THE ABSOLUTE SYSTEM

THE ABSOLUTE SYSTEM
Sekarang, Katakanlah!



“Terserah kau ingin menyebutku apa..! Aku ingin tahu, apa kau masih sanggup untuk menahan rasa sakit?” ucap Leon sambil tertawah jahat.


“Sekarang, katakan padaku siapa yang menyuruhmu..!” bentak Leon.


“Cih, lebih baik aku menderita daripada harus mengkhianatinya..!” ucap Terry.


“Boom..!” kali ini, paru-paru sebelah kanannya meledak dan membuatnya kesulitan bernafas sambil merasakan sakit yang tidak bisa dibayangkan olehnya hingga dia tidak bisa mengeluarkan suara.


“Ya sudah, jika memang kau tidak mau mengatakannya..! Aku bisa menunggu sampai kau puas menderita” Leon sebenarnya sudah malas menunggu Terry untuk menjawabnya, tapi, jika hal ini tidak segera diselesaikan, dia tidak akan tenang karena bisa jadi, orang seperti ini akan membahayakan orang disekitarnya nanti.


Menurut Leon, Terry adalah orang yang paling keras kepala yang pernah ia temui walaupun dengan kutukan yang sudah diberikannya.


“Haaah.. Haaaah..” dengan nafas yang terengah-engah, Terry berencana untuk kabur dari sana sebelum Leon melontarkan pertanyaan atau perintah lainnya.


Terry pun bersiap untuk melemparkan bom asap untuk kabur, tapi, perkataan Leon pun menghentikan niatnya.


“Hmm, kalau aku jadi kau, aku tidak akan mencobanya..! Karena aku perintahkan kau untuk tetap di tempat kau berada sekarang sampai kau menjawab pertanyaanku..!” ucap Leon sambil tersenyum.


“Bajingan..! Kenapa kau tidak bunuh saja aku sekalian daripada memberi siksaan seperti ini?” teriak Terry yang sedikit mengeluarkan air matanya.


“Oh percayalah aku bisa saja membunuh tanpa menyentuhmu..!” Leon lalu berdiri dan berjalan menghampirinya.


“Tapi, aku tidak akan puas jika pertanyaanku tidak terjawab..!” Leon akhirnya mengeluarkan pedang Legia dan memutuskan untuk mempercepat urusan ini.


“Conceal..!” Leon mengubah bentuk pedangnya menjadi pedang tumpul.


“Ma-mau apa kau?” tanya Terry dengan nada yang sedikit ketakutan dengan niat Leon.


Dengan tanpa peringatan, Leon pun menusukkan pedangnya ke daerah tulang rusuk Terry.


Tapi, karena pedang yang sudah dibuat tumpul olehnya, rasa sakit saat pedang menancap pun tak bisa ditahan oleh Terry yang akhirnya dia menjerit sekuat tenaga.


“Boom..” satu organ lagi yang meledak dengan rasa sakit 10 kali lipat dari sebelumnya, dan kali ini yang meledak adalah pankreasnya.


“Arrrrrrrhhhhhhh....” Terry semakin berteriak.


Dengan kutukan yang dibuat oleh Leon, bahkan untuk pingsan pun tidak bisa dilakukan oleh Terry, sehingga dia merasakan siksaan layaknya di neraka.


“Boom..” dan lambungnya pun ikut meledak dengan rasa sakit 10 kali lipat.


“Uhuk...” Terry sudah memuntahkan sangat banyak darah segar dari mulut dan hidungnya tapi siksaan ini tidak ada tanda-tanda akan berakhir.


“Aku kan sudah bilang padamu untuk diam..! Tapi kau tetap saja berisik, haduh..!” ucap Leon sambil mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.


Belum sempat organ-organ dalam tubuh Terry pulih, Leon menggerakkan pedang tumpul yang masih menancap di daerah tulang rusuk Terry seperti sedang menggergaji sebuah kayu.


Karena rasa sakit yang tidak tertahankan, Terry pun kembali berteriak dan organ dalam yang lainnya kembali meledak.


“Hentikan..! Baiklah, aku akan mengatakannya padamu..! Hentikan siksaan ini sekarang..!” ucap Terry sambil menangis seperti seorang bocah yang sedang dimarahi oleh orang tuanya.


“Hoho, bagus, bagus sekali..!” Leon pun menarik kembali pedang Legia lalu menyimpannya ke dalam segel sihir.


“Sekarang, katakanlah..!” ucap Leon dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.