
"Cih, jangan sombong kau hanya karena bisa menangkis beberapa serangan saja..! Sekarang, rasakan sihir pamungkasku..!" teriak seorang teman Trezon.
"Dengarkan jeritan jiwaku, putar balikkan hukum alam ini..! Ultimate Flame..!" teriak murid tersebut, lalu keluar sebuah semburan api kecil di seluruh tubuhnya yang terlihat seperti aura yang terbuat dari api.
** Re: Ultimate flame, adalah sihir pamungkas yang wajib dikuasai oleh murid senior dengan kekuatan level 3..! dan di akademi, teknik ini adalah yang paling tinggi.
"Level 3, ya?" gumam Leon, dia pun melihat ke sekelilingnya.
"Banyak murid di sini, jika aku terus menerus menghilangkan sihir mereka, aku takut mereka tidak akan punya muka lagi di depan murid yang lain" pikir Leon.
"Sekarang sudah terlambat untuk menyesal..!" teriak murid tersebut lalu maju untuk menyerang Leon.
Namun, tak sempat dia memukul Leon, Linting datang untuk menghentikannya.
"Siapa yang mengizinkan kalian menggunakan sihir di luar arena pengujian?" ucap Linting yang datang dengan kecepatan tinggi bagi murid-murid yang lain.
Linting menggenggam pergelangan tangan murid tersebut untuk menghentikannya.
"I-ini, guru Linting, a-aku hanya..." ucap murid tersebut terbata-bata.
“Pak guru Linting, anak itu yang memulai perkelahian ini..! Anda bisa lihat, Trezon sudah tidak sadarkan diri karena dipukul olehnya”
"Hmm, tapi dari sisi yang aku lihat, kalianlah yang memulai keributan..! Untuk itu, kalian akan aku skors selama 1 minggu..!" ucap Linting sambil menunjuk ke arah Trezon dan teman-temannya.
"Tapi, tapi, tapi..." murid tersebut pun terduduk dan terdiam.
"Apa yang kalian lihat? Cepat kembali ke kelas masing-masing..!" teriak Linting.
Semua murid pun langsung berlari berhamburan menuju kelas mereka masing-masing.
Trezon yang masih pingsan pun diangkut oleh teman-temannya lalu pergi dari situ.
"Leon, kau tidak apa-apa?" tanya Linting seraya berjalan mendekat kepada Leon.
"Oh, aku sangat sehat segar dan bugar..! Terima kasih pak guru Linting sudah menyelamatkan murid ini..!" ucap Leon sambil merunduk.
Sikap Linting sangat berbeda dari pertama kali dia bertemu dengan Leon.
Linting menyadari tingkat kekuatan yang sangat jauh dengan Leon, bagaimana bisa dia berpikir untuk tidak bersikap sopan kepadanya.
"Kalau aku boleh tahu, bagaimana keadaan murid senior yang menyerangku kemarin malam?" tanya Leon.
"Ah itu, dia sudah membaik sekarang, hanya saja sepertinya Petri masih sedikit mengalami trauma" jawab Linting.
"Hmm, aku jadi tidak enak, tolong sampaikan salamku untuknya" ucap Leon.
"Mmm, aku akan menyampaikannya nanti" jawab Linting menganggukkan kepalanya.
"Sekarang, apakah kepala sekolah sedang berada di akademi?" tanya Leon.
"Beliau sekarang sedang ada urusan mendadak di dalam istana kerajaan, kemungkinan besok baru akan kembali" jawab Linting.
"Hmm, begitu ya? Oh iya, kalau tidak salah, pak guru Linting adalah guru utama di akademi ini, 'kan? Apakah bisa membantuku untuk masuk ke kelas sihir lanjutan?" tanya Leon.
"Ah itu.." Linting terlihat sangat kebingungan.
Di satu sisi, dia sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki Leon, tapi, untuk naik ke tingkat lanjutan membutuhkan setidaknya 6 bulan di kelas sihir tingkat dasar, lalu ikut ujian di arena pengujian untuk naik tingkat.
"Untuk hal itu, aku takut tidak bisa membantumu" jawab Linting dengan wajah menyesal.
"Hmm, sepertinya hanya kepala sekolah saja yang bisa membantuku dalam hal ini..!" ucap Leon sambil memegang dagunya.
“Memang seperti itu seharusnya, tapi..” Linting berhenti sejenak.
“Hmm?” Leon melihat ke wajah Linting.
“Meski kepala sekolah sekalipun, kau harus tetap melewati ujian di Arena Pengujian terlebih dahulu..!” sambung Linting.
“Oh begitu? Jadi, yang membedakan hanyalah waktu pengambilan ujian saja..! Baiklah, itu bukan masalah besar bagiku, aku akan menunggu hingga kepala sekolah pulang” jawab Leon, dia merunduk memberi hormat kepada Linting lalu berbalik dan berjalan menuju ruangan kelas.