
“Leon, karena kau sudah berani berkata seperti itu, mengapa tidak kau buktikan saja ucapanmu itu?” teriak Deric menantang Leon.
“Hmm, baiklah, aku akan memberikan sedikit pengetahuan kepada kalian..!” Leon berdiri lalu berjalan ke depan.
Deric dan Trezon memandang Leon dengan tatapan penuh kebencian seraya Leon berjalan ke depan.
“Cih, hanya berkasta budak saja sudah sombong seperti itu..! Memangnya kau pikir siapa dirimu?” gumam Trezon.
Setelah Leon sampai di depan, dia melihat ke seluruh kelas lalu tersenyum tipis.
“Kalian semua, perhatikan baik-baik..! Aku hanya akan melakukannya sekali” ucap Leon.
** Re: Peringatan..! Jangan menunjukkan kepada mereka bahwa Anda bisa menggunakan sihir tanpa merapal mantera terlebih dahulu.
“Tenang saja..! Sihir tingkat dasar hanyalah menyalurkan energi sihir ke wadah sihir yang kemudian menghasilkan sihir level rendah..! Santai, aku bisa menangani ini..!” jawab Leon.
Lalu dia terlihat seperti mencari sesuatu untuk dijadikan sebagai wadah sihir.
“Pak guru, apakah Anda memiliki contoh wadah sihir berlebih yang bisa aku gunakan dalam peragaan ini?” tanya Leon.
“Weh, bukankah kau lebih paham daripada aku? Kenapa bisa tidak memiliki wadah sihir sendiri?” sindir Deric dan semua murid pun menertawakan Leon karena hal itu.
“Hmm, ya sudah kalau begitu, aku akan menggunakan sarung tanganku saja sebagai wadah sihir” jawab Leon.
“Jangan bercanda..! Memangnya kau bisa seenaknya menggunakan benda sebagai wadah sihir? Kau harus menjalin kontra..” ucapan Deric terhenti ketika melihat sarung tangan Leon yang bersinar berwarna putih.
“Sekarang, aku hanya harus berpura-pura membaca mantera sihir , ‘kan? Wahai kekuatan angin yang baik, bantu aku untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa mereka itu bodoh..! Typhoon..!” ucap Leon.
“Bodoh..! Mana ada mantera sihir yang seperti itu..! Terlebih lagi, Typhoon adalah sihir tingkat lanjutan, bualanmu sudah terlalu jauh dan membuatmu hanya terlihat seperti orang bodoh saja..!” teriak Trezon, tapi Leon hanya tersenyum menanggapi respon mereka semua.
Tak lama kemudian, ruangan kelas menjadi berangin dan beberapa murid merasa kedinginan karena udara yang tiba-tiba sejuk.
Dari sarung tangan Leon pun keluar sebuah pusaran angin yang cukup kuat untuk memporak-porandakan seisi kelas.
Pusaran angin tersebut berbentuk angin tornado kecil seukuran tubuh Leon, dan angin tersebut seperti sedang berdiri di telapak tangan Leon yang menunggu untuk diperintah olehnya.
“I-itu..! Dia benar-benar? Tidak mungkin..!” semua orang termasuk Deric dan Trezon terkejut melihat sihir sepertii itu.
“Untuk menggunakan sihir Typhoon saja harus seseorang dengan minimal atribut sihir level 2, dan untuk mengendalikannya dengan bebas seperti itu membutuhkan atribut sihir level 7..! Siapa sebenarnya anak ini?” gumam Deric.
Dia tahu begitu banyak tentang sihir dan minimal level untuk menggunakan mereka, itu makanya, kejutan yang diberikan oleh Leon ini benar-benar membuatnya bingung dan menerka-nerka tentang identitas Leon yang sebenarnya.
Beberapa kursi yang diduduki oleh murid di kelas terlihat sudah mulai terangkat oleh Typhoon, dan beberapa murid wanita berteriak karena rok yang mereka gunakan melambai-lambai oleh angin yang terus-menerus berhembus.
“Hmm, aku rasa sudah cukup..!” Leon pun menghentikan penggunaan sihirnya dan membuat Typhoon menghilang.
Dia membuat semua orang terdiam tanpa ada satupun yang berani mencibir atau memandang rendah dirinya lagi.
“Sudah puas? Kalau begitu, setelah jam pelajaran selesai, aku akan berbicara dengan kepala sekolah untuk memindahkanku ke kelas sihir tingkat lanjutan..!” ucap Leon sambil berjalan kembali ke tempat duduknya yang paling belakang.
Trezon yang awalnya selalu menghina Leon, tidak berani menatapnya sedikitpun dan hanya bisa bersikap seperti anak kecil yang ketakutan melihat seorang om-om dengan wajah yang menyeramkan.