangan ayahnya setelah itu menaruhnya dengan lembut. Wajahnya meredup seketika.
Treya yang melihat perubahan wajah ibunya bertanya, “Ada apa dengan ayah Bu?”
“Ayahmu sudah meninggalkan kita.” Ucapnya dengan sedih. Air matanya tidak mengalir, tetapi wajahnya terlihat sangat sedih.
“Tidak mungkin Bu! Ini tidak mungkin!” teriaknya dengan kesedihan yang mendalam.
“Yang sabar ya nak.” Sambil mengusap kepala treya.
“Ini tidak mungkin!” ujarnya dengan sedih.
Merupakan pukulan berat yang di rasakan oleh keluarga saat seseorang dengan tiba-tiba meninggalkannya. Apakah treya dan ibunya bisa mengiklaskannya?
Setelah ayahnya meninggal dunia, teraya bersama ibunya mengalami luka bating yang sangat serius. Hari-hari yang selalu mereka isi dengan tawa dan canda sudah tidak terlihat lagi bagaikan di telan bumi yang sangat dalam.
Pagi ini mereka makan bersama, meskipun terlihat makan tetapi mereka seakan akan tidak merasakan rasa yang masuk menyentuh lidahnya. Acara makan pagi yang biasanya selalu indah kini hanya sunyi, kosong dan gelap yang terlihat dan terdengar.
Setelah mereka makan pagi, treya biasanya pergi ke sungai lebih memilih diam di teras rumahnya menatap cahaya matahari pagi sedangkan ibunya biasanya pergi ke kebun dengan gembiran lebih memilih untuk berdiam di kamarnya membaca buku. Meskipun terlihat membaca buku dia hanya memandangnya dengan mata kosong tanpa mengedipkan matanya sekalipun.
Di dalam pikirannya tidak ada apa-apa seperti kertas kosong yang belum di sentuh tinta; bersih, sunyi serta tidak memiliki cerita yang harus di tulis.
Hingga beberapa hari mereka terus melakukan itu, yang membuat rumah mereka seperti tidak ada kehidupan sama sekalipun.