
Setelah tiba di akademi, Leon berniat untuk bergegas menuju ruangan kepala sekolah.
Belum sempat dia melangkahkan kakinya, Trezon datang menghampiri dengan beberapa teman yang terlihat tidak senang dengan keberadaan Leon di akademi ini.
"Hei anak budak..! Beraninya kau sombong di hadapanku saat di kelas tadi..!" teriak Trezon, dan beberapa murid yang sedang berada didekat situ langsung memberikan perhatian mereka.
"Sepertinya akan ada perkelahian..!"
"Itu kan Trezon, anak bangsawan terkaya di kerajaan ini..! Siapa itu yang berani mencari masalah dengannya? Apa dia sudah bosan hidup?"
Murid-murid akademi yang sedang menyaksikan itu pun saling bergosip.
Namun, Leon hanya diam dan mengacuhkan keberadaan Trezon yang sedang marah-marah padanya.
Dia berjalan santai melewati gerombolan Trezon dan dengan cepat menyulut emosinya.
"Sialan..! Beraninya kau mengacuhkan perkataanku, padahal hanya seorang anak dengan kasta budak..!" teriak Trezon, dan Leon pun menghentikan langkahnya.
"Ya, kami juga heran kenapa kau bisa diperbolehkan masuk ke akademi ini yang minimal harus berkasta bangsawan..!" teriak salah satu teman Trezon yang ikut mengompori.
"Haha, bukankah itu sudah jelas? Ibunya pasti menjual harga dirinya kepada salah satu guru di sini agar bisa terlihat keren karena masuk ke akademi sihir kasta bangsawan..!" jawab Trezon sambil tertawa geli.
"Weh, ternyata ada yang seperti itu? Benar-benar tidak tahu malu..!"
"Pantas saja aku tidak merasakan aura bangsawan dari dirinya, ternyata hanya seorang dengan kasta budak, cih..!"
Murid-murid yang lain pun ikut mencibir Leon yang hanya tertunduk menahan emosinya.
"Speed up..! Agility up..! Body up..!" bisik Leon pelan.
"Hei, apakah kau benar-benar tidak tahu malu? Aku yakin sekali bahwa yang kau lakukan di kelas tadi, hanyalah tipuan, mana mungkin seseorang dengan kasta budak bisa melakukan sihir level tinggi seperti itu..!" teriak Trezon sambil menunjuk ke arah Leon.
Namun, saat dia menyadari arah yang ditunjuknya sudah tidak ada siapa-siapa, Trezon pun terlihat kebingungan.
"Di mana dia? Cepat Car..." Trezon terhenti karena kesadarannya mulai menghilang setelah mendapatkan pukulan tepat di belakang lehernya.
"Bruk..." tubuh Trezon terjatuh menyentuh tanah dan tak sadarkan diri.
"Kalau seperti itu saja kau tidak bisa mengantisipasi, jangan berbesar mulut dengan menghina status orang lain..! Kau bahkan jauh lebih lemah dari seseorang dengan kasta budak, apa yang membuatmu berhak mengatakan hal buruk tentangku?" ucap Leon dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin seolah-olah hanya dengan tatapannya saja sudah bisa membunuh.
"Jika hanya mengandalkan kekuatan dari kekayaan keluargamu saja, lebih baik kau berhenti menjadi seorang ksatria..! Karena kau lebih pantas menjadi seorang pesuruh..!" ucap Leon, dan semua orang pun menutup mulutnya karena terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, terlebih lagi, Leon mengatakan hal yang sangat buruk di lingkungan kerajaan Lainard.
"Kau..! Hajar dia..!" teriak salah satu teman Trezon memerintahkan yang lainnya untuk menyerang Leon.
"Wahai kekuatan murni roh api agung, bakarlah musuhku..! Fire ball..!" sebuah bola api kecil meluncur ke arah Leon.
"Dengarkan perintahku kekuatan dari dalam tanah, remukan tubuh lawanku..! Rock slam..!" dua buah batu besar meluncur ke arah Leon untuk menjepitnya.
"Bekukan hingga menembus tubuh musuhku..! Icy spear..!" sebuah tombak yang terbuat dari es meluncur ke arah Leon.
Mereka semua merapalkan mantera dan menyerang Leon secara bersamaan.
"Bocah itu sudah tamat..! Walaupun aku kagum dengan kecepatannya, tapi, mana mungkin murid akademi tingkat dasar bisa bertahan melawan murid senior..!" ucap salah satu murid yang sedang menonton kehebohan tersebut.
Namun, tanpa harus bergerak sedikitpun, serangan gabungan mereka tidak ada yang berhasil mengenai Leon bahkan untuk menggerakkan satu helai rambutnya.
Semua karena lapisan energi dari cincin wadah sihir yang dipakai Leon telah meniadakan sifat sihir yang ada di sekitar penggunanya.
Dengan kata lain, cincin itu adalah pertahanan mutlak terhadap sihir tingkat apapun.
Melihat serangannya tidak berhasil, mereka pun mencobanya berkali-kali hingga terlihat seperti sedang menembakkan senapan mesin ke arah Leon.
Tapi, bagaimanapun mereka berusaha hasilnya tetap sama saja.
Tak ada satupun yang berhasil menyentuh Leon dengan sihir mereka.
Semua murid yang menyaksikan pun terkejut sekaligus kebingungan dengan kejadian tersebut.
"A-apa yang terjadi? Bagaimana kau.." ucapan teman Trezon tersebut disela oleh Leon.
"Tidak perlu kau tahu kenapa, aku hanya akan memperingatkan kalian sekali ini saja..! Jangan pernah menghina ibuku di depan atau di belakangku..!" ucap Leon dengan nada yang sangat dingin.