THE ABSOLUTE SYSTEM

THE ABSOLUTE SYSTEM
Pak Guru Grizer!




“Speed up..! Agility up..!” Leon menghindari semua serangan mereka dengan mudah.


“Cih, keberuntungan pemula..!” cibir salah satu dari murid yang marah.


Leon mengernyitkan alisnya lalu berjalan santai ke arah mereka.


“Dengar, aku tidak tahu siapa kalian dan aku tidak tahu apa yang sudah aku perbuat hingga kalian sangat emosi, tapi, menyerangku secara bersamaan tiba-tiba seperti itu apakah kalian tidak malu?” ucap Leon dengan senyum tipis.


“Tidak tahu katamu? Kau sudah membuat Trezon dan yang lainnya diskors hingga mereka merasa malu..!” teriak salah satu dari mereka.


“Oh bocah bodoh itu? Lalu, apa hubungannya dengan kalian?” tanya Leon.


“Kau benar-benar tidak tahu atau bodoh aku tidak bisa membedakannya, Trezon itu adalah putra dari perdana menteri yang sudah berkasta bangsawan di kerajaan ini, bahkan kepala sekolah pun harus memberi hormat kepada ayahnya..! Tapi kau dengan sangat bodohnya menyerang Trezon, kau benar-benar cari mati” jelas murid tersebut.


“Oh, lalu? Apakah aku harus merasa takut? Lagi pula, bocah itu tidak mencerminkan sikap yang pantas hanya karena ayahnya seorang perdana menteri..!” Leon menggelengkan kepalanya.


“Sialan..!” mereka bertiga pun langsung merapal mantera dan bersiap untuk menyerang Leon.


“Kalian semua, hentikan apa yang ingin kalian lakukan sekarang..!” teriak seseorang dari arah pintu masuk lalu dia melompat masuk ke dalam arena pengujian.


Itu adalah pak guru Grizer, guru senior yang mengajar dan menjadi idola di kelas sihir tingkat lanjutan dengan wajah tampan, berambut hitam, yang sering dijuluki dengan ksatria tampan.


“Guru..!” ketiga murid tersebut langsung menghentikan rapalan manteranya lalu merunduk memberikan jalan.


“Pak guru Grizer, beri pelajaran pada bocah itu..! Dia sudah memprovokasi nama baik dari akademi sihir ini” ucap salah satu dari ketiga murid tersebut yang berusaha membuat guru tersebut memberi pelajaran kepada Leon.


Leon yang mendengarkan ucapannya, hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


“Apakah kalian sudah mendapatkan izin untuk menggunakan arena ini?” tanya Grizer.


“I-itu.. Belum” ketiga murid tersebut menjawab terbata-bata.


“Dan kau, dari kelas mana siapa namamu? Apa yang kau lakukan di arena pengujian ini?” tanya Grizer sambil menunjuk ke arah Leon.


“Oh, sudah selesai marah-marahnya? Baiklah, namaku Leon dan aku masuk ke dalam arena pengujian ini karena merasa bosan di kelas, soalnya kelasku hanya membahas dasar-dasar sihir yang sudah aku ketahui” jawab Leon sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala.


“Oh, jadi kau merasa sudah sangat hebat, hah?” tanya Grizer dengan nada yang sangat kesal sampai-sampai dia mengepalkan tinjunya dengan sangat keras.


“Ya begitulah, maka dari itu, aku sedang menunggu kepala sekolah pulang untuk memindahkan aku ke kelas sihir tingkat lanjutan” jawab Leon santai.


“Cih, jangan hanya berbicara besar kau..! Aku sangat membenci murid yang banyak omong tapi kemampuannya tidak lebih dari sampah..!” bentak Grizer.


Ketiga murid yang menyerang Leon tadi, langsung tersenyum senang karena tidak perlu berusaha lagi, Leon sudah menggali kuburannya sendiri.


“Hmm, apakah pak guru mau mencoba kemampuan sampah dari murid ini?” Leon menantang Grizer.


“Kurang ajar..!” Grizer langsung menarik pedang yang menggantung di pinggang kirinya dan menghunuskannya kepada Leon.


“Wow, langsung emosi..! Haha, baiklah, ini artinya pak guru menerima tantanganku ya?” ucap Leon.


“Jika aku menang, kau harus meninggalkan akademi ini dan jangan pernah kembali..!” ucap Grizer dengan penuh emosi.


“Oke, lagi pula aku tidak berencana berlama-lama di sini..! Kalau begitu, jika aku yang menang, aku ingin Anda membantuku untuk pindah ke kelas sihir tingkat lanjutan..!” jawab Leon.


“Tidak masalah..! Tapi, aku tidak akan melawanmu seperti ini, aku akan mengumumkan pertarungan kita kepada seluruh akademi dan aku akan memastikan seluruh guru akan menyetujuinya..! Lihat saja bagaimana aku akan mempermalukanmu di depan semua orang” ucap Grizer dengan penuh percaya diri lalu memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya.


“Besok, akan menjadi hari yang paling memalukan bagimu, bersiaplah..!” ucap Grizer, lalu dia berbalik meninggalkan Leon dan pergi dari arena pengujian.


“Oke, aku sudah tidak sabar untuk melawan pak guru yang banyak omong seperti Anda..!” ucap Leon melambaikan tangannya sambil tersenyum.


“Cih, masih berani membual seperti itu..!” lalu ketiga murid tadi pun ikut keluar dari arena pengujian.