The Conqueror's Journey

The Conqueror's Journey
Bab 7 orang yang membunuh ayahku



Prajurit itu berpikir sebentar dan berkata. “baiklah.” Lalu prajurit itu memeriksa treya secara menyeluruh dan membiarkannya masuk.


“penyakit apa yang kau miliki?” Tanya treya, mereka sudah memasuki ibu kota yang tidak begitu padat aktifitas penduduk dan terlihat hanya beberapa pedagang yang ada, mungkin mereka yang terakhir datang.


“Aku tidak sakit.” Ucapnya dengan tenang.


“Eh, bagaimana bisa? Apa kau berbohong?”


Daniel mengangguk.


“Mengapa?”


“aku memiliki banyak musuh.”


Treya mengangguk tidak melanjutkan percakapan, dia tau jika melanjutkannya lagi itu akan membuat danel terancam begitu pun dirinya, jadi dia akan menanyakannya saat situasi yang pas.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, danel sibuk berjalan sedangkan treya memandang kesana sini tidak mau melewatkan satu pun yang dia lewati.


30 menit kemudian mereka memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di bawah rindangnya pohon.


Danel menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangan menyilang sebagai bantal.


Treya mengetahui bahwa Putri danel di cap sebagai anak pembawa sial, dia tidak mempercayainya dan menganggapnya hanya sesuatu hal yang aneh. dia tau bahwa sesuatu yang terjadi memang sudah di takdirkan, seperti halnya dengan ibunya yang mati di bunuh begitu pula ayahnya, dia hanya bisa mejalankan yang datang dan mengiklaskan yang pergi.


Yang paling dia ingat saat selir kedua mengatakan seperti itu kepada kaminiya, itu sungguh tidak pantas, baginya seharusnya dia menyemangatinya bukan sebaliknya.


Setelah di pikir pikir treya sedikit penasaran dalam percakapan di dalam buku, kamaniya menyebut namanya niya dan itu nama yang sama yang tertulis di surat temannya, apakah ada hubunganya dengan Niya temannya?


Dia dengan cepat membuka kembali buku itu dan membacanya.


Setelah beberapa menit danel menegakan tubuhnya, dia menggerak gerakan matanya, menyadari sesuatu yang aneh dan juga ada seseorang yang mengawasi dari jauh.


Danel kembali merebahkan tubuhnya, meski terlihat ceroboh, danel sudah memasang semua indranya dengan tajam, sikapnya hanya sebagai umpan, itu pun jika musuhnya tidak menyadarinya.


Treya membaca buku dengan sangat serius, dia ingin mengetahui apa yang akan terjadi lagi.


Beberapa menit kemudian treya teringat ingin menanyakan sesuatu kepada danel dan di tutuplah bukunya. “siapa kau–.”sebelum treya menyelesaikannya, Danel dengan cepat melempar tubuh treya menjauh membuatnya merasa kesakitan dan mengambil pedangnya.


“Trakngg.” Suara bilah pedang beradu tepat di tempat treya duduk.


“kau gesit juga ya.” Ucap Pria yang muncul, dia memakai jubah sama seperti danel. bedanya dia memakai kain menutupi sebagian wajahnya.


Pria itu melompat ke belakang karena merasa dorongan danel lebih kuat.


Treya yang terhempas merasa kesakitaan dan hendak bertanya namun setelah dia melihat seseorang ingin menyerangnya, membuatnya kagum sekaligus terkejut, dia baru pertama kali melihat seseorang secepat itu, namun setelah di pikir pikir itu sungguh mengerikan.


Pria itu berlari menuju danel dan melakukan berbagai teknik pedang selama beberapa detik namun serangannya itu bagaikan mainan bagi danel; dengan mudahnya dia menangkis seperti sudah mengetahui semua yang akan pria itu keluarkan.


Menyadari semua serangannya tidak berguna dengan cepat dia melompat ke belakang, mungkin untuk menghindar atau melarikan diri.


