
“Mereka sedang menunggu di depan” jawab Erlynn sambil mengikuti Leon dari belakang.
Mereka berdua keluar dari ruangan dan bertemu dengan yang lainnya.
“Apa kau yang sudah mengobati luka mereka?” tanya penjaga Desa yang menyambut mereka di depan gerbang tadi.
“Memangnya siapa lagi? Pak tua tidak berguna yang ada di dalam sana?” jawab Leon sambil menunjuk ke arah ruang perawatan.
“Hei, jangan berkata seperti itu..! Beliau seperti pahlawan di desa ini, jika saja para alkemis yang lain masih hidup, pasti beliau tidak akan kesusahan seperti ini” ucap penjaga tersebut.
“Tapi, aku masih tidak percaya kau benar-benar bisa menyembuhkan mereka dengan sangat cepat, terima kasih banyak..!” ucap penjaga tersebut sambil merunduk.
“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan..! Yang terpenting sekarang adalah mencari penginapan karena sudah larut malam” ucap Leon.
Penjaga tersebut mengerti dengan ucapan Leon, dia pun membawa Leon dan yang lainnya ke penginapan terbaik di desa ini untuk menginap dan beristirahat hingga besok hari.
Keesokan harinya...
Leon dan yang lainnya berangkat ke kota kerajaan Jalec yang hanya berjarak 10 kilometer dari desa Naga.
Berkat sihir teleportasi milik Leon, mereka masih punya waktu yang sangat banyak untuk sedikit bersantai dan melihat-lihat di dalam kota Jalec.
Menurut informasi penjaga gerbang kerajaan, ternyata sudah ada beberapa tim peserta turnamen yang sudah tiba lebih awal di kerajaan ini.
Dari total 50 tim, saat ini sudah ada sekitar 30 tim yang sudah hadir, dan hanya tim Leon saja yang tidak menggunakan kereta kuda kerajaan.
Mulai dari tim dengan kekuatan yang biasa saja, hingga tim yang terlihat menjanjikan dalam turnamen ini.
“Kalian, jika masih ingin berkeliling, silakan saja..! Aku ingin menemui teman lamaku yang bekerja untuk guild alkemis di kerajaan Jalec” ucap Linting sambil memainkan janggutnya.
“Baik pak..!” jawab semua murid dengan nada yang penuh semangat.
“Kalau begitu, kita akan bertemu di pusat kota sebelum matahari terbenam..!” ucap Linting, lalu dia berbalik dan pergi ke arah yang berlawanan dengan para murid.
Frel dan Jaffar langsung berlari ke arah toko senjata yang berada tidak jauh dari posisi mereka.
Eric mengajak Erlynn untuk pergi ke pasar dan berbelanja beberapa pakaian dan makanan.
Leon pun memutuskan untuk berkunjung ke akademi sihir di kerajaan ini. Tapi, karena alasan pelatihan untuk turnamen, akademi itu pun ditutup untuk umum.
“Hmm, benar-benar menjaga privasi ya, haha..!” Leon pun kembali berkeliling kota Jalec untuk mencari sesuatu yang mungkin saja bisa menarik perhatiannya.
“Trang.. Trang.. Ting.. Prang..” suara senjata yang saling beradu pun terdengar sangat nyaring di telinga Leon setelah cukup lama berjalan, dan dia melihat sekerumunan orang yang memadati sebuah area di depannya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Leon mendekati asal suara tersebut.
“Wush.. Boom..” dan tak lama kemudian, terlihat seseorang yang terlempar sangat tinggi ke udara yang akhirnya jatuh kembali menghantam tanah.
Orang-orang yang sedang menonton tiba-tiba langsung bersorak, “Wow, kekuatan yang luar biasa..!”.
“Dia masih sangat muda tapi sudah sekuat itu..!”
“Benar..! Bahkan pria berotot yang terlihat menyeramkan itu terlihat seperti mainan olehnya..!”
Leon semakin penasaran dibuatnya, dia pun menyelinap di antara barisan para penonton untuk melihat apa yang sedang berlangsung saat ini.
“Hoo, ternyata ada tarung bebas juga di tempat seperti ini, aku pikir ada ribut-ribut apa” ucap Leon sambil menggelengkan kepalanya.
“Sekarang, siapa lagi penantang selanjutnya yang berani naik ke atas arena?” ucap seseorang yang sepertinya wasit di acara tersebut.
Tapi, tidak ada satupun dari penonton yang berani menawarkan diri untuk menantang sang juara bertahan.
“Hmm, sepertinya menarik, kalau aku naik ke atas arena boleh tidak ya?” ucap Leon, dan pria paruh baya yang berdiri di sebelahnya pun langsung menoleh ke arahnya.
“Heh, bocah, apa yang sedang kau lakukan di sini? Ini bukan tempat bermain untuk anak kecil..! Di mana orang tuamu?” ejek pria paruh baya tersebut.
Pria paruh baya tersebut mengamati pakaian yang dikenakan Leon dari atas hingga ke bawah lalu ke atas lagi dan menemukan bahwa Leon sedang mengenakan seragam akademi sihir.
“Hmm, tidak kusangka ternyata kau seorang murid akademi sihir, kalau begitu kenapa tidak kau coba saja peruntunganmu di atas arena?” pria paruh baya tersebut bermaksud untuk mencelakai Leon dengan membuatnya babak belur terlebih dahulu di atas arena karena melawan sang juara bertahan.
Lalu, setelah selesai pertarungan, dia akan mengikuti Leon hingga lengah agar bisa merampas barang-barang sihir yang dibawa Leon.
“Dari seragamnya, sepertinya anak ini bukan dari akademi sihir biasa..! Kalau begitu, dia pasti memiliki wadah sihir yang bisa dijual dengan harga tinggi..!” gumam pria paruh baya tersebut dengan senyuman liciknya.
“Oke, kalau begitu aku akan mencobanya sekarang..!” ucap Leon, lalu dia mengangkat tangannya untuk mengajukan diri sebagai penantang selanjutnya.