
Keesokan harinya..
Semua orang sudah berkumpul di arena pengujian termasuk perdana menteri atau ayahnya Trezon yang mendukung guru Grizer untuk menghajar Leon.
Bernard yang urusannya di pusat kerajaan sudah selesai, bergegas kembali ke akademi untuk menyaksikan pertarungan ini.
Tidak ada rasa emosi ataupun niat untuk menghentikannya, karena Bernard sudah diperintahkan oleh raja Oxford secara langsung untuk mengawasi lalu melaporkan hasil pertarungan tersebut.
Leon yang baru saja tiba di arena pengujian, melambaikan tangannya kepada para penonton.
Namun, bukannya dukungan yang dia dapatkan, malah cemoohan yang dilontarkan kepadanya.
“Cih, kau pikir siapa dirimu berani menantang pak guru Grizer?”
“Ya, bahkan guru utama akademi ini saja menghormati pak guru Grizer..! Sedangkan kau siapa?”
“Pak guru Grizer, habisi saja bocah tidak tahu malu itu..!”
“Ya, jangan beri ampun, pak..!”
Semua murid yang menonton hanya melontarkan cemoohan untuk Leon dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Grizer.
Leon menggelengkan kepala dan menaikkan bahunya lalu berkata, “Haduh kalian ini, belum ada hasilnya saja sudah sangat meremehkan aku..!”.
“Tentu saja kami meremehkanmu..! Kau itu hanya anak bau yang tidak tahu posisi dan berani menantang guru di akademi ini, kau pikir siapa yang akan menyukai sikapmu yang seperti itu?” teriak salah satu murid yang kemarin menyerang Leon.
“Entahlah, tuan putri Greta mungkin?” ucap Leon dengan santainya.
“Cih, jangan bermimpi kau budak..!”
“Kau bilang tuan putri Greta menyukaimu? Bahkan seekor keledai saja tidak akan berselera kepadamu..!”
Semua orang semakin mencemooh Leon tanpa henti karena ucapannya barusan.
“Semuanya harap tenang..!” ucap Linting, yang sudah berdiri di tengah arena pertarungan.
Dalam waktu singkat, semua orang yang sangat ribut tadi langsung diam.
“Mmm, tidak usah kau pikirkan..! Sekarang kalian berdua hanya berfokus untuk pertarungan ini dengan taruhan Leon akan meninggalkan akademi ini jika dia kalah, sedangkan pak guru Gizer harus menerima Leon sebagai muridnya di kelas sihir tingkat menengah jika Leon menang” ucap Linting.
“Cih, jangan bermimpi kau anak budak..! Kau pikir masuk ke dalam kelas sihir tingkat menengah itu mudah?” teriak salah satu murid.
“Aku bilang diam..!” Linting membentak murid tersebut.
“Sekarang, apakah kedua pihak sudah mengerti dan menyetujui dengan apa yang dipertaruhkan?” tanya Linting.
“Aku mengerti dan setuju..!” jawab Leon.
“Apapun itu, aku sangat yakin kalau aku akan memenangkan pertarungan ini..!” dengan penuh percaya diri, Grizer menjawab pertanyaan Linting.
“Baiklah, kalau begitu pertarungan ini, dimulai..!” Linting melompat keluar arena dan kembali duduk di sebelah Bernard, lalu pertarungan pun dimulai.
Semua penonton langsung bersorak-sorai untuk mendukung Grizer tanpa ada satupun yang memberi dukungan untuk Leon.
“Haha, sepertinya kau sangat dibenci oleh akademi ini, bocah..!” ucap Grizer sambil mencabut pedangnya.
“Dibenci atau tidak, aku tidak peduli..! Aku hanya ingin segera mengakhiri pertarungan yang tidak penting ini..!” jawab Leon sambil mengibas-ngibaskan mulutnya karena menguap.
“Hehe, aku akui kepercayaan dirimu sudah terlalu tinggi sampai-sampai tidak tahu dengan siapa kau berhadapan..!” Grizer langsung berlari ke arah Leon untuk menyerangnya lalu melompat dan mengayunkan pedangnya.
“Wush.. wush..” dua sayatan angin yang tercipta dari ayunan pedang Grizer, melaju ke arah Leon dengan cepat.
“Body up..! Speed up..! Agility up..!” Leon langsung menghindari serangan tersebut.
Lalu, dengan cepat dia berlari ke arah Grizer yang masih melayang di udara dan perlahan-lahan turun.
Setelah tiba di bawahnya, Leon melompat ke arah Grizer dan mengayunkan tinjunya.
“Ting.. ting.. ting..” suara yang menyerupai dua buah pedang yang saling beradu, terdengar berkali-kali.
“Anak ini..!” Grizer bingung dengan kekuatan fisik Leon yang bisa beradu dengan pedang seperti itu.
“Kenapa pak guru? Anda terkejut? Hehe, ini baru dimulai, aku akan memberi banyak kejutan untuk Anda..!” ucap Leon sambil terus melayangkan pukulan ke arah Grizer.
Mereka berdua perlahan-lahan turun ke tanah sambil tetap saling menyerang satu sama lainnya.