THE ABSOLUTE SYSTEM

THE ABSOLUTE SYSTEM
Aku Sudah Memberikanmu Kesempatan!



“Walaupun aku tidak suka dengan cara menjawabmu, tapi jawabanmu tidak salah..! Ya, malah aku pikir itu adalah jawaban yang langsung pada intinya” ucap Deric membenarkan jawaban Leon.


Meskipun demikian, murid-murid yang lain sudah terlanjur tidak suka tetap saja menganggap Leon sebagai orang yang tidak beradab.


“Kau ini sepertinya tidak pernah diajarkan sopan santun oleh ayahmu ya?” ucap murid perempuan yang duduk di sebelahnya.


“Bagaimana menjawabnya ya? Aku memang dari kecil tumbuh tanpa ayah dan aku tinggal di daerah kumuh yang isinya orang berkasta budak..! Jadi, ya sesuai yang kau lihat, aku memang tidak pernah diajarkan sopan santun oleh ayahku, tapi ibuku yang mengajariku banyak hal..!” jawab Leon dengan nada santai.


“Oh pantas saja kau seperti sampah, berarti ibumu..” belum sempat perempuan itu melanjutkan bicaranya, Leon menyela ucapannya.


“Sebelum kau melanjutkan ucapanmu yang akan kau sesali, aku sarankan kau berhenti mengatakan sesuatu tentang ibuku..!” ucap Leon mengancam murid perempuan tersebut.


“Oh, memangnya kau mau apa?” tanya murid perempuan tersebut sambil mendengus dingin.


Murid laki-laki yang juga duduk di sebelahnya pun ikut mencerca dirinya setelah mendengar ucapan langsung dari Leon.


“Sepertinya sampah berkasta budak sepertimu benar-benar harus ditendang keluar dari akademi ini..! Lagi pula, aku penasaran bagaimana caranya kau bisa masuk ke akademi ini? Apakah ibumu sampai menjual harga diri dan tubuhnya untuk memasukkanmu ke akademi ini?” ucap murid laki-laki tersebut.


“Aku akan memberikanmu waktu 3 detik untuk berlutut meminta maaf karena telah mengatakan hal buruk tentang ibuku..! satu...” ucap Leon dengan tatapan yang ingin membunuh.


“Oh, kalau aku tidak mau?” jawab murid laki-laki itu.


“Dua..” Leon masih melanjutkan hitungannya.


“Cih, memangnya bisa apa kau? Jika memang kau sehebat itu, bukankah seharusnya kau berada di kelas yang mempelajari sihir lanjutan?” ucap murid perempuan tadi.


“Tiga.. Waktumu sudah habis..! Jangan pernah bilang bahwa aku tidak memberikanmu kesempatan..!” ucap Leon.


Lalu dia mencengkeram wajah murid pria tersebut dan mendekatkannya kepada wajahnya.


Deric yang melihat Leon mencengkeram wajah murid laki-laki tersebut segera berlari mendekati mereka untuk menghentikannya.


“Aku ingin tahu, apa yang paling kau takuti di dunia ini..!” ucap Leon dengan senyuman yang seperti seorang psikopat.


“Fear..!” ucap Leon dengan suara yang terdengar sangat dingin.


“Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk meminta maaf..! Sekarang, aku harap kau menyukai akibat dari yang kau buat sendiri..!” ucap Leon.


Sementara murid laki-laki itu menjerit ketakutan, Leon mengarahkan tangannya ke atas dan “Memory loss..!” dia menghapus ingatan semua orang yang ada di dalam ruang kelas tersebut tentang kejadian barusan.


Setelah cahaya hitam yang menyelimuti semua orang hilang, Deric melihat murid laki-laki tadi sedang menjerit ketakutan sambil merangkak ke sudut ruangan.


“Trezon, apa yang terjadi?” teriak Deric seraya mendekatinya.


“Pergi kau..! Jangan mendekat..! Aarrrrhhhhh..!” hanya itu yang keluar dari mulut Trezon.


Kejadian itu pun mengalihkan perhatian seluruh murid di kelas kepada Trezon dari Leon yang menurut mereka telah berikap tidak sopan.


Leon bersikap tak acuh dan pura-pura tidak tahu, dia akhirnya memutuskan untuk izin ke luar kelas untuk pergi ke kamar kecil karena tidak tahan dengan teriakan Trezon seperti gadis kecil yang jari kakinya terjepit pintu.


“Kau, bantu aku menenangkan Trezon..!” pinta Deric kepada Leon.


“Bukan urusanku..! Hal ini bukankah menjadi tanggung jawab seorang guru? Kenapa aku harus membantunya?” jawab Leon ketus dan semua murid pun kembali melihat Leon dengan tatapan seperti tadi, tapi, Leon sudah tidak peduli dengan tatapan kebencian mereka dan terus berjalan keluar kelas.


“Kau..!” Deric menatap Leon dengan tatapan kesal, tapi dia tidak bisa menghukumnya sekarang karena masalah Trezon yang belum dia ketahui dan harus segera diselesaikan sebelum guru lain mendengar teriakannya yang akhirnya akan menjadi masalah besar di hari pertama dia mengajar di akademi besar seperti ini.


Leon tidak peduli dengan keadaan mental Trezon yang sudah menghina ibunya, menurutnya, itu adalah hal yang pantas diterimanya.


Di sisi Deric..


“Wahai sihir murni, bantu aku untuk menghapuskan segala kegelapan..! Calm light..!” Deric mencoba untuk menenangkan Trezon dengan seluruh kemampuan yang dia miliki, tapi tidak ada satupun yang berhasil.


“Sialan..! Apa yang terjadi dengan anak ini?” Deric mulai berkeringat dingin, takut karir mengajarnya akan berakhir karena suatu hal yang tidak diketahui.


Tak lama, Trezon pingsan kemudian mengeluarkan darah segar dari hidung dan mulutnya.


Semua orang pun panik dan segera memanggil guru yang lainnya untuk datang membantu.


Deric yang tidak tahu apa-apa tentang yang menimpa Trezon, hanya bisa pasrah.