
Leon tiba di kelasnya namun, suasana kelas menjadi berbeda dari sebelumnya.
Murid-murid yang telah melihat kemampuan bertarung Leon tadi, mendadak terdiam tak berani mengatakan apapun yang bisa menyinggung perasaan Leon.
“Hmm, benar-benar payah..! Baru melihat yang seperti itu saja sudah ketakutan seperti ini?” gumam Leon sambil berjalan ke tempat duduknya yang berada di paling belakang.
Murid perempuan yang tadi menghina Leon, meninggalkan mejanya untuk pindah ke tempat yang agak jauh dari Leon dan membuat barisan paling belakang hanya ditempati oleh Leon.
“Hmm, apa kalian memang sepengecut ini?” ucap Leon yang merasa geram dengan sifat para murid yang ada di akademi ini.
“Kalian bertindak seolah-olah aku ini adalah seseorang yang bau..! Apa kalian ingin mencari masalah denganku?” sambung Leon dengan nada santai.
Namun, tetap tidak ada satupun dari mereka yang berani menjawab pertanyaan Leon seperti sebelumnya.
Melihat situasi itu, Leon pun akhirnya memutuskan untuk berjalan ke depan kelas dan menghadap ke murid yang lain seperti seorang guru.
“Kalian tahu? Sebenarnya aku sangat membenci orang-orang seperti kalian ini..!” ucap Leon setelah duduk di atas meja guru.
“Kalian itu hanya anak cengeng yang mengandalkan kekuatan dari orang tua kalian, yaitu kekayaan..! Apakah dengan begitu sudah memberikan kalian hak untuk melecehkan orang lain yang berstatus lebih rendah dari kalian?” ucap Leon ketus sambil mendengus dingin.
“Kau..!” salah seorang murid yang terlihat geram dengan ucapan Leon, berdiri dan menunjuk ke arah Leon.
“Kenapa?” jawab Leon dengan tatapan tajam membuat murid tersebut gemetaran dan akhirnya duduk kembali tanpa melanjutkan omongannya.
“Kalian itu sampah yang hanya mengandalkan orang tua untuk merasa lebih hebat daripada orang lain dengan status lebih rendah..! Lemah, cengeng, manja, bodoh, dan satu hal lagi..! Kalian itu benar-benar tidak berguna” ujar Leon sambil menggebrak meja hingga terbelah menjadi dua.
“Jika di antara kalian ada yang merasa ucapanku barusan salah, maju ke depan dan katakan di depan wajahku sekarang..!” Leon sudah memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan kekuatannya dengan Memory loss karena dia pikir itu akan sangat merepotkan.
Mendengar ucapan Leon barusan pun, tetap tidak ada yang berani untuk menjawabnya.
“Cih, sekumpulan sampah..!” ucap Leon, lalu dia meninggalkan kelas dan berjalan menuju arena pengujian di mana dia melakukan tes sebelum menjadi murid akademi sihir ini.
Saat Leon keluar dari ruang kelas, seluruh murid akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah mendapatkan tekanan yang begitu dahsyatnya.
“Sial, aku benar-benar kesal dengan perkataannya tadi”
“Tapi, kalaupun kau sangat kesal memangnya kau bisa melawan monster seperti itu?”
“Apa kau sudah gila? Mana mungkin aku berani..! Trezon dan teman-temannya yang ditakuti oleh seluruh murid akademi, bahkan senior saja tidak ada yang berani menyinggung, hanya seperti anak bayi di hadapannya..!”
“Benar..! Aku rasa, pak guru Deric pun tidak akan berani melawan monster itu..!”
“Kalau aku sih lebih baik diam daripada harus berhadapan dengannya”
Beberapa murid yang ada di dalam kelas mulai bergosip tentang kejadian spektakuler yang mereka saksikan hari ini.