The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
bab 16 pertemuan



Saat di kamar aku mempersilakan ayah untuk duduk.


Kamar ayah sedikit berdebu dan tidak ada apa-apa lagi selain ranjang, lemari kecil dan bingkai Poto di atas lemari kecil samping ranjang.


Poto itu adalah Poto istri ayah, dulu aku menyangka itu ibuku, tapi sekarang tidak, dia adalah istri ayahku. Aku tidak mengenalnya, ayahku bilang dia sudah tiada, wajah ayah terlihat sedih sekan mengingat kejadian buruk yang pernah di deritanya membuatku menyesal menanyakannya.


“ Ayah bisa tidur dulu.”


...****...


Danel menutup buku, dia memandang ke depan melihat orang-orang duduk sambil membawa bekal makanan dan di sisi lain terlihat orang-orang yang sedang berpasangan menikmati siang hari yang cerah, mereka berteduh di pohon-pohon besar yang rindang, canda tawa dan senyuman terlihat di antara mereka. Meski Daniel tidak bisa melihatnya, tetapi dia bisa merasakannya.


Bayangan-bayangan istrinya bermunculan lagi.


Saat mereka bertemu pertama kali, istrinya, miranda, tengah berjalan jalan menikmati pemandangan kota utattarian. Dengan langkah ringan dia berjalan. Di tangannya terdapat satu keranjang penuh roti yang dia beli, tanpa ada halangan dan sesuatu yang menggagunya dia terus berjalan. Walaupun di sekitarnya begitu riuh suara, dia tetap ceria.


Danel tengah berlari mengejar seorang pencuri yang berlari dengan lincah, membuatnya kesusahan mencari di dalam kerumunan orang-orang pasar. Dia terus berlari tanpa kehilangan fokus memandang pencuri itu yang membuatnya tidak sengaja mendorong Miranda hingga jatuh di lantai.


Semua roti rotinya berjatuhan bertebaran di tanah


“ Maaf, apa kamu tidak apa-apa.” Tanya Daniel sambil membantu Miranda berdiri.


Miranda membersihkan lutunya yang terkena tanah lalu memandang Danel. “tidak, tapi kau harus membayar ini semua.” Ujarnya dengan nada tegas


Entah mengapa Danel tidak takut dengan nada itu, mungkin Nanda itu selalu dia dengar saat dia melakukan latihan?


“ Tapi...”


“tidak ada alasan! Kau harus membayarnya dan membelikannya.” Bentak Miranda.


“ tapi aku harus mengejar pencuri itu.”


“ bagaimana kalau aku menangis.”


Danel terkejut. “jangan-jangan. aku akan menggantinya.” Jawabnya cepat.


Miranda tersenyum dengan puas. “ baiklah, ayo.” Ujarnya memimpin ke tempat dia membeli roti tadi.


...****


...


“terima kasih pak.” Kata Miranda menerima roti yang baru.


“sama-sama, datang lagi ya.”


“tentu saja aku pasti akan kembali.” Ucapnya dengan ramah.


“ lain kali traktir lagi ya.” Ucap Miranda sembari tersenyum memandang Daniel.


“jika aku terus begini, uangku akan habis.” Ucap Daniel kesal memegang dompet yang sudah kosong.


“Tenang saja aku bisa membayarnya lain kali dan itu akan menjadi bayaran termahal yang akan kau terima.”


Wajah Danel kembali terbit. “ benarkah?”


“Ya.” jawabannya dengan senyuman nakal.


“Aku tidak percaya.” Ujar Danel melihat senyum di wajah Miranda seperti akan merencanakan hal yang tidak-tidak.


“Aku tidak pernah berbohong!, Jika kau tidak percaya jangan menyesal nanti, ya.”


“aku tidak....”


“ pikirkan baik-baik.”


Daniel melihat wajah Miranda terlihat serius, apakah dia seorang anak yang kaya? Atau apakah dia anak anggota istana?


“Baiklah.”


“sepakat.” Ujarnya dengan bergembira.


“ Kau akan mentarktirku dalam waktu 10 hari ke depan dan hadiahnya akan aku berikan saat itu juga.” Miranda lalu pergi meninggalkan Daniel tanpa mengucapkan salam perpisahan.