“Siapa kau!?” Ujarnya dengan cepat, Suaranya berubah dan bercampur dengan ketakutan.


“kamu tidak perlu tahu, yang pasti–.” Danel berlari dengan cepat bagaikan kilatan dan menebas salah satu tanganya.


“Aku akan mengalahkanmu.”


Pria itu tidak sempat menghindar dan juga dia memperlihatkan wajah terkejut; Matanya tidak berkedip beberapa detik kemudia dia berteriak kencang, rasa sakit yang dia rasakan begitu dasyat bagaikan di tusuk sesuatu yang lebih tajam dari jarum kecil panjang.


Treya yang tidak jauh dari sana begitu terkejut dan bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah beberapa detik pria itu berguling gulin di tanah lalu menghentikannya. “apa yang... Kau lakukan !?” ujarnya lirih sambil berdiri dan memegang tangan kanannya yang ke sakitan.


“aku memotong aliran energi yang mengalir di tangan kananmu.”


Pria itu terkejut, dia sekarang tidak bisa menggunakan energi alamnya lagi untuk menggunakan teknik teknik pedang.


Teknik yang danel gunakan adalah teknik yang sangat tinggi dan sulit untuk di pelajari baahkan seseorang yang ahlipun sulit menguasainya.


Di butuhkan keakuratan yang sangat tinggi untuk melakukannya jika salah itu akan memotong tangan.


Daniel mengarahkan pedangnya tepat di depan wajah pria itu dengan sangat dekat membuat pria itu tidak bisa bergerak. “apa tujuanmu?”


Menyadari bahwa dirinya tidak bisa melakukan apapun dengan cepat dia berkata. “aku ingin membunuhnya.”


“Kenapa?”


“karena dia adalah anak dari musuhku.”


“Apa kau tahu siapa yang membunuh ayahku?” tanya treya yang sudah menghampiri mereka.


“ya, itu aku.”


Treya merasa sesuatu yang aneh merasukinya akhirnya dia menemukan pembunuh ayahnya, tapi dia bingung apa yang harus dia lakukan.


“kau bisa membunuhku sekarang.” Ujarnya lirih, merasa bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa apa lagi.


Beberapa detik treya memikirkannya lalu berkata. “kenapa kau membunuh ayahku?”


“Karena aku sangat membenci ayahmu.”


“Kenapa?”


“Ayahmu selalu saja melampaui ku dalam segala hal, itu membuatku iri dan meskipun ayahmu tidak berburu lagi, aku tetap membunuhnya.”


Treya terkejut akan hal itu, sikap iri yang di miliki orang di depannya begitu mengerikan, dia sekarang tahu orang di depannya adalah seseorang yang menjadi teman ayahnya sewaktu muda dulu. Treya merasa bingung apa yang akan dia pilih apakah membunuhnya atau membiarkanya begitu saja. jika membunuh ibunya pernah berkata untuk mengiklaskan kepergian ayahnya, namun jika tidak di bunuh mungkin dia akan melakukan sesuatu yang buruk lagi.


Pedang masih di arahkan danel. “Apa yang akan kita lakukan kepadanya?”


Setelah beberapa saat memikirkanya dia pun berkata. “ kita akan memutuskan semua aliran energi di dalam dirinya.”


“apa kau bisa melakukanya?”


“Ya, aku bisa.”


Pria itu memperlihatkan ketakutan yang luar biasa, dia teringat dengan rasa sakit yang sangat menyakitkan itu, namun apa daya dia harus menerimanya.


Dengan secepat kilat danel menegayunkan pedangnya, tidak ada Suara tebasan hanya ada kilatan yang membentuk garis kemudian di susul oleh teriakan kesakitan yang lebih parah dari sebelumnya.


Treya dan danel meninggalkannya begitu saja.


Mereka takut mungkin teriakan itu akan menggundang seseorang yang datang jadi mereka harus cepat cepat untuk meninggalkannya.