
Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat hingga saat ini adalah malam hari.
“Tok.. tok..” suara pintu kamar asrama Leon diketuk oleh seseorang.
“Siapa?” Leon bangkit dari tidurnya dan berjalan untuk membukakan pintu.
“Ini aku, Greta” Leon pun membukakan pintu dan melihat Greta yang terlihat cantik dengan gaun kerajaannya.
“Ada apa?” Leon mengernyitkan alisnya.
“Kau tidak lupa janjimu, ‘kan?” tanya Greta sambil menggembungkan pipinya.
“Hehe, yang mana ya?” jawab Leon pura-pura lupa.
Greta maju satu langkah, meluncurkan tangannya ke arah perut Leon lalu mencubit perutnya.
“Ah, baru ini aku dicubit oleh seorang gadis cantik” ucap Leon sambil membuat ekspresi bahagia.
“Kau sudah berjanji, dan sekarang aku mau kau tepati janji itu..!” ucap Greta sambil menggembungkan pipinya.
“Haha, kau ternyata bisa menjadi sangat manis juga ya? Lalu, wadah sihir yang seperti apa yang kau inginkan?” tanya Leon sambil mengusap-usap rambut Greta.
“Ah itu, aku.. belum memikirkannya..! Menurutmu, aku lebih cocok dengan wadah sihir yang seperti apa?” tanya Greta dengan wajah yang memerah.
Leon mendekati wajah Greta lalu berkata, “Hmm, kalau begitu, Creation..!” sambil menyentuh daun telinga sebelah kanan Greta.
Sinar berwarna hitam pun menyelimuti daun telinganya, dan tak lama kemudian terbentuk sebuah anting yang menggelantung.
“Ini?” tanya Greta sambil menyentuh anting tersebut.
“Wadah sihir ini digunakan untuk meningkatkan kekuatan sihirmu hingga 5 kali lipat, dan juga akan secara perlahan menyembuhkan hingga luka fatal sekalipun..! Aku pikir karena kau adalah seseorang dengan kekuatan penyembuh, wadah sihir ini akan sangat cocok untukmu” ucap Leon sambil tersenyum.
“Mmm, aku mengerti..! Terima kasih banyak, Purist..!” ucap Greta sambil merunduk.
Wajah Greta pun semakin memerah dan dia mengambil beberapa langkah ke belakang karena merasa malu.
“A-aku dengar kau akan bertarung melawan guru Grizer di arena pengujian besok?” tanya Greta.
“Mmm, memang seperti itu” jawab Leon.
“Walaupun aku tidak meragukan kekuatanmu, tapi, guru Grizer tidak mudah dihadapi..! Aku harap kau bisa berhati-hati besok, jangan sampai lengah” ucap Greta.
“Mmm, tenang saja..! Setelah urusanku di sini selesai, aku akan segera meninggalkan kerajaan untuk melanjutkan perjalananku” kata Leon.
“Ah, memangnya kau mau ke mana?” Greta terlihat tidak senang dengan rencana Leon, dia sebenarnya ingin Leon menetap di kerajaan Lainard.
“Hmm, entahlah, karena aku berniat untuk menjelajahi dunia ini, ke mana pun tidak masalah..! Tapi, kalau aku ditemani oleh gadis secantik dirimu, perjalananku pasti akan lebih menyenangkan” ucap Leon sambil tersenyum.
“A-a-a-a-aku permisi dulu..!” dengan wajah yang sangat merah, dia berbalik badan dan berlari meninggalkan Leon.
“Hehe, aku tidak tahu kalau gadis itu sangat pemalu..! Ya sudahlah” ucap Leon, dia pun menutup pintu dan kembali ke dalam kamar.
Sementara itu, di sisi Grizer..
Terlihat dia sedang duduk di kursi yang ada di ruangan pribadinya sambil meminum secangkir anggur.
“Bocah, kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi..!” ucap Grizer lalu dia meletakkan gelas minumnya di atas meja, lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah cermin.
Grizer membuka sarung tangan dan mengarahkan tangannya ke cermin.
“Oh Rindou yang agung, berikan aku perlindunganmu..! Rindou’s Armor..!” dengan cepat, seluruh tubuh Grizer tertutupi oleh sebuah baju zirah berwarna hitam dan pedangnya pun juga ikut berubah bentuk.
“Aku ingin melihat apakah kau masih bisa sombong seperti itu saat di arena pengujian nanti..!” ucap Grizer sambil tertawa terbahak-bahak.