Danel juga hanya bisa memandangnya dari jauh. Entah mengapa dia terus memandangnya hingga dia tidak kelihatan lalu pergi.


Setelah pertemuan itu Daniel selalu membelikan Miranda roti setiap malam.


Mereka menjadi lebih akrab dan seperti pasangan kekasih yang selalu bersama.


“ Apa sekarang kamu akan memberikannya?”


“ya, sekarang, tetapi tidak di sini, kita akan pergi ke alun-alun kota.”


“apakah itu sesuatu yang besar?”


“ya.”


Mereka berjalan menuju alun-alun kota, suasana malam yang baik dan di penuhi bintang-bintang yang bercahaya dan bulan sebagai titik paling cerah di atas sana. Tidak ada awan malam yang ingin menutupinya, mungkin dia enggan.


Alun-alun kota Utattarian terletak di dekat pasar sehingga mereka tidak kelelahan saat mencapainya.


Tempat itu di hiasi berbagai pohon-pohon yang menjulang tinggi, rumput-rumput yang selalu di potong rapi, jalan setapak yang mengelilingi Alun-alun kota. Tidak ada patung atau sejenisnya hanya ada air mancur dan berbagai jenis bunga di sana.


Di bawah pohon ada beberapa kursi panjang untuk pengunjung.


Saat mereka tiba, cahaya lampu berkelap kelip menyambut mereka.


“apa itu kereta?”


Miranda tertawa. “coba tebak.” Mereka berjalan menelusuri jalan setapak yang di hiasi lampu-lampu di setiap sisinya.


“Emas.”


Miranda tersenyum dan menggelengkan kepala.


“apa itu sesuatu yang besar?”


“ya.”


“apa kamu mengetahui apa yang aku inginkan?”


“Tentu saja.”


Danel diam sejenak untuk berpikir lalu berkata, “Apa kamu memberikan sebuah pedang yang kuat?”


“Semacamnya dan itu akan selalu membuatmu nyaman.”


“nyaman.” Sekarang wajah Daniel di penuhi ekspresi bingung.


“Baiklah, ayo kita ke sana.” Ujar Miranda sambil menunjuk sebuah pohon yang besar bercahaya, karena lampu yang di pasangkan.


Daniel mengangguk.


“Apa kau sudah siap?” ujar Miranda dengan antusias dan senyum nakalnya di wajahnya.


“Ya, aku siap.” Jawab Daniel, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, pikirannya di penuhi rasa bersemangat yang tinggi, memikirkan sesuatu yang bagus, yang mungkin membuatnya dapat berlatih dengan baik dan dapat mencapai cita citanya sebagai seorang jendral.


“Pejamkan matamu.”


“eh, mengapa aku harus begitu.”


Mereka sekarang berhadap hadapan di bawah pohon besar itu.


“sesuatu ini akan membuatmu senang, jadi aku ingin kau tidak mengetahuinya sebelum aku membawanya.”


“baiklah.” Danel lalu memejamkan matanya.


Setelah beberapa detik, dia tidak mendengarkan suara langkah kaki atau apa pun yang lainya, membuatnya curiga, apa dia di bohongi?, dia perlahan-lahan membuka matanya namun dia mendadak merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal, rasanya lebih manis daripada gula.


Mata Daniel membesar melihat Miranda menciumnya lalu dengan cepat dia mendorongnya.


“Apa yang kamu lakukan?”


“sekarang kita impas.” Ujarnya meski dia terdorong, tetapi tidak ada kekesalan yang terlihat.


Miranda lalu mendekati Daniel dan berbisik di telinganya “aku menyukaimu.” Lalu pergi meninggalkan Daniel sendirinya yang masih mematung, terkejut terhadap apa yang dia lihat.


...****...


Danel menarik nafas panjang, lalu memandang sekitar yang masih di kelilingi banyak orang. Dia menggelengkan kepalanya, “apa yang harus sekarang aku lakukan.” Gumanya yang penuh dengan kesedihan, mengapa banyak sekali hambatan yang aku lalui. Pikirnya, membuatnya pusing apa yang harus sekarang dia lakukan?


Dia bangkit lalu pergi mencari mereka lagi, meskipun tidak tau ke mana harus mencarinya.


Dia menelusuri setiap tempat yang di lewati namun tidak menemukannya membuatnya sedih.