
Keesokan harinya, Leon bersiap untuk memulai pelajaran pertamanya di kelas sihir tingkat lanjutan.
Saat tiba di kelas, mata semua murid tertuju padanya seolah-olah melihat orang yang sangat hina sedang berjalan didalam kelas mereka.
“Hmm, aku sangat kenal dengan tatapan seperti ini, tapi, memangnya mereka bisa apa untuk menakutiku?” gumam Leon sambil tersenyum lalu duduk di kursi paling depan tepat di sebelah seorang gadis cantik yang menjadi idaman seluruh murid laki-laki di kelas.
“Yo, apa dia tidak tahu malu? Yang boleh duduk di sebelahnya kan hanya murid elit dari kerajaan saja?”
“Entahlah, mungkin otaknya tertinggal di rumah”
“Kalau Eric sampai melihat ini, dia pasti akan sangat marah..!”
“Aku tidak tahu apa yang sudah dia perbuat saat pertarungan melawan pak guru Grizer kemarin, tapi aku yakin dia hanya menang karena kecurangan atau keberuntungan saja..!”
“Ya, aku pun berpikiran yang sama denganmu..! Mana mungkin bocah ingusan seperti itu bisa menang melawan pak guru Grizer, dasar budak..!”
Semua murid mulai membicarakan sikap Leon yang menurut mereka sangat tidak tahu malu.
“Hmm, entah apa yang mereka pikirkan tapi, aku bisa mendengar cibiran mereka dengan sangat jelas..! Apa mereka tidak takut menyinggung perasaanku yang sangat rapuh ini?” ucap Leon sambil memasang wajah yang memelas.
“Haha, ternyata kau tidak semenakutkan itu..! Salam kenal, namaku Erlynn, kau pasti Leon” ucap gadis yang duduk di sebelah Leon sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Eh hehe, apa kau tidak malu berkenalan denganku?” tanya Leon sambil tersenyum dan menyambut tangannya Erlynn.
“Haha, di dalam kelas ini, kita semua adalah teman..!” jawab Erlynn tanpa ragu.
“Haha, meskipun aku sedikit tidak percaya, tapi ya sudahlah..! Salam kenal..!” ucap Leon, lalu dia melepaskan genggaman tangannya dari Erlynn.
Tak berapa lama, murid yang bernama Eric pun sampai di kelas lalu secara tiba-tiba membanting buku di hadapan Leon.
“Hmm?” Leon menoleh ke arah Eric dengan tatapan heran.
“Kau..! Siapa yang bilang kalau kau boleh duduk di sebelah Erlynn?” teriak Eric dengan wajah dan nada yang sangat kesal.
“Kurang ajar..! Kau berani mengacuhkan aku?” amarah Eric semakin memuncak dan akhirnya dia menarik kerah baju Leon dan ingin memukul wajahnya.
“Lepaskan tangan kotormu dariku..!” ucap Leon dengan tatapan tajam.
“Atau apa? Aku tidak takut dengan gertakanmu” Eric pun melayangkan tangannya untuk memukul Leon.
"Wah, bocah bau itu sudah tamat..! Itu salah satu pukulan terkuat di kelas ini..! Hammer fist..!" ucap salah satu murid yang sedang menggunjing Leon.
Tapi, apa yang terjadi malah sebaliknya, Eric terpental dengan kecepatan tinggi menghantam meja guru.
“Yo, kau kenapa? Bukankah kau ingin memukul wajahku yang tidak bersalah ini? Kenapa malah kabur?” ucap Leon dengan nada bercanda.
Terlihat jari Leon seperti habis menyentil lalu berkata, “Jika tidak tahu dengan siapa kau sedang berhadapan, lebih baik kau diam dan duduk seperti anak baik-baik..!”.
Semua murid pun menganga seperti akan menjatuhkan dagu mereka.
“I-itu sungguhan?”
“Bagaimana bisa malah Eric yang terpental?”
“Aku tidak mengerti, padahal sudah jelas Eric adalah murid jenius dan terkuat di kelas ini..! Apa mungkin, bocah itu memang sekuat itu?”
Murid-murid mulai membicarakan tentang hal ini, mereka mulai menaruh rasa curiga kepada Leon seperti Deric yang curiga bahwa Leon menggunakan obat peningkat kekuatan yang terlarang.
Tak lama kemudian, Grizer pun masuk dan mendapati Eric yang tengah terbaring di tumpukan kayu bekas meja yang sudah hancur.
Dia melihat ke arah Leon lalu menepuk dahinya, “Anak bodoh ini, padahal aku sudah katakan untuk tidak mencari masalah dengan monster itu..!”.
“Yo, pak guru Grizer, maaf soal mejanya ya..!” ucap Leon menyapa Grizer.
“Ah sudah tidak usah dipikirkan, lagi pula itu hanyalah sebuah meja” jawab Grizer sambil tersenyum kecut dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seperti bawahan yang sedang berbicara kepada atasannya.