
“Kalau begitu, sekarang giliranku..!” ucap Leon.
Dia pun membuat kuda-kuda bertarung lalu, “Wush.. Wush..” suara angin yang dibelah karena bertabrakan dengan tubuh Leon yang sedang berlari dengan sangat cepat.
“Dia..” Grizer langsung memfokuskan penglihatannya untuk mencari Leon yang hampir tidak terlihat karena kecepatan lari yang luar biasa.
“Swift death..!” Grizer berkali-kali menyerang Leon seperti sebelumnya, namun kali ini tidak ada satupun yang mengenainya.
Hingga akhirnya, “Boom.. boom..” dua pukulan telak dari Leon yang mendarat di ulu hati dan wajah Grizer menghempaskan tubuhnya hingga 40 meter ke belakang.
“Kekuatan fisik yang luar biasa..! Aku jadi tidak tahu hasil pertarungan ini, malah, aku tidak ingin pertarungan ini berakhir..!” ucap Bernard yang sangat senang dengan apa yang dia saksikan.
“A-apa yang barusan terjadi? Kenapa pak guru Grizer bisa terpental seperti itu?”
“Tidak mungkin pak guru Grizer kalah dari bocah sombong seperti itu, ‘kan..!”
Semua penonton tidak percaya dibuatnya, tapi, Leon benar-benar penuh dengan kejutan bagi beberapa dari mereka.
Leon pun berjalan santai ke arah Grizer yang sedang terengah-engah setelah terkena pukulannya tadi.
“Pak guru, apakah sudah selesai?” tanya Leon sambil tersenyum.
“Cih, jangan senang dulu hanya karena mendaratkan beberapa pukulan..!” Grizer pun mencoba berdiri.
“Sial..! Pukulan macam apa itu? Kalau saja aku tidak melangkah mundur untuk mengurangi dampak pukulannya, mungkin sekarang aku benar-benar sudah mati” gumam Grizer dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Leon.
“Apakah aku harus menggunakannya untuk melawan bocah seperti ini? Tapi, jika tidak aku gunakan...” Grizer kemudian menancapkan pedangnya ke tanah lalu mengucapkan sebuah mantera.
“Oh Rindou yang agung, berikanlah aku perlindunganmu..!” teriak Grizer.
“ITU..! Haha.. Grizer, apa kau benar-benar kewalahan melawan anak itu?” ucap Bernard.
“Ya..! Rindou’s armor, baju zirah yang membuatnya mendapatkan posisi salah satu ksatria terkuat di kerajaan ini” jawab Bernard.
“Kalau begitu, kesempatan menang untuk anak itu menjadi tipis” sambung Linting.
“Kita belum tahu hasilnya, jadi, lebih baik lihat dengan seksama” Bernard menyuruh Linting untuk tetap menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Rindou’s armor..!” baju zirah pun muncul menyelimuti seluruh tubuh Grizer, lalu dia mencabut pedang yang ditancapkan ke tanah tadi.
“Wow, aku tidak menyangka pak guru Grizer memiliki baju zirah juga..!” gumam Leon sedikit terkejut melihat Grizer.
“Bagus sekali..! Sekarang kita lihat, apakah kau masih bisa sesombong tadi?” gumam Deric dengan senyuman jahatnya.
Leon mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan dadakan seperti sebelumnya.
“Hmm, apakah aku harus menggunakan baju zirah juga?” gumam Leon.
“Bocah, kau benar-benar mengejutkanku sampai-sampai harus menggunakan baju zirah ini..! Kau harus merasa terhormat karena sudah aku anggap sebagai lawan yang kuat” Grizer kemudian menarik pedangnya dan bersiap untuk menyerang.
“Hehe, aku jadi merasa tersanjung bisa dipuji oleh guru idola di akademi ini..!” jawab Leon dengan santainya.
Tanpa basa-basi lebih panjang, Grizer langsung melesat ke arah Leon dan mengayunkan pedangnya.
“Boom.. Boom..” ayunan pedang yang ditahan oleh Leon lebih terdengar seperti ledakan yang berturut-turut daripada suara besi yang beradu.
Leon terpental jauh ke belakang dan hampir saja menghantam tembok lagi.
“Wah, kali ini serangannya jauh lebih kuat dari sebelumnya..! Aku ingin tahu akan sekuat apa nantinya jika baju zirah miliknya sudah berevolusi” ucap Leon sambil memegang tangannya yang tersayat oleh pedang Grizer.